Budi Pekerti dan Teknologi

0
770
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.

Apa yang lebih kita butuhkan, budi pekerti atau teknologi? Tentu saja kedua-duanya. Tapi kita tidak bisa membangun teknologi yang bermanfaat tanpa budi pekerti yang baik. Di Dairi, sebuah daerah yang sementara kita anggap terpencil, anak-anak sekolah sudah mengenal permainan elektronik. Di dalamnya, mereka diajari untuk saling bunuh, saling pukul dan mengalahkan musuh. Anak-anak bolos sekolah karenanya. Permainan ini juga mendorong mereka menghabiskan uang yang makin susah payah dicari.

Bapak-bapaknya pun sudah mengenal tradisi taruhan bola (semacam toto) dan biliar. Pada musim durian, meja biliar diletakkan di bawah pohon, dan bapak-bapak bermain dengan taruhan uang yang harusnya menjadi belanja keluarga.

Ibu-ibu terus bekerja di ladang. Tapi uang makin sulit didapat. Beban keluarga bertumpuk di pundak mereka. Awal bulan nanti harus membeli lauk, membayar uang sekolah anak-anak, baju rombengan, pupuk yang mahal, dan lain-lain. Bapak-bapak terus berjudi. Pencurian dan kriminalitas pun meningkat. Pertama-tama pencurian ayam, lalu uang.

Masyarakat kita sangat cepat menyerap teknologi. Oleh sebab itu, jangan pernah cemas kalau kita akan ketinggalan teknologi dari negara lain. Tapi mulailah takut akan ketinggalan budi pekerti yang kian mengkhawatirkan dari hari ke hari. Setiap waktu, saya melihat ibu-ibu dan bapak-bapak berpendidikan rendah menghardik anaknya, memaki dengan kata-kata tak pantas, dan memanggil mereka dengan nama-nama hewan. Anak-anak itu merekam dalam otaknya seluruh “kebenaran” itu. Beberapa menit kemudian, mereka sudah belajar memaki orang lain, teman sepermainannya, hingga suatu hari mereka juga akan mulai memaki ayah dan ibunya sendiri.

Pada suatu kesempatan, saya berjalan-jalan ke Singapura. Orang-orang meminta maaf ketika justru saya yang menabrak tubuh mereka secara tidak sengaja. Ada greeting di jalan-jalan. Ada doa-doa dan harapan dari setiap lawan bicara kita. Semoga kamu begini, semoga kamu begitu. Mereka membangun teknologi yang ramah lingkungan, bermanfaat dan bisa dinikmati semua orang. Negara Singapura membangun teknologinya bersamaan dengan penanaman budi pekerti masyarakatnya, terlepas dari bagaimana kemudian negaranya sendiri menindas mereka. Setiap perbuatan mereka pun berubah jadi investasi.

Kita pun pernah mencoba membangun beberapa unit teknologi canggih di negeri ini. BJ Habibie, si jenius didikan Jerman, mengembangkan industri pesawat yang membanggakan. Indonesia menjadi pendekar dirgantara di Asia. Lalu pesawat-pesawat itu ditukar dengan beras, karena Habibie lupa bahwa kepemimpinan nasional telah gagal membangun sesuatu yang lebih dekat di bumi, yakni budi pekerti. Korupsi merajalela, sehingga pembangunan industri dan infrastruktur tidak dapat mendukung dunia pertanian. Kita kekurangan beras. Pupuk mahal. Harga gabah murah. Para petani menjadi malas. Industri pesawat pun amblas.

Saya juga telah paham bahwa budi pekerti jualah sebenarnya yang menjadikan Singapura sebagai hub tujuan wisata di Asia Tenggara. Mereka ramah dan penuh perhatian. Mereka adalah bangsa pelayan dan mereka tak perlu malu. Sebab rasa malu harus dikembalikan pada posisinya semula. Jangan sampai pencuri yang tertangkap basah merasa bangga, sementara penyapu jalan yang berjuang menghidupi lima orang anaknya justru merasa malu.

Budi pekerti pula yang membuat Bali tak bisa dilupakan dunia. Teknologi canggih di Rusia dan Jerman bahkan tidak bisa melakukan hal yang sama. Negeri di utara itu telah menciptakan teknologi untuk darah dan persengketaan. Teknologi mutakhir juga yang membuat Korea Utara tersisih dari pergaulan dunia. Teknologi juga yang membuat AS ditakuti, bukan dihormati.

Kita harus belajar. Selama ini, kita telah membangun negeri ini seperti kapal tanpa kemudi. Kita menabrak karang, oleng, terseok-seok dan pernah nyaris karam. Kemudi yang hilang itu adalah budi pekerti. Dialah penentu arah bagi segala kebudayaan dan peradaban. Hari ini, jangan lagi mengirim anak-anak ke sekolah untuk sekadar memahami Matematika, Fisika, atau, Biologi. Tapi kirimlah mereka ke sekolah-sekolah yang juga mengajarkan budi pekerti, hubungan sesama, dan moral luhur seorang manusia. Agar mereka kelak tidak lagi menabrakkan kapal ke tumpukan karang. Agar mereka berguna dan tidak kembali suatu hari hanya untuk memaki Anda dan kebudayaan yang Anda ciptakan.

Mulai hari ini, jangan lagi memandang sekolah dengan kategori negeri dan swasta. Bedakanlah sekolah dengan kategori sekolah bermutu atau sekolah sampah. Sebab pendidikan itu bukan sebuah predikat, tapi hakikat!

LEAVE A REPLY