Bangkok Tour Bareng Wie Travel

0
335

Bangkok makin asyik di hari ketiga.

“Saya sudah sampai. Besok pagi kami jemput ke hotel ya, terus kita tour bareng,” demikian bunyi BBM dari Bang Erwin, pemilik Wie Travel di Medan.

Dialah yang mempermudah perjalanan kami kali ini. Sejak kami tiba di bandara dua hari lalu, ia sudah menghubungi kantor perwakilannya di Bangkok. Supaya mereka mempersiapkan jemputan khusus, private, lengkap dengan guide segala. Seorang perempuan bernama Mey melambai pada kami sambil tersenyum lega. Dari wajahnya, ia keturunan Pattani, sedikit berdarah India, dan karena menguasai Bahasa Melayu, tidak sulit baginya belajar Bahasa Indonesia. Bagi kami, ini tetap mengejutkan. Mencari orang yang mengerti Bahasa Inggris saja sulit di Thailand, dia malah fasih berbahasa Indonesia.

Mey tiba bersama seorang sopir yang “babar blas” tidak mengerti bahasa lain selain bahasa ibunya. Dia sangat setia di belakang setirnya, dan tidak bicara kalau tidak ditanya. Bukan sopir biasa, dia adalah seseorang di belakang setir Toyota Hiace edisi lux dari keluaran terbaru. Di dalam mobil ini, kami merasa didudukkan sebagai tamu VIP. Hanya kami berdua.

“Selamat datang,” sapa Mey sambil mengacungkan kertas bertuliskan nama kami. “Saya diminta Bos untuk menjemput Bapak dan Ibu.”

Bah, Bang Erwin dipanggil “Bos” di sini. Baiklah.

Membalas greeting Mey, kami mengucapkan salam “Shawadee.” Dia tertawa senang dan seisi mobil langsung akrab. Hari itu, dia hanya bertugas mengantar kami ke hotel, dan berjanji akan memandu kami dua hari kemudian bersama Bang Erwin yang menyusul ke Bangkok dari Medan.

Semuanya sesuai rencana. Dua hari kemudian, tepat jam 11, Erwin dan Mey sudah ada di hadapan kami. Mereka menunggu di lobby hotel, sekalian membantu mengurus check out, mengambil kembali deposit, dan Erwin mengatakan, dua malam berikutnya akan kami habiskan di Metro Resort, sebuah hotel berbintang tiga di Jalan Raya Petchaburi, Pratunam. Dia menjelaskan sekilas, dulunya gedung hotel ini adalah mall. Belakangan mall itu dirubah menjadi hotel yang suasananya jadi unik. Ada lift-nya, tapi ada juga eskalatornya. Lengkap fasilitasnya, kamar mandinya dilengkapi bath tube, dan salah seorang resepsionisnya adalah waria yang gesit.

***

Menurut Mey, tour hari ini akan dimulai dari tujuan wajib, yaitu Wat Pho, Wat Arun dan Grand Palace. Kami menuju arah inti kota dimana perkantoran pemerintah, istana raja, dan situs-situs kuno masih berdiri di bawah perawatan. Pohon-pohon asam jawa berbaris di sepanjang Jalan Raya Maha Rat yang membelah kawasan pemerintahan. Konon, Raja Thailand pernah berjalan-jalan ke Tanah Jawa dan membawa serta bibit pohon ini. Setelah ditanam dan tumbuh di Bangkok, mereka tetap menyebutnya sebagai asam jawa. Raja juga mengambil salah seorang selirnya dari Jawa dan mendirikan tempat peribadatan khusus untuknya.

Gerbang masuk Wat Pho.
Gerbang masuk Wat Pho.
Sembahyang di Wat Pho.
Sembahyang di Wat Pho.
Pilar-pilar kuil.
Pilar-pilar kuil.

Mobil berhenti di depan sebuah figura yang dikawal patung penjaga buatan Cina. “Ini adalah Wat Pho,” kata Mei sembari mengajak turun. Sepintas dari depan, kuil yang berlokasi di Distrik Rattanakosin ini biasa saja. Tapi begitu mulai masuk ke dalam, kerumitan ukiran dan arsitektur bangunan mulai menarik perhatian. Di kuil utama terdapat patung kuningan besar setinggi 150 kaki dan sepanjang 46 meter, yaitu Buddha yang sedang berbaring bertelekan tangan kanan. Patung itu membuat Kuil Pho juga dikenal dengan nama “Temple of the Reclining Buddha”, atau dengan nama resmi “Wat Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwaramahaviharn”.

