Berkeliling Jawa: Bandung di Akhir Musim Hujan

0
290
Baru sampai di Bandara Husein Sastranegara.
Baru sampai di Bandara Husein Sastranegara.

Pesawat Lion Air dari Bandara Kualanamu untuk tujuan Bandung terlambat 20 menit. Itu terdengar seperti anugerah besar. Biasanya pesawat ini bisa molor hingga dua jam. Begitu cerita orang-orang.

Kami cukup senang karena bisa sampai di Bandara Internasional Husein Sastranegara dengan tiket termurah yang bisa kami dapatkan, dan tidak terlalu molor dari jam keberangkatannya. Membelakangi sosok Gunung Salak, kami berjalan dari pintu pesawat di bawah tikaman matahari siang, ditambah “panggangan uap air” dari landasan parkir bandara. Tidak ada layanan garbarata di Husein Sastranegara. Anda harus menggunakan kaki Anda untuk mencapai terminal kedatangan. Bandara ini merupakan satu dari sedikit bandara di Indonesia yang masih berlokasi di tengah kota. Fasilitasnya sudah tua.

Gerobak mie kocok.
Gerobak mie kocok.
Kakek dan cucu pengemis.
Kakek dan cucu pengemis.
Factory outlet
Factory outlet.
nongkrong
Nongkrong.
Jamu gendong.
Jamu gendong.

Tapi tidak apalah. Ini kan Bandung. Semua cerita tentang Bandung belakangan ini cukup indah. Walikotanya cemerlang. Tempat belanjanya keren. Beberapa fasilitas publiknya menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di negeri ini. Satu-satunya cerita yang tidak enak dari Kota Kembang ini adalah banjirnya. Tapi kota mana yang tidak banjir di Indonesia? Karena itu, kami memilih untuk memulai perjalanan keliling Jawa dari kota terpadat di Asia Tenggara ini.

***

Kami menginap di Hotel Zodiak Pasir Kaliki (Paskal). Hotelnya kecil, asyik, murah, dan menyediakan sarapan pagi. Lokasinya dekat dengan pusat-pusat destinasi wisata. Dari depan hotel, jaringan angkot bisa membawa kita kemana-mana. Karena dekat dengan Stasiun Kereta Api Bandung, lokasi ini juga menjadi terhubung dengan berbagai kota lain di Jawa. Hotel ini memenuhi semua harapan kami.

Tidak jauh dari hotel, sebuah rumah makan Ampera dapat dicapai dengan berjalan kaki. Mereka menyediakan hampir semua masakan khas Sunda. Semua bahan makanan digelar di depan pintu masuk dalam kondisi setengah matang. Penganan dataran tinggi seperti ayam, aneka bagian daging sapi, ceker ayam, hingga keong-keongan dari sawah (tutut) tersaji tidak kurang dalam 20 jenis. Itu belum termasuk aneka sayuran mentah (lalap) yang sangat pas dipadu dengan sambal belacan yang ditaruh dalam cobek. Kita tinggal menunjuk makanan yang kita inginkan, dan mereka akan mematangkannya sebentar, kemudian disajikan dalam kondisi panas.

Tumis tutut
Tumis tutut (keong sawah).

Dengan memesan lima jenis lauk, termasuk tutut yang aneh itu, saya dan istri saya berjuang menghabiskan pesanan kami. Seporsi tutut seukuran kelingking disajikan dalam tumisan. Warnanya hitam. Bagian bawah cangkang keong dipotong sepanjang satu sentimeter untuk memudahkan seseorang menghisap dagingnya. Kami harus agak menyentak napas ketika menyedotnya keluar. Dan bila tidak hati-hati, ini bisa menjadi urusan serius. Kuah tumis yang pedas itu bisa masuk ke saluran pernapasan Anda dan membuat segalanya menjadi tidak enak.

ampera-1ampera-2ampera-3ampera-4ampera-5Tutut dipunguti dari sawah. Keong ini hidup di air sebagai teman petani. Tidak seperti keong emas, tutut bukanlah hama. Para petani sendiri tidak selalu memasaknya sebagai lauk, meskipun banyak berserak di sekitar mereka. Pekerjaan memotongi cangkangnya ternyata cukup merepotkan. Diperlukan parang tajam yang terbuat dari besi keras agar cangkangnya bisa terpotong dengan mudah. Untuk makan siang petani di sawah, tentu hal ini tak selalu praktis. Karena itu mereka hanya mengolahnya pada saat-saat istimewa.

