Kisah Mata Hari

0
1007

Pada tahun 1898, seorang perempuan Belanda, di bawah todongan pistol suaminya, harus pindah dari Jawa ke Tanah Deli (Medan). Rudolph Macleod, nama lelaki itu, panas hati mengetahui sang istri main mata dengan lelaki Belanda lain bernama Van Dijk di Malang.

Perempuan berwajah sayu itu menurut saja tanpa banyak kata-kata. Dia memeluk dua anaknya, Norman dan Non, lalu mulai berkemas menuju kapal. Melihat dia menurut begitu saja, tidak ada yang menyangka bila kemudian ibu rumah tangga ini akan menjadi penari paling top di dunia. Bukan itu saja, hidupnya juga bergolak sebagai perempuan paling kontroversial sepanjang abad, di mana tubuhnya yang indah berakhir di ujung bedil perajurit Perancis pada 14 Oktober 1917 di Vincennes. Tuduhannya, terbukti sebagai agen ganda yang menjual informasi ke pihak Jerman dan Perancis pada Perang Dunia I.

Inilah sepenggal kisah Mata Hari. Seorang perempuan yang bersinar dengan meminjam pusaka tarian Hindia Belanda (Indonesia). Ia mewariskan setetes kenangan bagi segelintir orang di Tanah Deli, tentang anaknya yang dikuburkan di Medan (kemungkinan besar di sekitar Pekuburan Mandailing Sei Mati sekarang), dan ketika ia pernah menginap beberapa malam di Hotel Dharma Deli (dulu Hotel de Boer).

Mata Hari terlahir dengan nama Margaretha Geertruida Zelle di Leeuwarden, Netherlands, pada 7 Agustus 1876. Pada usia 18 tahun, gadis belia yang cantik dan seksi ini kawin dengan seorang tentara kolonial yang bertugas di Hindia Belanda (Indonesia). Mereka hidup beberapa tahun di Jawa dan dua tahun di Medan dengan hubungan yang berantakan. Keduanya bercerai pada tahun 1902.

Mata Hari seterusnya pulang ke Eropa dan menjadi terkenal sebagai penari oriental di Paris. Ia hanya tinggal di Medan antara tahun 1898 hingga 1900. Hotel de Boer di Jalan Putri Hijau pernah menjadi salah satu saksi segmen kehidupannya. Di kota yang sedang tumbuh pesat dengan perkebunan tembakau ini, ia dan suaminya menyewa sebuah rumah yang tidak diketahui lagi di mana tempatnya. Suaminya bekerja sebagai komandan garnisun yang tidak peduli pada istrinya.

Mata Hari sendiri menyibukkan diri dengan melatih pelajaran tari yang ia dapatkan dari guru pribuminya di Jawa. Tanah Deli bagi Mata Hari adalah kota yang tak terlupakan, meski ia sangat ingin melupakannya. Kota ini membayanginya dengan sebuah kenangan hitam manakala sang suami melakukan balas dendam atas penyelewengannya di Tanah Jawa. Sang suami gantian melakukan perselingkuhan berkali-kali di depan matanya sendiri bersama perempuan lain yang tak lain adalah pembantu pribumi yang mereka sertakan dari Jawa. Anak yang dicintainya, Norman John, tewas diracun sang pembantu yang sakit hati karena Macleod menyia-nyiakannya. Pada tanggal 27 Juli 1899, pembantu itu memberikan makanan beracun pada kedua anaknya.

Hanya Non, anak perempuannya, yang dapat bertahan hidup atas bantuan dokter. Norman yang berusia 2,5 tahun dikubur di salah satu kerkhof (kuburan Belanda) di Kota Medan, yang belakangan dijadikan pondasi pusat perbelanjaan (Istana Plaza), pendidikan tinggi, dan belakangan menjadi toko peralatan Ace Hardware. Semua usaha ini tidak pernah bertahan lama. Beberapa orang dengan sinis mengatakan bahwa arwah kuburan telah murka kepada siapapun yang mencoba membangun usaha di atas kuburan Belanda itu.