Wat Pho adalah satu di antara kuil tertua di Thailand, dikembangkan oleh Raja Rama I, diperluas oleh Raja Rama III, dan kini memiliki koleksi lukisan dan ukiran Buddha terbanyak di negeri itu. Sebagai komplek ritual dan pendidikan, kawasan kuil ini dikenal sebagai tempat lahirnya teknik memijat tradisional ala Thai yang kini banyak dipraktikkan sebagai pengobatan maupun relaksasi.

l-wajah buddhaKetika Raja Rama I membangun Bangkok sebagai ibukota pemerintahannya, Wat Pho sudah berdiri duluan dengan nama Wat Photaram (merujuk pada tempat perlindungan Buddha di bawah pohon bodhi). Diperkirakan, Raja Phetracha (1688-1703) yang memerintah di masa Dinasti Ayutthaya telah berulangkali melakukan renovasi dan pengembangan, meski tidak semassif yang dilakukan Raja Rama I dari Dinasti Chakri (dinasti yang berkuasa sekarang di Thailand). Tapi siapa sesungguhnya yang pertama kali mendirikan kuil ini, tidak seorang sejarahwan pun yang bisa memastikan.

Ada empat kerajaan yang pernah berdiri di Thailand, masing-masing Kerajaan Sukhothai, Ayutthaya, Thonburi, dan Kerajaan Thai moderen yang berkuasa sekarang. Sebanyak 10 dinasti bergantian menguasai kerajaan-kerajaan tersebut. Dinasti yang paling banyak adalah di masa Ayutthaya. Tidak heran bila di masa ini pulalah banyak dilakukan pengembangan kuil dan pusat pemerintahan.

Sebagai gambaran, kisah film “Anna and The King” sendiri dibuat dengan mengambil setting akhir abad 19 di masa Dinasti Thai moderen. Mereka menyebutnya sebagai Raja Rama V dari Dinasti Chakri—dinasti yang berkuasa sejak tahun 1782 hingga hari ini.

Menariknya, pusaran kekuasaan antar-dinasti yang demikian intensif justru memberikan sumbangan masing-masing pada kuil-kuil di Thailand—kecuali masa penghancuran oleh Bangsa Burma yang mengakhiri Kerajaan Ayutthaya. Setiap dinasti maupun raja berusaha meninggalkan jejaknya pada renovasi, restorasi, maupun pengembangan kuil-kuil utama (royal temples).

Bahkan Dinasti Thonburi yang singkat (1769-1782) sempat juga memindahkan ibukota pemerintahannya menyeberangi Sungai Chao Phraya, ke samping Wat Arun, sebelum akhirnya dipindahkan lagi oleh Raja Dinasti Chakri yang pertama, Raja Rama I, ke kota yang kita kenal sekarang sebagai “Bangkok”. Thonburi dinamai dengan kota lama, dan Bangkok adalah kota baru.

Di Kota Bangkok inilah Raja Rama I membangun Grand Palace. Tahun 1788, dia memerintahkan konstruksi dan renovasi Wat Pho. Ia mengumpulkan semua patung dan gambar Buddha dari situs-situs lama yang ditinggalkan baik yang dibangun pada masa Sukhothai maupun Ayutthaya. Seluruhnya kemudian disatukan dan disimpan di Wat Pho.

l-wat“Wat” dalam konsepsi masyarakat Thailand adalah sebuah komplek kuil dengan berbagai bangunan fungsional, dimana tempat peribadatan dan patung Buddha yang utama menjadi pusatnya. Pengembangan Wat Pho sendiri masih berlanjut hingga raja-raja berikutnya. Kini, komplek kuil ini berkembang seluas 80.000 meter persegi, sebagai tempat penyimpanan lebih dari 1.000 patung Buddha, termasuk Patung Buddha Berbaring yang terkenal itu.

***

Puas mengelilingi Patung Buddha Berbaring, kami berjalan menuju tepian Sungai Chao Phraya yang terkenal. Para pedagang yang kami lewati menyapa dengan Bahasa Indonesia, “Ayo dilihat-lihat”. Mereka tahu orang Indonesia suka belanja.

Sungai Chao Phraya membelah kota lama dan kota baru. Membentang melewati berbagai negara di Indochina, Chao Phraya menjadi salah satu faktor pembentuk kebudayaan di Bangkok. Airnya yang kadang meluap dan banjir telah mempengaruhi arsitektur tradisional Bangkok. Di dalamnya hidup ikan-ikan patin dan berbagai jenis lain yang dilindungi. Tongkang-tongkang pengangkut pasir melintasi jalur tengah sungai, yang terlihat seumpama rumah-rumah bedeng bergerak. Komoditas sungai ini akan ditarik ke Kamboja atau Vietnam dan baru akan sampai setelah tiga minggu kemudian.

l-dagangan

Suvenir-suvenir di pasar menuju dermaga penyeberangan boat.
Suvenir-suvenir di pasar menuju dermaga penyeberangan boat.

