Ayo ke Medan, Sekarang Musim Durian!

0
668

Dr Arifin Saleh Siregar, SS, MSP, adalah seorang dosen muda berbakat dari Kopertis untuk suatu universitas swasta ternama di Medan. Sore ini ia punya waktu luang yang cukup untuk mengajak anaknya yang bungsu jalan-jalan santai keluar rumah. Aroma liburan akhir tahun sudah terasa menjelang minggu terakhir Desember 2015. Tapi aroma yang lebih mengusik minatnya hari ini adalah durian. Ya, durian medan, kata orang.

Mereka menuju kawasan persimpangan Titi Kuning. Tidak sulit menemukan penjual durian di sini. Begitu membuka pintu mobil, ia dan si bungsu sudah mabuk ke dalam ribuan butir durian yang mengeluarkan aroma dengan berbagai tingkat kematangannya. Mmmm…

“Wah, sudah musim besar!” seru Arifin senang, seraya memeluk pundak anaknya, berjalan menuju trotoar yang hampir tidak tampak lagi permukaannya. Di depan toko-toko, tumpukan durian terlihat membukit, seolah-olah meniru tempat di mana ia tumbuh nun di hutan-hutan Bukit Barisan.

Musim besar, artinya musim puncak durian sepanjang satu tahun. Ini hanya terjadi di sekitar akhir tahun hingga awal tahun, tatkala kebun-kebun dan hutan durian di sepanjang pesisir timur Sumatera sedang berbuah. Dari Padang Lawas Utara hingga Langkat, durian berbuah dengan pola bergiliran seperti gelombang Selat Malaka. Ketika di suatu tempat sedang berbunga, maka di tempat lain sedang berputik. Dan di tempat lainnya barangkali ada yang sudah berbuah besar atau menunggu jatuh. Demikianlah seterusnya. Simfoni musim durian ini akan bertemu pada puncaknya di akhir tahun. Ketika semua buah durian berjatuhan ke tanah, baik yang baru mulai “belajar jatuh” maupun yang sudah memasuki buah-buah terakhir.

Pola musim inilah yang membuat Kota Medan selalu punya durian, meskipun tidak selalu banyak sebanjir sekarang. Ketika musim pesisir timur ini sudah berakhir, maka musim pesisir barat akan menyusul dengan pola yang sama. Sehingga, musim durian tidak pernah berhenti sepanjang tahun di Medan. Padahal, Medan sendiri tidak punya sebatang durian pun untuk dijual buahnya, kecuali beberapa pokok yang ditanam dan dikerdilkan di taman sebagai kesenangan dan hiasan. Kota ini, seperti umumnya kota-kota yang dimiliki para kapitalis, hanya numpang nama.

Arifin Saleh Siregar menikmati durian pilihannya.
Arifin Saleh Siregar menikmati durian pilihannya. (kontributor foto: arifin s. siregar)

Arifin tahu, ini adalah momen yang paling tepat untuk menikmati durian sepuasnya. Kalau membeli di musim awal, harga durian terlalu tinggi. Meskipun, tentu saja, ia sanggup membelinya sebanyak yang ia inginkan, namun kualitas durian pada awal musim kurang memuaskan. Tertarik dengan harga jual yang tinggi, para pemilik durian umumnya “memaksa” panen, sehingga banyak di antara buah durian yang tidak “panen jatuh”, melainkan dipetik dan diperam. Istilahnya, matang paksa. Durian yang seperti ini, bagaimanapun cantik rupanya, rasanya tidaklah enak.

Sebaliknya, di musim puncak, durian berjatuhan seperti hujan. Setiap pagi para pemilik durian tinggal memungut buah durian yang berserakan di atas tanah. Sebagian di antaranya sudah bolong dimakan tupai. Tapi jangan salah sangka, durian yang sudah dimakan tupai adalah jaminan mutu. Banyak di antara pemburu durian yang tak mau repot berspekulasi dengan rasa durian. Mereka tinggal mencari buah yang sudah dimakan tupai, dan ia akan membeli durian itu untuk menikmati sisa tupai. Berbagi dengan tupai tidak ada ruginya. Durian yang dimakan tupai sudah pasti buah pilihan, sebab tupai hanya memakan buah yang enak dan berkualitas tinggi. Samalah dengan kasus luwak dan kopi. Mengapa kopi luwak sangat mahal harganya? Karena luwak hanya memakan buah kopi terbaik. Mereka adalah tukang seleksi terbaik dari alam. Mari berterimakasih kepada luwak dan tupai.

Meskipun demikian, ada sedikit perbedaan antara durian yang dimakan tupai dengan kopi yang dimakan luwak. Kalau kopi yang dimakan luwak justru makin mahal harganya, tapi durian yang dimakan tupai justru makin murah nilai jualnya. Nah!

Durian-durian medan pada musim puncak didatangkan oleh para pedagang pengumpul dari kampung-kampung, terutama dari kawasan Sibiru-biru, Deli Serdang. Durian Sibiru-biru yang terletak di lereng Bukit Barisan terkenal enak rasanya. Ada yang saking legitnya terasa bernuansa pahit. Banyak orang yang mencari jenis rasa yang seperti ini. Tidak ada satupun jenis durian unggul di Malaysia dan Thailand yang bisa menandingi variatifnya rasa durian hutan di Sumatera.