Tidak banyak kisah Mata Hari yang dapat digali di Kota Medan selain tentang kematian anaknya. Namun, kehadirannya di kota ini konon memberi kesan yang mendalam pada banyak orang, terutama menyangkut parasnya yang cantik dan kecerdasan yang ia pancarkan. Di gedung Societte, ia menjadi bahan pembicaraan pria nakal. Mata Hari digambarkan sebagai penari yang sangat sensual tapi mendatangkan rasa hormat. Ia “panas” tapi cerdas.

mata-1Ia pandai menggabungkan dasar gerakan ballet yang elegan dengan tarian Jawa yang gemulai. Dari sebuah kepribadian yang cemerlang dan mempesona, jadilah kedua jenis gerakan itu sebagai tarian terdahsyat selama era Perang Dunia I. Pada tahun 1900-an orang-orang bercanda bahwa telah terjadi dua gemuruh di dunia. Yang satu adalah gemuruh pertempuran berdarah menjelang Perang Dunia, dan yang lainnya gemuruh gerak tari Sang Mata Hari yang menggerakkan darah.

Nama Mata Hari, sebuah nama yang ia tasbihkan sendiri dari Bahasa Melayu, bersinar ke mana-mana sebagaimana maksud nama itu. Nama aslinya sendiri terkubur dan ia jadikan nisan masa lalu di Hindia Belanda. Setelah tahun 1902 hingga hari kematiannya pada tahun 1917, Mata Hari hidup dalam dunia yang glamour sekaligus penuh teka-teki yang tidak terjawab hingga hari ini. Puluhan novel di Eropa telah ditulis para pengarang terkenal mengenai dirinya dalam berbagai versi. Beberapa di antaranya berkembang menjadi legenda dan mitos.

Di Indonesia sendiri, satu novel yang mengadaptasi kehidupan Mata Hari adalah “Sang Penari” karya Dukut Imam Widodo. Mata Hari atau Margaretha Geertruida Zelle lahir dari rahim ibunya, Antje van der Meulen yang menikah dengan ayahnya, Adam Zelle. Nama panggilan kecil Mata Hari adalah Margreet, atau lebih manja lagi dengan sebutan Griet. Ketika Margreet masih bocah, ayahnya bekerja sebagai seorang salesman topi dan kopiah yang sukses. Pekerjaan tersebut telah mengantarkan keluarga mereka pada satu kehidupan sosial yang cukup terhormat di Kota Leeuwarden. Bahkan, setelah tahun 1883, keluarga Zelle sempat pindah ke tempat tinggal yang lebih besar dan tua setelah kunjungan yang mengejutkan oleh King Willem III ke rumah mereka sebelumnya.

Zelle diangkat sebagai salah satu pekerja di lingkungan istana raja. Margreet adalah satu-satunya anak perempuan dari 4 bersaudara. Oleh karena itu, ia sangat dimanja ayahnya. Sejak kecil, dia mulai menciptakan sensasi di kota itu dengan mengendarai sendiri keretanya yang ditarik kambing melalui jalan-jalan kota. Tapi masa kecil Margreet tak selalu menyenangkan. Ayahnya bangkrut pada tahun 1889 karena urusan finansial yang kacau. Mereka akhirnya harus tinggal di sebuah flat sempit di lantai paling atas.

Pada tanggal 4 September 1890, ayah dan ibunya bercerai karena depresi oleh tekanan ekonomi. Delapan bulan kemudian, ibunya, Antje van der Meulen, meninggal. Selanjutnya keluarga Zelle pecah berantakan. Di tengah kekacauan itu, kecantikan Margreet justru bersinar seperti fajar. Ia mulai ikut kursus latihan yang ditawarkan di Leiden untuk menjadi guru sekolah perawat. Tapi kursus itu berlangsung singkat saja. Ketika direktur sekolah itu jatuh cinta padanya, dia keluar.

Pada masa-masa yang serba tak menentu ini, bulan Maret 1895, ia membalas sebuah pengumuman lamaran pernikahan yang diiklankan atas nama Rudolph Macleod, seorang perwira rendah yang bertugas untuk Royal Dutch East Indies Army. Bunyi pengumuman tersebut:

“Seorang perwira dari Hindia Belanda Timur yang sedang cuti, mencari seorang gadis berkarakter baik untuk bersedia masuk ke jenjang perkawinan.”

