Erwin Wie

25
4608
Erwin Wie, di depan kantor usahanya, Wie Travel.
Erwin Wie, di depan kantor usahanya, Wie Travel.

Bila ada meteor yang tiba-tiba melayang di atas jagat pariwisata  Sumatera Utara pada tahun 2014, kemudian sinarnya menyita perhatian di tengah-tengah masyarakat industri yang sangat kompetitif ini, maka julukan “sang meteor” itu sebaiknya ditujukan pada Erwin Wie. Tiga tahun lalu ia hanya seorang sub-agen penjualan tiket yang susah payah memutar-mutar modalnya yang tak lebih dari Rp 1.950.000. Tahu-tahu, belakangan Tourism Authority of Thailand (TAT) mendaulatnya dua kali sebagai travel agent terbaik se-Indonesia di antara top-5 travel agent yang menjual paket wisata Thailand.

Mulanya ia dikenal sangat aktif bergaul di antara para pelaku wisata Kota Medan. Kemudian menghilang sejak tahun 2011 tanpa kabar yang jelas,  bahkan namanya hampir saja dilupakan ketika tiba-tiba ia muncul kembali dengan bendera Wie Travel yang secara mengagetkan justru mulai menunjukkan titik terangnya dari Bangkok, ibukota Thailand.

Apakah sesungguhnya yang terjadi pada Erwin selama tiga tahun ini?

Kepada kami, Erwin ingin segera menjawabnya, tapi ternyata kata-katanya kalah cepat mengalir daripada air matanya. Sosok yang terlihat kokoh dan mirip petarung thai boxing ini ternyata hanya cangkang terluar dari hatinya yang sensitif. Kami harus menolongnya untuk cepat-cepat meninggalkan segmen pertanyaan yang membuatnya teruk karena gangguan air mata itu.

“Tiga tahun ini, saya telah melewati masa yang keras dan penuh pelajaran hidup. Saya berterimakasih kepada semua orang, siapa saja, baik yang telah membantu saya dalam keadaan sulit maupun orang-orang yang telah mencambuk saya dengan judgement maupun pandangan-pandangan yang kurang baik. Merekalah yang turut membentuk Wie yang sekarang. Tidak ada sakit hati dan permusuhan di hati saya,” ungkapnya.

Erwin dibesarkan dari masyarakat bawah di kawasan Mandala yang keras kehidupan sosialnya. Ia belajar di SMA Bodhicitta, sekolah yang mendapat subsidi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dan ia sangat menyukai basket ketimbang pelajaran-pelajarannya. Klub basketnya melakukan pertandingan-pertandingan hingga ke luar kota.

Dengan prestasi akademik yang tidak menonjol, Erwin menyudahi pendidikannya sampai di SMA saja. Lalu ia bekerja sebagai waiter sebuah restoran di Medan pada tahun 2004. Setelah bekerja sebagai waiter selama delapan bulan, seorang kenalan mengajaknya bekerja di perusahaan travel. Erwin yang menyukai traveling langsung tertarik minatnya. “Saya membayangkan akan mendapat kesempatan membawa grup dan jalan-jalan, sehingga saya gembira sekali,” kata lelaki yang menyukai kegiatan alam bebas ini.

Tapi ia rupanya hanya dipasang sebagai collector  tagihan di perusahaan tersebut. Tugas itu ia lakoni dengan sabar selama 3 tahun. Dua tahun kemudian ia dipindah ke bagian ticketing. Ketika ia meminta untuk dijadikan sebagai staf di bagian tour sebagaimana impiannya selama ini, ia di-judge tidak akan cocok bekerja di bidang itu. Patah hati, Erwin kemudian keluar dari perusahaan itu.

Ia mendirikan Adventure 99 untuk membuktikan dirinya mampu menjalankan bisnis travel. Ia bekerja di rumahnya sendiri. Kantornya adalah bagian belakang rumahnya yang sempit dan suram. “Saya besar di keluarga yang kurang mampu. Kami tinggal di kawasan Mandala, dan itu bukanlah kawasan yang terlalu baik. Saya memulai bisnis saya dengan modal apa adanya di rumah. Yang saya lakukan adalah jual tiket dan sedikit paket adventure yang masih belum digarap secara serius oleh operator-operator tur lainnya,” kata Erwin.

Selama 6 bulan, ia menekuni usaha tersebut, dan sebagai pemula ia kurang berhasil. Bisnis itu kebanyakan ia lakukan dengan online marketing. Hingga suatu hari seorang kawan satu klubnya di SMA mengajaknya untuk mengembangkan bisnis bersama di bidang yang sama. Mereka mendirikan Go Adventure, yang secara khusus mengembangkan  produk-produk petualangan alam bebas. Erwin dihitung sebagai pesaham kosong. Sebagai andil, ia menjalankan usaha itu dengan pengalaman yang ia miliki.

