Bang Halim (Georg S. Jakstadt M.A)

0
878

halimDia telah meninggal dunia dalam usia yang belum senja, dan namanya dikenang sebagai penggiat petualangan alam bebas paling fanatik di Sumatera. Sepak terjangnya sempat memicu geliat berbagai program adventure, terutama kayaking dan arung jeram di sejumlah spot pariwisata di Sumatera dan sejumlah kawasan lain di luar pulau ini. Kegilaannya pada kedua jenis sport-tourism berbasis sungai ini telah menjadikan ia seumpama manusia yang hidup di atas jeram.

Ini adalah kisah tentang Georg S. Jakstadt, M.A, seorang Jerman. Ia jatuh cinta pada Sumatera karena dua hal: alam dan salah seorang wanitanya. Rencana kedatangannya pertama kali ke pulau ini hanyalah untuk meneliti kerusakan hutan. Namun pria yang kemudian akrab disapa dengan panggilan “Bang Halim” itu justru keterusan menyukai alam Sumatera yang baginya cukup asing dan menantang. Alih-alih pulang ke negerinya, Georg justru keasyikan berkeliaran di sungai-sungai dan hutan tropis hingga akhirnya memutuskan untuk menetap di Sumatera. Hingga akhir hayatnya.

“Kayaking dan arung jeram tidak saya temukan di negara saya. Saya juga tidak punya basis pengetahuan tentang kedua kegiatan ini, namun saya sangat senang bisa memiliki kesempatan untuk menikmatinya. Bagi saya, alam Sumatera itu sangat menantang,” katanya suatu ketika.

Pada 1992, pria lulusan Ilmu Georafi, Universitas Trier, Jerman, ini tiba di Sumatera untuk meneliti dan melihat langsung hutan-hutan tropis di Sumatera. Saat itu merupakan masa yang sangat menggemparkan negara-negara maju. Hutan-hutan terus mengalami kerusakan akibat kebakaran dan pengalihan fungsi menjadi lahan perkebunan.

“Saat itu saya berkeinginan membuat tulisan tentang kehancuran hutan. Karena akses jalan untuk menjangkau hutan sangat sulit, maka saya memilih menggunakan sampan, sehingga dapat mencapai bagian dalam hutan lewat jalur sungai,” ujarnya.

Setelah mencoba terjun langsung ke lapangan, Halim merasakan sesuatu yang spesial dengan sungai-sungai di Sumatera.  Arus yang deras dan besar harus dihadapinya. Di beberapa jeram sungai, ia bahkan menemukan kondisi yang mengancam keselamatan jiwa. “Sejak itu saya menjadi suka dengan kegiatan arung jeram dan selanjutnya mempelajari pengoperasian kayak di arus deras,” kata pria kelahiran Hannover tahun 1963 ini.

Meski hanya belajar lewat buku panduan dan praktik langsung secara otodidak, Halim akhirnya bisa mahir dalam berbagai gerakan kunci kayaking. Untuk menguasai eskimo roll atau gerakan membalikkan sampan, pria yang menikahi jurnalis TV, Linova Rifianty, di Medan ini membutuhkan waktu latihan hampir setengah tahun.

Ketika terjadi krisis moneter dan gerakan reformasi di tahun 1998 yang disusul oleh maraknya aksi terorisme dan pengeboman, warga negara asing sudah tak betah tinggal di Indonesia. Namun pada saat itulah Halim membulatkan tekadnya untuk tinggal di negeri ini dengan keasyikan mengarungi sungai sambil mengamati flora dan faunanya.

Sebenarnya, tujuan pria berambut pirang ini sedikit pun tidak untuk mengharapkan sejumlah uang ataupun menjadi atlit. “Bagi saya, yang paling pokok, ini hanya sekadar menyalurkan hobi. Saya mencari teman-teman lokal untuk sama-sama mengembangkan kegiatan petualangan sungai ini menjadi atraksi ekowisata,” tuturnya.

Selanjutnya, dengan segala keterbatasan dan kemampuan yang ada padanya, Halim mencoba mendidik para pemuda di Bukit Lawang, Bahorok, agar bisa menjadi instruktur kegiatan air ini. Kemampuannya beradaptasi dan menguasai Bahasa Indonesia tidak menghalanginya bergaul dengan siapapun. Sapaan “bang” yang melekat di depan nama barunya “Halim” adalah bukti bahwa ia telah di-sumatera-kan.

Perlahan tapi pasti, Halim akhirnya memiliki seorang murid yang sangat handal memainkan kayak. Jono namanya. Sang murid ini beberapa kali diikutkannya dalam kejuaraan kayaking di Eropa. Ada satu pengalaman unik antara Halim yang menjadi pelatih, dan Jono sebagai atlit dalam beberapa kesempatan mereka mengikuti pertandingan. “Kami selalu lupa membawa bendera Indonesia sebagai identitas, sehingga terkadang kami meminjam bendera dari tim lain seperti Monaco ataupun Polandia. Seperti halnya saat panitia kejuaraan K1 Downriver Kayak Racing di Treignac, Perancis, panitianya meminta bendera kepada Jono. Sialnya kami lupa bawa Merah Putih. Lalu, cari akal, kami mencari tim lain dari Polandia untuk meminjam bendera mereka. Namun bendera Polandia tersebut harus dibalik sehingga menjadi bendera Indonesia…ha…ha…ha…” ujar pria yang menamai komunitasnya dengan Sumatra Savage ini.

