Emirsyah Satar

4
1787

Profil comBagi kami, Pak Emirsyah Satar adalah rusa liar. Dibutuhkan 3 tahun “berburu” profil Presiden Direktur dan CEO Garuda Indonesia ini, dan selama itu ia selalu lolos dari kami. Setelah sadar bahwa mengejar Pak Emir tidak ada gunanya, maka kami memutuskan memilih strategi lain, yaitu menunggu.

Benar saja, kesempatan itu akhirnya tiba. Di sebuah tanjung kecil yang indah, ketika ia menerobos setapak-setapak lumban (kampung kecil) di Ambarita, menyelinap di antara batu-batu vulkanik bekas letusan historis 74.000 tahun yang lalu, dalam keadaan berkeringat karena menggowes sepeda di bawah naungan awan yang menggantung di puncak-puncak bukit  Samosir, Pak Emir kami temukan sedang lengah karena tertegun melihat panorama pagi di Danau Toba.

Suaranya keras—mungkin karena ia memang berdarah Sumatera—dan jauh dari profil formalnya dalam balutan jas hitam seorang pimpinan puncak penerbangan full service berbintang empat. Tentu saja akan sia-sia memperkenalkan sosok ini terlalu panjang, karena usaha itu akan sama saja dengan menggarami laut. Bukankah namanya sudah terlanjur ikonik dalam satu fase perubahan besar di tubuh flag carrier Garuda Indonesia? Jadi, sudahlah!

“Saya baru sekali ini ke Danau Toba. Jujur, ini perjalanan yang saya sukai. Danau ini setara keindahannya dengan Danau Como di Italia, tapi jangan dulu bicara fasilitasnya ya,” ungkapnya. Lalu ia cas-cis-cus soal industri pariwisata, apa yang seharusnya dilakukan untuk Danau Toba, dan rencana-rencana Garuda Indonesia sendiri terkait dengan Pulau Sumatera.

Dia menceritakan persoalan 5 jam yang harus ia habiskan di jok mobil untuk sampai ke Tuktuk, Samosir. Juga mengenai kapal penyeberangan yang belum cukup memenuhi faktor safety, konektivitas penerbangan, pelayanan bandara yang masih menjadi kendala, dan faktor-faktor lain yang seharusnya dapat mengeliminir sebagian besar keluhan dan waktu dalam perjalanan.

“Kita semua menyukai Danau Toba. Tapi itu saja tidak cukup. Soalnya, tidak semua orang punya keinginan yang kuat untuk secara khusus datang ke danau ini. Jadi apabila mereka merasa terganggu sedikit saja dengan masalah perjalanan, maka keputusan untuk melihat Danau Toba akan mudah mereka batalkan. Industri ini fragile. Jadi sebelum bicara Danau Toba, mari lebih dahulu menyelesaikan masalah akses,”  ungkap lelaki yang terlahir di tengah keluarga diplomat berdarah Minang—ibunya dari Bukittinggi—ini.

Emir mangatakan, Garuda Indonesia adalah satu dari banyak pihak yang berkepentingan dengan Bandara Kualanamu dan terbukanya akses yang lebih baik ke objek-objek wisata di seluruh daerah.  “Begitu Bandara Kualanamu dibuka, Garuda Indonesia juga membuat Medan sebagai hub-nya di Sumatera. Kita menginapkan pesawat di sini, dengan demikian konektivitas dan pelayanan rute juga meningkat. Ini sesuai dengan rencana pemerintah yang menetapkan Sumatera  sebagai koridor tersendiri di antara enam koridor dalam Masterplan Perluasan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI),” kata pemakai parfum Chanel ini.

Karena telah menjanjikan Medan sebagai hub Garuda Indonesia sejak 2012,  Emir akhirnya menunaikan “hutang”-nya tersebut. Rute-rute Medan-Batam, Medan-Pekanbaru, Medan-Palembang, Medan-Padang, dan beberapa penerbangan komuter yang memakai pesawat berbadan kecil dengan kapasitas 92 seat telah tersedia kini. “Salah satu syarat percepatan pembangunan ekonomi suatu wilayah adalah tersedianya konektivitas. Kami berperan di situ, meskipun pertimbangan pokoknya tetap mengacu pada kalkulasi profit. Setelah pemerintah membuat rencana dan kebijakan, kita akan melihat apakah kebijakan itu berefek positif bagi industri penerbangan, atau apakah kebijakan itu akan membuka kemungkinan terhadap pola the trade follows the ship. Pembagian enam koridor percepatan pembangunan ekonomi yang dicanangkan pemerintah adalah salah satu fokus kami saat ini,” kata profesional yang tercatat sebagai salah seorang alumni Citibank ini.