Ini adalah peluang jalan keluar bagi Margreet dari kehidupannya yang kacau. Ia ingin menikah dan punya kesempatan meninggalkan Netherland yang penuh kenangan pahit. Mereka bertemu pertama kali pada tanggal 7 Maret 1895, dan langsung menikah 4 bulan kemudian. Macleod berumur 39 tahun, dan Margreet baru 19 tahun. Sambil menunggu jadwal pemberangkatan kembali ke Hindia Belanda, pengantin baru ini tinggal sementara di rumah saudara perempuan Macleod di Amsterdam.

Pada tanggal 30 Januari 1897, anak pertama mereka, Norman John, lahir. Si kecil yang kemudian tewas diracun di Medan ini ikut berlayar pada tanggal 1 Mei 1897 menuju tanah harapan bernama Hindia Belanda. Tempat pertama keluarga muda ini tinggal adalah Tumpung, Jawa Timur. Di sini pula lahir anak kedua mereka, Jeanne Louise, atau lebih dikenal dengan nama ‘Non’.

Perkawinan Margreet tidak gampang. Dia mengalami kesulitan besar untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan seorang istri tentara. Margreet lebih memilih gaya hidup independen seorang wanita dewasa. Pertengkaran pun sering terjadi. Margreet yang kesepian dan larut dengan pelajaran tarinya, tergoda untuk berselingkuh. Macleod yang akhirnya mengetahui hal itu marah besar. Untuk menghindari perbuatan istrinya lebih jauh, ia memaksa keluarga pindah ke Medan pada tahun 1898 di bawah ancaman pistol. Setelah kematian anak mereka di kota ini, Macleod justru makin menyalahkan Margreet dengan tuduhan tidak memberi perhatian yang cukup untuk anak-anak. Kian hari, perkawinan mereka makin kacau. Meski hidup satu rumah, tapi Margreet tidak punya perasaan apa-apa lagi terhadap suaminya.

Pada tahun 1900, Macleod mundur dari dinas ketentaraan setelah mengabdi selama 28 tahun. Tapi mereka tetap berencana menikmati hari-harinya di wilayah tropis ini selama beberapa tahun. Hindia Belanda ternyata terlalu indah untuk segera ditinggalkan. Margreet makin giat dengan aktivitas tarinya. Ia makin mahir dan mempesona.

Barulah, pada Maret 1902, mereka kembali berlayar ke Belanda. Sesampainya di Belanda, perkawinan keduanya makin menyedihkan saja. Margreet meminta perceraian resmi pada Agustus 1902. Pengadilan memberikan hak asuh Non padanya, dan Macleod diwajibkan melakukan pembayaran biaya hidup putri mereka setiap bulan. Tapi Margreet tidak pernah menerima uang itu, dan ketika Non tinggal sementara bersama ayahnya, Macleod memutuskan untuk tidak membiarkan putrinya kembali pada Margreet.

Setelah itu, Margreet hanya sempat melihat Non sekali saja di stasiun kereta api di Arnhem pada 1905. Setelah perceraian itu, Margreet menjadi janda muda berusia 26 tahun. Hidupnya kembali ke awal, tanpa suami, tak ada rumah, dan kekurangan uang. Keinginan yang kuat membawanya pergi ke kota impiannya selama ini: Paris. Ada jawaban lugu ketika dia ditanya mengapa ia ke Paris. “Saya kira setiap orang yang meninggalkan suaminya, harus pergi ke Paris”.

Tapi di Paris pun ia tidak menemukan surga. Awalnya ia bekerja sebagai model gara-gara ia pernah diajari menunggang kuda di Hindia Belanda. Jangan salah, pekerjaan model yang ia lakoni bukanlah seperti profesi model sekarang ini. Margreet menunggang kuda di sirkus Molier. Dalam waktu singkat saja, ia pulang lagi ke Belanda dengan kondisi yang tak kalah miskin dibanding saat ia berangkat ke Paris.

Tapi Margreet adalah perempuan yang keras hati. Pada tahun 1904, dia mencoba untuk kedua kalinya mengadu nasib di Paris. Kali ini ia melakukannya dengan baik. Margreet mengambil pelajaran menari, dan menciptakan debut awal sebagai “Nyonya Macleod, Sang Penari Oriental” di salon Madame Kiréevsky. Ini adalah sebuah sukses besar. Penampilan demi penampilan ia lakukan di salon pribadi itu. Puncaknya terjadi ketika pemilik museum Asia di Paris, M. Guimet, punya kesempatan menyaksikan pertunjukannya. Guimet sangat terpesona dengan penampilannya, hingga dia mengundang sang penari untuk melakukan pertunjukan di museumnya.

