Cita-cita, Suka Duka dan Luka-luka Dunia Bedeng di Malaysia

0
517

Malang tak dapat ditolak. Untung tak dapat diraih. Entah apa mimpi mereka. Tahun lalu sebelum berangkat haji, pasangan ini ditimpa musibah kebakaran. Tahun ini, setelah balik dari haji pun, mereka tertimpa tangga yang sama.

Sejak tahun 1992, mereka berdua sudah merantau ke Malaysia. Memulai segalanya dari nol. Sang suami bekerja sebagai tukang kayu, istrinya pengaduk semen dan mengangkat batu. Tak seorang pun dari tiga anaknya yang dibawa. Cukuplah mereka berdua saja yang tahu betapa pahitnya perantauan ini.

Niat mereka suci. Bertekad menyekolahkan anak-anak setinggi mungkin. Kalau dapat membantu sesama warga di kampung, alangkah lebih baik lagi. Sepuluh tahun kemudian keadaan berubah. Sang suami berhasil mendapatkan status penduduk tetap di negara ini. Dengan fasilitas itu, ia manfaatkan membangun jaringan dan membina relasi sebaik mungkin. Simpanan selama sepuluh tahun dicoba diputar-putar. Akhirnya predikat sebagai tauke kecil pun berhasil ia raih. Kemampuan suaminya mengolah kayu sudah dapat diandalkan dan dijadikan pegangan. Orang-orang sekampung pun sudah bisa dipanggil bekerjasama dengan mereka.

Si istri pun tak ingin tinggal diam. Duit putaran dicobanya membuat kantin. Ia masak untuk orang-orang sekampung yang bekerja dengan suaminya, dengan harga murah, malah tak perlu membayar kontan. Bayaran bisa dilakukan setelah terima gaji setiap bulan. Tak cuma makan, rokok, kopi, teh dan pulsa pun boleh berlangganan. Yang penting orang yang berhutang bersedia membubuhkan tanda tangan dalam buku hutang hariannya. Selesailah segala persoalan.

Pasangan gigih dan gagah ini berasal dari Kangean, Madura. Suaminya bernama Sakki. Sekembalinya dari Tanah Suci, ia mendapat gelar Haji Sakki. Istrinya pun kecipratan dipanggil Bu Haji. Berarti naik pangkat dari yang dulunya disebut Ibu Kantin. Pertengahan tahun lalu sebelum ke Tanah Suci, Bu Sakki hampir gila setelah simpanannya sejumlah 20.000 ringgit lenyap terbakar sekelip mata. Hasrat hati ingin memberi kejutan pada suami pupuslah sudah. Rencananya, kelak di Tanah Suci uang itu akan jadi pegangan untuk beli oleh-oleh sanak famili.

Haji Sakki dan istri.
Haji Sakki dan istri.

Kehilangan uang sebesar itu, empat hari Bu Haji kehilangan selera makan. Setiap malam tiba, Bu Sakki duduk berdua dengan suaminya memandangi bulan dan bintang. Sudah pun habis perkataan yang hendak dicakapkan, tapi ia masih menginginkan suaminya tetap duduk di sampingnya. Baginya, saat seperti itulah jiwanya terasa lebih damai. Aneh, ketenteraman berhasil mengguyur jiwa yang kering pada saat berduaan. Baru terasa baginya makna seorang kekasih di sampingnya. Bukan hanya kekar tangannya yang bisa diandalkan, bahunya yang kekar pun ternyata layak untuk dijadikan sandaran.

***

Lain lagi cerita rekan sesama perantau dari Madura. Mat Saji memutuskan merantau bersama ibu dan ayahnya. Beberapa kali mengalami gagal panen di Pamekasan, Madura, hatinya kecewa. Akhirnya dituruti juga panggilan ibu dan ayahnya untuk bersama-sama menjadi tukang plaster bangunan di Malaysia. Awalnya mereka bertiga. Tak lama kemudian, menyusul juga adik lelakinya. Saat itu adiknya kelas 2 Aliyah dan terpaksa putus di jalan karena tak ada biaya. Tapi adiknya berjanji akan kembali lagi setelah berhasil membeli laptop sebagai penunjang belajarnya.

