Apa kabar, Bangkok?

0
310

Salah satu “musuh” petualangan dan peliputan wisata adalah bintang lima. Fasilitasnya bisa membikin kita malas keluar untuk meletihkan diri mengeksplorasi hal-hal baru. Tapi Bang Erwin dari Wie Travel di Medan tak bisa dibantah lagi. “The Berkeley Hotel, ya. Enjoy your Saturday night!” katanya. Demikianlah, kami tiba di Bangkok, petang 19 September 2015, dengan Indonesia Air Asia yang tepat waktu, disusul dengan urusan imigrasi yang nyaman dan lancar di Don Muang International Airport.

Peristiwa bom di Four Faces Buddha 17 Agustus 2015 lalu tidak mempengaruhi sikap Thailand terhadap para tamunya. Tidak ada pemeriksaan yang berlebihan, tidak ada kecurigaan yang membikin hati kurang nyaman, dan mereka tetap saja lapang dada. Khas Thailand.

Bandara Internasional Don Muang.
Bandara Internasional Don Muang.

Kami benar-benar dapat menghemat waktu, karena selain jarak Don Muang yang lebih dekat ke Bangkok dibanding Bandara Svarnabhumi—hanya 30 menit dalam kondisi lancar—hari ini berkebetulan Sabtu, dimana perkantoran sedang libur sehingga jantung ibukota Thailand ini tidak lagi terlalu macet.

The Berkeley Hotel berlokasi di Distrik Pratunam, Bangkok. Kawasan ini menjadi salah satu pusat kegiatan turis internasional. Segala keperluan turis tersedia di kawasan ini, terutama akomodasi dan transportasi. Ketika kami tiba di Distrik Pratunam—distrik ini seumpama Manhattan di New York—matahari baru saja tenggelam, dan cahaya lampu sudah berkilauan karena dipantulkan oleh genangan-genangan sisa hujan tadi sore. Musim hujan rupanya mulai jatuh di Bangkok.

Lampu-lampu kota adalah pertanda dimulainya pasar malam. Dari berbagai arah, para pedagang mendorong gerobaknya ke jalan-jalan. Situasinya seperti semut yang diganggu sarangnya. Pintu-pintu mall memuntahkan gerobak pakaian dan mereka juga ternyata akan ambil bagian di pasar malam (night market). Kemewahan mall kini berganti dengan kemeriahan jalanan dengan diskon-diskon yang menggetarkan. Para pedagang street food adalah yang paling atraktif. Mereka membuat aroma Bangkok berubah dari waktu ke waktu. Tapi maaf, daging babi di mana-mana. Ini adalah surga bagi mereka yang memakan daging babi, tapi tidak demikian dengan pengunjung Muslim. Mencari makanan halal di sini seperti mencari mutiara di tengah lautan.

Ada beberapa restoran India yang mencantumkan logo halal, tapi itu bukan berarti mereka Muslim. Hanya karena mereka tidak menjual daging babi, mereka mengklaim dagangannya halal. Kita tidak tahu apakah mereka menyembelih ayamnya dengan rukun yang benar. Dan tidak ada jaminan bahwa mereka jujur. Di samping harganya lebih mahal, mereka juga tidak menyajikan selera lokal. Di restoran India, seporsi makanan bisa mencapai 270 sampai 400 baht. Sedangkan di kaki lima hanya sekitar 10 sampai 100 baht (1 baht kurang lebih Rp 400).

Bila sedang berburu makanan di kaki lima, jangan lupa menikmati jus delima segar yang sudah langka di Indonesia, hanya 35 sampai 50 baht. Langsat hanya 20 sampai 30 baht per kg. Rasanya manis dan besar-besar. Banyak buah langka yang tidak kita ketahui lagi namanya, malah jadi dagangan sehari-hari di kaki lima Bangkok. Kita tidak perlu ragu untuk membeli buah-buahan dan sayuran segar di sini. Bagi yang Muslim, hati-hatilah selalu untuk membeli makanan siap masak yang amat menggoda, meskipun tampaknya itu hanyalah seafood, karena minyak yang mereka pakai belum tentu bebas lemak babi.

