Cerita dari Balik Kabut Bakkara

0
1426
Lembah Bakkara.
Lembah Bakkara.

“Terimakasih kami ucapkan kepada sahala raja kami Sisingamangaraja, singa yang melampaui tapi tidak terlampaui, dari Tanah Bakkara utara hingga selatan, yang berdindingkan gunung, bertiraikan embun, yang memiliki balai pandan, balai pasogit, balai adat, balai hukum, balai persembahan kepada Mula Jadi Na Bolon, yang penuh keadilan, dasar semua ukuran, mempunyai hukum yang tiada oleng ke atas maupun ke bawah…”

———-

Tokoh kharismatik itu hadir dari balik kabut perbukitan Bakkara “tanpa” tanggal lahir, tapi punya tanggal kematian yang tegas dan abadi. Satu insiden pada 17 Juni 1907 yang sangat heroik di kaki Gunung Sitapangon dekat Pearaja, Sionom Hudon, menjadi pembuka mata orang-orang yang ditinggalkannya. Ia gugur demi sebuah pesan dan meninggalkan dua kata sebagai warisan: “Ahu Sisingamangaraja!” (Aku Sisingamangaraja!).

Setelah peluru Belanda bersarang di tubuhnya, Raja Sisingamangaraja XII menghembuskan napas terakhir bersama putera-puterinya, masing-masing Patuan Nagari, Patuan Anggi, dan Lopian. Dia mengucapkan namanya sendiri dengan tegas sebagai pertanggungjawaban penuh yang bersih dan bermartabat atas segala apa yang dilakukannya selama perang panjang antara tahun 1878 sampai 1907 bersama panglima-panglimanya. Ia kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional karena melawan kolonialisme Belanda.

Tapi kali ini, setelah 100 tahun kematiannya, mari memandang Sisingamangaraja lebih dari sekadar sosok perlawanan fisik, pajangan buku sejarah, atau patung berkuda di taman kota. Mari memandangnya sebagai manusia saja. Sebagai manusia biasa. Sisingamangaraja adalah sosok yang penuh dengan hasrat spritual, sosial, hasrat politik, dan ambisi-ambisi tertentu. Dalam seminar “Peringatan 100 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII” yang diselenggarakan di Medan, sejumlah pakar lokal sudah mulai membuka wacana-wacana yang lebih halus dan hidup tentang Sisingamangaraja.

Irwansyah Harahap, misalnya, membongkar berbagai makna relijius dan estetika di balik kesenian musik pengikut Parmalim yang pernah dipimpin Raja Sisingamangaraja XII dan dinasti pendahulunya. Dari sini, bisa diketahui bahwa Sisingamangaraja pada awalnya bukanlah sosok bersenjata dengan angkatan perang yang besar. Beliau lebih condong sebagai pemimpin spritual yang karena kebijakan dan kearifan keluarganya secara turun temurun, mereka dianggap sebagai pemimpin ajaran Tuhan.

Di tengah masyarakat Parmalim, tidak dikenal adanya sekularisasi atau pemisahan aspek sosial dan spritual. Dari tonggo (nyanyian/syair pujian) di awal tulisan ini, tampak bahwa sang pemimpin spritual, yaitu Raja Sisingamangaraja, juga adalah hakim yang adil, memiliki kedudukan politik, dan menguasai lembaga-lembaga (balai-balai) pemerintahan maupun ketuhanan. Tapi ada satu hal yang unik dengan kedudukannya tersebut. Bila para raja di belahan dunia lain cenderung mempertahankan tradisi lama untuk menjamin kekuasaannya, Sisingamangaraja XII justru menjadi agent of change di daerahnya. Dia membebaskan budak-budak (pasungan) karena dia memiliki pandangan kesamaan hak untuk merdeka dalam diri manusia. Dia juga berjiwa egaliter dan sosial karena selalu menyempatkan diri mengobati orang yang sakit meskipun itu dalam keadaan perang. Bahkan di dalam makalah yang disusun oleh Dr. phil. Ichwan Azhari, MS, Sisingamangaraja XII juga digambarkan sebagai pembaharu politik di Tanah Batak untuk menjawab perubahan-perubahan besar di sekelilingnya, seperti intervensi Islam dari selatan, misionaris Jerman ke pedalaman, perluasan kolonialisme Belanda di Sumatera, Perang Aceh, hingga pertumbuhan kapitalisme yang demikian pesat di Sumatra Timur.

