Dr Ichwan dan Orang Batak

0
1063
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.
Tikwan Raya Siregar.

Di pertengahan November 2010 lalu, Dr (phil) Ichwan Azhari, MS, merilis sebuah hasil penelitiannya mengenai sejarah nama ”Batak” sebagai sebuah etnik. Cukup mengejutkan bagi banyak orang, bahwa ”Batak” sebagai nama etnik (suku) ternyata tidak berasal dari orang Batak sendiri, ”tapi diciptakan atau dikonstruksi oleh para musafir barat dan kemudian dikukuhkan oleh misionaris Jerman yang datang ke Tanah Batak sejak tahun 1860-an”.

Dr Ichwan adalah akademisi cemerlang yang senang mengganggu ”nisan-nisan kuburan penulisan sejarah” yang dianggap mapan, dan oleh karena itu ia menjadi sejarahwan yang dikenal segar dan kaya dengan kejutan. Kebetulan, dalam proses penelitiannya selama dua bulan di Jerman dan Belanda, saya sempat tersenggol pekerjaannya sedikit, terutama ketika mengunjunginya di Wuppertal, Jerman, ketika beliau membongkari arsip-arsip VEM (dulu RMG, institusi di mana Nommensen bernaung). Ia menyewa sebuah kamar asrama VEM di kota kecil yang indah itu, dan menjalankan penelitiannya dengan tekun.

Dalam sumber-sumber lisan dan tertulis, terutama di dalam pustaha (tulisan tangan asli Batak), Dr Ichwan menyatakan tidak ditemukan kata ”Batak” untuk menyebut diri sebagai orang atau etnik. Dengan demikian ia menarik kesimpulan bahwa nama ”Batak” tidak asli berasal dari dalam kebudayaan Batak, melainkan sesuatu yang diciptakan dan dikonstruksi dari luar. Kemudian ia menarik sebuah kesimpulan, bahwa kata itu telah berkembang pertamakali di tengah masyarakat pesisir (Melayu) yang mengeksonami orang pegunungan yang dianggap ”liar” dan berbeda dari mereka. Para orientalis, kolonialis dan para misionaris yang datang dari barat dengan singgah lebih dulu di masyarakat pesisir lantas mengadopsi sebutan itu—meski secara ragu-ragu—serta mengonstruksinya dalam karya-karya ilmiah maupun laporan-laporan mereka.

Selain meneliti di antara ratusan ribu lembar arsip misionaris Jerman di Wuppertal, Dr Ichwan juga melengkapi datanya ke arsip KITLV di Belanda, mewawancari sejumlah pakar ahli Batak, baik di Belanda maupun Jerman, seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner.

Kata ”Batak”, menurut temuan Dr Ichwan, secara etimologis berasal dari kata ”bata”. Kata ini berkonotasi negatif, bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan. Pada manuskrip abad 17 koleksi Leiden, juga ditemukan kata ”Batak” di kalangan orang Melayu di Malaysia, sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Masih ada sejumlah fakta lain yang ia sebutkan untuk memperkuat hasil penelitiannya tersebut, termasuk penelitian peta-peta kuno, keragu-raguan para misionaris terhadap penggunaan kata ”Batak” dan fakta-fakta arsip lainnya.

Sebenarnya, ada juga tema sensitif lain yang belum dirilis Dr Ichwan karena merasa belum begitu kuat buktinya, yaitu kemungkinan bahwa istilah kekerabatan ”Dalihan Na Tolu” sebagai konstruksi para sarjana Jerman juga. Wallahu a’lam.

Orang Batak seperti saya (atau begitulah pandangan saya dulu), tentu tidak perlu tersinggung apalagi marah dengan hasil penelitian Dr Ichwan. Memang demikianlah sejarah etnik dan budaya berproses. Sejarah, sebagaimana yang kita pahami, adalah kumpulan konstruksi yang tidak selamanya muncul berdasarkan apa yang dipikirkan para ahli waris etnik atau kebudayaan itu sendiri.

Lebih dari itu, penulisan sejarah pun tidak pernah lepas dari urusan kekuasaan dan tujuan-tujuannya. Dengan sifat tersebut, sejarah selalu akan membuka dialog yang tak pernah usai. Termasuk untuk menerima konstruksi versi lainnya, bahwa kata ”Batak” adalah bermakna ”penunggang kuda”. Versi terakhir ini adalah pengertian yang dikonstruksi oleh mereka yang mencoba mempertahankan kemuliaan kata ”Batak” sebagai etnik dan identitas.