Karena tidak nyaman dengan namanya yang masih menyertakan embel-embel mantan suaminya, Margreet mulai berpikir untuk menggunakan nama baru. Pada tanggal 13 Maret 1905, museum Guimet mengumumkan dimulainya untuk pertamakali pertunjukan publik yang akan menampilkan penari bernama “Mata Hari”. Nama ini berasal dari Bahasa Melayu yang didapat Margreet sendiri ketika ia tinggal di Indonesia.

mata-coverOrang Eropa mencoba memadankannya ke dalam bahasa Inggeris, dan mereka kemudian mengartikan Mata Hari sebagai “eye of the day”. Sang Mata Hari menarikan jiwanya dan membuat lompatan besar yang mempengaruhi dunia. Dengan latar dekorasi candi India, cahaya lilin yang cemerlang, dan musik timur yang eksotik, ia menggoyang tubuhnya dalam keadaan yang hampir telanjang. Mata Hari kini adalah perempuan matang bertinggi badan 1,78 cm, dengan bentuk tubuh yang indah, meski payudaranya agak kecil dan ditutupi oleh bra yang dihiasi batu alam.

Mata Hari mengenakan pakaian dari koleksi museum. Ia menari dengan latar patung Siwa bertangan empat bersama empat orang pengiring, seolah-olah Tuhan sedang memimpin kehendaknya. Rambutnya yang hitam gelap menguatkan penampilan Mata Hari sebagai seorang dewi nan seksi. Di koran-koran Eropa, penampilannya dikupas dengan dahsyat. Beberapa jurnalis mengkritik teknik menarinya, tetapi dia tak terbendung.

Mata Hari terus menari dalam keadaan nyaris telanjang di dekat patung Siwa, dan membawakan satu teknik tarian yang terasa asing bagi orang Eropa. Ia bagaikan tubuh suci yang hadir dari negeri keramat, lalu menari di tengah masyarakat barbar yang kasar. Dunia dikuasainya. Para pembual mulai membumbui kehidupan Mata Hari dengan berbagai mitos, hingga tak jelas lagi mana batas fakta dan khayalan. Sang penari pun mengabur menjadi objek imajinasi, legenda, dan pemujaan yang berlebihan.

Kisah Mata Hari menjelma menjadi sesuatu yang berbeda di antara berita panas menjelang Perang Dunia I. Pada 18 Agustus 1905, Mata Hari muncul pertama kali di atas panggung utama Olympia Theatre. Pers kembali mabuk mengupas penampilannya. Setelah itu, agennya Gabriel Astruc, mulai menyusun jadwal pertunjukan di luar Perancis. Negara lain yang menerima kiprah pertamanya adalah Spanyol. Bulan Januari 1906, ia berangkat ke Madrid untuk memenuhi jadwal penampilan di Central Casino. Kemudian menyusul di Monte Carlo Opera. Dan kini dia menerima peringkat bayaran tertinggi dan paling banyak dibicarakan di benua Eropa dan dunia.

Tentu saja, banyak yang jatuh cinta padanya. Pada musim panas tahun 1906, seorang lelaki bernama Herr Kiepert, pemilik tanah yang luas di Berlin dan seorang letnan pada Resimen Ke-11 dari Westphalian Calvary, memberikannya “bunga”. Sang letnan membayar satu apartemen agar Mata Hari tinggal dekat dengan Kurfurstendamm. Bersama perwira muda ini, Mata Hari menjadi saksi manuver-manuver tentara Kerajaan di Silessia, yang akhirnya turut menjerumuskannya dalam sebuah tuduhan serius di Perancis, yakni skandal agen ganda.

Meski tak sampai melakukan pertunjukan di Berlin, tapi Mata Hari sempat manggung di Vienna dari tanggal 15 Desember 1906 sampai 16 Januari 1907. Dengan berbagai pertunjukan di beberapa kota utama di Eropa, sosok sensual dan kejeniusan Mata Hari kian membubung ke angkasa. Namanya dipakai menjadi label pada bungkus rokok dan teh. Setelah Vienna, Mata Hari merajalela ke hingga Mesir dan Italia. Akhir 1907, dia kembali lagi ke Paris. Sepanjang tahun 1908 dan 1909, sang penari lebih banyak tampil dengan tarian baru yang ditujukan sebagai kegiatan amal.

