Berkunjung ke Taman Negara Pahang

0
804

pahang-2Keseriusan Malaysia menata pariwisatanya dapat diselidiki sampai ke Taman Negara Pahang. Saya memulai perjalanan ini dari Kuala Lumpur.

Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Kuala Tahan menyita waktu 4 setengah jam dengan mengemudi mobil sendiri, melalui jalan tol yang mulus, santai dan banyak berhenti ketika penat atau mengambil foto objek yang dirasa unik. Kuala Tahan adalah titik berkumpulnya wisatawan untuk memulai segala aktifitas selama di Taman Negara. Kuala ini merupakan pertemuan Sungai Tahan dan Sungai Tembeling. Sungai Tahan berhulu dari Gunung Tahan, puncak tertinggi di Propinsi Pahang.

Penataan jalan yang cukup baik menuju Kuala Tahan, sekalipun berada di belantara hutan sawit, menjadi atraksi tersendiri. Di sepanjang jalan terlihat rumah penduduk di sela perkebunan sawit yang ditandai dengan papan nama beratap seng di depan rumah masing-masing. Selain nama tuan rumah, seng itu juga berfungsi melindungi kotak surat di bawahnya.

pahang-3Apabila ingin lebih santai, perjalanan dari Kuala Lumpur bisa menggunakan bus menuju Jerantut. Tempat ini disebut juga Bandar Taman Negara sebab merupakan kota satelit terdekat. Di Jerantut, bus akan langsung menghantar pengunjung ke jeti atau pelabuhan Kuala Tembeling. Dari sini perjalanan bisa dilanjutkan dengan perahu kecil yang melawan arus sungai menuju Kuala Tahan. Lamanya perjalanan naik perahu 3 jam dengan pemandangan tepi sungai, hutan dan perkampungan orang asli.

Penjagaan dan kesadaran masyarakat tentang kebersihan sungai patut diacungkan jempol. Selain airnya yang jernih, tak terlihat ada sepotong sampah pun di sekitarnya. Baik naik perahu ataupun menyetir sendiri, perjalanan akan berakhir di Kuala Tahan. Di tepiannya terlihat beberapa restoran terapung,  tempat yang asyik untuk menikmati makanan dengan pemandangan aktifitas sungai.

pahang-4Di Kuala Tahan banyak pilihan untuk menginap. Mulai dari hotel bintang 1 hingga 5. Penginapan budget pun tersedia mulai dari harga 60 hingga 100 ringgit per malam. Ingin rumah batu ataupun chalet kayu, juga ada. Kami lebih memilih chalet yang terbuat dari papan untuk menukar suasana langsung dari perkotaan.

Hanya sebuah resort berbintang 5 yang dibangun di tengah hutan Taman Negara, tepatnya di tepian Kuala Tahan. “Mutiara Resort” namanya. Harganya paling murah RM 350 semalam untuk ruangan keluarga. Selebihnya ada dormitory room, sebuah ruangan yang boleh dihuni 8 orang per ruangan. Harganya RM 80 untuk sebuah bed satu malam.

Aktifitas pertama yang ditawarkan adalah jungle trek. Perjalanan malam ke hutan selama 1 jam. Dipandu oleh guide, pengunjung diperkenalkan pada kehidupan malam serangga dan hewan di hutan. Berjalan di atas jalan fiberglass dan berhujung di menara pandang mengamati kehidupan malam hewan adalah kegiatan yang menakjubkan. Ada rusa yang sedang tidur di tepi rawa. Kalau beruntung, bisa melihat gajah.

Keesokan paginya, kami masih berjalan di hutan. Hanya saja ketika pagi pengunjung lebih diperkenalkan tentang tumbuh-tumbuhan di hutan dan manfaatnya. Guide sudah terlatih untuk itu. Katanya ia banyak belajar dari Orang Asli. Orang Asli adalah suku tertua dan terawal menduduki Malaysia. Mereka berkulit hitam dan berparas Afrika. Mirip suku Asmat di Papua. Cerita kehidupan Orang Asli akan saya paparkan di edisi berikutnya.

pahang-5Guide kami banyak memperkenalkan daun-daunan dan buah-buahan di hutan. Misalnya daun Hairy malastoma. Daun berbulu ini berkhasiat menyembuhkan luka. Ia memperagakan sambil menghisap air dari dalam ranselnya. Kami semua bingung kenapa bisa keluar air dari tasnya. Ternyata ia membawa tas ransel yang praktis. Tas sandang itu hanya berisi air dua liter lengkap dengan sedotannya. Ia campurkan sedikit air di atas daun h‘, digosok di tangan, dan keluarlah buih. Buihnya itulah yang diletakkan di luka.

Beberapa buah seperti kentang besar teronggok di bawah pohon. Sekilas menarik dan mudah sekali memetiknya. Ternyata buah yang dikenal sebagai ubi gadung di kalangan Orang Asli ini tidak boleh dimakan. Indikasinya, jika hewan tidak mau menyentuhnya, maka jangan coba-coba dimakan. Buah yang mirip kentang ini ternyata harus direndam dulu semalaman di dalam air sungai yang mengalir, baru boleh dimakan.

Sebuah pohon besar bernama pohon mengkundu, dikenal juga sebagai jungle phone berfungsi sebagai alat komunikasi bagi Orang Asli.  Mereka akan mengetuk-ngetuk batangnya sebagai pertanda bahaya. Mirip cara kerja kentongan. Maaf, pohon ini hanya untuk p‘ saja, tidak bisa kirim sms.

Peacock fern adalah dedaunan yang mirip pakis. Hanya saja warnanya ada hijau muda, hijau tua dan sedikit kelabu. Sekilas mirip ekor burung merak. Ia tumbuh liar di bawah pohon-pohon besar. Akarnya sebagai obat asma. Guide kami bercerita sepanjang jalan seperti membuai kami agar tak letih berjalan di tengah hutan.

Jalan yang terkadang mendaki akan membuat orang yang tak biasa berjalan cepat letih. Tapi di hutan Taman Negara ini lain. Jalanan wisata sepanjang dua setengah kilometer semuanya dibuat dari fiberglass. Tersusun rapi mengikuti alur punggungan bukit. Terkadang ada yang bertangga. Dipilih bahan fiberglass supaya tidak mudah lapuk dan tahan lebih lama. Dahulu ketika saya suka mendaki Gunung Sibayak di Tanah Karo, Sumatera Utara, apabila letih telah menerpa maka pikiran akan menjadi liar. Salah satu yang saya bayangkan adalah, seandainya ada eskalator di gunung ini betapa nikmatnya berjalan di hutan. Nah, Malaysia sudah hampir ke tahap itu. Dari jalan fiberglass ini saja sudah terlihat keseriusan mereka menjaga kenyamanan perjalanan kaki pengunjung.

Setelah puas mengenal keanekaragaman tumbuhan hutan, sampailah kami di area canopy walk. Ini adalah jembatan gantung yang digunakan sebagai area pengamatan keadaan hutan dari atas pepohonan. Tingginya 50 meter dari atas permukaan tanah. Jalanan sebilah papan yang juga dari fiberglass tergantung di atas pohon dengan rajutan tali temali. Total panjangnya 500 meter. Digantungkan tanpa menggunakan paku untuk menjaga kelestarian pohon tempatnya bergantung.

pahang-7Setiap berjalan 20 hingga 50 meter di atas canopy walk ini kita bisa berhenti di posko-nya. Setiap posko ada seorang penjaga. Tugasnya memastikan setiap pejalan kaki berjarak 10 meter. Tidak dibenarkan berjalan sambil menggenjot apalagi merusak tali. Seperti berjalan di atas catwalk rasanya. Terkadang kita berjalan gemulai dan melenggak-lenggokkan badan supaya tetap seimbang. Belum lagi berusaha keras menghilangkan rasa takut ketinggian. Bagi yang takut ketinggian terlihat pohon-pohon di bawah seperti tangan yang melambai-lambai. Dalam keadaan yang sangat takut, pohon-pohon  itu seperti mengejek dan tertawa. Barulah kami rasakan jadi peragawati itu tidak mudah sebenarnya.

Canopy ini telah dibangun sejak tahun 1992. Tapi perawatannya sangat baik. Tidak terlihat tali yang putus ataupun papan fiberglass yang lapuk. Setiap hari selama satu jam petugas akan mengecek dahulu sebelum pintu buat pengunjung dibuka.

Turun dari canopy, perjalanan dilanjutkan ke Bukit Teresek. Bukit setinggi 400 meter dari paras laut ini merupakan hujung perjalanan merentasi hutan di hari kedua. Keindahannya menyajikan panorama Gunung Tahan dan belantara Taman Negara.

Di Bukit Teresek ini dapat dilihat orang-orang kulit putih berparas Eropa lalu lalang. Mereka berjalan dua orang atau paling banyak 4 orang dalam sekumpulan. Berjalan tanpa pemandu, sebab di dalam hutan pun papan petunjuk jalan sangat jelas terbaca. Dari guide, saya dapati keterangan orang-orang kulit putih ini berjalan menuju lubuk yang jauh lebih jernih dari Kuala Tahan. Di sana bisa berenang dengan ikan-ikan sungai yang besar. Mereka melenggang kangkung dengan leluasa sekalipun bukan di negaranya, sebab jaminan keamanan cukup terasa.

pahang-8Saya mendengar guide kami mampu berbahasa Inggris sangat baik dengan orang-orang Eropa yang kami jumpai di jalan. Logatnya sama sekali berbeda ketika ia berbahasa Inggris dengan orang Cina Malaysia yang berada dalam kumpulan kami. Dari situ saja saya bisa menilai guide ini sudah terlatih dan dilatih khusus untuk berbicara. Tentunya biaya pendidikan bahasanya pun tidak murah, tapi Kerajaan Malaysia memfasilitasinya. Hasilnya juga lumayan, orang-orang yang bertemu dengannya akan segera merasa tidak asing lagi.

Keseriusan Pemerintah Malaysia untuk menata pariwisatanya, khususnya Taman Negara Pahang membuat saya tercenung. Dengan itulah saya mengakhiri tulisan pertama mengenai taman yang indah ini.

(Danil Junaidy Daulay)

SHARE
Previous articleBintan Dua Dunia
Next articleKisah Mata Hari

LEAVE A REPLY