Mey membayar tiket penyeberangan ke kota lama sebesar 3 baht per orang. Setara dengan Rp 1.200. Menyeberang sungai ini adalah atraksi tersendiri. Sebagian turis membeli paket tour sungai untuk melihat kota dari sudut yang berbeda. Beberapa kafe hadir di pinggir sungai dan menjadi pilihan makan siang dan makan malam. Mengunjungi Chao Phraya di waktu malam tentu akan jauh lebih fantastis karena impresi lampu-lampunya yang memantul di permukaan air. Sedangkan pada siang hari, suhu udara di Bangkok pada musim panas bisa melampaui 35 derajat Celsius.

Boat penyeberangan.
Boat penyeberangan.
Warung pinggir sungai.
Warung pinggir sungai.
Tongkang pasir.
Tongkang pasir.
Salah satu sudut Wat Arun.
Salah satu sudut Wat Arun.

Komplek Wat Arun adalah lokasi pemujaan Buddha terpopuler di antara lebih dari 31.200 kuil Buddha yang tersebar di seluruh Thailand. Kuil ini juga sering disebut dengan “Temple of Dawn” (Kuil Fajar). Berdiri dengan anggun di kawasan kota tua Thonburi, bangunan ini terlihat amat menonjol, terutama ketika fajar menyingsing di timur, dimana garis cakrawala yang berbatasan dengan perbukitan terlihat melintang di belakangnya, sementara Sungai Chao Phraya terus saja mengalir abadi di depannya seolah-olah tiap riaknya menyapa dan mengucapkan perpisahan kepada kuil yang menjulang bagai silhuet karena matahari yang terlalu terang di belakangnya. Air sungai ini akan menuju laut, tapi air yang sama akan kembali dan kembali sebagai kesatuan makro-kosmos yang tidak bisa dipisahkan.

Dibangun pertamakali pada Kerajaan Ayutthaya dengan nama Wat Makok (Kuil Zaitun), komplek peribadatan ini pernah mengalami pasang surut dan berbagai tahapan renovasi. Gaya arsitekturnya mirip kuil Bangsa Khmer, dan namanya sendiri berasal dari “Aruna” yang sebenarnya adalah salah satu Dewa Hindu. Pada sentuhan yang terakhir, Raja Rama IV menggunakan keramik-keramik mewah untuk memperindah kuil sehingga terlihat berkilauan. Keramik itu diambil dari kapal dagang China yang tenggelam di Chao Phraya.

Sedang direnovasi.
Sedang direnovasi.

Saat ini pun Wat Arun secara kebetulan mengalami renovasi kembali. Jadi kami tidak mengambil waktu terlalu lama untuk foto. Masih ada satu agenda lagi: Grand Palace.

***

Kami kembali ke Dermaga Tha Tien untuk menyeberangi Chao Phraya dengan boat ekspres. Akses lain menuju ke Thonburi atau Wat Arun adalah lewat darat, yaitu melalui Jalan Raya Arun Amarin. Tapi kami memilih naik boat untuk menikmati river view-nya.

Sesampai di Jalan Raya Maha Rat yang melintasi kawasan pemerintahan di Bangkok, di mana sopir tadi mendrop kami, perjalanan dilanjutkan menuju utara. Grand Palace sebenarnya bersisian langsung dengan Wat Pho. Grand Palace di utara dan Wat Pho di selatan. Jadi, tidaklah terlalu jauh. Grand Palace adalah cikal bakal kota baru setelah Thonburi ditinggalkan. Inilah titik nol km Bangkok. Istana Raja ini sebelumnya menjadi tempat tinggal bagi raja dan keluarganya, menyelenggarakan pemerintahan negeri, pengadilan, administrasi, dan penerimaan tamu asing sembari menunjukkan tingkat pencapaian dinasti mereka. Tapi sekarang, raja dan keluarganya memilih tinggal di luar istana. Namun segala seremoni kenegaraan masih tetap dilaksanakan di sana.

Seluruh pemimpin dunia nyaris pernah singgah di istana ini. Berbagai pertemuan penting juga digelar di sini. Nah, konon di dalam istana ini ada satu ruangan khusus yang hanya boleh dihuni oleh satu tamu pemimpin dunia yang amat dihormati. Tamu lain tak boleh memasukinya. Tamu yang amat istimewa itu bernama Sukarno, Presiden Indonesia pertama. Apabila berkunjung ke Bangkok, Sukarno selalu ditempatkan di sana, dan hanya dia satu-satunya kepala negara yang memiliki kekhususan itu. Paduka Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX memang sangat dekat dengan Sukarno. Dan sebagai “kurator” wanita-wanita cantik, Sukarno memuji kejelitaan permaisuri Sang Raja.

