Catatan Perjalanan Asean Celebrity Explore Quest Malaysia 2015

0
159

Kuala Lumpur.

Jalan-jalan, itu sih biasa. Tapi berwisata bersama para selebriti dari negara-negara Asean, itu pasti luar biasa. Sensasi macam inilah yang ingin dibagi oleh Tourism Malaysia kepada 92 partisipan dalam program Asean Celebrity Explore Quest Malaysia 2015. Saya cukup beruntung tahun ini diundang kembali oleh Tourism Malaysia untuk mengikuti program tersebut. Kali ini ada sekitar 30 selebriti dari 10 negara di Asean, plus 15 orang manajer mereka, 17 travel agent, dan 25 awak media baik cetak maupun elektronik dan juga portal. Sebelumnya, dua tahun yang lalu saya pun telah mengikuti program yang serupa. Tapi tahun ini nyata sekali tujuan dari event ini agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.AEQM3

Secara khusus dalam pidato sambutan pertama kepada para partisipan di Shangri-La Hotel Kuala Lumpur tanggal 13 November 2015 Datok Mirza Muhammad Taiyab, Director General of Tourism Malaysia, mengatakan bahwa tujuan dari program ini digelar adalah untuk memberikan pengalaman kepada para partisipan untuk melihat Malaysia dari perspektif yang baru. “Malaysia telah mengalami begitu banyak transformasi yang positip. Begitu juga dalam industri pariwisatanya. Kami ingin para turis yang datang bisa turut merasakan hal itu, dan melihat Malaysia dalam perspektif yang baru. Kalian tidak akan pernah merasa bosan dengan Malaysia, ” ujar Datok Mirza sambil tertawa.

AEQM1Baiklah, Datok Mirza. Mau tak mau saya harus setuju dengan pernyataannya. Mengingat kali ini kami masuk ke Malaysia dengan cara yang in style : diangkut oleh Malaysia Airlines. Lantas untuk tiga malam pertama, seluruh partisipan diinapkan di Shangri-La Hotel Kuala Lumpur.

Menginap di Shangri-La membuat masalah tersendiri bagi sebagian besar partisipan. Saya pribadi punya masalah yang cukup besar. Cukup sulit buat saya untuk bangkit dari kamar untuk mengikuti beragam aktivitas di luar hotel. Shangri-La memanjakan semua para tamunya dengan berbagai fasilitas dan kreativitas yang bisa membuat manajer hotel bintang tiga sampai empat dimanapun mengerutkan kening.AEQM6

Kami disambut dengan rangkaian kalung bunga anggrek pink segar, diberi minuman jus dingin, dan handuk kecil wangi untuk menyeka wajah dan tangan. Kejutan berikutnya adalah segala kemewahan menanti di dalam kamar. Ranjang putih yang empuk dan besar. Kimono mandi yang lembut. Serangkaian produk pelengkap toilet dengan kemasan yang cantik, dan sepiring buah segar yang dikirim tiap pagi.

Favorit saya di Shangri-la adalah restaurannya. Mereka memiliki beberapa corner dengan tema masakan yang berbeda. Ada western, oriental, Japanese, Indian, dan Malay. Selain itu ada satu sudut yang khusus menyediakan aneka seafood segar dingin seperti: abalone, kerang-kerangan, kepiting, udang besar, dan sebagainya. Ah, dapur mereka rasanya seperti surga. Jangan tanya standar kualitas bahan-bahan masakan mereka. Semuanya kelas satu!

Mari kita tinggalkan Shangri-La dengan segala pesonanyaAEQM4—karena pekerjaan harus tetap berjalan. Hari kedua seluruh partisipan dibawa oleh Tourism Malaysia untuk beraktivitas di Sunway Lagoon Theme Park. Konsep tempat ini sebenarnya tidak jauh dari konsep water park. Para pengunjung bisa melakukan berbagai aktifivitas air di sini. Seperti berenang, surfing, tubing, meluncur, dan sebagainya.

Tapi kali ini rombongan kami tidak main air. Pihak panitia telah membagi kami menjadi 10 grup berdasarkan asal negara untuk mengikuti berbagai game yang telah diprogram mereka. Sebagai catatan, malam sebelumnya pihak Tourism Malaysia telah menyediakan satu perangkat go pro untuk tiap negara. Alat ini berguna untuk membuat video dari perjalanan dan aktivitas sepanjang program ini. Video ini adalah bagian dari perlombaan antar negara.

Lomba pertama adalah membuat yel-yel grup tiap negara. Selanjutnya mengisi air dalam balon, dan mencocokkan gambar tertentu dalam peta dengan lokasi sebenarnya. Siang itu panas begitu terik di sana. Hampir semua tim kesulitan melewati aneka tantangan permainan outdoor. Akhirnya ronde pertama ini dimenangkan oleh tim dari Singapura. Buat saya, permainan ini tak begitu penting. Yang menarik justru kita mendapat kesempatan yang langka untuk menyaksikan para selebriti dari negara-negara di Asean ini beraktivitas yang jauh dari kesan anggun dan menjaga image. Mereka ternyata bisa sebegitu “gila” dan konyolnya, sama seperti orang biasa lainnya. Wajah-wajah yang memerah bak kepiting rebus, kucuran keringat, dan lunturan bekas make up, semua itu jadi pemandangan yang biasa di sini.

AEQM 5Malamnya, kami semua dijamu makan malam di Umai Café, The Lake Garden Café, Putra Jaya. Saya yang terbiasa datang ke Putra Jaya pada siang hari cukup merasa takjub melihat distrik pemerintahan ini diwaktu malam. Gemerlap lampu aneka warna di jembatan dan bangunan yang ada di sana membuat suasana begitu magic. Sayang malam itu tiba-tiba hujan lebat turun. Beberapa program terpaksa dibatalkan.

Esoknya, kami bertolak ke Berjaya Times Square Kuala Lumpur. Di sini para partisipan mengikuti permainan uji nyali di Escape Room. Tiap grup dibagi menjadi 6 orang. Saya bergabung dengan rekan dari Philipina. Permainan di Escape Room terdiri dari beberapa tema. Misalnya Haunted House, Vampire, Wonder Lands, Taken, dan lain-lain. Anda mungkin merasa familiar dengan judul-judul di atas kan? Yup, itu mirip judul-judul film Hollywood. Intinya adalah semua permainan ini tentang memecahkan kode rahasia untuk bisa selamat ke luar dari ruangan yang terkunci.AEQM7

Tim saya memilih permainan dengan tingkat kesulitan tertinggi, yakni Haunted House. Kami diberi waktu sekitar 45 menit untuk memecahkan kode rahasia untuk ke luar dari sel penjara. Kalau terlambat, segala jenis hantu akan menakuti kami di ruangan itu. Kami dipisah dalam tiga sel ruangan berjeruji besi yang terhubung dengan pintu satu sama lain. Lampu ruangan sama sekali tidak ada. Kami diberi satu senter untuk satu sel. Sementara kabut semakin menebal dalam ruangan. Harus diakui tantangan dalam permainan ini cukup tinggi. Kami harus bisa membuka kombinasi kunci peti kayu yang ada dalam tiap sel dengan kode-kode yang harus kami tafsirkan dari aneka properti dalam ruangan.

Akhirnya salah satu sel terbuka. Tapi dua sel yang lain masih dalam posisi terkunci. Kami memutuskan memanggil bantuan dari marshal permainan ini. Ia pun akhirnya menjelaskan bagaimana memecahkan sandi rahasia yang tersisa. Kesimpulan kami adalah: kami terlalu tua untuk terlibat dalam permainan ini. Hahaha…

Selesai tantangan dalam ruang gelap, para partisipan masih diajak bersenang-senang di Laser Battle. Kali ini semua partisipan merasa senang. Mungkin sebagian besar sudah terbiasa main perang-perangan model ini di negara mereka.

Demikianlah, akhirnya siang itu kami menutup hari dengan makan siang di resto D’Saji Titiwangsa, Tembeling Road, Kuala Lumpur. Makan siang di sini serasa pulang kampung, khususnya buat partisipan dari Indonesia. Soalnya, musiknya memakai gamelan Jawa, dengung Sunda, dan juga Bali. Menunya yang paling enak adalah kari kambingnya. Rasanya benar-benar juara! Kambingnya masih beraroma khas dan serat dagingnya juga empuk. Santannya dibuat dengan tingkat kekentalan yang pas. Tidak terlalu padat dan juga encer. Hampir semua partisipan berebut memilih makan kari kambing.

Selepas itu, kami dipersilahkan untuk jalan-jalan satu jam di Central Market alias Pasar Seni. Saya sempat membeli aneka coklat dan terkagum-kagum menikmati aneka barang antik di sana. Selanjutnya program bebas. Sebagian partisipan memilih shopping di Surya KLCC, atau pulang ke hotel, dan sebagainya. Saya sendiri ada janji bertemu dengan teman semasa SMP yang telah lama tinggal di Kuala Lumpur. Ini adalah hari terakhir kami di Kuala Lumpur. Besok kami akan menuju Perak untuk tinggal selama dua hari ke depan.

SHARE
Previous articlePameran Industri Sawit Terbesar se-Asia Hadir Lagi di Medan
Next articleCatatan Perjalanan Asean Celebrity Explore Quest Malaysia 2015, Amazing Perak
Menamatkan studi dari STIK Pembangunan Medan, Wirastuti kemudian menekuni kegiatan kepenulisan, baik dalam bidang riset dan praktisi kewartawanan. Ia juga melibatkan diri dalam kegiatan industri pariwisata dan tetap menulis di sela-sela kesibukan bisnis dan ibu rumah tangga. Kesukaannya melakukan perjalanan didorong rasa ingin tahu yang kuat pada kebudayaan dan lingkungan yang berbeda. Wiras menaruh minat pada filsafat dan cara hidup tiap bangsa, dan senang belajar dari kebijaksanaan mereka. Laporan-laporan perjalanan yang ia tulis mencerminkan empatinya pada hal-hal baru yang ditemukannya.

LEAVE A REPLY