Di bawah bendera Go Adventure, industri wisata petualangan di Sumatera Utara semakin populer. Mereka pernah membawa grup hingga 160 orang ke Pulau Pandang dengan menggunakan 4 kapal. Ini adalah pencapaian yang jarang diperoleh operator tur lainnya dalam paket perjalanan ke pulau-pulau luar Indonesia.

Tapi sayang, perkembangan itu hanya berlangsung setahun dalam kehidupan Erwin. Seterusnya ia berpisah dengan Go Adventure dan kembali ke titik nol. “Itulah saat paling berat dalam hidup saya. Dengan sisa tabungan yang hanya Rp 1.950.000 dan satu unit komputer bekas, saya kembali lagi membangun bisnis dari rumah. Dengan uang segitu, pilihan satu-satunya adalah jualan tiket. Saya mengajukan diri jadi sub-agent penjualan tiket.  Tapi saya tidak paham mengapa semua travel agent tiba-tiba menghindari saya. Mereka bilang, kalau mau beli tiket, harus kontan. Ada uang, ada tiket. Saya sama sekali tidak diberi tempo, meskipun hanya barang dua hari untuk memutar usaha saya. Pagi-pagi sekali saya sudah bangun dan menjalankan usaha ini. Meskipun sudah bekerja sangat keras, tapi penghasilan sebagai sub-agent sama sekali tidak membuat saya mengalami kemajuan,” papar Erwin.

Pada tahun 2011, persis tiga bulan sejak Erwin menjalankan usahanya sendiri, seorang sahabat lamanya di Bangkok menghubungi dia via imel. Kawannya itu menikah dengan seorang pria Thailand, lalu tinggal di sana bersama suaminya. Pada intinya, dia mengajak Erwin menjual paket-paket wisata Bangkok. Kesempatan itu tidak ia sia-siakan. Erwin bekerja keras. Ia membuat paket yang ia disain sendiri dengan tema “My Bangkok Love Story”. Paket ini ia jual dengan cara broadcast via BBM karena tak punya pilihan lain.

Di luar dugaan, paket itu mengalami sambutan yang luar biasa. Kebetulan pula, akses dari Medan ke Bangkok semakin luas dengan dibukanya penerbangan langsung Air Asia. Erwin bekerja keras merintis dan mengembangkan tujuan wisata ini sebagai tujuan wisata pertama ketika yang lain masih terfokus ke pasar Malaysia. Ketika temannya pindah dari Bangkok karena suatu alasan, ia melanjutkan bisnisnya bersama seorang guide lokal. Tidak tanggung lagi, Erwin mendirikan kantor cabangnya di Bangkok pada tahun 2012.

Dengan kantor cabang itu, ia memiliki peluang yang lebih besar lagi untuk memoles paket-paketnya. Wie Travel selalu dapat memberi harga yang lebih murah, dengan servis yang lebih baik. “Bukan sekali dua kali saya membawa grup ke Thailand tanpa mendapatkan profit apapun kecuali rasa senang dari grup tersebut. Kepuasan mereka adalah investasi yang berharga bagi saya. Mereka akan berada di pihak saya. Yang penting, saya memenangkan pasar dan meyakinkan mereka untuk tetap berada di pihak saya”.

Erwin menyebut nama Zhuge Liang sebagai guru strategi bisnisnya. Zhu adalah penasihat militer—sekaligus perdana menteri—yang terkenal dari Kerajaan Shu setelah era Panglima Sun Tzu. Dia adalah sosok yang tidak pernah kehilangan akal dalam situasi apapun. “Ungkapannya yang paling dahsyat dan sangat saya sukai adalah, korbankan perak, dapatkan emas,” ungkap pria kelahiran Medan,  19 Mei 1985, ini.

Meneladani Zhu si Naga Tidur, Erwin selalu suka menaruh ciri khas ke dalam bisnisnya, antara lain dengan memberikan layanan-layanan ekstra kepada mereka. Layanan-layanan itu tidak disebutkan dalam kontrak dan bukan merupakan kewajibannya. Tapi ia merelakan pengeluaran tambahan yang terkadang tidak kecil jumlahnya untuk menyenangkan hati mereka. Itulah sebabnya mengapa para pelanggan selalu meminta agar dia yang selalu memimpin grup. Bawaannya yang periang dan ringan hati menjadi bagian dari bobot perjalanan wisata yang ia jual.

Lalu, dengan pelayanan seperti itu, bagaimana caranya Erwin menekan harga paket untuk tetap mendapatkan profit?

