Akpar Medan Menuju Sertifikasi UN-WTO

0
212

Lembaga sertifikasi TedQual dari United Nations World Tourism Organisation (UN-WTO) memenuhi permintaan Akademi Pariwisata (Akpar) Medan untuk melakukan proses sertifikasi dari lembaga wisata internasional itu. Untuk keperluan tersebut, UN-WTO telah mengutus staf auditor mereka, Miguel Rivas Fernandez, yang telah bekerja sejak 25 Januari 2016 hingga diperkirakan selesai 28 Januari 2016.

Sepanjang proses auditing ini, manajemen Akpar Medan harus mampu menunjukkan seluruh dokumen dan deskripsi yang telah mereka kirimkan sebelumnya dalam aplikasi online sebagai persyaratan sertifikasi. Semua dokumen itu diklarifikasi lagi menurut kenyataan yang terjadi di lingkungan pendidikan Akpar dan berbagai pihak yang terkait dengan proses pendidikan di akademi ini. Aspek-aspek auditing itu mencakup kurikulum, pengorganisasian, metode pendidikan, dan paradigma pendidikan yang dijalankan.

“Ini bukan proses yang mudah bagi kami. Tiga hari yang kami lalui sangat ketat. Sebagian permintaan Miguel, jujur saja, membuat kami keteter, dan metode audit mereka sangat berbeda dengan akreditasi pendidikan atau ISO. Beberapa aspek yang diminta auditor di luar dugaan kami, dan tidak ada ruang untuk menutupi keadaan yang sesungguhnya. Auditnya benar-benar investigatif dan ketat dalam pemenuhan administratif maupun bukti-bukti dokumentatifnya,” ungkap Zumry Sulthony, SSos, MSi, CHE, Pembantu Direktur I Akpar Medan dalam temu pers yang dilakukan, Rabu malam, 27 Januari 2016, di Aula Hotel Achmad Tahir Kampus Akpar Medan.

Menurut Zumry, proses sertifikasi dari UN-WTO adalah untuk melengkapi tidak kurang dari tiga sertifikasi lainnya yang telah mereka kantongi. Sertifikasi bertaraf internasional ini mereka perlukan untuk memenuhi visi Akpar Medan 2015-2019 sebagai centre of excellence pendidikan pariwisata di kawasan ASEAN. “Dengan menerima sertifikasi UN-WTO dan terdaftar sebagai anggota organisasi ini, kita berharap mahasiswa asing akan lebih confidence untuk memilih Akpar Medan sebagai tujuan studi mereka. Selama ini, mahasiswa asing yang sudah mulai belajar di Akpar Medan masih sebatas dari Malaysia,” tambah Zumry.

Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Sumut, Mukhlis Nasution, yang turut mendampingi konferensi pers menyatakan, proses sertifikasi ini tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan pengakuan (certified) secara tertulis, tapi hendaknya juga mampu menyertakan manfaat dan dampak yang lebih luas. “Selama proses audit ini, ternyata auditor dari UN-WTO, Miguel Rivas Fernandez, juga rajin memberikan masukan-masukan, baik kepada civitas Akpar Medan maupun informasi mencakup tren dan strategi pariwisata dunia saat ini. Hal yang antara lain sangat menarik perhatian saya adalah trik-trik promosi yang tidak melulu bersandar pada anggaran yang besar. Dan promosi ini dapat dilakukan dengan cara online maupun networking. Semua orang bisa kita libatkan dalam upaya promosi. Contoh kecil, misalnya, kita bisa saja melibatkan restoran di Spanyol untuk menjual satu jenis menu orisinal asal Medan, dan sebagai gantinya kita juga bisa meminta restoran di Medan untuk menyediakan satu menu Spanyol. Kita pun bisa menyediakan e-brochure dalam bahasa negara tertentu, dan bekerjasama dengan kedutaan setempat untuk mendistribusikannya ke jaringan social media mereka di sana. Banyak trik yang bisa kita lakukan seandainya kebijakan promosi kita tidak menyandarkan diri pada birokrasi yang terlalu kompleks,” kata Mukhlis.

Selaku auditor UN-WTO, Miguel sendiri menyatakan kegembiraannya atas proses audit yang berjalan di Akpar Medan. Ia menjelaskan bahwa Akpar Medan adalah institusi keempat di Indonesia yang menerima proses sertifikasi setelah lembaga pendidikan pariwisata di Bandung, Bali dan Makassar. Dia mengakui, belum bisa menduga hasil akhir dari proses audit yang sedang berjalan, namun ia menjelaskan bahwa manajemen pendidikan pariwisata yang ia kunjungi sering atau cenderung salah paham mengenai substansi pokok yang mereka inginkan terpenuhi di sebuah lembaga pendidikan.

“Proses pendidikan di bidang pariwisata bukanlah semata-mata tentang kurikulum yang diajarkan apakah match dengan keperluan industri pariwisata. Juga bukan semata-mata tentang fasilitas kampus atau kelengkapan administrasi meskipun hal-hal itu tentulah penting. Tapi ada hal lain yang menyangkut soft culture yang jauh lebih penting. Hari ini, tujuan pariwisata adalah untuk manusia, bukan untuk turis lagi. Orang tidak lagi melakukan perjalanan untuk melihat suatu tempat yang indah, karena tempat yang indah apabila dikunjungi ramai-ramai akhirnya bisa malah rusak. Tujuan wisatawan saat ini tidak sama lagi dengan wisatawan zaman dulu. Kini mereka mencari spritualitas, kemanusiaan, dan membuat pertemanan. Bila Anda menyajikan kue di meja, para turis tidak tertarik dengan kue itu saja, karena kue yang unik banyak di mana-mana. Mereka akan lebih tertarik pada sikap Anda yang menyajikannya dengan tulus, takjim dan penuh hormat, karena pengetahuan membuat kue itu Anda dapatkan dari leluhur Anda. Mereka mungkin memakan kue itu dengan gembira, tetapi mereka lebih tertarik untuk berteman dengan Anda dan mempelajari pengetahuan leluhur Anda,” papar Miguel.

Dalam proses pendidikan di lembaga pariwisata, menurutnya, seorang auditor juga ingin memastikan apakah para mahasiswa memenuhi tugas-tugas mereka karena “terpaksa” ataukah karena “ingin” melakukannya. Sangat penting bahwa seorang mahasiswa akademi pariwisata menamatkan studinya karena minat yang tinggi dan ikhlas melakukannya. Para dosen diperlukan untuk memahami situasi yang halus ini dan diharapkan bisa menciptakan suatu hubungan yang tulus dan menyenangkan karena hal seperti inilah yang diperlukan dalam dunia pariwisata yang nyata.

“Para pelaku wisata di seluruh dunia juga diperlukan untuk memahami lebih baik tentang diri mereka. Mengenal kebudayaan mereka sendiri. Sebab itulah yang membuat mereka berbeda, dan menjadi alasan bagi orang lain ingin mengenal mereka, di samping menguasai etika moral pariwisata yang bersifat universal,” kata Miquel.

Ia mengatakan, tujuan audit sertifikasi ini hendaknya tidak dipandang sebagai upaya memperoleh sertifikat saja, tetapi sebagai upaya meningkatkan kemampuan dan kualitas lembaga dalam menghasilkan alumni yang paham tentang keunikan hospitality masyarakatnya, serta menjalankan seluruh etika moral dunia kepariwisataan internasional.

Untuk mendiskripsikan sisi pengalaman yang menyenangkan baginya selama melakukan audit di Akpar Medan, Miguel bercerita tentang kasus HP-nya yang hilang. Ia lantas memberitahu masalah tersebut kepada manajemen, dan mereka memberi respon yang cepat dan segera mencoba melakukan prosedur lost and found. Meskipun pada akhirnya barang tersebut tidak ditemukan dengan proses yang standar itu, tapi akhirnya HP itu diketahui telah dipungut dan diamankan oleh seorang petugas cleaning service. Pegawai bawahan itu mengembalikan HP tanpa kurang suatu apapun. Ia melakukannya dengan ikhlas dan rasa tanggung jawab.

“Saya sangat tertegun dengan peristiwa ini. Kalau peristiwa yang sama terjadi di Spanyol, lebih besar kemungkinan HP saya tidak akan ditemukan kembali. Pengalaman seperti inilah yang membuat kita menyukai suatu tempat dan menjadi preferensi tujuan kita dalam perjalanan. Semakin manusiawi Anda, maka semakin pentinglah tempat Anda dalam daftar tujuan wisata,” kata Miguel. Ia juga menjelaskan bahwa proses audit kampus adalah proses audit yang luas, tidak hanya mencakup kalangan akademisi saja, tetapi juga seluruh aspek di kampus, bahkan juga melibatkan orang tua, alumni dan masyarakat.

Setiap tahun, sekitar 8.000 institusi pariwisata mengajukan aplikasi untuk disertifikasi oleh UN-WTO. Dari jumlah itu, yang lolos uji sertifikasi hanya sekitar 400 institusi. Sertifikasi akan diberikan dalam jangka waktu yang bervariasi. Semakin bagus suatu institusi menurut UN-WTO, maka semakin panjang insentif masa berlaku sertifikasinya. Masa berlaku sertifikasi yang paling singkat adalah satu tahun.

Untuk menjadi peserta sertifikasi, Akpar Medan membayar admission fee sebesar 6.000 euro atau sekitar Rp 80 juta. Sertifikasi dilakukan untuk 6 program studi. Apabila Akpar Medan berhasil lulus, maka kampus ini akan menjadi akademi pariwisata pertama yang mengantongi sertifikasi UN-WTO di Sumatera.

 

LEAVE A REPLY