Bolu Kemboja Barkah, Menggali Warisan Kuliner Deli yang Nyaris Terlupakan

0
1431

Berkah_5

Bang Barkah, demikian orang memanggilnya. Seperti ingin “mambangki’ batang tarandam”, lewat kreativitas tangannya, beberapa nama penganan Melayu yang sudah sayup-sayup dihilangkan angin perubahan kembali hadir dan dapat dicicipi kembali untuk merasakan kelezatan sekaligus menikmati kenangannya.

Berkah_4
Melayani pelanggan.

Bolu kemboja, misalnya, adalah salah satu kudapan lokal khas Melayu Deli yang mulai samar dalam perbendaharaan makanan di daerahnya sendiri. Bang Barkah kemudian mengangkat nama makanan ini menjadi merek dagang usaha kulinernya. Bolu ini  sudah cukup sulit untuk dicari sehari-hari. Meskipun sebenarnya kue sejenis dengan nama yang berbeda masih sangat terkenal dan menjadi oleh-oleh khas dari daerah Melayu lain, yakni Pekanbaru, Riau. Di Pekanbaru, makanan ini dikenal luas dengan nama “bolu kemojo”. Di Medan sendiri, keberadaannya nyaris dilupakan. Karena itu, Bang Barkah memberanikan diri mencoba peluang untuk menghadirkan kue berbentuk bunga ini kembali ke tengah masyarakatnya.

“Saat ini bolu kemboja hanya dapat ditemukan di acara-acara tertentu yang diadakan oleh puak Melayu, seperti acara perkawinan. Di luar kegiatan seremonial, kue ini boleh dibilang sangat sulit ditemui,” katanya.

Situasi ini ternyata berlaku pula pada keluarganya. Resep yang telah turun  temurun diwariskan oleh orang tua mereka hanya menjadi secarik catatan yang tersimpan dan baru dipraktikkan setiap Ramadhan datang atau bila ada hajatan pernikahan keluarga.

Setelah menyadari potensi bolu kemboja sebagai penganan khas Melayu Deli, Bang Barkah memantapkan hati untuk membuka usaha yang langsung ia namai “Bolu Kemboja Barkah” sejak tahun 2008 silam. Usaha yang dirintisnya itu ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk berjaya di pasar penganan, khususnya di tengah industri  oleh-oleh. Dengan kegigihan, beberapa penghargaan pun telah diterimanya. Salah satunya adalah sebagai Juara 2 Kuliner dalam ajang Sumatera International Travel Fair yang dihelat pada Juni 2011 lalu.

Pelanggannya pun terus bertambah. Bang Barkah menitipkan dagangannya di kios oleh-oleh yang terletak di areal terminal Bandara Polonia yang kala itu masih beroperasi. Kemudian ia menyediakan sebuah layanan delivery sehingga pembeli tidak harus repot datang langsung ke lokasi gerainya yang terletak di Jalan Ibrahim Umar (dahulu dikenal dengan nama Gang Sado) No. 31 Medan.

Berkah_3Gerai ini sendiri buka mulai pukul 08.30 sampai 22.00 WIB. Namun Bang Barkah memberikan perlakuan khusus untuk layanan delivery. “Untuk bisa memanfaatkan layanan delivery, orderan memiliki ketentuan kuantitas minimum dan alamat masih terbatas pada wilayah Kota Medan yang dapat dijangkau,” papar Bang Barkah.

Selain bolu kemboja, keluarga Barkah sebetulnya telah terlebih dahulu membuka usaha restoran yang juga bernama “Barkah”. Posisinya berada persis di sebelah gerai Bolu Kemboja Barkah.

Saat ini, penjualan bolu kemboja dan bika ubi Barkah telah dilakukan pula di Jalan Kruing, tepatnya di Toko Roll Times, Jalan Mojopahit (Toko Kue Bika Ambon Fatimah) dan Hotel Madani Medan.

Bika ubi juga merupakan resep turun temurun keluarga mereka. Kudapan ini tidak membutuhkan waktu lama untuk memikat selera konsumen yang datang ke gerainya.

Salah satu kunci kesuksesan usaha Bolu Kemboja Barkah adalah karena sejak awal Ibunda mereka selalu memegang prinsip penggunaan bahan makanan terbaik dalam pembuatan makanan mereka. Hal itu ditanamkan kuat di tengah keluarganya. Bang Barkah juga pantang menggunakan pengawet makanan. Untuk itu, ia telah mengantongi sertifikat BPPOM RI dan lulus uji kehalalan dari BPPOM MUI.

Kini, bila Anda kangen untuk mencicipi makanan klasik Meayu Deli, sudah ada yang menyediakannya sehari-hari. Atau bila Anda ingin membawa oleh-oleh khas dari Medan untuk seseorang yang Anda sayangi, bolu kemboja dan bika ubi Barkah bisa menjadi pilihannya.

Sutan M. Aziz Nasution, foto oleh Akhmad Junaedi Siregar

LEAVE A REPLY