***

Kalau pergi ke Bandung dengan satu tujuan saja, tentu kurang maksimal. Selain belanja dan makan, kami sebenarnya punya agenda untuk mengunjungi seorang arsitek unik bernama Yu Sing. Tentu sudah banyak orang yang tahu nama ini. Dia adalah seorang arsitek muda lulusan ITB yang bekerja dengan keahliannya untuk mewujudkan rumah bagus tapi murah bagi masyarakat menengah bawah. Mimpi Yu Sing itu telah membawanya ke berbagai dimensi kehidupan sosial, baik lewat karya-karyanya maupun pengorganisasian sosial untuk mendapatkan rumah murah.

Yu Sing adalah seorang jenius bersandal jepit. Perawakan Cina-nya tampak cungkring di balik baju koko putih, apalagi dipadu dengan rambutnya yang sedikit gondrong. Suaranya pelan seperti orang yang sedang kelaparan. Tapi ia selalu menebar senyum kepada sekelilingnya sesibuk apapun kondisinya.

Yang membuat kami sedikit uring-uringan adalah mencari letak studio kerjanya. Dari informasi yang diberikannya lewat whats app, ia mengatakan seolah-olah tempat itu mudah saja dicapai. “Studio Akanoma, Jl. Tipar Timur, RT 04/RW 01 Desa Laksana Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat”.

Jangankan kami yang pendatang, sahabat kami yang tinggal sehari-hari di Bandung, Abdarrahman Janu Murdiyatmoko dan istrinya Citra Handayani, pun ternyata kesulitan menemukan tempat ini. Mereka akan menggunakan mobilnya sendiri untuk kami seharian (semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan rezeki yang berkah). Tanpa bantuan mereka, saya kira kami tak akan sampai ke Studio Akanoma.

akanoma-1
Beranda Studio Akanoma.
akanoma-2
Bangku tunggu di depan kamar kerja Yu Sing.
akanoma-3
Pekarangan belakang.

Lokasi studio ini benar-benar di pelosok kampung sebagaimana komitmen para arsitek yang tergabung di dalamnya, yaitu memanfaatkan bahan apa saja yang terdapat di sekitar kita. Yu Sing bilang, dari pintu tol Padalarang, studionya hanya 30 menit. Lalu ia memberikan petunjuk ringkas yang sangat membingungkan: “Jalan terus, belok kiri, kanan, kanan, kiri, terus, belok kanan, kiri lagi, kanan lagi, ada hutan bambu, lewat jembatan tol…dan seterusnya”.

Baiklah, Yu Sing memang maestro dalam arsitektur, tapi tidak dalam soal menunjuk lokasi. Kami bahkan semakin bingung dengan keterangannya. Janu berkali-kali mengkonfirmasi peta di gadget-nya. Mestinya arahnya sudah benar, tapi yang kami lihat malah tentara ramai-ramai berbaris-baris dan berlari-lari membawa meriam. Mereka mengenakan pakaian tempur lengkap dengan topi baja yang dikamuflase dengan rumput-rumputan.

Rupanya kami sedang melewati kawasan pusat latihan militer di Cimahi. Setelah berkali-kali belok dan makan siang di pinggir jalan karena kelelahan, akhirnya kami temukan juga titik terang. Jalan mulai menanjak, dan hutan bambu itu mulai terlihat di lereng-lereng bukit.

Singkat cerita, studio itu kami temukan juga. Di sebuah pinggir jalan kampung yang berbatu, berdirilah satu bangunan yang hampir seluruhnya dari bambu. Ia berupa rumah panggung tinggi yang tiang-tiang penyangganya mencapai 3 meter sehingga bagian bawah panggungnya dapat digunakan sebagai tempat beraktifitas seperti pertemuan terbuka. Lantai bagian atas dihubungkan dengan tangga bambu yang ditutupi dengan kaca-kaca bekas mobil agar terlindung dari siraman hujan. Dan astaga!!! Di tengah-tengah rumah ini, sebatang pohon masih dibiarkan hidup dan menjadi bagian yang utuh dengan rumah itu. Pohon itu akan terus membesar, dimana arsitektur rumah telah dibuat untuk mengalah kepadanya, juga kepada rumpun-rumpun bambu yang tumbuh bebas di sekitar bangunan. Bambu-bambu itu menjulurkan daunnya ke berbagai sudut dan angin perbukitan telah membuatnya selalu berdesis karena gesekan ribuan helai daun seolah-olah orkestra yang sedang dimainkan.

akanoma-4
Dapur Studio Akanoma.

Tiba-tiba saja, kami sudah dapat menyingkirkan perasaan sebagai “orang asing” di tempat ini. Bukankah apa yang ada di tempat ini adalah masa lalu kita semua? Bambu-bambu, sayur-mayur, ayam berkeliaran, angin segar, semak-semak, dan seterusnya. Kami menunggu di teras. Yu Sing rupanya sedang sibuk dengan tamu-kliennya. Kami akan mendapat giliran berikutnya.