Bankir mengurusi pesawat, ini adalah sebuah tantangan bagi Emir. Tapi rupanya dengan cara inilah kemudian Garuda Indonesia menemukan seseorang yang cukup keras kepala untuk membuat perubahan. Menjadi agen perubahan dari suatu tradisi puluhan tahun, bukan perkara gampang. Emir menghadapi resistensi dan sikap oposisi yang tidak kecil. “Pada dasarnya tidak ada yang suka berubah. Saya sendiri adalah orang yang suka tantangan, dan saya tidak suka mengubah itu. Bila semuanya sudah berjalan normal, saya bosan. Saya butuh hal-hal baru. Di Garuda Indonesia pun, kalau semua sistem sudah berjalan bagus, itu adalah tanda bahwa saya harus angkat koper. Saya tidak akan membiarkan uban saya tumbuh lebih banyak dan pensiun di sini,” ungkap pria kelahiran Jakarta 28 Juni 1959 ini.

Ada salad pemikiran yang membentuk karakter Emir. Bila bicara tentang bisnis, ia meresapi Jack Welch,  Chairman and CEO General Electric antara tahun 1981 hingga 2001. Ia mengangkat dirinya sebagai murid Jack lewat “Winning”, yakni warisan pemikiran puncak Sang Republikan itu—yang ia tulis bersama istri ketiganya, Suzy Welch. Salah satu tindakan Emir yang sangat mirip dengan prinsip CEO legendaris itu adalah ketika ia merestrukturisasi keuangan Garuda Indonesia dengan cara segera melepas semua bisnis yang tampil di bawah performa, dan menjual aset yang tidak produktif.

Dan bila bicara mengenai cara mempengaruhi orang, maka ia menoleh ke India, pada sosok fakir setengah telanjang, yang melawan “ketidakbahagiaan” Inggeris dan merubuhkan tembok pengkotak-kotakan agama dengan cara tidak melawannya. “Saya memikirkan Mahatma Gandhi. Cara dia mempengaruhi orang adalah yang terbaik dalam sejarah muda. Orang-orang dipengaruhi tanpa yang bersangkutan menyadarinya. Ini penting dalam sebuah perusahaan. Gejolak harus seminimal mungkin, tapi perubahan mesti secepat mungkin. Saya ingin dilihat bekerja dengan cara itu,” kata pengagum Pulau Bali ini.

Tentu saja Emir tidak seperti yang dia inginkan. Alumni FE Universitas Indonesia ini tidak akan mogok makan untuk meredakan konflik di tubuh perusahaannya. Pada kenyataannya, seperti orang Minang umumnya, ia keras kepala dan sekaligus pandai berdiplomasi. Jadi nan di urang, lalu nan di awak. Emir hanya menerima masukan ketika ia dalam proses mengambil keputusan. Tapi ketika keputusan akhir sudah dijatuhkan, ia berubah menjadi karang. “I have no personal agenda, and it makes me free and more independent. Situasi seperti ini adalah infrastruktur yang sangat dibutuhkan orang yang harus mengambil keputusan dan bertanggung jawab setiap hari,” katanya.

Di bawah kepemimpinan Emir, Garuda Indonesia yang terjepit krisis finansial karena beban rute-rute yang tidak menguntungkan serta pengaruh krisis global, berubah kembali menjadi penerbangan yang menguntungkan dalam transisi yang cukup pendek. Ia sedang menuju posisi golden age, seperti ketika Presiden Soekarno melancarkan kebijakan mercusuar dengan mendorong penerbangan ini sebagai penerbangan terbesar di Asia.

“Garuda Indonesia akan menjadi penerbangan bintang lima pada tahun 2014, Insya Allah. Kita tinggal memberikan perhatian lebih serius pada beberapa aspek menuju predikat itu, terutama agenda peremajaan pesawat yang saat ini sedang berlangsung. Menariknya, penerbangan-penerbangan terbaik di dunia sedang terkonsentrasi di Asia. Jadi, apabila kita bisa menguasai Asia, maka kita menjadi yang terbaik di dunia,” kata pencetus kredo Garuda Quantum Leap ini.

Meskipun Emir mengakui bahwa rencana untuk memperlebar rute Garuda ke beberapa kota lagi di Eropa setelah Amsterdam akan sedikit melambat karena krisis Eropa, tapi ia punya cadangan rencana lain. Saat ini, pertumbuhan jumlah penumpang dari Indonesia ke Australia dan sebaliknya meningkat 30%. Pasar selatan ini sudah dibidik untuk rute pesawat-pesawat baru mereka. Sedangkan untuk pasar utara, Emir sedang mengamati China yang kalangan menengahnya sedang tumbuh pesat dan memiliki kemampuan mobilitas yang makin tinggi.