Pada awal musim, durian di Medan bisa dijual seharga Rp 35.000 untuk ukuran sedang, dan lebih dari Rp 50.000 untuk ukuran super. Harga ini akan menurun pada musim puncak, dengan kualitas yang lebih baik. Para penjual durian yang berserak di hampir seluruh jalan di kota ini berkompetisi untuk menghabiskan dagangannya. Posisi tawar pembeli pun menguat.

Para pedagang durian di kaki lima pada umumnya adalah rantai pedagang ke sekian. Sebelum sampai di tangan mereka, durian diborong oleh pedagang pengumpul (toke durian) dari para pemilik durian di berbagai kampung. Metode borong ini bisa bayar di tempat, tapi ada juga yang melakukan praktik ijon. Mereka sudah membayar dulu kepada petani ketika durian masih berbunga. Dengan pembayaran ini, maka pemilik durian tidak boleh lagi menjual duriannya kepada orang lain meskipun ada yang datang dengan penawaran lebih bagus. Banyak juga petani durian yang terjerat dengan cara ini karena mereka memerlukan uang lebih cepat dari datangnya musim panen.

Para toke durian selanjutnya membawa durian ke Medan dan beberapa kota kecil di Sumatera Utara. Di sana, bukan mereka yang langsung menjual ke masyarakat. Masih ada rantai selanjutnya, yaitu pemilik-pemilik lapak di kaki lima. Para pemilik lapak ini menyediakan tempat, mengatasi preman, menyediakan lampu, tikar, pisau, tali, dan berbagai perlengkapan yang diperlukan untuk berdagang durian. Tapi mereka pun ternyata bukan pedagang akhir. Masih ada lagi orang-orang tertentu yang bertindak sebagai penjaja durian yang tertumpuk di lapak. Nah, orang-orang inilah rantai terakhir yang bersentuhan langsung dengan konsumen. Mereka umumnya mahir mengenai seluk-beluk durian, tahu yang rasanya manis, pahit, keras, lembut, dan berbagai karakter rasa durian. Mereka juga cekatan untuk menaksir harga durian, mengikatnya dengan tali, atau mengupas durian apabila si pembeli memilih makan durian di tempat. Dan tentunya mereka juga jago kulok (istilah Medan) untuk mengatakan bahwa durian merekalah yang paling enak.

Karena banyaknya penjual durian di Medan, baik yang hanya kagetan maupun yang sungguhan, maka dikenallah apa yang disebut dengan legenda-legenda pedagang durian. Kalau Anda berkunjung ke kota ini, maka siapapun akan bisa menunjukkan di mana letaknya Durian Ucok, Durian Jalan Pelajar, Durian Wong Rame dan sebagainya. Mereka melegenda karena dikenal memiliki kemampuan dalam pasokan yang tetap sepanjang tahun, kualitas durian dengan sortir yang ketat, dan pelayanan yang lebih profesional. Siapapun yang ingin makan durian medan dengan puas, atau ingin menjamu orang-orang penting tanpa kuatir akan mengecewakan, maka pedagang-pedagang durian tersebut akan membuat hati mereka tenang. Tidak heran bila kemudian para selebritis, pejabat penting dan orang-orang dari kelas yang jumlahnya sedikit, selalu tampak di sini.

Belakangan, selain belah durian, sejumlah pengusaha olah durian juga bermunculan di Kota Medan. Di antaranya adalah Durian House, sekelas restoran yang menyediakan aneka sajian berasas durian, pan cake durian dari sejumlah outlet makanan, es durian, bolu durian, dan seterusnya. Munculnya aneka industri pengolahan durian ini memicu volume serapan durian di Medan, sekaligus menaikkan sisi permintaan. Di sisi lain, jumlah pohon durian semakin berkurang akibat usia dan lahan hutan yang kian menyempit. Tanaman yang tumbuh sebagai warisan lintas generasi ini mudah saja ditebang untuk kepentingan papan. Kita telah sampai ke generasi yang kurang bertanggung jawab. Dampak dari situasi ini adalah meningkatnya harga durian karena menyusutnya persediaan, ditambah pula dengan inflasi atau merosotnya nilai tukar uang. Tidak akan terlalu mengherankan bila dalam beberapa tahun ke depan harga durian akan mencapai Rp 100.000 per butir, dan buah ini akan dipandang sebagai barang antik nan eksotik.

Bagi Arifin, studi dampak ini tentu bukanlah masalah asing, karena secara akademik, tesis dan disertasinya sendiri mengambil tema studi dampak pembangunan dengan mengambil kasus pertambangan. Tapi sore ini, ia tak mau terlalu pusing memikirkan hal itu. Apa yang terlihat di depan mata saat ini, jauh lebih penting, yaitu bagaimana memilih durian yang paling enak di antara ribuan durian yang menumpuk di depan mata mereka—hingga tubuh mereka terlihat hampir tenggelam oleh lautan durian itu. Dan itu bukanlah perkara yang terlalu sulit baginya. Pengalaman yang panjang selama di kampung halaman dengan durian tidak akan membuatnya keliru.

Benar saja, tak terlalu lama, ia sudah menikmati beberapa butir durian bersama si bungsu, dan mereka hanya berhenti apabila perut tak sanggup lagi menampung belahan selanjutnya. Durian medan memang tiada duanya. Nah, bagi Anda yang gila durian, datanglah ke Medan, sekarang lagi musim durian.

LEAVE A REPLY