Melihat Batu Kelamin di Pulau Ungar

1
1846

Sebelumnya kami telah menelusuri sudut-sudut Pulau Karimun, bertemu dengan Suku Asli, menyaksikan aktivitas pertambangan granit berkualitas terbaik di dunia, air terjun Desa Pongkir, pantai-pantai yang indah, dan moda transportasi umum yang unik. Kini perjalanan dilanjutkan ke Pulau Kundur, yaitu pulau terbesar di Kabupaten Karimun. Tujuan akhirnya adalah Ungar, sebuah pulau kerdil yang terpisah dari Kundur oleh suatu selat kecil di bagian selatan.

Untuk menyeberang dari Karimun ke Kundur, kami dipandu untuk memasuki ruko milik seorang Tionghoa. Lalu kami berjalan terus ke belakang tanpa ditegur oleh siapa-siapa. Di ruangan depan ruko, saya melihat steling dan meja-meja kayu tempat minum teh dan kopi. Di sana banyak orang-orang nongkrong, memakai celana pendek, dan membuka kerah atas bajunya untuk mengurangi gerah karena udara yang lembab. Beberapa potong roti menggeletak di atas piring murah. Bersama roti itu, terdengarlah irama percakapan mereka, logat Melayu bercampur Hokkian.

Berjalan terus ke belakang setelah memasuki ruangan warung, saya pikir kami akan bersirobok dengan bagian dapur warung, tapi ternyata tidak. Kami malah keluar lagi dari dinding belakang, tapi kini dengan pemandangan yang berbeda. Halaman belakang ruko ini adalah lautan lepas. Di sana, di dekat sebuah loket tua, pada bangku-bangku lapuk yang panjang, sudah banyak orang menunggu. Aroma laut menusuk hidung. Amis. Dua boat kayu berwarna coklat menunggu di bawah tangkahan. Tangga yang saya sangsikan kekuatannya menjadi sarana penumpang untuk turun mencapai boat itu.

Saya diminta membayar ongkos Rp 15.000 untuk tujuan Teluk Beliah, Pulau Kundur. Jarak antara Tanjungbalai Karimun dengan Teluk Beliah ditempuh sekitar 20 menit. Teluk Beliah adalah bagian utara Pulau Kundur dan merupakan bagian paling dekat ke ibukota kabupaten. Sebenarnya ada ferry atau boat lain yang bisa membawa kami langsung ke Tanjung Batu, kota terbesar Kundur di bagian selatan, namun saya tidak akan melewatkan perjalanan darat untuk melihat lebih dekat kehidupan penduduk pulau terbesar di Kabupaten Karimun ini.

Foto: batamtoday.com.
Kota Tanjung Batu, Kundur. Foto: batamtoday.com.

Dari Teluk Beliah, selalu tersedia angkutan kecil mulai pagi hingga sore hari. Waktu tempuh ke Tanjung Batu sekitar 1,5 jam memotong bagian pedalaman Kundur dari utara ke tenggara. Sepanjang jalan, kami melewati beberapa desa kecil yang jaraknya cukup jarang satu sama lain. Jalannya cukup mulus, melewati tanah-tanah rendah yang kadang mirip lahan gambut. Tanaman yang paling banyak terlihat di kiri kanan adalah pohon sagu. Hingga sekarang, warga lokal masih mengolah sagu-sagu itu menjadi tepung, meski mereka tidak lagi mengkonsumsinya sebagai makanan pokok seperti ketika Karimun masih terisolir antara Asia daratan dan Pulau Sumatera.

Tepung sagu dijual ke Medan, Jakarta dan Batam. Dibanding Pulau Karimun, jenis lahan di Kundur lebih monoton karena permukaannya cenderung flat. Tidak ada gunung. Kota Tanjung Batu sendiri adalah pusat perdagangan yang lebih simpel dari Tanjungbalai. Cuacanya sangat panas. Toko-toko cina berjejer di sepanjang jalan utama dan berakhir di ujung tanjung. Karena Tanjungbalai terpilih sebagai ibukota kabupaten, penduduk Pulau Kundur menjadi terbelah. Orang-orang yang tinggal di pesisir utara lebih suka berbelanja ke Tanjungbalai Karimun ketimbang di Tanjung Batu. Sedangkan yang di selatan tetap merasa lebih murah berbelanja ke Tanjung Batu. Kota ini kalah pamor.