“Ada 60 juta warga China yang traveling ke luar negeri setiap tahun. Sebanyak 25 juta di antaranya wara-wiri di sekitar Macau dan Hongkong. Jadi, tersisa 35 juta turis China lagi yang diperebutkan oleh seluruh dunia. Selama ini, kita hanya mampu mendatangkan 500 ribu-an orang China per tahun. Kita ingin menggenjot angka itu menjadi minimal satu juta pada tahun depan. Kami sudah menjalin kerjasama dengan travel agent terbesar keempat di China, Sea Trip. Mereka akan menjual destinasi-destinasi di Indonesia dengan paket Garuda Indonesia,” papar sosok kunci di balik turn around BUMN penerbangan terbesar Indonesia ini dari perusahaan yang merugi Rp 688 miliar pada tahun 2005 menjadi bisnis yang untung sebesar 515 miliar lebih pada tahun 2010.

Emir sudah mulai mendekati tahap finalisasi dalam perbaikan internalnya. Sistem sudah dibenahi sebagai langkah susulan atas usaha-usaha mendasar sebelumnya, yaitu perubahan mindset karyawan, penentuan strategi bisnis, dan kini saatnya berkompetisi secara penuh. Take off! Kesuksesan perubahan internal itu antara lain diindikasikan dengan penghargaan yang diterima Garuda Indonesia sebagai The World’s Most Improved Airlines, keuntungan perusahaan yang semakin besar, dan berjalannya prinsip transparansi berbasis sistem kerja (bukan tergantung pada satu sosok).

“Persaingan ketat akan terjadi di Asia. Langit akan sepenuhnya terbuka. Semua maskapai penerbangan dunia saat ini sedang mempersiapkan diri untuk berkompetisi penuh memperebutkan pasar. Garuda Indonesia tidak punya waktu untuk ragu-ragu, harus bertarung,” kata Presiden Indonesia National Air Carriers Association (INACA) ini.

Ada orang yang mencibir bahwa turn around Garuda Indonesia yang demikian impresif hanyalah karena faktor momentum ekonomi dunia yang memberikan kekuatan pasar temporer di rute-rute domestik Indonesia yang kebetulan dikuasai penerbangan milik negara ini. Kemudian mereka meragukan kemampuan bersaing Garuda Indonesia pada episode lompatan kedua, yaitu ketika open sky policy menjadikan semua langit negara-negara di dunia menjadi lalu lintas umum.

Akankah Emir dan krunya tetap mampu menjadi tuan di negeri sendiri, dan sejauh manakah pesawat kebanggaan nasional ini akan menjelajah pasar-pasar terbuka di rute internasional? Bagaimanakah Garuda Indonesia akan mengubah wajah kota-kota yang dijadikannya sebagai hub—salah satunya Kota Medan—dalam usaha memperkuat dominasi domestik dan memicu pertumbuhan enam koridor pembangunan ekonomi di Indonesia?

Cukup menyeramkan pertanyaan-pertanyaan itu. Menghadapi pasar yang makin kompetitif, Emir mungkin akan terpaksa mengurangi waktu jalan-jalan bersama anak-anaknya yang menyukai segala hal tentang Jepang. Tapi kami hanya percaya satu hal sederhana. Bila Emirsyah Satar tetap sekuat yang dia tunjukkan ketika menggowes sepeda di Samosir, maka kami tak ragu sedikit pun tentang masa depan Garuda Indonesia. Jangan-jangan, kebijakan langit terbuka hanya akan membuatnya menemukan tantangan baru yang menghidupkan jiwa petarung. “I like challenges, yes, but I don’t work alone!”

Itulah satu jam bersama Emir. Terlalu singkat.

(Tikwan Raya Siregar)

 

SHARE
Previous article
Next articleRidwan Tulus

4 COMMENTS

  1. Bang Tikwan, selalu punya cara yang untuk menggali dan menyajikan bahan bahan baku yang hebat itu terasa lebih gurih. Very inspiring dan sangat.bangga dengan masa depan TOBA, Medan dan Indonesia yang cerah….

  2. Wow, keren mas Bos … Walau hanya satu jam, perburuan ini membuahkan hasil ! … Semoga pak Emir bisa membuka wacana Kemajuan Pariwisata Danau Toba se Cantik danau Como Italia, jadi ngga perlu kesana deh … hehehe … Met Hunting “Rusa Liar” yang lain ya mas Boss !!! … kalo perlu “Leopard” berkulit emas … hahahaaa …

  3. Btw, Garuda is the Best Airline for Indonesian Nasionalism !!! … Terbangkan kami ke Ujung Dunia ya Garudaku … *weddew, smoga dpt kartu previledge nih* … hehehe (^_^) …

LEAVE A REPLY