Ketika tamu itu selesai dan pergi, Yu Sing sudah nongol dari pintu kamar kerjanya, yaitu sebuah ruangan bambu berukuran kira-kira 2 x 3 meter. Selain satu unit laptop, meja kecil, dan beberapa kursi, nyaris tak ada benda-benda kantoran lain di ruangan itu. Ada jendela yang memperlihatkan panorama bambu. Di sinilah ia mengumpulkan mimpinya dan membuat sebagiannya jadi nyata.

“Halo, dari Medan, ya? Mau kopi atau teh? Saya punya kopi aceh,” katanya. Kami serentak menjawab, “Kopi!”

Ia lantas menuju dapur, memanaskan air, menyeduh serbuk kopi yang aromanya meruap melewati celah dinding bambu, dan tidak lama setelah itu kami pun minum kopi bareng. Tahap berikutnya adalah sesi bisnis yang santai, konsultasi tentang suatu rumah. Ternyata arsitek itu sama saja dengan dokter. Mereka akan bertanya banyak hal dan menimba informasi sebanyak-banyaknya. Ia ingin tahu kebiasaan-kebiasaan kita, apa yang kita sukai dan apa yang kita impikan. Demikianlah ia membuat kami banyak bicara tentang diri kami dan keluarga kami. Setelah itu, gantian kami yang bertanya tentang Yu Sing dan studionya. Mungkin dalam hatinya pun ia berkata, “Ternyata wartawan pun sama usilnya dengan arsitek”.

Yu Sing (tengah berbaju putih) menyempatkan diri berfoto bareng.
Yu Sing (tengah berbaju putih) menyempatkan diri berfoto bareng.

***

Di Bandung, kehidupan berjalan antara hujan dan panas. Pada malam hari, cuaca akan menjadi sejuk. Di kota ini, kita bisa melihat aneka kreativitas dan keisengan yang menyenangkan. Factory outlet-nya telah menawan hati para pembelanja mancanegara, terutama dari Malaysia dan Jakarta. Karya-karya anak muda Bandung dengan mudah ditemukan di berbagai sudut kota. Seseorang, misalnya, telah membuat rumah makan dengan tema bioskop tempo dulu. Di sudut yang lain, ada café dengan tema sepeda-sepeda tua. Ada pula yang bertema koboi. Pokoknya bukan Bandung kalau tak “mbadung”.

Pada malam hari sebelum berpisah, Kang Janu dan istrinya membawa kami ke sebuah restoran pasta milik seorang pengusaha pabrik mie di Jalan Hasanudin No. 12. Dia adalah seorang Tionghoa yang telah memutar hidupnya ke arah yang lebih relijius. Dalam pergulatan itu, ia akhirnya menemukan Islam dan memeluknya. Sebagai pengusaha pabrik mie yang berpengalaman, tentu saja mereka tahu bagaimana caranya menyajikan mie dengan kualitas yang bagus. Modal pengalaman itulah yang membuat kafe ini kemudian dikenal sebagai pembuat sajian pasta yang unggul di Bandung.

Restoran Toko Yu.
Restoran Toko Yu.

restoran toko yu-2Awalnya Restoran Toko Yu hanya berupa sebuah toko kebutuhan sehari-hari. Toko ini sudah beroperasi sejak tahun 1947. Salah satu produk yang mereka sajikan adalah mie. Bukan sembarang mie, tapi yang ini adalah buatan keluarga mereka sendiri. Sejumlah toko di Bandung juga menyediakan mie dari Toko Yu sebagai jualannya. Lama-lama, bisnis mereka bertransformasi menjadi usaha kuliner dengan tetap mengandalkan produk mie bikinan keluarga. Itulah salah satu yang menjadikan menu mereka terasa khas.

Restoran Toko Yu sudah menjadi salah satu referensi utama kuliner di Bandung. Suasana jadul di restoran ini diperkuat oleh dekorasi sepeda-sepeda tua dari berbagai negara. Untuk mengoleksi sepeda tua dan unik dari berbagai negara tersebut, salah seorang pemilik dan pengelola restoran ini telah pergi secara khusus ke Chekoslovakia untuk mendapatkan sepeda atraksi pesulap yang hanya memiliki satu lingkaran roda besar. Sebuah usaha yang bertahan di hati banyak orang, pastilah berasal dari dedikasi yang tinggi.

Kami menghabiskan dua hari tiga malam yang berkesan di Bandung, dalam suasana akhir musim hujan dan low season bagi kalender pariwisata karena anggaran-anggaran korporasi maupun pemerintah belum dilaporkan. Pada saat inilah tiket murah kami dapatkan sebagai orang yang bebas menentukan kapan pergi berjalan-jalan.

 

 

 

LEAVE A REPLY