Selain mengikuti kejuaran di negara lain, Halim juga pernah mengadakan kejuaraan kayaking di Sumatera Utara. Kejuaraan yang mendapat apresiasi dari negara lain seperti Thailand, Malaysia dan Singapura ini dirintis pada tahun 2000 di Asahan. Meski hadiahnya kecil, namun saat itu ada sebanyak 42 peserta yang mengikuti kejuaraan.

Sayangnya aktivitas yang hanya diminati oleh kalangan ekonomi atas ini pada tahun 2001 menjadi menurun. Hanya 15 orang yang ikut. Alasanya bukanlah karena Asahan tidak begitu menantang adrenalin lagi, melainkan adanya beberapa sosok yang korup. Untuk tahun 2003, kejuaraan ini akhirnya dihentikan. Halim merasa benci karena dipermainkan oleh orang yang langsung memutar otak saat mencium aroma uang.

Meskipun kejuaraan berhenti, namun aktivitas kayaking di Sumatera tidak lantas mati suri. Halim masih gigih memperkenalkan dan mempromosikan kayaking ke daerah-daerah baru di Sumatera. Selain kayaking di sungai, ada juga kayaking di danau maupun laut dengan jenis kayak yang lebih langsing, berbeda dengan kayak arus deras. Halim juga telah membuat komunitas kayaking bernama Napoleon dan Acropora di Pulau Banyak. Baru-baru ini, aktifitas kayaking keliling Danau Toba mulai digencarkan.

Halim kemudian menyimpulkan, mengembangkan ekowisata lebih penting daripada mengejar prestasi olahraga di bidang tersebut. “Karena dengan ekowisata, alam akan tetap terjaga dan lestari. Di samping itu, sektor pariwisata akan menjadi sumber pencarian masyarakat daerah. Bagi saya, menjadi pencinta dan penghobi lebih bermanfaat daripada mencari medali. Saya juga dulu pernah jadi juara renang. Tapi setelah jadi juara, saya memilih berhenti dan tidak ikut lagi berlomba karena saya selalu dipaksa untuk latihan,” katanya mengenang.

Di kediamannya di kawasan Bilal Medan, Halim menyimpan beberapa kayak, baik yang terbuat dari bahan fiber maupun yang inflatable dari karet. Kayak-kayak tersebut bukanlah miliknya sendiri, tetapi juga milik teman-temannya dari dalam maupun luar negeri yang merupakan pencinta kayaking. Menurut Halim, hingga saat ini para peminat kayaking di Sumatera masih sangat minim. Hal ini disebabkan mahalnya fasilitas dan tingginya pajak yang diberikan pemerintah bagi orang yang mau menginvestasikan modalnya di bidang ini.

Berkaitan dengan pajak, Halim pernah memiliki pengalaman pahit saat membawa satu unit kayak ke Indonesia. Saat itu, satu unit kayak seharga USD 1,300 itu dikenakan pajak hingga 50 persen lebih dari harganya. “Hanya untuk mengeluarkan dari Pelabuhan Belawan agar bisa dibawa ke Medan saja, saya harus bayar Rp 8 juta lebih. Padahal di Singapura dan Malaysia, pajaknya nol persen,” ujar Halim sambil menunjukkan kertas pajak kargo dari Pelabuhan Belawan yang diterimanya.

Halim mengatakan, hal-hal seperti itu merupakan kebijakan yang tidak bijak, bahkan mengecewakan. Padahal Sumatera memiliki alam yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata petualangan air. Kapan saja, katanya, dunia air di Indonesia bisa dinikmati para wisatawan sepanjang tahun. Tidak seperti daerah sub tropis yang sangat dipengaruhi oleh musim. Dan lebih anehnya lagi, negara yang kaya sumber daya alam ini belum berpikir untuk menciptakan fasilitas kayak, sehingga para pecinta petualangan ini masih harus menggunakan barang impor dari Eropa maupun buatan China.

“Untuk mengembangkan kayak, sebaiknya di Indonesia dibuat industri domestik, seperti halnya di China. Walaupun pajaknya tinggi, wisatawan pasti akan mengerti. Sedangkan jika tetap menggunakan barang impor, pemerintah harus menghapuskan pajak menjadi nol persen seperti di Malaysia dan Singapura,” ujar pria yang sempat juga mengembangkan wisata kayak di kawasan terumbu karang Raja Ampat Papua ini.

Tapi petualangan Halim rupanya harus terhenti. Ia bisa melawan arus yang sangat berbahaya, tapi Jumat, 22 Maret 2013, ia gagal melawan sakitnya. Warga Medan turut berduka. Gubernur Sumatera Utara menyempatkan diri melayat di rumah almarhum. Sahabat-sahabat kayakingnya di berbagai negara merasa kehilangan teman yang penuh semangat.

Bagi dunia pariwisata sendiri, meninggalnya Halim adalah sebuah kehilangan besar. Semoga alam sorga, “di mana sungai-sungai mengalir di bawahnya,” cukup bagi Georg untuk tetap dekat dengar air yang dicintainya. Amin.

(Tikwan Raya Siregar/Taripar M. Nababan)

LEAVE A REPLY