Ziarah ke Al-Maghribi (Bag II): Keluarga Mouttaqui

3
606
Berkumpul bersama keluarga Mouttaqui di Casablanca.
Berkumpul bersama keluarga Mouttaqui di Casablanca.

Orang-orang Maroko berbicara dengan suara tinggi dan ritme yang tegas. Tapi tidak dengan ibunda Abdelfatah. Wanita ini berbicara sangat lemah lembut, dan ia hanya bisa mengerti Bahasa Arab dan Bahasa Berber, yaitu bahasa penduduk asli  Afrika Utara. Beliau sendiri mewarisi darah Berber. Wajahnya masih cantik di usianya yang sudah senja. Setelah ditinggal suaminya beberapa tahun lalu, ia hidup di rumah itu dengan ditemani salah satu anak perempuannya yang sudah menikah dan memiliki seorang anak. Tapi di malam kedatangan kami, dua orang anaknya yang lain telah berkunjung ke rumah membawa keluarga masing-masing. Mereka tinggal di tempat yang cukup jauh. Suasana rumah seketika menjadi ramai.

“Apakah memang ada acara keluarga malam ini?” tanyaku pada Abdelfatah.

“Iya, memang ada,” katanya tersenyum-senyum.

“Acara apa?” Minat saya mulai bangkit. Saya merasa akan dapat kesempatan bagus untuk mengamati kehidupan di tengah keluarga Maroko. “Apa nama acaranya, Sidi?”

“Acara menyambut kedatangan tamu kami.”

“Oh, akan ada tamukah?” tanyaku lagi.

“Tamunya telah tiba, Sidi. Kalian berdua”.

Aku terhenyak. Beginikah mereka merepotkan diri dalam memperlakukan tamu? Ini di luar ekspektasi kami. Saudara-saudara Abdelfatah membawa makanan dari rumah masing-masing. Banyak jenisnya, dan saya tak bisa menghapal nama-namanya. Makanan-makanan itu disajikan dengan cara Maroko. Sebuah nampan besar diletakkan di tengah-tengah. Ada potongan-potongan daging sapi yang sudah dikukus hingga lembut bersama kacang-kacangan kecil seperti tajin. Di atas taplak meja, setiap orang mendapat bagian potongan roti dan selainya.  Tekstur rotinya amat keras seperti roti perancis. Ada teko berisi air panas dan seduhan daun mint. Lalu di dekatnya terdapat potongan-potongan gula putih berbentuk balok. Inilah teh mint ala Maroko.

casa-makanan casa-telurAbdelfatah rupanya merasakan kegelisahan saya. Ia menjelaskan bahwa kedatangan kami adalah kedatangan fuqara. Dalam tariqah yang diikuti keluarga ini, fuqara adalah orang yang sangat dihormati. Menggembirakan hati mereka merupakan kebajikan yang tinggi. Lalu Abdelfatah menceritakan situasi perasaan saya pada keluarganya, dan mereka tertawa gembira.

Fuqara dapat dimaknai sebagai orang-orang yang mencukupkan nikmat Allah pada dirinya. Bila fuqara melakukan perjalanan (syafar), berarti mereka telah melakukan perjalanan karena Allah dengan meninggalkan keluarga dan kampung halaman. Kedatangan fuqara ke suatu tempat untuk mengunjungi fuqara yang lain akan selalu dianggap sebagai mengulangi peristiwa pertemuan kaum Muhajirin dengan kaum Anshor  di Madinah pada peristiwa hijrah Rasulullah dan sesudahnya. Peristiwa itu syarat nilai karena telah menjadi pondasi bagi terbentuknya masyarakat Madinah yang dipenuhi cahaya dan rahmat Allah.

Abdelfatah mencoba menjelaskan perihal makanan-makanan itu pada kami untuk mencairkan suasana. Dia tidak tahu bahwa saya selalu paling bodoh dalam perihal ilmu makanan, meskipun saya paling tahu cara menghabiskannya. Istri saya kebalikannya. Dia cepat pintar soal makanan dan selalu antusias menanyakan ini dan itu, tapi paling lemah dalam aksi yang sesungguhnya.

Acara makan dimulai. Tidak ada sendok. Kita harus menggunakan tangan. Tidak masalah bagiku. Di kampung kami, begini juga cara orang makan. Bedanya, di sini semua orang mengambil makanan dari piring (nampan) yang sama. Kebiasaan ini tampaknya turun dari Arab. Dan di sini, makan tidak boleh sungkan. Semakin terlihat rakus, sohibul bait makin merasa senang.

Setelah merasa cukup kenyang, salah seorang saudara Abdelfatah mengangkat teko, lalu mengisi cangkir-cangkir yang kosong. Suaranya berisik sekali karena ditiriskan dari tempat yang tinggi. Bersamaan dengan itu, aroma mint menyebar. Cara menyajikan teh seperti ini adalah adab orang Berber. Pada suatu acara minum teh di sebuah kasbah (bangunan benteng) di Kelaat m’Gouna, Shaikh Mourtada  telah mengkritik istri saya karena meniriskan teh ke gelas dengan cara orang Jawa yang sangat hati-hati dan nyaris tak bersuara. “Mengapa kamu menuang teh seperti orang Inggris?” katanya.

“Orang Inggris?” tanya istriku heran.

Na’am. Orang Inggris menuang teh secara perlahan supaya orang lain tidak tahu ia minum teh. Tapi orang Berber menuang teh dengan cara berisik agar orang lain tahu dan sebagai undangan agar mereka minum bersama-sama”.

Seusai makan malam, kami pun berbagi cerita. Abdelfatah menjadi penerjemah antara kami dan keluarganya. Kami memberitahu mereka bahwa Indonesia adalah negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Mereka mengaku belum pernah mendengar hal itu. Tapi mereka merasa heran, mengapa nama-nama kami sama sekali tidak mencerminkan nama Muslim. Kami menjelaskan bahwa Indonesia memiliki ratusan etnik dan masing-masing memiliki nama-nama khas, bahasa dan budaya yang berbeda. Mereka berpandangan satu sama lain. Mereka  juga heran bahwa kami bisa membaca Al-Quran dengan lancar tanpa mengetahui sedikit pun artinya.

Sepeda motor di Casablanca.
Sepeda motor di Casablanca.

Mereka bertanya tentang negeri kami, dan kami menceritakan tentang rimba tropis yang saking lebatnya, tanah nyaris tak kelihatan. Bahwa di rimba itu telah tumbuh pohon-pohon besar hingga dibutuhkan tiga orang dewasa untuk dapat memeluk garis lingkaran batangnya. Kami juga tidak lupa membanggakan sungai-sungai kami yang mengalir dari gunung-gunung, melewati perkampungan, dan orang-orang memancing ikan dari lubuknya. Selama enam bulan dalam setahun, hujan turun deras seperti pancuran keran dari langit. Dan bahwa masyarakat kami saling menolong sesama keluarga sebagaimana yang dilakukan suku Berber.

Mereka mendengarkan dengan tekun dan takjub, seperti mengkhayalkan taman surga. Kok yang diceritakan orang ini mirip beberapa ayat tentang surga yang ada di Alqur’an? Mungkin begitulah yang terpikir dalam benak mereka.  Mereka berpendapat, tentunya orang Indonesia sangat bersyukur dengan limpahan nikmat itu. Kemudian mereka bertanya, apakah Indonesia itu dekat dengan Malaysia. Dan apakah ada orang yang mengerti Bahasa Arab di sana? Mereka sangat senang ketika mendengar bahwa Indonesia juga memiliki beberapa shaikh yang bukan hanya sekadar bisa Bahasa Arab, tapi juga memahami fiqih dengan baik, dan salah seorang di antaranya pernah menjadi imam di Masjidil Haram.