Sejarah sosial tidak bisa dipandang lagi sekadar fakta artefak dan fosil. Kini ia telah bertransformasi menjadi dialog pemikiran, dialog antar-perspektif, serta dialog antar-kekuasaan sebagai latarnya, dan membuat siapapun yang mencintainya akan ”makin kaya”. Dalam penulisan sejarah, tidak ada yang pasti kecuali dialog itu sendiri. Simpul ini pulalah yang kemudian menyamakan sifat-sifat atau hakikat ilmu sosial dengan ilmu fisik, di mana Albert Einstein sudah lebih dahulu tiba pada hukum relativitas energi (sebuah pengakuan intrinsik pada keterbatasan manusia dan terhadap adanya Kebenaran Tunggal di atas semua kepingan ilmu pengetahuan).

Rilis hasil penelitian Dr Ichwan telah mengundang reaksi yang ramai, bahkan lebih ramai dari yang ia bayangkan sendiri. Di beberapa milis dan jejaring sosial, berita itu disebarkan dan didiskusikan orang. Ada yang menanggapinya dengan santai, ada yang mencibir dan marah, serta ada yang serius, meski tidak semuanya disampaikan secara akademis. Salah satu di antara sedikit anggota milis yang menanggapinya secara akademis dan terbuka adalah adalah Prof Dr Vedi R Hadiz, seorang visiting fellow di Australian National University, Melbourne, Australia.

Profesor Vedi pada prinsipnya memperkuat hasil penelitian Dr Ichwan dengan menegaskan pendirian akademisnya menyangkut konstruksi-konstruksi etnik dalam sejarah dunia. Ia mengungkapkan banyak sekali contoh konstruksi luar terhadap sebuah etnik di luar Batak yang sudah dibicarakan di atas. Istilah “Moro” untuk menyebut orang Islam di Filipina Selatan adalah ciptaan orang Spanyol. Orang Spanyol menyebut orang Islam di negeri mereka sendiri dengan “Moor”. Ketika bangsa itu menjajah Filipina, maka terciptalah identitas orang “Moro” yang sebelumnya tidak ada.

Perbedaan antara Tutsi-Hutu di Rwanda dan Burundi, menurut Prof Vedi, juga adalah ciptaan orang Belgia. “Menurut dugaan saya, India pun adalah ciptaan orang Inggris mengingat perbedaan orang Tamil dengan orang Sindhi yang boleh dibilang sepadan dengan perbedaan antara orang Slovakia dan orang Skotlandia di Eropa. Kita juga sering mendengar bahwa istilah Dayak sebagai penamaan yang relatif baru. Hal yang sama bisa kita terapkan di Eropa sana. Menurut saya, orang Inggris itu tidak ada. Mereka adalah campuran dari berbagai suku Celtic, Germanic, Viking dan yang budayanya pernah dipengaruhi orang Latin dan Perancis. Orang Perancis itu siapa? Dulu wilayah mereka ditinggali oleh orang yang disebut kaum Gaul oleh orang Romawi. Mereka juga suku Celtic—yang ngomong-ngomong juga pernah ada di Belgia, Swiss, Eropa Tengah, hingga Turki (orang Galatia yang disebut dalam Kitab Perjanjian Lama). Tapi kemudian mereka jadi orang Perancis karena wilayah Gaul semakin menjadi Latin—setelah kejatuhan Kerajaan Romawi—serta diserbu oleh suku Franks yang adalah sejenis suku Germanic,” papar Prof Vedi dalam sebuah imelnya yang diposting seorang teman di Jakarta.

Dengan konstruksi itu, maka orang “Perancis” secara inheren ternyata juga tidak dimaksudkan sedemikian oleh mereka yang menyebut dirinya bangsa Perancis. Mereka cuma blasteran orang Celtic dan Germanic yang telah di-Latin-kan. Begitulah seterusnya, sampai kita pun menyadari bahwa istilah “Indonesia” pun sebenarnya adalah konstruksi para orientalis/kolonialis yang kemudian balik gagang melawan kekuatan kolonialisme mereka sendiri. Adalah George Samuel Windsor Earl (Inggris) yang pertama kali memperkenalkan nama itu lewat majalah Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) yang terbit di Singapura pada tahun 1850.

Berkaitan dengan hal itu, maka sifat-sifat fanatisme dalam perkara-perkara etnisitas menjadi tidak begitu relevan lagi, meskipun itu akan ditemukan secara mudah dalam realitas kehidupan berbangsa di negeri ini. Dr Ichwan adalah salah seorang yang membangkitkan sensitifitas etnik itu. Ia seorang Melayu dan seorang akademisi tulen. Latarbelakang etniknya sebenarnya kurang menguntungkannya untuk kajian ini. Oleh sebab itu, ia perlu menjelaskan penelitiannya dari jalur akademis saja.

