Catatan seorang Anak Penderita Kanker: “Mereka Bilang Rumah Sakit Kehabisan Obat”

0
327
Ilustrasi: popsugar.com
Ilustrasi: popsugar.com

Nama saya Putra, umur saya 14 tahun. Saya lahir tanggal 12 Juni 2001, berasal dari Kuala Simpang, Aceh. Saat ini seharusnya saya duduk di kelas 2 SMP, namun saat kelas satu, saya di-diagnosa mengidap kanker dan harus berhenti sekolah untuk menjalani pengobatan ke Medan.

Dulu sih cita-cita saya mau jadi kayak Neymar, pemain bola terkenal di dunia. Kalian tahu? Saya ini penggemar beratnya Barca. Pengen banget bisa ketemu langsung sama pemain bola favorit saya di Barcelona, Neymar Da Silva Santos JR. Saya ingin menjadi orang yang sukses seperti Neymar, dan bisa membahagiakan kedua orang tua saya.

Namun semua mimpi-mimpi indah saya hilang seketika. Suatu hari, saya terjatuh sewaktu bermain bola. Sebelah kaki saya membengkak. Lalu saya dirujuk ke salah satu rumah sakit umum di Kota Medan. Setelah didiagnosa, ternyata ada tumor di kaki saya.

Saya masih ingat pada saat dokter membaca hasil diagnosa tersebut. Dan yang paling berat untuk dihadapi adalah saat dokter mengatakan bahwa sebelah kaki saya harus diamputasi. Dunia terasa gelap, impian yang telah saya bangun hancur dalam sekejap. Apakah saya tak bisa main bola lagi?

Dada ini terasa sesak, dan saya tidak siap menghadapi ini semua. Bukan itu saja, saya ingat dan masih terekam dalam ingatan saya, Mama saya menangis dan saya belum ikhlas menerima semua ini. Tapi ya, saya hanya bisa pasrah, karena kenyataan yang pahit ini harus saya hadapi.

Saya mulai menjalani kemoterapi pada tanggal 1 Januari 2014. Setelah itu, kemoterapi dan kemoterapi telah saya lalui. Seharusnya minggu-minggu ini saya menjalani pengobatan lagi. Tapi kenyataan yang harus saya hadapi adalah, bahwa pihak rumah sakit mengatakan obat kemoterapinya habis…

Dua kali saya bersama Mama ke sana, dan dua kali itu juga pihak rumah sakit mengatakan bahwa obatnya habis. Dokter mengatakan bahwa saya harus menjalani operasi sekali lagi. Katanya, “Operasi tulang yang dulu diamputasi, ada tulang yang menonjol/memanjang. Seharusnya tulang ini ditutupi lemak, punya Putra tidak terlapis lemak, jadi ya gitu deh”.

Dulu saya semangat untuk bisa sembuh dan rajin menjalani kemoterapi ini. Selain itu juga karena ada kakak dan abang yang selalu memberikan semangat kepada saya. Sekarang saya tidak tahu lagi bagaimana untuk bisa semangat lagi, saya tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.

Saya ingin menjerit, tapi kepada siapa saya menjerit? Saya harus mengadu, tapi siapa yang mau mendengarkan? Saat ini saya cuma bisa berdoa, semoga ada keajaiban di balik semua ini… Amin…

LEAVE A REPLY