Ia masih sempat muncul di beberapa kota yang sudah pernah disinggahinya. Tapi dari Juni 1910 hingga akhir tahun 1911, cerita seputar Mata Hari mulai sepi. Dia tinggal di Chateau de la Doree dekat Tours. Sebuah kastil disewakan untuknya oleh seorang bankir bernama Rousseau. Dan itulah kemewahan terakhir yang dia nikmati selama sisa hidupnya.

Sepanjang musim antara tahun 1911 -1912, seluruh karir Mata Hari sebagai artis penari telah tercapai. Dia tampil terakhir di arena ballet di La Scala, Milan. Pada musim gugur tahun 1912, dia memilih tinggal pada sebuah villa di Neuilly-sur-seine, di luar Kota Paris. Di sana, ia merancang beberapa pertunjukan taman dengan iringan orkestra pimpinan Inayay Khan, pelopor gerakan musik instrumen sufi.

Sejak tidak lagi memiliki kekasih yang kaya karena Rousseau telah bangkrut, Mata Hari harus mulai mencari uang demi membayar gaya hidupnya yang boros. Dia bersedia menari sebagai pemain opera, penari Spanyol, dan sebagainya. Pada Februari 1914, Mata Hari pindah lagi ke Berlin bersama Kiepert, mantan kekasihnya. Dia direncanakan tampil di teater Metropol pada bulan September. Tapi empat minggu sebelum pertunjukan itu, Perang Dunia I pecah. Mata Hari kemudian melakukan perjalanan melewati Frankfurt ke Belanda. Di negara kelahirannya, dia tinggal di The Hague dan menyewa sebuah rumah yang rekeningnya dibayar oleh Baron van der Capellen, seorang kolonel dalam angkatan bersenjata Belanda.

Dia mencoba menghubungi anak perempuannya, Non, tapi selalu dicegah oleh Macleod, mantan suaminya. Pada bulan Desember 1915, meskipun masih dalam suasana perang, dia masih sempat melakukan perjalanan singkat ke Paris. Perjalanan itu melalui Inggeris dan Spanyol, sekaligus dalam rangka mengumpulkan perlengkapan tari miliknya berupa 10 bra yang mewah.

Musim dingin di tahun 1916 adalah awal malapetaka bagi kehidupan Mata Hari. Meskipun masih jadi kontroversi, dia disebut-sebut terlibat kontak dengan badan intelijen Jerman. Mata Hari singgah untuk beberapa hari di Cologne dan Frankfurt untuk menerima instruksi penggunaan tinta yang tidak tampak sebagai alat bantu kegiatan mata-mata. Pihak Jerman memberinya kode H21 yang kemudian menjadi nama populernya yang kedua. Mata Hari menerima tugas itu setelah dijanjikan imbalan sebesar NLG 20.000.

Lalu ia kembali ke Paris pada 16 Juli 1916. Suatu waktu di Paris, ia jatuh cinta dan tergila-gila dengan seorang lelaki yang jauh lebih muda darinya. Pemuda itu, Vadime de Massloff, berbeda dengan kekasih-kekasih terdahulunya. Dia tidak kaya, seorang kapten pada Resimen Rusia Pertama untuk tugas khusus. De Massloff ditugaskan di Vittel, satu zona militer yang sulit diakses. Untuk mendapat kesempatan bertemu dan bercumbu, konon Mata Hari harus membuat permohonan pada petugas militer untuk izin masuk orang asing.

Di sini, dia punya kesempatan bertemu Kapten Ladoux, pimpinan intelijen Perancis. Sepanjang pertemuan mereka, Ladoux membujuknya untuk bekerja sebagai mata-mata Perancis. Beberapa minggu lewat, Mata Hari belum memutuskan karena penuh pertimbangan. Akhirnya Mata Hari menerima tawaran itu, dan ia dikirim ke Brussels.

