Catatan dari Konser Hermann Delago di Medan: Ketika Orang Batak Melihat Dirinya dari Mata Orang Asing

0
902

hermann-1Saya pertama sekali melihat penampilan Hermann Delago di sebuah aula Akademi Pariwisata di Den Haag pada penghujung musim gugur tiga tahun lalu. Waktu itu ada pagelaran Toba Night yang diselenggarakan oleh perkumpulan perantau asal Toba di Eropa. Ia sengaja datang dari Austria untuk ambil bagian dalam sesi hiburan dimana minuman bir mengalir ke dalam gelas-gelas yang sebentar penuh, sebentar kosong.

Hermann mencengkeram gitar bolongnya dan menyanyikan lagu-lagu Batak yang ia pelajari entah dari mana. Belakangan saya bisa mengerti, bahwa istrinya ternyata adalah seorang wanita Batak. Dan dari sudut pandang ini, dia tidak terlalu tulen lagi sebagai orang asing. Hermann Delago telah memasuki dunia Batak. Tidak hanya menyunting wanitanya, tapi juga menyerap semangat musiknya ke dalam orkestra yang dipimpinnya. Setiap kali membawakan lagu Batak dari genre yang populer maupun klasik, minatnya menjadi meningkat.

Penampilannya di Belanda tidaklah terlalu membekas dalam ingatan saya. Saya mengira, ia hanyalah seorang entertainer yang memang harus bekerja keras menghapal beberapa lagu Batak untuk menghibur audiens. Tapi setelah itu, saya melihat dan mendengar beberapa penampilannya lagi dalam lagu-lagu Batak di berbagai kesempatan. Terakhir kali, dia menghadiri undangan kami dalam suatu event pariwisata di Balige akhir tahun lalu. Pada kesempatan itu Hermann secara sukarela membawakan lagu Batak bertempo tinggi setelah mengosongkan beberapa botol tuak. Dengan itu, kupikir dia telah benar- benar menjadi Batak. Betapa tidak, pria yang biasa mengucir rambut panjangnya ini telah duduk di sebuah meja bersama sebuah gitar bolong, segelas tuak, minus papan catur!

Tapi bagi kebanyakan orang Batak yang belum begitu mengenalnya, Hermann Delago tetaplah dipandang sebagai orang luar. Karena itu, kemampuannya membawakan lagu-lagu Batak dan menghargainya dengan sikap yang sungguh-sungguh seperti membuka mata mereka, bahkan membangkitkan satu sisi kefanatikan dalam soal habatahon dalam diri mereka. Dan sebagaimana diketahui, kita akan selalu lebih dapat mengandalkan mata orang lain untuk menilai diri kita ketimbang mata kita sendiri. Itulah yang diperankan Hermann Delago saat ini. Ia tidak sendiri. Masih ada orang asing lainnya yang memainkan peran yang sama, seperti Sandra Niessen dari Belanda yang tekun meneliti kain ulos Batak.

Ketika Henry Manik, seorang musisi muda asal Garoga yang kini tinggal di Eropa, menggagas sebuah konser  yang melibatkan sekitar 80 musisi Austria di Sumatera Utara (Medan dan Samosir), maka kemampuan Hermann Delago  dalam menguasai lagu-lagu Batak adalah menjadi poin yang terpenting. Sungguh besar pengaruhnya ketika ia bisa menyapa audiens di Tiara Convention Centre, 20 Agustus lalu, dengan Bahasa Batak dan Bahasa Indonesia.  Di samping kemampuannya bernyanyi dan mengkomposisi ulang lagu-lagu Batak dalam versi baru, ia juga piawai menghibur dan menghidupkan suasana. Ia berperan sebagai dirigen, penyanyi, pemusik, dan pembawa acara sekaligus. Ruang geraknya di panggung nyaris tak terbatas.

Dengan perannya yang besar itu, Hermann memandu orkestra membawakan lagu-lagu Batak dengan mulus. “Didia Rokkap Hi”, “Boru Panggoaran”, “Butet”, dan seterusnya, mengalir satu persatu atau mixed dengan lagu lain. Setiap keterbatasan kemampuan para penyanyi asing dalam mengucapkan lirik lagu, telah disempurnakan oleh luapan rasa gembira para penonton.

Dalam konteks musik, Austrian Tobatak Orchestra sesungguhnya masih bermain di level yang aman. Ini dapat dimaklumi mengingat masa latihan bersama dan gladi resik yang demikian singkat, khususnya dalam soal penajaman kolaborasi mereka dengan musisi-musisi nasional sekelas Viky Sianipar, Marsada Band, dan performer pendukung lainnya.

Di sisi lain, kemampuan panitia yang bekerja keras  selama berbulan-bulan untuk menghadirkan konser yang dihadiri  ratusan audiens ini, pantas mendapat perhatian yang lebih. Sebagaimana yang dikatakan tokoh teater, Stanilavsky, dalam sebuah pertunjukan, peran penonton sebenarnya sama pentingnya dengan para pemain. Sebuah pertunjukan adalah keadaan yang diciptakan secara bersama-sama antara panggung dan tribun.  Harus ada ikatan hubungan yang kuat di antara keduanya. Oleh karena itu, partisipasi para penonton yang umumnya adalah orang Toba, sangat besar dalam pertunjukan orkestra ini. Mereka telah menunjukkan penghargaan yang tinggi atas usaha para musisi Austria itu untuk memahami sekelumit dari kesenian mereka. Lewat para musisi asing itu, audiens seperti mencoba menyaksikan bayangan diri mereka sendiri. Mereka ikut bernyanyi, bertepuk tangan, dan merayakan kepulangan jiwa mereka ke tempat asalnya.

Dalam konteks ini, maka pertunjukan konser Hermann Delago di Tiara Convention Centre hanya boleh dikatakan mencapai maksudnya apabila kita telah menyebutkan kerja keras kepanitiaan di dalamnya, yaitu para sutradara di belakang panggung, terutama tim yang dibentuk oleh Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Sumatera Utara di bawah pimpinan Maruli Damanik yang berkolaborasi dengan Henry Manik selaku project manager. Disain acara dan pengaturan suspens pertunjukan membuat para penonton merasa larut dan setia sejak pertunjukan dimulai dengan penampilan siswa-siswa Chandra Kusuma School pada pukul 19.00 hingga pertunjukan selesai pada pukul 24.00. Dan situasi seperti ini hanya dapat dicapai melalui kesungguhan tingkat tinggi, perhatian yang besar pada setiap detail, dan rencana-rencana cadangan apabila terjadi gangguan yang tidak diharapkan pada skenario pertama.

Meskipun demikian, kita juga harus adil untuk memberikan beberapa catatan yang menurut saya dapat menjadi pertimbangan untuk acara serupa di masa mendatang. Dalam acara-acara seperti ini, formalitas yang terbentuk karena kehadiran pejabat dapat mengurangi hak penonton sebagai “pemeran utama” dan mengganggu skenario pertunjukan secara keseluruhan. Seharusnya, pejabat pemerintahlah yang diminta lebih arif menyesuaikan diri dengan situasi ini, bukan sebaliknya, semua elemen pertunjukan “dipaksa” mengikuti  gaya si pejabat.

Dalam beberapa hal, kebiasaan kita yang bertele-tele serta kesungkanan yang berlebihan terhadap para pejabat yang tidak memberikan kontribusi penting, perlu dikurangi agar waktu dapat dimanfaatkan dengan baik dan tidak membiarkan adegan berjalan lambat. Dan hal ini juga penting untuk menghindari celetukan sinis khas orang Batak apabila beberapa penonton  mulai jenuh: “Bah, holan hata do?!”

(Tikwan Raya Siregar)

LEAVE A REPLY