Bersyafar ke Negeri as-Salam

0
418

Krueng Aceh mengalir tenang seperti sedia kala. Keruh sedikit, membuat dasarnya sulit diduga. Membelah Koetaradja menjadi dua. Di seberang sana, Masjid Raya Baiturrahman berdiri dalam usianya yang lebih dari empat abad. Di seberang sini, di Jalan Tengku Daud Beureuh No. 5, Kuta Alam, kami menginap di lantai tujuh Kyriad Muraya Hotel Banda Aceh yang baru beroperasi sekitar dua bulan. Jarak antara keduanya seumpama lorong waktu. Dan jembatan itu menghubungkan dua peradaban yang pernah “putus”.

Saya berusaha keras memahami jiwa Aceh dari kedua sisi ini. Produk sejarah bangsa Aceh dan selera masa kininya, keduanya sama tinggi. Mereka melekat dengan kebesaran dan ketegasan. Seperti slogan yang tertera di bawah pahatan nama Sultan Iskandar Muda di tepian krueng: “Hidup mulia, atau mati syahid”.

Masjid Raya Baiturrahman.

Pilihan orang Aceh sangat sederhana. Saking sederhananya, mereka tidak tertarik pada cara hidup selain itu. Bila ada yang mengusik kemuliaannya, mereka meluruskannya dengan takbir dan rencong. Anda mau apa? Dan Aceh, demikian kata orang, sulit ditaklukkan.

Aceh adalah imperium. Mereka selalu tertarik pada kebesaran, dan tidak mau sibuk pada ranting-ranting. Masjid-masjid mereka dibangun secara kolosal, bahkan kini ingin menyerupai Madinah dan Mekkah. Pantaslah mereka digelari sebagai serambinya.

Bangsa-bangsa sedunia dapat hidup nyaman di sini sepanjang mereka menghargai syariat. Di Pantai Lampuuk, orang kafir yang setengah telanjang bisa dapat ‘pantai khusus’ sesuai selera mereka, asalkan tidak mengganggu ruang publik.

Pantai Lampuuk.

Kami tiba di Koetaradja, Kamis, 15 Pebruari 2018, pukul 12 malam. Tapi masjid dan meunasah masih ramai. Ini adalah Rabiul Akhir, bulan qomariah terakhir untuk perayaan Maulid Nabi. Selama tiga bulan, tak henti-hentinya berbagai gampong saling mengundang untuk acara maulid. Ada yang atas nama gampong, dan ada pula yang atas nama pribadi. Mereka menyembelih kambing atau lembu, kemudian makan bersama sambil mendengarkan kajian dan ceramah.

Orang-orang bahkan sudah hapal, meunasah mana yang enak kari kambingnya. Ke sanalah mereka datang dengan hati gembira. Tapi mana ada kari yang tak enak di Aceh? Mereka sangat sibuk dan bersungguh hati memasak daging lembu atau kambing untuk disantap para sanak tetangga, seperti  mempertaruhkan harga dirinya saja.

Andaikan saja Badan Ketahanan Pangan jeli melihat ini, tentu mereka sudah mengerti mengapa di Aceh jarang sekali ditemukan kasus masyarakat yang kurang makan. Untuk tiga bulan ini saja, semua orang dapat makan daging di perayaan maulid yang hampir dilakukan tiap malam secara bergilir di berbagai rumah dan meunasah. Ini bukan sekadar ritual, tapi juga mengandung fungsi pengaman sosial.

Dari seorang kerabat, Jamal Siregar, yang sudah 13 tahun di Aceh Besar, saya menerima undangan maulid. Katanya, seharian ini mereka telah bekerja keras memasak dan mempersiapkan perayaan maulid, dan sayang sekali bila saya tak ikut di dalamnya. Sungguh, bila waktunya cukup, ini akan menjadi perayaan yang sangat saya sukai. Teman-teman dari Medan yang pindah ke Banda Aceh mengajak saya menikmati arabika gayo ke Rebbe Coffee, sebuah kedai anak muda di tengah kota. Dari mereka saya juga mendapat informasi indahnya perayaan maulid nabi di Serambi Mekkah. Kesimpulan saya, ini adalah tradisi peringatan kelahiran Rasulullah sallallahu alayhi wa sallam termeriah sedunia.

Meskipun tidak punya waktu yang cukup memenuhi undangan mereka, saya dan keluarga tetap bersyukur dengan pesona yang lain. Di kawasan Peunayong, para pedagang dan pemilik kedai lokal mulai mengerti bagaimana memuliakan tamu. Porsi-porsinya sungguh murah hati. Makanan yang disajikan halal dan bermutu. Belum pernah kita temukan sajian kerang batu sebesar kerang rebus di Peunayong.

Peunayong di malam hari.

“Ini berasal dari Ponton Labu,” kata penjual kerang rebus. Saya merayakan malam pertama di Banda Aceh dengan makanan laut.

Banda Aceh adalah kota dengan penuh perayaan. Dari kamar Superior Kyriad Muraya Hotel di lantai tujuh, jadwal kami diatur oleh suara panggilan dari Masjid Baiturrahman. Pada hari Jumat, seluruh toko dan kaki lima tutup. Kami menelusuri jalan yang lengang dan menyeberangi jembatan Krueng Aceh, boulevard, dan akhirnya menjejakkan kaki di pekarangan masjid raya yang dibuat seperti replika Nabawi.