Munculnya konsep “raja merempat” adalah hasil adaptasinya dari sistem politik di Aceh. Demikian juga strategi pertempuran melawan pasukan Belanda yang canggih. Sebelumnya, sistem adat Batak tidak memberikan satu kekuasaan yang sentral pada seseorang. Hal ini disebabkan manifestasi “dalihan na tolu”, di mana hubungan marga dan sistem perkawinan telah membentuk kekuasaan politik yang terfragmentasi kecil-kecil, yakni sebatas kekuasaan keluarga atau desa.

Prof. Bungaran Antonius Simanjuntak juga menuliskan secara menarik satu fakta tentang kesetaraan jender yang dipahami Sisingamangaraja XII, khususnya dalam kedudukan bela negara. Ia menyetujui pembentukan pasukan inong (perempuan) di Ronggur ni Huta, puncak bukit tertinggi di Pulau Samosir. Pasukan yang terdiri dari anak gadis dan ibu-ibu ini menyertainya bertempur habis-habisan hingga ke Sionom Hudon, Dairi. Melihat berbagai latar ini, penghargaan terhadap Sisingamangaraja XII tidak dapat lagi dibatasi pada wilayah perjuangan fisik, tapi juga nilai-nilai yang sangat universal, yang pada saat ini justru menjadi isu-isu yang mahal, seumpama jender, kesehatan, persatuan, dan kerukunan beragama.

Sisingamangaraja tidak bertempur atas nama keluarga, agama, atau kepentingan politik yang sempit. Dia malah berhubungan baik dengan Aceh, berhubungan baik dengan raja-raja di sekitar Silindung, dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Tapi Sisingamangaraja XII rela bertempur 30 tahun melawan keinginan serakah kolonialis yang ingin menguasai dan membatasi pilihan-pilihan bangsa Batak untuk menentukan nasibnya. Mengapa ada orang yang berkorban melakukan itu? Karena dia adalah Sisingamangaraja XII, orang nomor satu di Tanah Batak.

***

sisingamangaraja_XII_by_indesignesiaSisingamangaraja XII mewarisi kedudukan ayahnya dengan gelar Ompu Pulo Batu. Dinasti mereka memimpin rakyat di Bakkara, sebuah lembah yang indah di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Lembah di dekat Muara ini adalah sebuah teritori yang terdiri dari beberapa dusun dan desa, sekitar 18 km dari Dolok Sanggul, ibu kota Humbang Hasundutan. Bila Anda turun dari Dolok Sanggul, maka perjalanan akan melewati lereng-lereng yang curam dan hanya ditumbuhi rumput dan pinus. Di bagian atas, terkadang kabut menghalangi semua pemandangan. Tetapi ketika tirai putih itu sirna, maka Lembah Bakkara akan muncul seperti permadani yang berbatasan langsung dengan Danau Toba.

Bakkara dibelah oleh dua aliran sungai besar yang berair deras. Sungai terbesar adalah Aek Silang yang bersumber dari air terjun yang tercurah dari bentangan perbukitan. Sungai kedua yang lebih kecil bernama Aek Simangira. Keduanya mengaliri beberapa desa dan bermuara di Danau Toba. Di pinggiran kedua sungai inilah Sisingamangaraja XII lahir. Tidak ada yang istimewa di sana kecuali rumah-rumah tradisional, Istana Sisingamangaraja, persawahan, bawang merah dan kacang tanah. Mereka hidup secara sederhana tapi tidak pernah kekurangan. Mereka membagi air dengan adil untuk pertanian. Menerapkan sistem bondar seperti sistem subak di Bali.

Selain merupakan tanah kelahiran Sisingamangaraja, Bakkara juga dikenal karena Aek Sipangolu (air yang menghidupkan). Konon, jika seseorang terkena penyakit, ia akan sembuh apabila berendam atau meminum air dari Aek Sipangolu, sebuah sumber air yang keluar dari batu dan mengalir sepanjang masa. Airnya segar, jernih dan bermuara di Danau Toba.

Bila orang menyebut Sisingamangaraja XII sebagai Raja Orang Batak, itu tidak merujuk pada kekuasaan politik, tapi sebagai imam yang dipercaya orang Batak pada saat itu. Raja Sisingamangaraja XII memegang jabatan Imam Agama Parmalim. Gelar Sisingamangaraja adalah gelar kelompok turun temurun yang memiliki wibawa (sahala), pendeta raja (priester konig) dari cabang marga Sinambela.

Raja Sisingamangaraja XII diperkirakan lahir tahun 1849 di Bakkara, dan diangkat menjadi raja pada tahun 1867 menggantikan ayahnya, Sisingamangaraja XI yang meninggal dunia akibat penyakit kolera. Pada masa pemerintahannya, kegiatan zending Kristen dari Jerman sedang berlangsung di Tapanuli. Sebaliknya, hubungan bangsa Batak dengan Aceh yang Islam terjalin baik. Tapi kemudian kolonialisme Belanda mulai memasuki daerah Tapanuli. Melihat situasi yang tidak baik bagi masa depan dan kebebasan bangsa Batak, Sisingamangaraja mengadakan musyawarah dengan raja-raja serta panglima daerah Humbang, Toba, Samosir, dan Pakpak. Perang urat syaraf dan upaya negosiasi meningkat di kedua belah pihak. Setelah pilihan damai menemui jalan buntu, maka pada 19 Februari 1878 Sisingamangaraja XII menyerang pasukan Belanda di Bahal Batu, dekat Tarutung. Pertempuran itu menewaskan banyak penduduk dan pasukan Sisingamangaraja mundur.

Perjuangannya berlanjut dengan basis desa-desa yang belum tunduk pada Belanda seperti Butar, Lobu Siregar, Tangga Batu, dan Balige. Belanda mengejar sampai ke huta-huta (persekutuan hukum dan sosial terkecil dan bersifat otonom dalam sistem kemasyarakat Batak), membakar rumah, dan menawan raja-raja huta . Akibatnya, eskalasi pertempuran makin luas. Pada pertempuran kedua di Balige, Sisingamangaraja XII terkena peluru di atas lengan. Kuda putihnya, Si Hapas Pili, mati demi tuannya.

Perang dilanjutkan dengan gerilya. Sisingamangaraja terpaksa berpindah-pindah dari Balige ke Bakkara, Huta Paung, Lintong (kampung mertuanya, Ompu Babiat Situmorang) dan kembali lagi ke Bakkara. Begitulah berulang-ulang. Pada suatu ketika, Belanda menyerbu Lintong ketika Sisingamangaraja berlindung di kampung istrinya itu. Pertempuran yang tidak seimbang memaksa ia dan pasukannya mundur jauh hingga ke Dairi. Di daerah ini, selama 21 tahun, mereka tidak mengadakan serangan terbuka pada pasukan Belanda. Sebagai gantinya, ia mulai membuat aliansi untuk membangun kekuatan baru. Sisingamangaraja lewat utusan-utusannya melakukan kunjungan ke berbagai daerah seperti ke Aceh dan raja-raja huta di Tapanuli. Dengan memantik semangat mereka, perlawanan oleh raja-raja huta terhadap Belanda kerap terjadi.

