Belanja di Batas Negara

0
95

Bagaimana rasanya berbelanja di sekitar garis perbatasan dua negara, dimana harga-harganya diterakan dengan dua mata uang dan price tag dua bahasa? Pengalaman ini bisa kita cicipi di Padang Besar, Negeri Perlis, Malaysia bagian Utara.

Berbatasan langsung dengan wilayah Thailand Selatan, pusat perbelanjaan Padang Besar menyediakan aneka keperluan, mulai dari konveksi, aneka makanan khas, buah-buahan, suvenir dan berbagai keperluan rumah tangga. Sebagian besar barang-barang tersebut diproduksi di Thailand, terutama di toko-toko bagian pertanian dan makanan.

IMG_20170519_114929Bukan itu saja, para karyawan toko di sini pun umumnya adalah warga negara Thailand. Karena upah minimum mereka lebih rendah, para pemilik toko menyukai pekerja-pekerja asal Thailand. Soal bahasa tidak masalah, karena umumnya etnik Melayu di Patthani, Songkhla, Yala, Satun dan Naratiwath masih menggunakan Bahasa Melayu dalam percakapan sehari-hari, dan mereka Muslim, sehingga untuk urusan makanan yang agak sensitif, tidak menjadi masalah.

Pada sebuah kedai pulut durian (ada banyak kedai minuman yang mengandalkan pulut durian di Padang Besar), seorang pramusaji menyapa saya, “Dari Indon ke?”

“Kimbeklah,” pikirku. Tapi kemudian aku bisa mengerti, menyingkat Indonesia menjadi Indon bukanlah selalu disertai niat menghina di hati mereka. Orang Thailand juga dipanggil Thai saja, yang bisa kedengarannya sangat kotor di Indonesia…he…he…he…

IMG_20170519_114612Dia mengatakan dengan gembira bahwa kedai itu milik orang Indonesia. Lalu dia tunjuk, duriannya berasal dari Thailand, dan pulutnya ditanam di Malaysia.

Walah, lengkaplah sudah. Saya datang dari Medan ke toko orang Indonesia di Malaysia, dan dilayani orang Thailand, untuk menikmati pulut durian yang dipanen dari Thailand dan Malaysia. Ekspor impor bercampur dalam segelas minuman saya, dari jarak yang sebenarnya tak sampai sepeminuman teh.

“Saya dari Yala,” katanya sambil menyebut nama Thailand-nya yang teramat sulit diingat.

Setiap minggu, ia pulang ke Thailand, melewati imigrasi. Banyak teman-teman dia yang lain melakukan hal yang sama. Mereka menyewa kost murah untuk tinggal di Perlis, dan bagi yang beruntung, majikan menyediakan penginapan.

Padang Besar mulai menggeliat pada pukul 10 waktu setempat setiap hari. Kawasan terpadu ini dilengkapi dengan terminal dan sarana pendukung lainnya. Badan bernama North Corridor Economic Region (NCER) Malaysia telah merancang wilayah perbatasan ini sebagai salah satu pusat penggerak ekonomi yang ditandai dengan pelebaran pusat peti kemas dan infrastruktur lainnya.

Pusat perbelanjaan sendiri terbagi dalam beberapa los besar dan bertingkat. Di dalamnya para tenant menyewa kios-kios kecil seperti di Tanah Abang. Pada sebagian besar kios, harga masih bisa ditawar.

Iseng-iseng, saya pun menguji kemampuan dalam bargaining. Seorang penjaga sekaligus pemilik kios menawarkan sebotol bumbu tomyam seharga RM 7. Saya tawar RM 4, dan dia langsung terlihat lemas, membikin saya kasihan. Tapi saya gembira karena ia akhirnya mau juga menurunkan harganya menjadi RM 6.

Tidak berapa lama, saya ketemu teman-teman yang lain. Mereka juga ternyata membeli bumbu tomyam yang persis sama merek dan kemasannya dengan milik saya. Mereka membelinya RM 5. Demikianlah, saya tak pernah beruntung dalam urusan ini.

***IMG_20170519_113417

“Saya dari Medan,” kataku kepada si pelayan kedai untuk membalas keramahannya. Pulut durian seharga “10 ringgit sahaja” sudah terletak di depan saya.

“Jauhkah Medan dari Jakarta?” tanyanya.

Kujelaskan bahwa Medan hanya 30 menit dengan pesawat dari Penang. Bahwa orang Thailand juga sudah mulai banyak berkunjung ke Medan, sehingga pesawat Air Asia merasa perlu untuk menyampaikan announcement di kabin dengan menggunakan Bahasa Thailand yang selalu dimulai dan diakhiri dengan “Sawaadikaap”.

Ia tertawa mendengar penjelasan saya, lalu masuk ke dapur. Kini saya bebas menikmati pulut durian saya. Setelah dihajar cuaca yang selalu panas dan membuat kulit kepala gatal dan kering, kini saya benar-benar menikmati minuman paling keren di sini.

Thailand belum memasuki musim durian. Pasokan di Padang Besar menjadi sedikit dan mutunya kurang baik. Sebaliknya harga menjadi agak mahal. Harga 10 ringgit itu sama dengan Rp 30.000. Padahal cuma ada dua biji yang disajikan. Tapi pulutnya memang “best”, bak kata orang Malaysia.

Dalam satu hari, berjalan mengelilingi seluruh kios Padang Besar akan membuat kita penat. Namun untuk tujuan menemukan barang-barang khas yang tidak selalu ditemukan di tempat lain, ini bisa jadi pilihan tujuan belanja.

LEAVE A REPLY