Suasana kota dapat digambarkan sebagai berikut. Ada beberapa penginapan di pinggir laut, tapi jangan membayangkan sebuah penginapan standar. Penginapan di Tanjung Batu sekaligus berfungsi sebagai pusat hiburan. Di sana mereka punya karaoke, biliar, dan sebagainya. Meskipun berlokasi di pinggir laut, tapi tidak ada restoran seafood yang legendaris di kota ini. Tapi harus saya akui, kedai-kedai milik Tionghoa mempresentasikan menu-menu yang sangat menggoda dan atraktif. Sayang, sebagai Muslim, saya tidak bisa menikmatinya.

Kami tidak bisa melakukan pengamatan lebih lama di Tanjung Batu. Bila ingin mendapatkan angkutan balik sore nanti dari Kundur ke Tanjungbalai, maka kami harus berangkat secapatnya menyeberangi selat. Speed boat terakhir adalah kira-kira pukul 17.00 WIB. Pilihan lainnya adalah menginap di Tanjungbatu. Dan itu kurang menyenangkan. Saya membayangkan malam yang membosankan dengan penginapan yang penuh nyamuk. Bangunan-bangunan di sini juga tidak menarik karena didominasi ruko-ruko yang merusak pemandangan kota. Jaraknya mepet ke jalan, penuh barang, tidak menyertakan faktor artistik, dan dijaga oleh orang-orang yang selalu menghitung uang. Lagipula, kota ini bukan tujuan utama kami.

Menyeberang ke Alai

Kami bergegas menuju loket penyeberangan. Seorang gadis Tionghoa duduk dengan mimik sangat bosan di belakang meja dalam bangunan tanpa dinding. Harga tiket menyeberang ke Alai di Pulau Ungar hanya Rp 3.000 per orang. Tapi bila ingin lekas berangkat, maka Anda harus bersedia membayar Rp 15.000 per boat. Bila tidak mau membayar lebih, jadwal penyeberangan bisa molor lebih lama karena harus menunggu penumpang lain dengan kuota minimum 7 orang. Kami memilih membayar Rp 15.000.

Teluk Ungar adalah celah perairan yang sempit. Gelombangnya pun tidak kuat dan cenderung tenang. Tapi karena cukup dalam, kapal-kapal penumpang besar bisa melewatinya. Sebuah pelabuhan ferry tersedia untuk melayani kapal-kapal rute Batam—Tanjung Batu—Tanjungbalai. Angkutan yang melayani penyeberangan teluk tersebut adalah sampan-sampan kecil bermesin dompeng dan bermuatan maksimum 10 orang dengan waktu tempuh sekitar 10 menit.

Begitu mencapai bibir tangkahan umum di Pulau Ungar, desa pertama yang kami temui adalah Alai. Desa ini terdiri dari deretan rumah-rumah kayu tua yang mayoritas dimiliki warga Tionghoa. Sebuah gardu jaga yang sekaligus menjadi pangkalan ojek tampak ditunggui beberapa orang. Saya juga sempat menyaksikan satu kedai pinggir laut yang tampaknya menjadi pusat keramaian di desa ini. Kedai itu adalah satu-satunya di Alai. Beberapa orang minum kopi sambil main kartu. Mereka mengabaikan cuaca panas yang sangat menyengat.

Penduduk Alai rata-rata memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengolah ikan dan kelapa, lalu menjualnya ke Tanjung Batu. Sebagaimana orang Tionghoa pada umumnya, mereka menjadi pedagang perantara dengan cara mengumpulkan hasil-hasil laut dan kelapa di Pulau Ungar. Desa ini sekaligus menjadi pintu masuk ke pulau kecil tersebut. Kami menyewa sebuah ojek, angkutan satu-satunya yang mungkin di pulau ini. Dengan membayar Rp 50.000, Anda bisa memakainya seharian dengan sistem lepas kunci setelah diisi satu liter minyak. Pemilik ojek menyarankan kami untuk mengikuti jalur beraspal agar tidak bingung. Memang tidak mungkin orang tersesat di pulau ini karena jalannya hanya satu arah dan berputar.

