Galeri Songket Deli, Destinasi Suvenir Khas Terbaru di Medan

0
3340

Ketika kekuasaan Kesultanan Deli mengalami disfungsi setelah peristiwa apa yang disebut dengan “Revolusi Sosial Maret 1946”, maka berbagai dimensi budaya dari keluarga bangsawan (royal family) di Tanah Deli mengalami penyurutan ke ruang-ruang yang sempit. Bahkan sejumlah produk budaya yang berkembang di lingkungan kesultanan sempat hilang dan hanya meninggalkan jejek-jejak yang samar.

Dalam bidang fashion, misalnya, pakaian-pakaian yang penuh simbol dan nilai khas Deli terancam hilang begitu saja dari ingatan kolektif masyarakat apabila Tengku Syarfina Azman tidak menggagas dan mendirikan usaha penenunan kembali songket deli di Medan. Melalui wadah Yayasan Khazanah Warisan Melayu Deli, Syarfina Azman yang menjalani kegiatan sehari-hari sebagai akademisi, berusaha mengkonstruksi ulang tradisi berpakaian keluarga Istana Deli, terutama songket dan kebaya menurut motif dan disain yang dimodifikasi sesuai dengan ruang dan waktu kekinian.

Tengku Syafrina Azman bersama koleksi songket deli di Yayasan Khazanah Warisan Melayu Deli.
Tengku Syafrina Azman bersama koleksi songket deli di Yayasan Khazanah Warisan Melayu Deli.

Yayasan kemudian mendirikan galeri songket deli di Jalan Sei Beras No. 5 Medan, dan galeri ini tercatat sebagai galeri pertama yang mengkhususkan diri sebagai pusat craft dan pengoleksi songket dan kebaya deli. Adalah Irfania Ramadhani dan Tengku Muhammad Dicky yang mengelola galeri ini sehari-hari sekaligus berperan sebagai disainer songket. Irfania adalah puteri Tengku Syarfina sendiri, dan Muhammad Dicky masih terhitung kerabat istana kesultanan. Dalam proses pengembangannya, mereka juga mendapat dukungan dari disainer-disainer profesional seperti Hengki Kawilarang dan Torang Sitorus.

Tengku Syarfina Azman adalah keturunan bangsawan Negeri Lama (Labuhan Batu) dari pihak ayahnya dan keturunan bangsawan Deli dari ibunya. Ia melihat, aneka songket di Sumatera dan Malaysia, khususnya songket batubara masih hidup sampai sekarang, karena itu songket Deli pun tentu punya tempat yang khusus bagi masyarakatnya. Tapi siapa yang akan menenun dan memproduksinya kembali?

Hilangnya khasanah songket deli dalam kehidupan sosial dan industri fashion telah mendorongnya untuk mengambil inisiatif langsung melakukan upaya revitalisasi songket tersebut. Dan sepanjang pengetahuan kami, galeri ini adalah satu dari sedikit industri fashion budaya—apalagi yang terkait dengan lingkungan ‘monarki’—yang kemudian dikelola oleh para pewaris terdekatnya sendiri. Tapi meskipun demikian Tengku Syarfina tidak menganggap bahwa keluarga bangsawan memiliki hak eksklusif untuk pewarisan nilai-nilai dan simbol budaya Deli.

“Warisan budaya Deli kini adalah milik masyarakat, dan kita ingin mengembalikannya pada masyarakat. Memang pada masa dahulu, ada simbol, motif, atau warna tertentu yang hanya boleh dikenakan seorang sultan dan keluarganya. Masing-masing kesultanan di Sumatra Timur, Riau, dan Malaysia memiliki ciri berpakaian tersendiri, dan hingga sekarang peraturan itu masih berlaku di beberapa kerajaan di Malaysia. Pakaian memiliki kaitan dengan struktur sosial karena makna simbolik yang dikandungnya. Tapi kebudayaaan Deli sudah diwariskan kepada masyarakat. Tugas yayasan yang kami dirikan adalah membawa kembali warisan yang terancam hilang itu kepada masyarakat Medan,” papar Tengku Syarfina ketika ditemui di galeri mereka.

Puluhan koleksi songket dengan warna-warna mencolok dan glamour sebagaimana karakter gaya hidup keluarga bangsawan tampak tertata di lemari display. Tidak kurang dari 20 jenis tumbuhan terpilih menjadi motif songket yang ditenun langsung di bagian lain ruangan galeri itu.

“Sebagaimana diketahui, kebudayaan Deli berkembang menurut ketentuan-ketentuan syariat Islam. Salah satu ketentuan yang diyakini adalah larangan menggambar manusia dan hewan. Karena itu, motif-motif songket melayu deli selalu bercorak flora. Dari warna dan corak motifnya, kita kemudian mengenal nama-nama songket seperti lembayung raja, motif durian, dan aneka motif lainnya yang berbasis tanaman yang tumbuh di lingkungan alam Tanah Deli,” jelas Muhammad Dicky sembari menunjukkan sejumlah motif dan warna dan menjelaskan maknanya.