Mei au mu?”

Mereka menggeleng-geleng. Maksudnya tidak jual daging babi. Kadang-kadang pedagang makanan menawarkan daging ayam. Dia bilang, “halal, halal…”, tapi di samping daging ayam itu, dijual juga daging babi. Bukan maksud mereka menipu Anda, tapi mereka memang tidak memahami konsep halal. Untunglah seorang Pattani terselip di antara ribuan pedagang kaki lima yang membungkus trotoar kota itu. Ia menjual ayam goreng dan nasi pulut. Tapi makanan ini khas Thailand Selatan, lebih dekat ke Melayu. Si Pattani yang beruntung ini lebih sering kehabisan daging ayamnya sebelum pasar malam tutup, sehingga kami kadang terlambat dan hanya dapat ceker ayam saja. Untuk meyakinkan makanannya halal, si pedagang ini tidak hanya menempelkan stiker halal dalam tulisan Arab, tetapi juga mencantumkan nama “Allah, Muhammad SAW“, ditambah sebaris tulisan dua kalimah syahadat di gerobaknya.

Pedagang street food.
Pedagang street food.
Kodok panggang.
Kodok panggang.
Jus buah delima segar.
Jus buah delima segar.
Ikan asin bumbu bakar.
Ikan asin bumbu bakar.

tiff infomationKami masih baru di kota ini, jadi belum tahu di mana lorong-lorong penduduk Muslim. Padahal kita tidak akan merasakan perbedaan khas suatu kota sebelum menikmati street food-nya, atau menemukan sesuatu di pasar tradisionalnya.

Kita bisa mencari petunjuk kepada orang-orang lokal. Tapi jangan tanya nama jalan dan nomor. Di distrik-distrik perdagangan dan sentra wisatawan, mereka lebih mahir mengidentifikasi suatu tempat berdasarkan posisi gedung besar atau landmark ketimbang menyebut nama jalan dan nomornya. Baguslah itu, karena mendengar nama jalannya disebut bisa membuat kita pusing. Orang Thailand memiliki tulisan resmi untuk nama tempat dalam aksara Thai, tapi tidak dalam aksara Latin. Aksara Latin akan ditulis dan dieja berdasarkan bunyi yang diterima oleh setiap bangsa. Jadi berbeda-beda.

Di setiap gedung besar yang mereka tunjuk sebagai penanda kawasan, maka di sekelilingnya akan berdiri pasar-pasar, night market, dan aktivitas kaki lima. Masyarakat bawah tidak dikesampingkan. Malah hubungan antara pengelolaan gedung dengan pasar rakyat seperti jantung dan pembuluh darah. Tidak heran bila kemudian lingkungan suatu hotel berbintang lima terlihat bagaikan pasar-pasar umum. Bahkan hotel itu hanya memiliki satu jalur pintu masuk untuk tamu-tamunya. Selebihnya menjadi daerah kekuasaan para pedagang. Tapi sungguh aneh, kok serasi kelihatannya.

Setelah check-in di The Berkely Hotel, malam pertama ini kami lewati dengan menyusuri lorong-lorong sempit di Pratunam, mencari makanan, dan mencari hal-hal yang menurut kami menarik. Sejak keluar dari pintu The Berkeley Hotel, aroma makanan kaki lima sudah menyerang hidung kami. Puluhan deretan gerobak terlihat sibuk melayani para pembeli, baik turis maupun penduduk lokal yang lewat.

Check-in di Lobby The Berkely Hotel.
Check-in di Lobby The Berkely Hotel.
Lobby.
Lobby.

Lorong-lorong pasar di sektor pakaian tak kalah sibuknya. Para pengunjung asing melampiaskan keserakahannya di pasar ini. Yang paling ribut adalah turis-turis dari Cina daratan. Mereka berbicara seperti melawan angin ribut. Tak peduli ludah mereka meloncat-loncat. Dari kawasan pedalaman yang dulu wilayah kampung-kampung terbelakang, kini warga China daratan mulai suka jalan-jalan keluar negeri. Mereka datang dalam grup-grup besar. Saat ini, pengunjung terbanyak di Bangkok adalah China daratan. Sejak di bandara, mereka segera dikenali dari logat, volume suara dan rombongannya yang banyak.

