Aksara Arab Melayu dan Wolio Kini Mengepung Ruang Publik Kota Bau Bau Buton

0
406

Pencarian dan peneguhan identitas  (dengan pertarungan maupun tidak) bergulir di banyak kota di Indonesia. Di Kota Bau Bau, Buton, misalnya, semua nama  jalan kota ditulis dalam dua aksara, yaitu aksara Latin (si pendatang baru yang menguasai) dan aksara Arab Melayu dengan variannya Arab Wolio (yang berabad-abad dipakai dalam tradisi literasi di Kesultanan Buton).

Sejarahwan dari Universitas Negeri Medan, Dr. (phil) Ichwan Azhari menilai, ada dua kemungkinan kenapa aksara lama ini dipakai-sandingkan dengan aksara baru di jalanan Kota Buton. Pertama karena peneguhan identitas, dan kedua adalah kemungkinan adanya kekhawatiran aksara penopang literasi kuno ini mulai tak dipahami generasi kini.

“Aksara Arab Wolio mengadopsi huruf Arab Melayu dalam tulisan berbahasa Wolio di Bau Bau. Seluruh abjad aksara Arab Melayu dipakai dengan penambahan simbol baca tambahan pada huruf vokal E dan O. Inilah beberapa Aksara  Arab Melayu dan Arab Wolio yang mengepung Kota Buton sekarang,” kata Ichwan dalam lawatannya ke kota tersebut baru-baru ini.

Pemakaian aksara Arab Melayu dengan berbagai varian bunyi tambahan sebenarnya juga mulai menjadi kebiasaan di berbagai wilayah lain di Indonesia. Di Riau, Sumatera Barat, dan Aceh, pemandangan ini sudah jamak terlihat semenjak Reformasi 1998 yang menyebabkan perubahan politik dan bangkitnya semangat retribalisme yang disinyalir sebagai usaha penguatan identitas untuk mendapatkan ruang-ruang politik dan pengakuan dalam kekuasaan.

Di Medan sendiri, usaha untuk mengetengahkan aksara Arab Melayu ke ruang publik sedang diusahakan. Tokoh budaya dan sastra Kota Medan, Syafwan Hadi Umri, mengatakan, mereka masih menunggu SK Gubernur untuk Kurikulum AMI (Arab Melayu Indonesia) yang sudah setahun diusulkan oleh Panitia Simposium Aksara Arab Melayu ke Dinas Pendidikan Sumut.

“Namun, sampai sekarang belum keluar,” katanya.

Aksara Arab Melayu pernah menjadi literasi dominan di seluruh Kepulauan Melayu, sebagai aksara resmi yang dipakai dalam diplomasi, perdagangan, dan pendidikan. Setelah kolonialisme Eropa membawa aksara Latin sebagai literasi administrasi di wilayah jajahan mereka, aksara Arab Melayu nyaris menghilang di tengah masyarakat penggunanya.

LEAVE A REPLY