“Salah satu pengeluaran pokok dalam paket wisata adalah akomodasi dan transportasi. Saya selalu mencari informasi terbaru mengenai hotel-hotel dan restoran baru yang masih membutuhkan dukungan promosi dan kerjasama di Thailand. Saya datangi mereka, dan berbicara secara personal. Biasanya hotel-hotel baru memiliki dua keunggulan. Yang pertama, amenities-nya masih baru. Kedua, mereka masih memberlakukan harga-harga khusus. Jadi, kita bisa mendapatkan kualitas pelayanan yang baik dan harga yang bagus sekaligus. Pelanggan akan melihat dan menilai sendiri harga dan kualitas yang kita berikan kepada mereka. Jadi, jarang ada yang dapat menandingi harga paket kami dengan kualitas akomodasi yang lebih baik,” ungkap ayah dari satu orang puteri ini.

Pada suatu kesempatan di tahun 2012, Erwin membawa grup untuk paket valentine ke Bangkok dengan jumlah 159 orang. Uniknya, seluruh tamu itu tidak saling kenal satu sama lain. Melihat hal itu, Tourism Authority of Thailand (TAT) mulai melirik kemampuan Wie Travel, dan sebagai ungkapan apresiasi, mereka menjamu ke-159 tamu tersebut makan gratis di Asiatics Bangkok.

wie-2Bukan hanya itu, TAT juga memberikan penghargaan tertinggi kepada 5 travel agent terbaik dari Indonesia di mana Wie Travel adalah satu di antaranya. Penghargaan yang sama diterima Wie Travel selama dua tahun berturut-turut. Sejak itu, bendera usahanya pun makin berkibar di Bangkok. Sementara di Medan, ia mengokohkan diri dengan mendirikan kantor baru yang ia disain sendiri interiornya di Jalan Pahlawan No. 199. Kini para kenalan sudah menambahi imbuhan di depan penyebutan namanya, “Bos Wie”. Tapi julukan itu tak membuat ia menaikkan profilnya. Erwin tetap low profile, baik dalam penampilan maupun pergaulan.

Di usianya yang masih muda, Erwin telah menyimpan tiga nilai yang ia anggap penting untuk dimiliki setiap orang yang ingin memulai bisnis, yaitu: jujur, fokus dan rendah hati. Itulah yang ia inginkan dilihat orang lain pada dirinya. “Muncul kembali setelah tiga tahun, bukan maksud saya untuk melakukan pembenaran diri. Saya hanya ingin melepas rindu dengan teman-teman lama yang mempercayai saya selama ini. Dari segi bisnis, saya ingin membangun jaringan kerjasama untuk dapat saling mendukung dalam rencana pengembangan bisnis bersama ke negara-negara lain, khususnya ke Jepang dan Korea serta paket-paket inbound di Sumatera. Saya yakin, ini sudah saatnya dikerjakan bersama,” kata pengusaha muda yang kini juga menggeluti bisnis batu mulia ini. Bisnis baru ini ia temukan secara tidak sengaja selama kegiatan bisnisnya di Thailand, di mana salah satu kunjungan wajib grup yang dibawanya adalah ke toko gem and jewellery.

Sepasang patung singa berwarna merah tanah duduk mengawal pintu masuk kantor Wie Travel di Jalan Pahlawan Medan. Satu memangku anak, dan yang satu lagi mencengkeram bola dunia. Sebuah replika kapal layar dipajang di bagian dalam dengan anjungan yang menghadap ke meja kerjanya. Ada juga lukisan koi untuk melengkapi interiornya yang semarak dengan warna-warna terang. Dengan seluruh perlambang yang dipenuhi makna-makna itu, Erwin bersiap membawa kemudi kapal bisnisnya untuk perjalanan yang lebih jauh lagi dari tiga tahun pertama yang telah ia lalui dengan sebuah lompatan tinggi ini.

 

(Teks & foto: Tikwan Raya Siregar)

25 COMMENTS

  1. waaahhh sukses terus wie … salut salut … perjuangan tiada henti tambah lagi anak nya biar nambah lagi rezeki nya wie hehehehhe … kapan2 undang donk galileo maen ke kantor nya hehehe

  2. Wah, suka Zhu Liang juga ternyata hehe….
    “Orng bijaksana selalu tidak ingin dikenal oleh org lain, tapi sangat mengenal orang lain.”-Zhu

  3. Kerja keras, kegigihan, membuahkan hasil yg luar biasa. Terharu membaca riwayat perjalanan usaha Awie.. Biarkan waktu yg menjawab semuanya… Orang2 yg dl pernah menjauh akan melihat bahwa Awie skrng sukses luar biasa.

  4. Erwin ini emg berjiwa keras pantang menyerah. saya uda kenal dia dari wkt jaman sekolah dia punya jiwa pemimpin yg kuat terbukti dari sejak di sekolah selalu terpilih jd ketua kelas. maju terus Erwin.. sukses terus utk usahanya! semangat terus!

  5. Satu kata * SALUT* buat Boss Wie, Sang Raja Gunung, he he.. tetaplah Wie yang rendah hati, God Bless You always my best brother.. keep spirit & keep prayer.!!!

LEAVE A REPLY