Manusia melimpah dan tidak bisa ditampung ruangan utama masjid. Para jamaah meluber ke luar dinding, bersyaf-syaf di lapangan, tapi suasananya tetap hikmat. Para pedagang meninggalkan kiosnya. Toko-toko cina menutup pintunya. Para penjual cincin batu meninggalkan stelingnya. Tapi sehabis shalat Jumat, pasar seketika hidup kembali di sekeliling masjid. Orang-orang mencari makan siang, dan para pendatang beradu mulut dengan pedagang. Muamalat berdenyut.

Alhambra Restaurant.

Setiap pagi, kami menikmati perayaan di Restoran Alhambra, lantai satu Kyriad Muraya Hotel. Suasana sarapan di restoran ini adalah perayaan berikutnya yang paling saya tunggu sehabis shalat Subuh. Aneka sajian dihampar seperti pesta saban pagi. Dari appetizer, main course, dessert, hingga aneka pilihan minuman–dan tentu saja kopi lokal–tersaji di sini dalam bentuk prasmanan.

Ibu saya adalah orang kampung. Dia terbiasa memakan apa yang dapat disajikan dari kuali hitam dapur dalihan natolu-nya yang sederhana. Kini setiap pagi ia bingung menghadapi hamparan makanan Alhambra di hadapannya.

“Apakah ini semua untuk dimakan?” katanya mengkonfirmasi.

Setelah diyakinkan, ia pun mulai sibuk mencampur-campur aneka menu ke dalam satu piring sesuai seleranya. Dan tentu saja dia tak bisa mengerti perbedaan antara menu pembuka dan menu penutup. Semuanya diacak jadi satu. Sungguh bahagia hati kami melihat kesibukan dan kebingungannya.

Hotel Kyriad Muraya adalah akomodasi bintang empat, dan kini menduduki posisi terkemuka di Banda Aceh karena standar manajemen dan fasilitasnya. Ikon baru untuk industri pariwisata kota itu. Kedekatannya dengan Masjid Baiturrahman membuatnya berada di bagian belahan jiwa Bangsa Aceh secara keruangan. Namun dengan sentuhan budaya bangsa-bangsa yang kosmopolit, hotel ini menjadi melting pot bagi tamu dari berbagai negara.

Menginap di hotel ini terasa bagaikan pengalaman para peziarah umrah yang menginap di hotel-hotel sekitar Tanah Suci Mekkah, meskipun dengan intensitas spritual yang berbeda. Di Daud Terrace Cafe, lantai dua, para tamu disajikan aneka jenis dan rasa kopi asli Aceh, beserta aneka teknik pengolahannya. Inilah petualangan bagi para penikmat kopi, dan mungkin kedalaman rasa bagi para sufi. Bila ingin menikmati makan malam dalam panorama lampu kota besar paling barat Indonesia ini, Daud Terrace Cafe adalah anjungannya. Anda bisa memesan makanan ringan hingga menu sekelas lamb chop dan steak dari dapurnya. Lagi-lagi, ini adalah sebuah cara merayakan hidup dan perjalanan.

Bersama GM Kyriad Muraya Banda Aceh, Pak Bambang Pramusinto (tengah).

“Ini adalah properti yang saya kawal sejak start up-nya. Saya suka ditakdirkan bertugas di sini. Pergaulan di sini hangat. Saya tidak dapat mengubah dan mempengaruhi kota ini dengan keberadaan kami. Tapi kota ini telah mengubah kami, atau mengubah diri saya secara pribadi,” ungkap General Manager Kyriad Muraya Banda Aceh, Bambang Pramusinto, seorang kelahiran Semarang, dan akhirnya berencana akan menetap seterusnya di Banda Aceh.

Setiap ada kesempatan, ia selalu menyambut tamunya secara personal, dan bila ia menghilang pagi-pagi, itu tandanya Pak Bambang sedang mengayuh sepeda favoritnya di jalan-jalan kota sepanjang Banda Aceh. “Jalan-jalan di sini sangat beradab. Orang mengemudi dengan sabar dan tertib. Padahal jalan-jalannya lebar dan mulus semua. Ini adalah kota yang sangat ramah kepada sepeda. Saya bisa berlama-lama di atas sepeda dan singgah di kedai-kedai makan yang saya sukai,” katanya.

Menikmati kedai kopi.

Ketika sore tiba, inilah saatnya mengucapkan selamat berpisah kepada matahari yang akan menyeberang ke benua lain. Orang-orang Banda Aceh terbiasa nongkrong di tepian Ulee Lheue sembari memancing atau sekadar bersilaturrahim di bangku-bangku yang dihampar untuk ribuan pengunjung. Ada juga yang memilih Lampuuk di Aceh Besar, menyaksikan riak Lautan Hindia yang memerah dibakar senja.

Malam baru dimulai selepas Isya, ketika kaum pria bergegas ke keude kupie. Di sinilah seluruhnya tumpah, mulai dari topik rumah tangga, bisnis, politik lokal, hingga Helsinki. Kita tidak tahu apa yang mereka ributkan, karena semuanya dalam Bahasa Aceh.

Orang Sumatera beruntung memiliki Aceh, karena orang-orangnya tidak betah menumpuk-numpuk harta. Mereka suka belanja barang-barang bermutu, sehingga perniagaan amat bagus. Di Medan, pusat-pusat perbelanjaannya dihidupi orang-orang Aceh. Harta bukan untuk dibawa mati, tapi untuk dinikmati. Hana masalah. Kami orang Aceh, negeri terdamai saat ini, hampir tiada kriminalitas. Inilah negeri the true dar as-salaam. Bila tidak diganggu, kami damai dan bahagia. Tuan datang dengan baik, kami terima dengan gembira. Wassalam!

SHARE
Previous articleWeekend bersama Kompetisi DNC

LEAVE A REPLY