Keramaian turis di depan Grand Palace.
Keramaian turis di depan Grand Palace.

l-arsitektur grandGrand Palace bagaikan Istana Terlarang di China, di mana keberlangsungan monarkhi digodok lewat keturunan yang banyak dan sistem pengasuhan yang khusus. Konflik selalu bermain di dalamnya, sehingga diperlukan seorang yang berhati singa untuk meredamnya. Namun Grand Palace tidaklah sekokoh kemurnian Istana Terlarang yang tetap bertahan dengan seni arsitektur budaya China. Grand Palace sudah lama mengawinkan dirinya dengan Eropa. Komplek dengan 35 unit bangunan ini sangat kentara terpengaruh arsitektur Eropa yang diadon dengan dekorasi Thailand yang rumit. Unsur Eropa terutama ditemukan pada pemilihan pilar-pilarnya. Sedangkan warna Thailand terlihat pada ukiran, dekorasi dan atapnya.

Menyaksikan hal ini, saya teringat pada film “Anna and The King” yang terlarang itu. Di sana dikisahkan bagaimana Raja Rama V tergila-gila pada wanita barat bernama Anna yang didatangkan sebagai guru bagi anak-anak raja. Selain menginginkan anak-anaknya dididik secara Eropa, Raja Rama V juga digambarkan sangat tertarik dengan kemajuan dan kebudayaan Eropa. Apakah ini realitas yang membuat pembangunan istana mereka kelak menjadi bernuansa Eropa? Ataukah karena raja-raja berikutnya yang semakin silau dengan kemajuan Eropa? Tapi yang jelas, pada kenyataan saat ini, kami memang menemukan sebuah kecenderungan masyarakat Thailand di sekitar Bangkok yang menduplikasi situasi Eropa, seperti tiruan farm Eropa, tiruan Venesia, tiruan ranch, pabrik, theme park, dan sebagainya. “Serba Eropa” ini menjalar hingga luar kota, dan uniknya menjadi destinasi-destinasi baru yang mampu memikat hati wisatawan Asia. Dengan berkunjung ke lanskap-lanskap Eropa ini, para wisatawan bisa berfoto selfie ria serasa di Eropa.

Pos jaga di Grand Palace.
Pos jaga di Grand Palace.
Burung-burung di lapangan depan Grand Palace.
Burung-burung di lapangan depan Grand Palace.

Pada akhir pekan, situs Grand Palace menjadi tempat paling ramai pengunjung di Bangkok. Para turis mengalir silih berganti keluar masuk gerbang istana dari bus-bus besar dan kecil yang mengantri di jalan. Bangunan sucinya adalah Kuil Emerald Buddha (Wat Phra Kaew). Disebut demikian, karena terdapat satu patung Buddha kecil yang terbuat dari sebongkah emerald utuh di dalamnya. Patung ini dibawa dari Wat Arun dan termasuk patung Buddha paling disucikan di Thailand.

Setelah menyelesaikan tugas dengan tujuan wajib, kami kemudian meminta Mey membawa tour ke Jim Thompson. Bagi Mey, ini permintaan yang aneh bagi turis Indonesia. “Biasanya turis Indonesia dan Malaysia tidak tertarik dengan Jim Thompson. Mereka lebih suka shopping atau ke tempat-tempat yang bagus untuk foto-foto,” katanya.

“Oh!” Itu sajalah yang bisa saya bilang. Ia jujur sekali.

Semula Mey sudah merancang perjalanan ke Chocolate Ville, Santorini Park, dan yang “eropa-eropa” semacam itu, tapi kami minta ditiadakan saja. Itu adalah tempat para remaja dan ibu-ibu arisan ber-selfie ria. Kami terlalu tua untuk itu. Tidak ada pengetahuan yang kami cari di sana. Kecuali mau hepi-hepi saja.

“Tolong antar kami ke Jim Thompson”.

Mey ragu-ragu menatap Bang Erwin. Yang ditatap sedang mengantuk kelelahan. “Iya, bawa saja kemana mereka mau. Mereka tamu istimewa saya,” katanya, lalu ia menyandarkan kepalanya lagi. Tidur.

“Oke, Bos!” seru Mey. “Ke Jim Thompson!” katanya pada driver dalam Bahasa Thailand. Selanjutnya, apapun yang mereka bicarakan di jok depan, kami tak mengerti sama sekali.

Kisah tentang Jim Thompson, petualang legendaris Amerika di Bangkok, akan dikisahkan berikutnya.

LEAVE A REPLY