Ayo Makan!

0
879

Orang Belgia menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk urusan makan siang. Sebagian orang akan mengatakan itu sebagai tradisi yang berlebihan, buang waktu, atau congok. Tapi kali ini saya ingin mengajak Anda melihat dua jam itu dengan cara yang lain.

Dalam tradisi manapun, makan adalah urusan penting. Ia berkaitan dengan kelangsungan hidup di satu sisi yang paling standar, dan menjadi urusan seni serta cita rasa di sisi yang lebih tinggi. Setiap suku memiliki cara memasak sendiri, sehingga makanan pun menjadi suatu identitas yang khas pula. Setiap suku ingin membesarkan anak-anak mereka dengan cara yang tidak sembarangan. Mereka mengenal alam lingkungan mereka, dan sangat terampil meramu bahan-bahan di sekitarnya menjadi makanan yang selain enak, juga sehat.

“Jangan melakukan pembicaraan sebelum makan,” kata orang China. Bagi mereka, meja makan menjadi sangat penting. Banyak keputusan besar di buat di atas meja makan. Itulah sebabnya mengapa sebagian orang China membuat lantai ruang makannya lebih tinggi dari lantai yang lain. Mereka menghormati makanan, dan mereka makan dengan adab yang halus lagi tinggi.

Dalam ajaran Islam, dikenal istilah makanan yang halal dan thoyyiban. Artinya, selektif dan baik. Tidak semua daging boleh dimakan kecuali yang dihalalkan, dan yang boleh dimakan itu pun harus dalam kondisi baik. Sebelum makan, disunnahkan berdoa dan mengungkapkan rasa syukur atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah.

Sebuah bangsa harus dibangun sejak dari perutnya. Bangsa Korea dan Jepang menjadi masyarakat “aria” di kawasan Asia, bisa jadi karena mereka lebih baik dari yang lain dalam soal tradisi makan. Belilah CD serial “Jewel in the Palace” yang menggambarkan masyarakat dan budaya politik mereka di dalam mengatur makanan. Sangat aristokratis dan filosofis. Makanan mengandung ilmu kesehatan, filsafat, seni, keterampilan, kebersamaan, hingga politik.

Dalam soal makan, tradisi kebangsawanan itu sangat bagus. Kita harus menjadi pemilih yang ketat, tidak sembarangan. Kita harus sombong untuk tidak mau memasukkan sesuatu yang tidak berguna dalam perut kita. Makanan sudah harus terpilih sejak dari cara memperolehnya, seleksi bahan-bahannya, proses memasaknya hingga cara memakannya.

Di Indonesia, urusan makanan telah membuat ratusan suku tidak dapat direndahkan satu sama lain. Masing-masing adalah maestro untuk lingkungannya, dan semua keberagaman kuliner ini telah membuat kita kewalahan untuk menuangkannya ke dalam satu katalog. Dalam konteks kebudayaan, kesulitan bahan makanan dan kemiskinan sosial tidak selamanya terbukti paralel dengan kualitas, mutu dan cita rasa makanan yang dihasilkan. Di masyarakat Angkola dan Mandailing, contohnya, kesulitan lauk pauk sebagai sumber protein telah membuat mereka menemukan sambal tuktuk yang lebih enak dari sambal masyarakat pesisir yang akrab dengan belacan. Sambal tuktuk adalah ikan-ikan kecil berduri yang ditumbuk bersama garam, cabai dan belimbing. Dengan cara ini, semua bagian ikan dapat dimakan, sehingga tiap anggota keluarga dapat menikmatinya.

Di Jawa Tengah, kesulitan beras telah membuat mereka sampai kepada penemuan tiwul. Ini adalah jalan keluar yang awalnya bersifat darurat, namun kemudian naik kelas menjadi sajian bintang lima. Beberapa pembuat tiwul di Yogyakarta telah menjadi legenda, dan mereka menjadi incaran para pelanggannya, hingga mereka tidak sabar untuk merangsek hingga ke sela-sela dapurnya.