Berempat, anak beranak ini menjadi tukang plaster bangunan dan mengumpulkan duit bersama. Sebulan lalu laptop pun terbeli. Ia berharap adiknya segera pulang kampung dan sekolah lagi. Kehalusan kerja plaster satu keluarga ini telah diakui. Mereka bekerja dengan segenap jiwanya.

***

Kisah lainnya adalah tentang perantau dari pedalaman Jawa Timur. Ishak Azrai pergi meninggalkan Kediri. Panggilannya Tambi. Pekerjaannya menggulung tembakau di Kediri tak menjanjikan lagi. Melalui Batam ia seberangi Selat Melaka menuju Johor. Langkahnya tak berhenti hingga ia tiba di Kuala Lumpur. Inilah tanah harapan baru itu, pikirnya. Tempat kawan-kawan sekampungnya berhasil mengumpulkan ringgit, lalu membuat rumah batu di kampung.

Dugaannya tak meleset. Hanya setahun kerja di Malaysia, dia sudah bisa menyicil bahan-bahan bangunan untuk rumah barunya kelak. Hatinya gembira. Kepakarannya membuat pondasi cakar ayam sangat dihargai di sini. Setiap hari semangatnya makin meluap. Berharap awal tahun depan pembangunan rumahnya bisa dimulai.

***

Mari menyimak kisah Syafii yang masih tergolong saudara Haji Sakki. Tahun ini Syafii pun sudah merasakan hidup sebagai tauke kecil. Bersamanya telah hidup 30 orang saudara sekampung dari Sumenep. Istrinya bersemangat untuk punya anak lagi. Ia belajar dari Ibu Haji Sakki mengelola sebuah kantin di rumah bedeng. Tak terasa, Phira anaknya, kini sudah 4 tahun. Hidup mereka tambah rukun, peruntungan di perantauan sudah menunjukkan hasilnya.

Phira di tengah reruntuhan bedeng yang terbakar.

Phira dan ortu
Phira dan kedua orang tuanya di tengah reruntuhan pemukiman bedeng yang terbakar.

***

Seorang pemuda Aceh Timur, Shamsudin, baru dua bulan meninggalkan Langsa. Penat rasanya bekerja sebagai pelayan restoran sup Langsa di kota kelahirannya. Lelaki tamatan SMA ini tak ingin lagi bergaji 15 ribu rupiah sehari. Ia berubah haluan menjadi kenek batu. Lumayan, 30 ringgit sehari. Hatinya begitu kukuh mengejar ringgit. Soal permit kerja tak ia hiraukan. Ia masuk pakai visa pelancong. Sudah sebulan ini visanya mati.

***

Beralih sejenak kepada pria asal Jawa Tengah. Malam Jum’at, Mas Kam bermimpi ketemu Presiden Jokowi. Hatinya berbunga-bunga ketika Jokowi melambaikan tangan dan tersenyum padanya. Pagi-pagi ia bangun tersenyum-senyum di rumah bedengnya. Kamar tripleks 2 x 3 meter itu tiba-tiba berubah seperti ruang Credential Istana Negara, tempat Presiden menyambut tamu-tamunya nan berhiaskan jati Jepara. Padahal di bawahnya air tergenang dan nyamuk di mana-mana.

***

Jumat 24 Oktober 2014, sehari sebelum ummat Islam memasuki Tahun Baru 1436 Hijriyah. Pagi-pagi kehidupan di rumah bedeng Bandar Tun Hussein Onn berjalan seperti biasa. Satu kamar mandi umum dengan bak besar dikongsi bersama. Perempuan dan lelaki mandi di satu tempat dengan berbalut kain basahan ala kadarnya. Ibu-ibu pemilik kantin melayani kuli bangunan menyiapkan sarapan. Tak seorang pun berfirasat aneh.

