Berhasrat Memeluk Gunung

0
327

Senja berbinar-binar seperti sedang jatuh cinta. Sebentar-sebentar awan merah memeluknya, lalu pada akhirnya tertidur di peraduan. Malam telah datang.

Di bawah bintang-bintang dan cuaca yang dingin, sekelompok orang malah sedang bersiap menuju puncak Gunung Sibayak di Tanah Karo. Pendakian ini dimulai dengan aroma sedap malam yang genit menggoda para pelintas. Pinus Merkusii dan pinus Caribeae berdiri gagah merefleksikan embun dan cahaya bulan. Alam memang selalu lebih indah dari bilik karaoke…he…he…he.

Dengan menggendong ransel yang hampir menyamai tinggi tubuhnya, Nita Kumalasari memeriksa kembali peralatan “tempur” yang sesungguhnya sudah matang mereka persiapkan. Tenda dome berukuran sedang, kompor gas kecil, nasting (wadah masak), lampu ting dan tak ketinggalan bahan makanan seperti beras, mie instan (makanan wajib pendaki gunung), beberapa helai sayur, dan karena ingin mewah sedikit, mereka tak lupa membawa ikan asin. Di gunung yang beku, ikan asin sama nilainya dengan lobster.

Agar tak menyusahkan dalam perjalanan, penampilan juga tak luput dari perhatian. Sepatu didisain khusus untuk pendaki gunung dengan tinggi semata kaki, celana gombrong berkantung enam dan kemeja berlengan panjang. Kemeja lengan panjang dipilih untuk melindungi tubuh dari bahaya hutan tropis yang banyak ditumbuhi tanaman rotan, pohon berduri dan jelatang yang gatalnya minta ampun.

“Saya sudah ketagihan mendaki,” ujar Nita menceritakan awal mulanya ia menjalankan hobinya. Setiap merasa bosan dengan kehidupan kota yang serba sesak dan ramai, ia dan kawan-kawannya memilih minggat hingga beberapa hari lamanya ke hutan rimba. “Pada awalnya sih khawatir juga pergi ke hutan, tapi karena kegiatan ini dilakukan berkelompok, teman-teman dapat meyakinkan saya bahwa hiking adalah kegiatan yang aman. Tentunya ada beberapa syarat dan prosedur yang harus diikuti,” tambahnya.

Syarat utama yang harus diperhatikan jika tertarik dengan kegiatan alam bebas adalah kekuatan fisik. Karenanya, sebelum memutuskan melakukan pendakian, disarankan untuk latihan dengan jogging, sit-up, push-up dan gerakan lain untuk menumbuhkan ketahanan fisik. Latihan banding atau mengangkat ransel juga perlu mengingat setiap pendaki nantinya akan membawa ransel dengan bebannya masing-masing.

“Untuk ransel ukuran sedang, biasanya beban yang kita bawa mencapai 20 kg-30 kg,” terang Yunaldi, rekan Nita sesama pencinta alam.

Mendaki gunung atau yang lebih dikenal dengan sebutan hiking memang bukan hobi yang baru. Sebelum Revolusi Industri mengguncang Eropa, kegiatan ini sudah banyak menarik minat orang-orang yang berjiwa petualang. Ernest Hemingway, cerpenis dan pelopor kesusasteraan moderen, adalah sosok yang tergila-gila dengan pendakian gunung. Beberapa cerpennya seperti “Snow in Kilimanjaro” mencerminkan kecintaan dan pengetahuannya yang mendalam tentang alam liar. Menembus hutan belukar, sekadar mencari jalur baru menuju puncak gunung menjadi kenikmatan tersendiri bagi pendaki hobi dan profesional. Risikonya adalah tersesat atau kepergok hewan-hewan buas.

Untuk kepuasan itu, Gunung Sibayak atau yang juga dikenal dengan nama Gunung Raja masih tetap menjanjikan kenikmatan. Para pendaki hobi dan profesional biasanya berkumpul dan melakukan pengkaderan lewat satu organisasi komunitas pecinta alam. Banyak organisasi untuk olahraga ini, mulai dari mapala (mahasiswa pencinta alam) hingga sipala (siswa pencinta alam). Tapi ada juga yang memilih menjalankan hobinya ini secara tunggal.

Yang terpenting, ilmu dasar penguasaan navigator darat (kompas atau GPS), metode survival, sampai pengetahuan ekologi harus dikuasai benar untuk mengurangi risiko. Biaya untuk kegiatan ini tidak terlalu besar, tergantung jarak lokasi pendakian dan lama waktu yang dibutuhkan karena terkait dengan biaya transportasi dan persediaan sehari-hari. Di pegunungan Himalaya atau Nepal, tentu saja pendaki Eropa harus menyediakan biaya pesawat dan akomodasi yang lebih besar ketimbang orang-orang Asia.

Sebenarnya, komponen paling mahal untuk hiking adalah investasi awal, yakni melengkapi peralatan mendaki. Umumnya peralatan pendakian relatif lebih mahal. Para pecinta alam umumnya menyiasati hal ini dengan cara saling pinjam di dalam organisasinya. “Selain kepuasan karena bisa menaklukkan alam, hal yang paling terasa manfaatnya dari hobi ini adalah terbentuknya persahabatan yang lebih kental dan tulus dibandingkan dengan main golf atau bowling,” kata Nita. “Kondisi dan situasi yang kadang tak menyenangkan saat perjalanan tak jarang memunculkan kepribadian asli seseorang”.

Dalam situasi sulit, terutama dalam perjalanan yang cukup melelahkan atau tersesat di antara batang kayu yang menjulang, akan muncul rasa pesimis dan emosi yang cukup tinggi di antara sesama pendaki. Jika tak pandai-pandai membaca situasi, maka emosi akan gampang tersulut. Di sinilah kita bisa mengenal sifat-sifat asli dari sesama anggota tim. Dalam situasi seperti itu, kerap muncul dua kutub perasaan, yakni rasa senasib atau saling menyalahkan (pertengkaran). Sebuah dinamika yang juga kerap terjadi dalam urusan bisnis dan kehidupan rumah tangga.

Bila perasaan senasib yang muncul, maka rasa ego akan terendam ke dalam dan yang muncul adalah ungkapan semangat. Dari sinilah sering persahabatan sejati itu bermula. Tapi bila emosi yang bicara, Anda dapat membaca sendiri kelanjutannya. “Itulah arti luas sebuah gunung. Ah, rasanya aku ingin memeluknya setiap hari”. Menatap jalan setapak Bertanya-tanya sampai kapan berakhir Mereguk nikmat coklat susu Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda Bersama sahabat mencari damai Mengasah pribadi mengukir cinta (Mahameru: Dewa).

(Silvie Azhar)

 

LEAVE A REPLY