Kehidupan di flat.
Kehidupan di flat.

Lewat pertanyaan-pertanyaan mereka, kami tiba-tiba mendapat cara baru dalam memandang diri kami sendiri.  Ternyata kami ini penuh dengan keanehan. Ternyata perlu sekali meminjam mata orang lain untuk melihat keanehan-keanehan itu. Begitu juga orang lain, mereka sangat membutuhkan pertanyaan-pertanyaan kita agar mereka bisa menjelaskan dirinya sendiri. Saya menjadi teringat hasil penelitian Clifford Geertz yang membandingkan Muslim Maroko dengan Muslim Jawa.

Sepanjang pembicaraan yang terbatas karena bahasa itu, kami hanya dipersatukan oleh seruan-seruan, “masha Allah, subahanallah, alhamdulillah, shukurillah”. Sebanyak apapun kami bicara, tapi lebih banyak lagi kami berbicara dengan cara saling menyelami hati. Cukuplah raut wajah mereka yang memberitahukan bahwa kami sangat diterima di rumah ini. Dua orang saudara yang baru tiba dari negeri yang sangat jauh dan tak dikenal: Indonesia.

Keluarga Mouttaqui adalah keluarga besar. Mendiang ayah Abdelfatah menikah tiga kali. Istri kedua dan ketiga ia nikahi manakala salah seorangnya telah meninggal dunia. Ibunda Abdelfatah sendiri merupakan istri ketiga. Anak-anak tiri dan kandungnya tersebar di  Eropa, Amerika dan Afrika. Abdelfatah adalah anak yang bungsu.

Moutttaqui senior dikenal sebagai mukadim (ahli agama). Semasa hidup, ia memenuhi nafkah keluarganya dengan membuat baju anak-anak. Usaha itu ia lakukan bersama kawan-kawannya dengan pola gilda. Mereka memiliki usaha itu, tidak ada buruh dan majikan. Mereka bekerja di rumah masing-masing, lalu menjualnya di syouk (pasar). Belakangan usaha itu hancur dan kehilangan pasar setelah masuknya barang-barang cina yang murah dan bekualitas rendah. Ekonomi gilda perlahan-lahan redup. Para pengrajin menutup usahanya, lalu mereka menyekolahkan anak-anaknya dengan harapan kelak akan diterima bekerja di kantor pemerintahan, atau paling tidak diangkat menjadi karyawan di sebuah perusahaan besar.

***

Kami menghabiskan malam itu di atas sofa yang lembut. Mereka memberikan selimut tebal untuk menghalau dingin. Menjelang tengah malam, saudara-saudara Abdelfatah pamit untuk pulang. Tak lama kemudian kami pun tertidur bersama kaus kaki kami.

Keesokan harinya, kami sudah  bangun pagi-pagi. Setelah mandi dan sarapan, kami pun pamit pada keluarga yang diberkati Allah ini. Abdelfatah mengantar kami ke jalan besar untuk mendapatkan taksi menuju Casa Voyageurs, lalu menumpang kereta pertama menuju kota berikutnya. Sebuah kota tua (old medina) bernama Marrakech.

Salah satu sudut persimpangan kecil.
Salah satu sudut persimpangan kecil.

Casablanca akan kami eksplor lagi nanti dalam perjalanan pulang, sesuai rencana. Abdelfatah berpesan bahwa kami dapat menghubungi saudaranya bila kembali ke Casablanca sebab ia sendiri akan segera pulang ke Cape Town untuk berkumpul dengan anak dan istrinya. Kami akan melihat perkembangan perjalanan ini nanti, karena kami telah mengabaikan rencana yang terlalu ketat di negeri yang penuh dengan kejutan-kejutan ini.

 

BERSAMBUNG…

(Tikwan Raya Siregar)

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY