Catatan tentang Anak Penderita Kanker: Saya Malu ke Sekolah karena Botak

0
282
Ilustrasi: popsugar.com
Ilustrasi: popsugar.com

Perkenalkan, saya Wilson. Saya bekerja sebagai profesional di sebuah perusahaan di Medan. Di luar pekerjaan, saya dan teman-teman secara aktif meluangkan waktu untuk mendampingi para penderita kanker, terutama anak-anak yang harus menjalani proses perobatan di rumah sakit-rumah sakit. Mereka berasal dari berbagai daerah. Banyak kisah yang kami dapatkan selama pendampingan anak-anak penderita kanker, mulai dari masalah rumah sakit, kesepian dan kebosanan pasien, masalah keluarga, dan hal-hal lain yang terkadang luput dari perhatian kita.

Berikut ini adalah salah satu cerita yang diangkat dari kisah orangtua yang anak perempuannya didiagnosa menderita leukemia. Malam itu, dua orang Ibu bercerita kepada saya.

Ibu       : Om, tadi kami dari Pajak Petisah, mencari rambut palsu untuk anak kami.

Saya    : Terus?

Ibu       : Anak kami malu ke sekolah jika rambutnya botak. Sudah kami nasihati juga kalau rambutnya itu nanti akan tumbuh lagi. Tapi ya, gitu, mereka marah dan memaksa.

Kedua anak mereka itu adalah adik angkat saya. Saya langsung teringat bahwa yang satu sudah SMA dan yang satu lagi masih SD.

Saya    : Oh baiklah, nanti akan kami coba bantu menasihati…

Ibu       : Tolong ya, Om. Rambut palsu itu mahal kali. Tapi demi anak kami, ya kami terpaksa…

Ya benar, sebagai seorang wanita, rambut adalah hal yang berharga. Bukankah ada yang rela melakukan perawatan setiap minggu dengan harga yang mahal untuk keindahan dan kesehatan rambutnya? Tidak peduli berapapun itu mahalnya, yang penting rambut tetap sehat. Dan bila rambut itu rontok, pastilah mereka menjerit histeris dan panik. Saya bisa mengerti hal itu.

Dua adik angkat perempuan kami tentu sedang dilanda perasaan minder dan tidak percaya diri. Apalagi mereka akan bertemu dengan teman-teman sekolahnya. Mungkin mereka akan menjadi bulan-bulanan teman sekolahnya dan bisa jadi di-bully dan diasingkan.

Rasa minder dan tidak percaya diri ini lebih jauh lagi dapat mempengaruhi prestasi mereka. Secara pribadi saya pun sedih dan miris melihat adik-adik saya ini. Saya ingin mereka tetap bisa bersekolah seperti teman-temannya yang lain tanpa harus mengalami bully.

Anak-anak lain mungkin tidak pernah mengalami hal yang sama seperti mereka berdua. Mereka harus menjalani pengobatan yang panjang, menahan rasa sakit saat di-radiotherapy dan kemotherapy. Kemo mengakibatkan mereka harus kehilangan rambut mereka.

Anak-anak sebaya mereka juga mungkin tidak pernah merasakan bosan yang luar biasa saat harus menginap di rumah sakit berbulan-bulan. Juga tidak pernah merasakan ketakutan yang luar biasa saat satu persatu teman sekamar mereka berjuang hingga napas terakhir dan kembali kepada Sang Pencipta.

Ya, anak-anak lain lebih beruntung dari mereka karena tidak harus menghadapi masa-masa menakutkan dan menggelisahkan seperti yang mereka rasakan. Saya berharap, kita semua mendukung mereka, agar adik-adik pejuang kanker tak perlu lagi malu atau gengsi karena botak.

Adik-adik harus bangga, bahwa kalian adalah pejuang yang hebat, dan kalian tidak pernah sendirian.

 

Ttd,

Kakak kalian: Wilson.

 

LEAVE A REPLY