Pantai Batulimau (Foto: fiturmtop.blogspot.com)
Pantai Batulimau (Foto: fiturmtop.blogspot.com)

Setelah Desa Alai, hanya ada satu pemukiman lagi di Pulau Ungar, yaitu perkampungan nelayan di pedalaman dan pesisir Tanjung Batulimau. Pemukiman mereka sangat bersih, asri dan dinaungi pohon-pohon kelapa. Kehidupan berjalan sangat lambat. Ketika kami bertemu dengan penduduk di sebuah kedai sampah, mereka senang sekali bercerita dan memberikan keterangan yang berbelit-belit dan berulang-ulang. Mereka selalu khawatir kalau-kalau keterangan mereka kurang memadai.

Pendatang asing adalah hiburan bagi mereka. Secara umum, para penduduk sangat ramah dan memberikan perhatian yang baik pada pendatang. Pulau Ungar, apabila dikelola sebagai perkampungan wisata, cocok sekali. Huniannya belum padat dan lokasinya tidak jauh dari Tanjung Batu sebagai penyedia kebutuhan sehari-hari. Saat ini, belum ada penyedia akomodasi di Ungar, bahkan sekadar rumah makan untuk makan siang. Anda harus membawa bekal sendiri atau mengejar makan siang ke Tanjung Batu.

Pemerintah Kabupaten Karimun sendiri masih lebih mengkonsentrasikan pembangunan wisata di Kabupaten Karimun dan Kepulauan Moro. Tapi ada satu hal unik yang membuat kami merasa harus berkunjung ke Pulau Ungar. Sesuatu yang terdengar sangat mengundang penasaran. Sesuatu yang tidak dimiliki pulau-pulau lain. Orang-orang menyebutnya dengan santer sekaligus malu-malu. Di pulau ini terdapat…ssst…Batu Kelamin!

Batu kelamin (Foto: http://saidsuhilachmad.yolasite.com)
Batu kelamin (Foto: http://saidsuhilachmad.yolasite.com)

Batu Kelamin itu terdapat di Pantai Batulimau. Pantai ini terkenal karena bentuk batu-batunya yang besar menyerupai benda-benda nyata. Ada Batu Limau (jeruk), Batu Lesung, Batu Kelamin, Batu Pengantin, dan sebagainya. Seluruh batu itu diberikan legenda-legenda tersendiri oleh masyarakat sekitar.

Pantai Batulimau berlokasi di sebelah selatan Pulau Ungar dan hanya sekitar 10 menit dari Desa Alai. Setelah tiba di perkampungan nelayan, kami keluar sejauh 200 meter ke pesisir selatan. Pantai Batulimau terselip di antara hutan bakau dengan formasi batu-batu raksasa yang tak teratur hingga menjorok ke tengah laut. Di sebuah bukit batu yang cukup menonjol, kayu-kayu tropis tumbuh menaungi pantai. Tidak heran bila nelayan Pulau Ungar menjadikan pantai ini sebagai base camp aktivitas melaut.

Sebuah balai dan gubuk kecil berdiri di atas batu. Ada ibu kenes yang menjual kopi dan minuman supplemen. Dan ada juga muda-mudi yang berasal dari antah berantah sedang pacaran di sela-sela batu. Para nelayan dengan senang hati menunjukkan kami “batu-batu ajaib” itu. Puncaknya adalah menyaksikan Batu Kelamin yang sangat terkenal di Karimun. Alah mak jang, memang mirip sekali. Zakar raksasa (maaf) seukuran manusia terkulai di atas pasir. Proses alam telah membentuknya sedemikian rupa dan secara kurang ajar telah mempermalukan laki-laki.

Angin selalu bertiup kencang di Pantai Batulimau. Dari sini, bayangan pulau Sumatera terlihat samar memanjang seperti halimun. Bagi para nelayan Pulau Ungar, Sumatera lebih mirip sebagai mimpi ketimbang kenyataan. Mereka melihat sosoknya hampir setiap hari, tapi tidak pernah berkunjung ke sana. Mereka mendengar cerita tentang Sumatera dari orang-orang, tapi tidak ada yang pasti. Pada saat kami tiba, cuaca buruk di laut tidak memungkinkan bagi nelayan kecil untuk mencari ikan. Sebagai gantinya, mereka memperbaiki jala dan alat-alat tangkap di darat. Jaring berserak di sana-sini. Pelampung bertebaran. Lagu-lagu tua dinyanyikan.

Para nelayan tak pernah berhenti bergurau. Canda dan tawa mereka lenyap dibawa angin. Tapi mereka akan bercanda lagi, dan lagi. Sampai mati.

(Tikwan Raya Siregar)

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY