Efisiensi sebagai Bunuh Diri Ekonomi

0
111
Seorang penenun sedang mengerjakan songket secara manual (craft).

Saya ingin menceritakan dua pemandangan nyata kepada Anda sebelum memberikan kesimpulan pada tulisan ini.

Pertama, di terminal bus Marrakesh, Maroko, tahun 2014. Kami dalam proses keberangkatan ke Kelaat mGouna menggunakan bus umum kelas ekonomi. Sejak pertama keluar tembok “medina”, kami sudah didatangi beberapa orang, menanyakan tujuan kami, dan akhirnya satu orang dari mereka memandu kami ke satu bus yang sedang parkir. Tugasnya hanya itu, kemudian ia lenyap. Satu orang berikutnya membawa kami ke atas bus dan menunjukkan tempat duduk. Setelah itu, ia pun menghilang keluar.

Selama duduk menunggu keberangkatan, puluhan pedagang silih berganti naik bus untuk menjajakan barangnya. Kami membeli beberapa makanan untuk mengisi perut, dan memang tertarik mencicipi cemilan yang tanpa kemasan, karena dibuat di rumah-rumah oleh istri mereka.
Setelah bus berangkat, seorang yang lain lagi bertindak menjadi kernet bus. Ia mendatangi para penumpang dengan kocak, dan mengutip ongkos. Sopirnya seorang tua yang pendiam, dan tampaknya ia tadi baru menikmati teh mint sambil nonton sepakbola di layar tivi sebuah warung terminal yang murah, sembari menikmati hidupnya.

Bus ini luar biasa dan sungguh tidak efisien. Tidak kompetitif. Karena memang tidak ada kompetisi di sini. Yang ada hanyalah  pembagian tugas, pembagian rezeki. Banyak uang yang harus dikeluarkan untuk orang-orang yang bekerja sedikit-sedikit. Mulai dari tukang tunjuk bus, tukang tunjuk bangku, tukang jualan, kernet, sopir, tukang doorsmeer, dan kuli angkut barang. Dalam catatan saya, tidak kurang dari 15 orang telah bekerja terkait bus ini. Kalau masing-masing menanggung seorang istri dan dua anak, maka bus ini telah menghidupi 60 jiwa. Luar biasa.

Cerita lain.
Selamadua tahun belakangan, kami memproduksi virgin coconut oil (VCO) grade premium (untuk konsumsi) Dan berbagai produk turunannya. Awalnya untuk kami manfaatkan sendiri. Belakangan, teman-teman dan para konsumen memesan untuk berbagai kepentingan mereka.
Kami menyebutnya VCO House of Al-Chemy. Dimulai dengan memilih (seleksi) kelapa yang terbaik, kami membeli kelapa di pedagang eceran karena mereka memiliki alat kukur dan alat peras. Tapi harga kelapa di pedagang eceran lebih mahal. Kalau kami beli langsung ke grosir atau supplier, harga kelapa ukuran sedang bisa Rp 3.000 saja. Di pedagang pengecer bisa menjadi 4.000. Dengan jasa kukur dan peras, menjadi Rp 6.000 per butir.
Kami menjadi pelanggan khusus karena membeli kelapa lebih banyak dari pelanggan mereka lainnya, hanya saja kami menuntut sortir kelapa yang lebih ketat.
Dengan rangkaian produksi ini, saya sering tergoda untuk membeli kelapa langsung dari supplier saja, lalu membeli mesin kukur dan pemeras sendiri. Dengan begini, maka saya bisa meng-efisiensi biaya hingga separuh (Rp 3.000) dari cara sebelumnya. Menguntungkan bukan?
Menurut ilmu ekonomi dan kaidah manajemen produksi, cara baru ini tentulah sangat efisien, dapat memaksimalkan  profit, dan harga lebih kompetitif. Prinsip dasar ilmu ekonomi adalah “dengan biaya sekecil-kecilnya, mendapatkan untung sebesar-besarnya”.
Tapi saya tetap mengurungkan godaan itu setiap kali teringat wajah pemilik warung dan istrinya yang bekerja keras tiap hari untuk lima orang anaknya, dan wajah dua pekerja remaja mereka yang selalu berpeluh dan sungguh-sungguh. Bila mesin ngadat, mereka memperbaikinya dengan tergopoh-gopoh karena orang tidak pernah sabar menunggu santan dibawa ke rumah untuk memasak sesuatu bagi keluarga.
Kedai itu, karena izin Allah, menghidupi sembilan jiwa dan belum menghitung pemasok-pemasok barang produksi rumah tangga dan petani sayur yang meletakkan hasil ladangnya di sana.
Ini memang tidak efisien. Tapi tahukah Anda? Bekerjasama dengan mereka membuat saya senang dan tenang. Saya tidak perlu pusing mengatur tenaga kerja di rumah untuk kukur maupun peras. Saya terbebas dari kenaikan tarif listrik untuk menggerakkan mesin, dan saya tidak perlu memikirkan perawatan mesin dan pembetulannya bila rusak. Semua itu sudah diambil alih mereka. Sama seperti sopir di Marrakesh yang bahagia, saya jadi punya waktu yang banyak untuk minum kopi gayo yang enak itu tanpa diganggu kebisingan mesin kukur.
Mereka juga bekerja dengan gembira. Kadang-kadang saya membawa sabun natural bikinan kami dan menghadiahkannya pada mereka. Ternyata mereka sangat bahagia menerimanya, sampai-sampai merasa perlu bertanya pada saya apakah ada hal lain yang bisa mereka kerjakan untuk membuat saya lebih bahagia.
Saya kemudian sadar, persahabatan seperti ini tidak akan ditemukan melalui efisiensi dan keinginan tamak untuk mendapatkan segalanya sendirian. Mungkin kalau diturutkan, saya juga akan tergoda memiliki ladang kelapa sendiri agar tak ada satu pun keuntungan yang lepas dari usaha saya. Monopoli keuntungan dari hulu ke hilir.
Semangat ekonomi adalah suatu cara menghidupkan keserakahan. Metode kerjanya adalah kapitalisme. Puncak dari kapitalisme ini adalah monopoli mata uang kertas, karena hanya dengan modal kertas murah, bisa ditukarkan dengan berbagai harta berharga seperti tanah, perhiasan, emas, ternak, properti, dan apa saja. Tidak ada yang lebih menguntungkan dari  bisnis mencetak uang dari kertas. Mereka ingin kaya sendirian, dan yang lain harus dimiskinkan. Gaji pekerja harus ditekan, dan mereka tidak boleh dibiarkan mandiri dengan memproduksi barangnya sendiri.
Inilah model bunuh diri sosial-ekonomi sebagaimana yang sedang kita ikuti alurnya hari ini.
Mereka yang mengakumulasi kekayaan dengan cara memiskinkan orang lain pada akhirnya memandekkan sirkulasi kekayaan. Dampak langsungnya adalah, daya beli menurun, sehingga produksi juga tersendat. Barang-barang menumpuk di gudang tanpa manfaat, sedangkan yang memerlukannya makin banyak dan miskin. Mereka bekerja di pabrik sepatu, tapi tak mampu membeli sepatu yang dibuatnya.
Para pengusaha swakarya gulung tikar karena termakan perusahaan besar yang lebih efisien. Karena tak punya penghasilan lagi, mereka tak mampu berbelanja ke mall yang mahal, sehingga mall tutup, dan karyawan mall kehilangan pekerjaan. Para produsen yang memasok barang ke mall juga kehilangan orderan, dan mereka bangkrut. Efek domino ini menciptakan gelombang kemiskinan, sampai para bankir datang menawarkan utang untuk menggenjot daya konsumsi palsu, serta untuk memberikan darah baru pada produsen.
Tapi ini adalah sementara, karena segera setelah itu beban para produsen dan konsumen justru makin berat karena cicilan utang dan bunga yang membesar. Agar tetap bisa memperoleh margin, biasanya produsen akan melakukan inovasi dan efisiensi yang lebih kencang lagi. Upah buruh digencet hingga mereka makin miskin, faktor produksi diganti mesin-mesin agar jumlah buruh dapat dikurangi. Tapi dampaknya justru makin serius, karena daya beli kian merosot, sehingga barang-barang makin menumpuk di gudang.
Begitulah siklusnya terus menerus hingga efisiensi mencapai batasnya. Yaitu ketika tidak ada lagi sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang bisa dieksploitasi untuk memenuhi keserakahan ekonomi itu. Efisiensi ternyata adalah jalan mundur dari kesejahteraan sosial dan ekonomi. Keserakahan yang menjangkiti prinsip ekonomi bersifat eksploitatif.
Sedangkan usaha yang berbasis kerjasama (gilda-gilda dan padat karya) bersifat distributif, saling memberdayakan dan berkelanjutan.
Ekonomi eksploitatif juga cenderung menciptakan produksi seragam dan massal karena sifat efisiensinya yang mengharuskan pola yang sama dan keseragaman mesin produksi. Sedangkan usaha rumahan dan swakarya menciptakan produksi yang lebih variatif dan kreatif karena mengikutkan peran personal dan kultural dalam proses produksinya.
Demikianlah, pada akhirnya kita akan menuai banyak kerugian karena menuruti hasrat efisiensi ekonomi yang menggiurkan itu. Efisiensi adalah jalan pintas menuju bunuh diri ekonomi.

LEAVE A REPLY