Pada tanggal 6 November 1916, dia meninggalkan Perancis dengan maksud berbelanja di Spanyol sebelum kabur ke Belanda. Ketika tiba di Falmouth untuk singgah sebentar, Mata Hari digelandang polisi Skotlandia dari ruangan kapal karena dicurigai sebagai Clara Benedix, seorang mata-mata Jerman. Setelah melalui interogasi, petugas Sior Basil Thomas menyadari bahwa dia bukan Benedix, tapi tetap dicurigai sebagai agen rahasia ganda.

Mata Hari begitu ceroboh karena menceritakan penugasannya dari Kapten Ladoux. Waktu Thomas mengkonfirmasikan hal itu lewat telepon kawat ke pihak Perancis, Ladoux membantah pernyataan itu. Ladoux meminta Thomas mengirim kembali Mata Hari ke Spanyol, sehingga pada tanggal 11 Desember 1916 dia sudah sampai di Madrid.

Dia tinggal di sana selama tiga minggu. Sepanjang waktu itu, dia melakukan kontak dengan Von Kalle, atase militer dari kedutaan Jerman di Madrid. Karena tidak menerima instruksi apapun dari Paris, Mata Hari memutuskan akan berangkat sendiri ke Paris. Pada 2 Januari 1917, dia meninggalkan Madrid.

Sebenarnya tujuan utamanya adalah menemui Ladoux, dan dia mengaku tidak tahu menahu dengan apa yang telah terjadi. Untuk bulan berikutnya, dia tinggal di tempat biasanya di Paris. Pada tanggal 13 Februari 1917, dia ditangkap pada malam harinya di kamar Elysees Palace Hotel. Mata Hari ditahan di Penjara Saint Lazare. Selama 4 bulan di sana, dia diinterogasi 14 kali. Pada saat interogasi pertama dan terakhir dia diizinkan didampingi pengacaranya, Maitre Clunet. Tapi dalam 12 kali interogasi lainnya, Mata Hari duduk sendirian menghadapi hunjaman pertanyaan Kapten Bouchardon yang menjebak di sana-sini.

Interogasi penutup diadakan pada tanggal 21 Juni 1917. Lalu pada tanggal 24 dan 25 Juli, pengadilan Perancis melakukan persidangan tertutup. Tujuh anggota juri dalam persidangan yang kontroversial itu konon dipaksa menyimpulkan berdasarkan catatan laporan Bouchardon, tidak penting apakah ia memang bersalah karena telah menjadi mata-mata Jerman atau tidak. Keputusan akhir pun dibacakan:

“Margaretha Geertruida Zelle alias Mata Hari, guilty!”

Itu adalah keputusan singkat yang membawanya ke jurang kematian. Sebuah upaya diplomatik yang dilakukan Menlu Pemerintah Belanda untuk meringankan hukuman Mata Hari, menemui kegagalan. Perancis tetap bersikukuh dengan hukuman mati.

Hari yang beku pada Senin, 15 Oktober 1917. Fajar mulai bersinar di ufuk timur, mengusir sisa embun di daun-daun. Tepat pukul 06.11 pagi, 12 pucuk senjata api menyalak dengan seluruh moncongnya mengarah ke tubuh seksi yang sekaligus mengundang rasa hormat para lelaki itu. Sepasang mata yang indah dan bercahaya kemudian redup pelan-pelan.

Menunggu detik eksekusi.
Menunggu detik eksekusi.

Beberapa detik lalu, Sang Mata Hari yang ditemani mentari pagi, baru saja menolak ditutup matanya dengan kain hitam. Dan sekianlah kisah Mata Hari… Tidak ada keluarga atau orang lain yang datang untuk menguburkan mayatnya. Tubuhnya dibawa ke sebuah sekolah kedokteran di Paris untuk digunakan para pelajar menjadi alat bantu peraga tentang organ manusia. Seluruh hartanya yang tersisa dilelang untuk membayar biaya pengadilan.

Nun di Kota Medan, makam anaknya juga raib bersama kuburan-kuburan Belanda yang dihancurkan oleh sebuah kebencian. Tidak ada tempat untuk menziarahi keluarga yang tragis ini. Anda hanya bisa mengunjungi Mata Hari dalam puluhan buku dan legenda yang menular di seluruh dunia. Bersama kekaguman yang gila!

(Kisah ini dikonstruksi dari sejumlah sumber)

SHARE
Previous articleBerkunjung ke Taman Negara Pahang
Next articlePak Berutu

LEAVE A REPLY