Tengku Muhammad Dicky dan Tengku Irfania Ramadhani, memamerkan salah satu koleksi royal songket buatan mereka.
Tengku Muhammad Dicky dan Tengku Irfania Ramadhani, memamerkan salah satu koleksi royal songket buatan mereka.

Yayasan Khazanah Warisan Melayu Deli berdiri pada April 2014. Namun produksi pertamanya baru keluar pada Desember 2014 setelah melalui serangkaian uji coba. Sejak itu, mereka mulai melakukan sosialisasi, baik yang sifatnya pameran terbuka, launching, maupun sosialisasi terbatas. Kerjasama dengan berbagai pihak pun dilakukan, baik pemerintah maupun swasta. Sejumlah pejabat dan istri mereka secara sukarela menjadi brand ambassador sekaligus konsumen pertama dari galeri ini. Dalam dunia pariwisata, kehadiran galeri Yayasan Khazanah Warisan Melayu Deli telah menambah satu lagi daftar atraksi dan destinasi bagi industri pariwisata. Selama ini, kita tidak mengenal satu pun ciri khas fashion yang dapat menjadi duta Kota Medan secara kultural, tapi kini masalah itu terpecahkan.

“Kami sudah menyepakati sejak awal bahwa songket deli akan dimasyarakatkan dengan inovasi budaya. Bila sebelumnya songket ini identik dengan lingkungan istana dan acara-acara formal kesultanan, maka sekarang kita ingin memperkenalkannya sebagai stelan yang cocok untuk kantor, suasana casual, maupun menghadiri pesta-pesta. Dengan demikian, setiap lapisan masyarakat akan dapat melihat keluasan fungsinya. Selain itu, songket deli juga menjadi tepat dijadikan sebagai salah satu pilihan cinderamata yang khas dari Medan,” ungkap Irfania Ramadhani.

Harga songket yang dipamerkan di galeri bervariasi mulai dari harga terendah Rp 1.000.000. Nilai sehelai songket diukur dari bahan dasarnya, tingkat kerumitan motifnya, dan benang yang dipakai. Sejatinya, songket adalah tenunan yang menggunakan benang emas atau warna-warna cerah. Koleksi songket di galeri Songket Deli sendiri menggunakan motif-motif flora yang rumit. Hal ini membuatnya memiliki ciri dan karakter tersendiri dibandingkan dengan songket-songket Malaysia yang cenderung lebih sederhana dan minimalis, meskipun usia sejarah songket di Tanah Deli kemungkinan masih lebih muda.

Seorang penenun sedang mengerjakan songket secara manual (craft).
Seorang penenun sedang mengerjakan songket secara manual (craft).

Tradisi songket diperkirakan baru berkembang di Tanah Deli sekitar tahun 1900 hingga akhirnya menghilang di tahun 1950 akibat runtuhnya tatanan sosial Melayu Deli yang berbasis kesultanan. Menurut laman www.lenteratimur.com, songket-songket yang digunakan oleh sultan dan para keluarganya di masa itu merupakan songket-songket yang dibawa dari Terengganu dan Kelantan. Awal mula songket digunakan di Deli adalah setelah terjadinya pernikahan antara Kesultanan Deli dan Kesultanan Perak, yaitu pernikahan Almarhum Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah (Sultan Deli X) dengan Almarhumah Tengku Maheran binti Sultan Abdullah (Kesultanan Perak).

songket-1Almarhum Sultan Amaluddin juga banyak menyerap gaya peristiadatan dari Kesultanan Perak. Ia juga termasuk Sultan Deli pertama yang menggunakan persalinan sedondon (lengkap) berbahan kain songket dengan corak bunga tabur. Sedangkan sultan-sultan Deli sebelumnya menggunakan jas hitam berbahan baldu dan bertekat benang emas sebagai pakaian kebesaran mereka, sebagaimana yang digunakan para pembesar Eropa yang pada masa itu datang ke Tanah Deli. Di masa Tuanku Amaluddin inilah adat istiadat terus dihidupkan sampai sekarang.

Dulu, para penenun songket bekerja di bawah perintah sultan karena sejak awal ia memang melekat dengan kepentingan keluarga istana. Namun lama kelamaan, perubahan pola industri, perdagangan dan kemasyarakatan mempengaruhi kebijakan tersebut. Bila zaman dahulu tak sembarang orang dapat menggunakan songket–ia hanya digunakan oleh kaum kerabat diraja, petinggi, dan orang kaya yang mampu membeli songket—kini ia sudah dapat diakses oleh masyarakat luas seiring dengan harganya yang kian murah karena pengenalan mesin dalam proses pembuatannya. Perubahan juga terjadi pada motif dan disainnya. Songket-songket lain di Sumatera, Semenanjung Melayu, Siam dan Filipina kini telah mengalami inovasi drastis, terutama dalam fungsi pemakaiannya.

 

 

.

 

LEAVE A REPLY