Panjang lagi ceritanya bila kita ingin meneruskan perihal makanan ini di Indonesia. Tapi saya harus sampai pada satu masalah baru yang membuat kita prihatin soal makanan di negeri ini. Seiring dengan industrialisasi masyarakat di mana bangsa kita sedang digiring ramai-ramai menjadi bagian dari alat produksi—untuk tidak menyebutnya perbudakan (proletariat), berkembanglah suatu peradaban baru yang sangat buruk soal makanan. Masyarakat yang ditandai dengan perburuhan adalah masyarakat yang telah disita waktunya untuk memasak.  Mereka memakan apa yang telah disediakan dalam pengertian efisiensi. Makanan tidak boleh merepotkan proses produksi. Oleh karena itu, jam makan siang pun telah diatur secara massal. Seperti hewan ternak yang harus makan tepat pada waktunya agar produktif, manusia-manusia digiring dan dihalau pada jam yang sama menuju tempat-tempat pemberian makan yang ditentukan. Mereka harus makan terburu-buru kalau tak mau terlambat dan terkena sanksi. Makan telah dimasukkan ke dalam agenda disiplin industri.

Kini bangsa kita telah mengadopsi mentah-mentah budaya makan bangsa Amerika yang mirip hewan peliharaan. Sebagian besar warga Indonesia menganggap persoalan makan sebagai urusan sambilan yang bisa dilakukan beberapa menit saja, bahkan sambil jalan, atau sedang mengobrol dengan seseorang. Inilah yang dilakukan orang-orang New York yang demi efisiensi waktu telah menciptakan budaya cepat saji yang tak sehat dan membuat badan mereka gembung-gembung seperti babi.

Bangsa yang bebas—meskipun miskin—tidak akan melakukan hal seperti itu. Mereka akan cenderung menyembunyikan kemiskinannya di dalam rumah, dan berjuang menyenangkan perutnya dengan kreativitas yang baru. Tapi tidak dengan para budak. Mereka makan apa yang ada, dan tak punya waktu untuk memikirkan cara lain. Dari aspek makanan ini, dapat pulalah kita temukan mana bangsa yang bebas dan mana yang budak.

Warga kelas bawah yang telah diperbudak akan mengkredit sepeda motor dengan cara mengurangi jatah makan keluarganya. Sebagian lagi makan dengan lauk yang ketahuan dicemari formalin. Ada yang memilih jalan pintas dengan penggunaan bumbu penyedap  kemasan untuk mendapatkan kenikmatan. Dan kita pun melihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana suatu keluarga sederhana lebih suka membelikan “kentaki-kentaki jalanan” dan sayur masak untuk anak-anaknya. Dengan begitu, mereka tak perlu memasak lagi. Inilah faktanya: orang miskin dan orang kaya tak memasak lagi. Keduanya sama-sama budak.

Sebagai bangsa yang memiliki ribuan perbendaharaan kuliner, kita sudah sepatutnya menjadi pewaris yang sensitif terhadap hal-hal yang mengurangi nilai makanan, apalagi terhadap racun semacam formalin. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang tak pandai memasak, jorok, rendahan, kuli, brengsek dan bodoh. Renungkanlah, dari tingginya selera budaya nenek moyang kita, kini kita manggut saja memakan racun bertahun-tahun, kelaparan di atas tanah pertanian, dan hanya tahu makan nasi yang kualitasnya adalah hasil sortir pada urutan terakhir. Mereka bekerja keras di pabrik-pabrik untuk bisa membeli sayur setiap hari, dan lupa menanam sayur di pekarangan rumahnya sendiri.

Bahkan, di daerah kita ini, ada warga yang makan “ikan monza”, bukan karena tidak ada ikan yang utuh, tapi kita tak punya waktu lagi untuk mencari ikan untuk diri kita sendiri.  Yang dimaksud dengan ikan monza adalah tulang dan kepala ikan sebagai sisa olahan pabrik. Tulang-tulang itu dijual dengan harga murah. Rakyat kepulauan ini makan tulang ikan, sementara dagingnya dimakan orang luar negeri.

Bila ingin memulai sesuatu pada bangsa ini, kita harus membangun tradisi baru dalam hal makanan. Kita punya koki-koki yang hebat, para ibu rumah tangga yang berbakat. Tradisi makan yang sehat dan bernilai tinggi adalah sumber energi pembangunan. Anak-anak hanya akan siap menerima pelajaran dengan tubuh yang sehat. Kekurangan gizi, apalagi kurang nutrisi, adalah pangkal kekacauan. Bangsa yang begini akan cepat kehilangan akal sehat, gampang mengamuk, dan kehilangan martabat.

Ayo makan!

LEAVE A REPLY