Masalahnya, pada prinsipnya tidak ada satu penelitian pun yang objektif. Suatu ide tidak pernah muncul dengan bebas nilai. Karena itu, tidak tepat bila dikatakan bahwa sebuah penelitian dimulai dari satu gagasan dasar atau fakta (fenomena) yang murni, sebab gagasan dasar itu pun sudah dipersepsi sejak awal oleh sang peneliti.

Seorang peneliti kampus hanya setia pada metodologi penelitiannya masing-masing, yakni satu hal yang dapat dipertanggungjawabkan dengan cukup mudah di depan masyarakat akademis. Namun kebenaran adalah hal lain. Apa yang disebutkan dengan fakta maupun data tak lebih dari kepingan-kepingan yang tak pernah dapat disatukan lagi dengan utuh, termasuk dalam dialog sejarah yang intens, karena setiap orang yang bekerja secara ilmiah kini dapat membangun konstruksi dan perspektifnya masing-masing, dengan tujuan masing-masing pula. Jadi, satu-satunya yang dapat kita valuasi dan warisi dari kesejarahan adalah kekayaan konstruksi itu sendiri.

Untuk mencoba memahami hubungan peneliti dengan konstruksi penelitiannya, perlu juga kita melihat sejenak dan mempertimbangkan metode kritik sastra, di mana para kritikus kontekstual tidak ingin memisahkan sebuah karya sastra dari latar belakang sosial pengarangnya sendiri. Relevan dengan itu, sebagaimana dimaklumi, sebuah ide penelitian social science harus dimulai dari satu preferensi si peneliti. Preferensi itu bukan pilihan tembak langsung, tetapi didorong oleh akumulasi pengalaman yang membentuk alam sadar dan bawah sadar si peneliti.

Seorang teman saya memilih meneliti antropologi bencana karena ia terlibat langsung dalam peliputan-peliputan bencana untuk media tempatnya bekerja. Karena ia sadar bahwa pilihannya itu tidak muncul tiba-tiba, maka ia perlu menjelaskan hal ihwal pilihannya. Itulah yang dimaksud dengan latarbelakang penelitian.

Tapi masalah berikutnya, apakah ia sudah cukup mengungkapkan seluruh latar belakang itu lengkap dengan persepsi yang dibentuk oleh pandangan-pandangan dunianya? Apakah ia sudah cukup utuh menampilkan dirinya dalam penelitian itu agar orang dapat memahami sejarah pikirannya, bukan hanya sekadar memahami metode yang digunakannya?

Akhirnya, dalam diri si peneliti sendiri sesungguhnya telah terjadi dialog dan proses berpikir yang maha rumit, yang mustahil disampaikan dalam sebuah bagian latarbelakang penelitian yang singkat. Dengan kata lain, pilihan akhir terhadap tema penelitian itu adalah masalah yang kompleks dan memerlukan kajian khusus dalam kritik sastra maupun tafsir-tafsir sosial, yang juga disadari tidak akan pernah bisa mencapai kebenaran yang terus dicari manusia-manusia kampus, dan karena itu mereka cukup tahu diri untuk menyempitkan batas-batas kebenarannya dengan menyebutnya sebagai kebenaran ilmiah saja.

Oleh karena itu, dalam diskursus penelitian Dr Ichwan tentang konstruksi Batak, adalah lebih produktif untuk menelusuri siapakah Dr Ichwan, apa pengalaman hidupnya tentang Batak, latar belakang pemilihan tema penelitiannya, dan pesan apa sesungguhnya yang ingin disampaikannya lewat kesimpulan penelitian itu—penelitian terhadap penelitian—ketimbang marah-marah atau menolak karyanya dengan cara-cara yang memiskinkan dialog dan pada akhirnya menutup pintu-pintu ilmu pengetahuan.  Kekeliruan seperti ini sudah dilakukan segelintir orang Batak ketika membaca hasil penelitian Dr Ichwan itu.

Apalagi, sejarah etnisitas sendiri bukanlah ajaran kitab suci, yang menurut Prof Vedi tak lebih dari proses-proses yang penuh dengan kebetulan-kebetulan, dinamika sosial, serta menawarkan warna-warna yang bisa kita nikmati hari ini, kita diskusikan bersama, dan dihayati sebagai semangat pengetahuan serta rahmat Tuhan.

(Tikwan Raya Siregar)

LEAVE A REPLY