Tergegas langkah Mas Kam menuju kantin. Ia ingin semua orang mendengar mimpi indahnya semalam. Diangkatnya sebelah kaki. Dipatahkannya bolu, dicelupnya ke dalam kopi. Di kantin ia cerita kepada kawan-kawannya dengan penuh gairah. Tak seperti biasanya, dia merasa bakal meraih keuntungan, walau hanya disapa Presiden barunya dalam mimpi. Apalagi pagi itu matahari bersinar dengan cerahnya.

Menjelang tengah hari, saat Mat Saji bersiul-siul sambil duduk memplester di atas tangga kayu, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara ledakan tabung gas yang membahana. Langit sekitarnya gelap seketika. Sekuat tenaga ia berlari. Hanya satu yang ada dalam kepalanya. Laptop adiknya yang baru dibeli!

Syafii baru saja bertransaksi dengan pengirim uang di kawasan Mines, Seri Kembangan. Maksud hati mengirim uang ke kampung. Belum lagi selesai transaksi, istrinya menelepon dengan 3 buah perkataan. “Abaang..!! Apii! Pulaang!!”

Tak sempat ia bertanya ada apa. Selaju mungkin dipacu motornya. Jarum menunjukkan 120 km/h.

my sekop
Puing-puing.

Saat itu Haji Sakki baru saja mengaso di kantin istrinya setelah pulang mengecek pekerja. Seketika istrinya menjerit, “Habislah semua!! Aduh Tuhan…Semua gelap! Api… Apiii..!!!” Tergopoh-gopoh ia berlari menyelamatkan sepeda motornya yang sudah sangat dekat dengan api. Dipikirnya api masih jauh dari kantin. Dibiarkannya sejumlah uang jualan teronggok di sana.

Waktu kecil ia jadi kawan, sudah besar menjadi lawan. Api tak mau tahu apa suku bangsa dan agama mereka. Sekuat apapun Mat Saji berlari, tetap saja api tak peduli. Laptop adiknya telah habis digerogoti. Selaju apa pun Syafii memacu, jilatan api lebih laju. Isi kantin istrinya binasa menjadi abu. Motor Haji Sakki sudah selamat, ketika kembali lagi, uang sudah lenyap. Hilang tanpa bekas. Begitu juga peralatan kantin Bu Sakki dan catatan harian orang-orang yang berhutang padanya.

***

Hari Senin 27 Oktober, 4 hari setelah kebakaran. Tambi masih belum ingin bekerja. Semangatnya masih pupus binasa. Harapannya membangun rumah tahun depan tiba-tiba sirna.

Mas Kam tak tahu harus berkata apa. Duduk dengan hanya celana pendek tak berbaju. Hanya itu harta satu-satunya yang selamat. Yang paling berharga adalah nyawanya. Dengan nyawanya ia masih bisa berseloroh semoga Presiden Jokowi mendengar lara hatinya.

Sebenarnya sangat mudah bagi Haji Sakki untuk pindah dan memiliki rumah sendiri di Malaysia ini. Tapi ia lebih memilih tinggal di rumah bedeng bersama saudara-saudara sekampungnya. Jiwanya akan lebih hidup di saat ia berhasil memecahkan berbagai persoalan bersama. Namanya orang bekerja, pastilah sedikit banyak perselisihan itu ada. Mulai dari kehilangan barang pekerjanya, hingga urusan “cinta lokasi”. Tidak jarang didapatinya pekerjanya, baik perempuan maupun lelaki yang punya pasangan sah di kampungnya, terpaksa menikah lagi di perkampungan rumah bedeng ini. Dengan tinggal bersama mereka, Haji Sakki akan lebih peka menghadapi setiap persoalan yang terjadi. Gigitan nyamuk saudaranya adalah sakitnya juga. Apalagi di saat baru terjadi kebakaran seperti ini. Bahunya yang kekar bukan lagi hanya tempat bersandar istrinya, tapi juga sandaran bagi sejumlah manusia yang turut merantau dengannya.

Phira anak Syafii mengais-ngais bekas dapur ibunya. Berharap masih ketemu boneka kesayangannya. Dia ingat betul, di tempat itu terakhir kali beruang pandanya terlepas dari genggamannya. Setelah ibunya menarik paksa  tangannya.

***

Semua kejadian di atas adalah berdasarkan wawancara korban kebakaran rumah bedeng Bandar Tun Hussein Onn, Balakong, Selangor. Sebanyak 182 orang kehilangan harta benda, tapi tak seorang pun kehilangan nyawa. Rumah bedeng adalah pemukiman pekerja-pekerja asing di tapak konstruksi. Sebenarnya tak layak dikatakan rumah. Rata-rata hanya ruang 2 x 3 meter berdinding tripleks yang mudah terbakar. Maaf, masih lebih baik kandang kambing di Malaysia yang dibangun sangat luas, nyaman dan berkipas, lengkap dengan alunan musik orkestra dan alat pemadam api di setiap sudutnya. Padahal yang mereka bangun adalah apartemen mewah dan rumah-rumah banglo (bungalow) yang harganya paling murah 2 miliar se-unit.

Tapi begitulah kenyataannya. Kebanyakan kuli konstruksi ini masuk dengan modal nekat. Tak menghiraukan segala bentuk perizinan dan undang-undang yang sah untuk bekerja di luar negeri. Tidak sedikit yang buta huruf. Bahkan ada yang tak mengerti Bahasa Indonesia, hanya tahu bahasa daerahnya. Seandainya mereka paham bahwa menurut undang-undang tenaga kerja asing di Malaysia mereka layak mendapat tempat tinggal yang nyaman, selamat dan manusiawi, tentu akan lain ceritanya.

Kerap sekali kebakaran di rumah bedeng ini terjadi. Tahun 2013 lalu, seramai 200 orang korban harta benda di kawasan Bukit Serdang, Seri Kembangan. Tahun ini saja sudah dua kali kejadian kebakaran di Seri Kembangan dan sekali di Bandar Tun Hussein Onn. Semua kawasan tersebut berada di dekat rumah saya. Itu belum lagi menghitung di daerah-daerah lainnya.

Ketika ditanya kepada para korban, tak ada yang merasa pasti api berasal dari mana. Hanya menduga-duga dari dapur si anu atau ada orang yang sakit hati pada tauke dan membakarnya, lalu lari. Sebelum api betul-betul marak, mereka akan dikejutkan dengan teriakan “Ras…ras… Lari!! Lari!!”.

“Ras” adalah istilah untuk operasi atau razia. Suatu makhluk yang sangat ditakuti bagi pendatang tanpa izin seperti mereka. Maka mereka pun lari terbirit-birit meninggalkan semua yang ada. Setelah jauh berlari, baru tahu bahwa sebenarnya kebakaranlah yang terjadi. Tak sempat lagi mereka selamatkan harta bendanya. Termasuk duit simpanan dua tiga bulan gaji yang hanya disimpan di bawah tilam atau lemari. Di sini pekerja tanpa izin tidak dibenarkan membuat account bank.

Tahun 2009 lalu, sejumlah pemuda yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Malaysia asal Sumatera Utara (IPAMSU) pernah membuat seminar tentang ini. Mereka mengundang Prof Aarnd Graft, sosiolog asal Jerman yang fasih berbahasa Indonesia dan mengajar di Pulau Pinang. Pendapat beliau sederhana sekali. Dimana ada gula di situ ada semut. Permintaan negara ini untuk pekerja asing di sektor konstruksi tinggi sekali. Negara yang sedang membangun dengan pesat ini tidak mempersiapkan rakyatnya untuk bekerja di sektor D3 (dirty, difficult and dangerous). Mereka sangat fokus mempersiapkan diri sebagai tuan di negeri sendiri dan negara lain. Maka, masih menurut Prof Graft, selagi keadaan ekonomi Indonesia dan Malaysia tidak seimbang, keadaan seperti ini akan tetap berlaku.

Shamsudin, pemuda Langsa yang baru tamat sekolah, gemar pelajaran Bahasa Inggris. Di dinding bedeng barunya ia hanya bisa menorehkan seuntai kalimat: “The time heals every wound“. Yah, waktu jualah yang akan menyembuhkan setiap luka.

(Danil Junaidy Daulay)

LEAVE A REPLY