Sekelompok turis China.
Sekelompok turis China.

Entah bagaimana caranya, Bangkok telah menjadi magnet wisata di kawasan Indochina. Padahal kota ini sangat rumit, paling tidak dalam tiga hal. Pertama, Bangkok adalah kota yang sangat rumit dengan jaringan kabel-kabel teleponnya. Saya belum pernah melihat kerumitan kabel telepon seperti di sini, karena semua kabel adalah exposed, tidak ada yang ditanam. Ini adalah “neraka” bagi para fotografer yang suka mengabadikan gedung-gedung.

Jaringan kabel, tapi ini belum seberapa.
Jaringan kabel, tapi ini belum seberapa.

Kedua, Bangkok merupakan kota yang sangat rumit dengan jaringan transportasinya. Hal ini termasuk menyangkut jalan tol, jalan layang dan jalur sungainya yang mirip jalinan ular. Seluruh moda transportasi, mulai dari ojek, tuktuk, aneka jalur bus umum, aneka warna taksi, kereta api, sampan sungai, bus pariwisata, jutaan mobil pribadi dan sepeda motor, tumplek di kota. Dengan itu semua, bersama 8 juta penduduknya (plus turis mancanegara), Bangkok dinyatakan sebagai kota termacet di dunia. Setelah itu, Jakarta. Para sopir di Bangkok tidak hanya memerlukan SIM, tapi juga kesabaran.

Kerumitan ketiga adalah pasar-pasarnya. Sebenarnya, semua ruang dan waktu di Bangkok adalah pasar yang hidup dan dinamis. Kadang-kadang, memperhatikan seorang pedagang kecil yang hanya menggelar beberapa aksesori yang sunyi pembeli, kita jadi terpikir, “apakah dia bisa hidup dari pekerjaan itu?” Tapi ternyata Tuhan sudah membagi rezeki masing-masing orang. Begitu banyaknya pasar, baik waktu pagi, siang dan malam, membuat wajah kota selalu berubah-ubah. Nafsu belanja meningkat dan kita tidak tahu harga standar. Antara kota dan pasar, tidak ada lagi bedanya. Dinamika di mana-mana.

Mengenal kerumitan Kota Bangkok adalah serumit memahami perempuan. Di sini para bikhhu menjaga moralitas rakyat, dan gambar mereka ditempel di mana-mana. Tapi pertunjukan amoral juga tumbuh di mana-mana. Turis Arab mengambil kapling pertunjukan seronok di Lorong Nana. Para turis Jepang mengambil bagian di Pat Pong. Orang Korea ngumpul di Aso. Sedangkan turis Eropa lebih menyukai bergila-gila di Pattaya, sekitar 3 jam dari Bangkok. Industri dan spritualisme saling bertegur sapa.

Namun setelah kerumitan ini kita masuki pelan-pelan, maka kita akan bertemu suatu pola yang amat detil dan teratur. Semua orang mengambil bagiannya, termasuk para waria yang diterima sebagai warga biasa. Mereka bersabar dengan hidupnya. Bangkok is a rhytm. Itulah yang membuat kota ini rumit tapi menarik. Dapatkan ritmenya, nikmati kehidupannya.

Kami merasa beruntung melewatkan istirahat di The Berkeley yang lokasinya tak jauh ke mana-mana. Hotel ini terhubung langsung dengan pintu Palladium Mall dan pasar jalanan. Hotel ini juga tercatat bersejarah bagi mereka yang mengikuti pemilihan Miss Universe, karena The Berkeley adalah venue bagi ajang kecantikan perempuan sejagat itu. Di kolam renangnya, para wanita yang mengikuti kontes tersebut pernah berbaris, melenggang lenggok dengan gaya mereka yang diatur, sembari mengenakan pakaian yang tentu saja membuat laki-laki normal bisa hilang keseimbangan.

Dan saya masih akan melanjutkan cerita tentang Bangkok…

 

LEAVE A REPLY