Merasa sangat terganggu, pasukan Belanda melakukan pengejaran intensif selama tiga tahun. Ia dicari hidup atau mati setelah menolak tawaran Belanda untuk menjadikannya sebagai Sultan Batak. Sisingamangaraja XII tidak tertarik dijadikan sebagai penguasa boneka di bawah ketiak penjajah, karena yang diperjuangkannya sejak semula bukanlah kekuasaan, tapi kemerdekaan dan persamaan hak di antara bangsa-bangsa, khususnya antara si lomlom mata (orang bermata hitam) dan si bontar mata (orang bermata putih, maksudnya bangsa Eropa). Dalam sebuah pengepungan dan pertempuran jarak dekat, para panglimanya dari Aceh dan hampir seluruh keluarganya bertekad bulat untuk mempertahankan martabat dan nilai-nilai yang dijunjungnya hingga mati. Mereka bertahan di hutan daerah Simsim, di kaki Gunung Sitapangon, kurang lebih 9-10 km dari Pearaja, Sionom Hudon. Daerah ini disebut Sionom Hudon karena dikuasai enam marga yaitu Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Pinayungan, Turutan, dan Anakampun. Di sanalah mereka gugur, termasuk puterinya, Boru Lopian, yang masih berusia 17 tahun.

Stempel Sisingamangaraja XII.
Stempel Sisingamangaraja XII.

Mayat Sisingamangaraja XII mula-mula dimakamkan di Tarutung, kemudian dipindahkan ke Sopo Surung, Balige. Selain putera-puteri dan panglimanya, anggota keluarga lain yang gugur sepanjang gerilya adalah abangnya Ompu Parlopuk, isterinya Boru Situmorang, dan Pulo Batu, cucu tersulung yang sangat disayanginya dari Patuan Nagari. Mereka sakit dan keletihan selama perang berlangsung. Konon, peluru yang menembus tubuh Sisingamangaraja berasal dari bedil yang ditembakkan Kapten Christoffel yang dijuluki sebagai “Si Macan Aceh”, seorang berkebangsaan Swiss yang sebelumnya hanya merupakan serdadu bayaran. Pada tahun 1906, ia menjadi warga negara Belanda dan ditugaskan menumpas perlawanan Sisingamangaraja.

Kapten Christoffel melaporkan gugurnya Raja Sisingamangaraja ke Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz di Bogor dengan membawa bukti berupa Piso Gaja Dompak beserta stempel kerajaan. Dalam satu versi, stempel kerajaan dan Piso Gaja Dompak itu secara resmi diberikan oleh Bataviaaschap Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan di Batavia) pada rapatnya tanggal 7 Agustus 1907 kepada Museum di Gedung Gajah (sekarang Jalan Merdeka Barat) dengan tanda nomor 13425.

Tapi dari versi lain, beberapa anggota keluarga Sisingamangaraja XII mengklaim bahwa Piso Gaja Dompak yang sesungguhnya masih disimpan anggota keluarga, yakni pada salah seorang dari pihak boru (pihak anak perempuan). Sebuah mitos menyebutkan, pisau itu menghilang ke langit. Piso Gaja Dompak adalah sebilah keris kehormatan yang panjangnya sekitar 60-70 cm dengan pegangan yang menyerupai patung gajah. Menurut keluarga Sisingamangaraja, pusaka ini diberikan turun temurun sejak Sisingamangaraja I, yaitu sekitar pertengahan abad XVI Masehi. Bersama stempel kerajaan, pusaka tersebut merupakan lambang penting dalam pemerintahan Raja Sisingamangaraja I sampai ke XII.

Inilah cerita dari balik kabut Bakkara. Sebuah cerita tentang anak manusia Batak yang membela nilai-nilai kebebasan dan HAM di masanya. Sebuah cerita yang indah, penuh pesan dan pelajaran budi pekerti. Yang kini banyak dilupakan keturunannya sendiri. Amangoooi amang!

 

(Tikwan Raya Siregar & berbagai sumber pustaka)

 

LEAVE A REPLY