Ada Keramaian di Ladang Nipah

0
90

Sebuah kedai mie telah berdiri di sela-sela ladang nipah, tidak begitu jauh dari Kota Kangar dan Arau, Perlis, Malaysia. Selain memiliki pusat makanan laut yang khas di Kompleks Makanan Laut (Komalaut), Negeri Perlis juga mengandalkan destinasi makanan berbasis lingkungan pertanian, sekelas street food bila merujuk pada lingkungan kota. Salah satu yang perlu di-highlight  adalah sajian mie laksa dan bi hun sop di Ladang Nipah Kipli.

Ladang pohon nipah ini terletak dalam ekosistem dataran rendah dengan pengaruh pasang surut laut. Hawa pesisir yang gerah sangat terasa ketika Anda berjalan melalui persawahan, hingga akhirnya mendapatkan perlindungan di sebuah ladang tanaman nipah yang bunganya sedang bermekaran. Beberapa tandan buah yang sudah cukup tua dan eksotik tampak dipanen dan dibiarkan di tanah agar mengering.

plangLadang nipah ini terlihat menonjol karena di sekelilingnya, sejauh mata memandang, yang terlihat hanya hamparan sawah penduduk. Sebuah rumah sederhana, pemilik ladang ini, berdiri di antara perladangan, dan mereka mendirikan kedai di sampingnya.

“Awalnya ini hanya kedai biasa, kecil sekali,” tutur seorang pengunjung lokal. “Tapi karena mie-nya memang enak sekali, ramai orang ke sini. Sekarang mereka menambah gubuk-gubuk, untuk bisa menampung pembeli”.

mie-bumbuMeskipun gubuk untuk bersantap terus bertambah, tapi pohon-pohon nipah tetap dipertahankan. Selain untuk peneduh, ternyata tanaman muara ini juga produktif untuk menghasilkan aneka makanan yang komersil. Di antaranya adalah cuka nipah (cairan manis seperti air nira), keripik buah nipah, dan sebagainya. Produk-produk nipah itu dikemas dalam botol dan dijual sebagai minuman pelepas dahaga dan konon memberikan khasiat kesehatan.

belacan perlis belacan cuka nipahSelain itu, di bawah pembinaan Kementerian Pertanian dan Industri Asas Tani, Malaysia, kedai ini pun berhasil mengumpulkan berbagai jenis produk makanan dan obat dari bahan-bahan baku pertanian lokal. Terasi perlis yang terkenal gurih dan segar juga tersedia di sini.

Sedangkan mie sebagai atraksi utama, tetap menjadi daya tarik terdepan bagi para pengunjung untuk meluangkan waktu ke sini. Pada saat makan tengah hari, ratusan pengunjung bersesakan rebutan gubuk dan harus bersabar menunggu pesanan diantar. Menurut pengalaman kami, Anda harus bersabar hingga 20 menit lamanya sebelum pesanan datang. Sementara itu, untuk menghibur diri, ada banyak jenis kudapan dan minuman yang siap disantap sebagai pengganjal perut. Di antaranya kerupuk ikan, kue-kue tradisional, es campur, atau es krim. Untuk nantinya dibawa pulang, Anda juga bisa memilih belacan mentah, berbagai kemasan minyak tradisional dan aneka kerajinan lokal.

Dari arah dapur, kuah mie yang mengepul selalu mengeluarkan aroma kaldu yang menguji kesabaran. Dapur itu adalah sebuah gerobak di sela-sela pohon nipah. Persis di belakang para kokinya, tandan-tandan buah nipah tampak menyembul dan mekar dari bawah, memamerkan warna merah kecoklatan, bagaikan kebun bunga yang tak disengaja. Di antara “hutan nipah” ini, mereka juga membangun jalur-jalur  pejalan untuk para pengunjung tanpa mengorbankan pohon-pohon nipahnya.

dapur koki dapur mie mie-1 mie-2 Bagi saya, mie laksa di Ladang Nipah Kipli tidaklah terlalu istimewa untuk ukuran mie laksa yang kita kenal di berbagai wilayah. Namun harus diakui, mereka sangat menonjol dalam pembuatan kaldunya, dan sangat khas dengan nuansa belacannya. Di Perlis, warga lokal memiliki teknik pembuatan sambal belacan yang unik dengan memanfaatkan rasa gurih pada belacan dipadu dengan rasa asam pada mangga muda atau jeruk nipis. Sambal ini mengimbangi kaldu daging yang berlemak dan membuatnya terasa seimbang di lidah.

Sedangkan untuk bi hun sop, mereka menggunakan irisan daging lembu sebagai pembobot mie-nya yang halus. Ini berbeda dengan mie sop ayam yang kita kenal pada umumnya menggunakan suwiran daging ayam. Kedua sajian ini dibanderol seharga RM 4 sampai RM 6, atau setara dengan sekitar Rp 12.000 sampai Rp 18.000 per porsi, tergantung varian kelengkapan porsinya.

ramaiBayangkan saja, di tengah hawa yang demikian panas dan lembab, Anda disajikan seporsi mie yang mengepul dari tempat penjerangannya. Anda dan makanan Anda akan sama-sama berkuah. Untungnya, ada es krim dan cuka nipah segar yang sudah terhidang di meja, dan semuanya bisa kembali seimbang seperti sedia kala. Selepas itu, para pengunjung bisa menetralisir tubuh dengan membuka dua kancing baju bagian atas, menikmati angin yang menyusup ke sela-sela daun nipah, dan mendengar rayuan daun-daun yang bergesekan.

Cepatlah pulang, sebelum rasa kantuk menyerang!

 

 

 

LEAVE A REPLY