Gila Belanja dan Mabuk Seni: Sebuah Cara Baru Menikmati Malaysia

0
469
Butik high end di Starhill.
Butik high end di Starhill.

Saya yakin hampir semua wanita—dan laki-laki pada era kini—sepakat kalau shopping adalah salah satu doping terbaik untuk melenyapkan stres. Tapi ini bukan sekadar shopping—karena semua negara berlomba-lomba menjual paket ini. Kami sangat beruntung karena menjadi salah satu undangan khusus lewat program 1Malaysia Year End Sale 2014 yang dirancang oleh Badan Pariwisata Malaysia (Malaysia Tourism Board). Program ini didisain untuk membuat para turis yang datang melancong ke Malaysia menikmati pengalaman baru yang merupakan perpaduan antara pesta belanja dan keindahan seni. Apakah ini mungkin?

Dengan risiko kemungkinan Anda akan merasa iri, saya akan mengisahkan perjalanan kami. Bersama 4 peserta yang lain—travel agent dan media—kami berangkat dengan menumpang Malaysia Airlines dari Medan. November sebenarnya bukan bulan yang ramah. Kuala Lumpur sepanjang sore biasanya diserang oleh hujan deras maupun gerimis. Walau langit di sana lebih sering terlihat kelabu, pajangan aneka pernak-pernik Natal yang didominasi dengan merah, hijau, emas, dan perak di kawasan publik bisa menghangatkan mood para turis. Tampaknya Natal disambut lebih awal di negara ini. Syukurnya kami diinapkan selama 4 malam di Grand Millenium Hotel yang lokasinya tepat di salah satu sudut segitiga emas Bukit Bintang, surganya tempat belanja di Malaysia. Servis hotel bintang lima adalah terapi yang ampuh buat mengobati kelelahan setelah selesai program jalan-jalan.sale 10

Hari pertama dan kedua adalah saat yang pas untuk melepaskan nafsu belanja kami. Bersama 200-an peserta lain yang berasal dari 27 negara, kami dipandu untuk cuci mata berkeliling mulai dari mal-mal untuk kalangan high end,medium, hingga lower segment. Jika Anda pemburu barang-barang branded sekelas Louis Vuitton, Versace, Jimmy Choo, Marc by Marc Jacob, Massimo Dutti, atau Cartier, maka Starhill, Suria KLCC, dan Pavilion adalah pilihan yang tepat. Tiga mal ini mewakili tempat hang out-nya kelas atas dan middle class. Tentu saja sebagai golongan kelas atas, Anda tak perlu mengharapkan diskon gila-gilaan atas brand-brand mewah tersebut. Tapi Anda boleh puas karena mal-mal ini menyediakan aneka koleksi barang mewah terbaru, relatif terlengkap, dan dijamin keasliannya oleh rumah mode dari negara asal.

sale 4

Bukan satu kebetulan kalau kami sering berpapasan dengan turis dari Korea, Jepang, dan Arab di beberapa mal tersebut. Kabarnya turis-turis dari negara ini seringkali royal dalam menghabiskan uangnya. Mereka memperlakukan butik-butik terhormat tadi seperti outlet KFC. Untuk memanjakan mereka, Pavilion bahkan sampai menyediakan satu bagian lantai khusus yang bertema Jepang. Mereka menyebutnya sebagai Tokyo Street. Seluruh outlet di kawasan ini dibingkai dengan kayu dan ornamen Jepang. Kalau mereka atau Anda kangen dengan aneka produk Jepang—mulai fashion, kuliner, gadget, komik manga, atau asesoris—tidak perlu jauh-jauh terbang ke Tokyo. Cukup mampir ke Pavilion saja.

Bagi kalangan kelas menengah, Anda harus cukup sinting dan pelit terhadap pengeluaran harian rutin untuk bisa membeli barang premium di mal-mal tersebut. Tapi jangan khawatir. Kabar baiknya mal-mal kelas atas ini juga berisi banyak brand lain yang harganya cukup ramah buat kelas menengah, khususnya Suria KLCC dan Pavilion. Dan outlet-outlet semacam ini sedang menggelar diskon hingga 70% sampai akhir tahun. Kedua mal ini juga menyediakan kartu diskon 10% yang bisa diperoleh dengan gratis bagi pengunjung di sana. Kartu tersebut berlaku buat belanja aneka barang yang ada di butik-butik elit tertentu. Dengan kata lain, Anda juga bisa sinting karena diskon yang mengguncang iman ini.

Jika banyaknya uang bukanlah menjadi tantangan Anda yang sebenarnya—melainkan kecanggihan skill untuk berburu barang berkualitas baik dengan harga yang lebih rasional—maka Anda boleh bertualang ke mal dengan segmen kelas menengah ke bawah semacam Fahrenheit. Tapi jika ingin eksplorasi lebih luas, silakan meneruskan perburuan belanja hingga ke Lot 10, Sungai Wang, atau Low Yat Plaza. Pusat-pusat perbelanjaan ini adalah surga yang lain buat kelas menengah ke bawah.

sale 9Seharian cuci mata, belanja, serta melihat ratusan papan bertulis “Sale” dengan warna merah menyolok di berbagai mal ternyata cukup melelahkan juga. Kejutan yang sebenarnya dari Malaysia Tourism Board adalah saat mereka membawa kami semua berkunjung ke Mud KL Theatre Musical, Panggung Bandaraya. Gedung ini adalah salah satu dari sedikit bangunan yang dibuat dari batu bata pada awal abad ke-20 di Kuala Lumpur. Bergaya colonial building dan berusia kurang lebih 110 tahun, lokasinya berada di Dataran Merdeka, Jalan Raja. Jadi masih satu kawasan dengan berbagai gedung bersejarah dan landmark lainnya seperti Mesjid Jamek, Gedung Sultan Abdul Samad, Dataran Merdeka, dan lain-lain. Hujan yang mengguyur deras sore itu memaksa kami buru-buru masuk ke dalam lobby. Sayang sekali, saya tak sempat memotretnya dari luar, padahal fasatnya sangat artistik. Jendela kacanya yang besar dan kaya mozaik klasik dengan warna hijau, biru, kuning, dan merah yang dominan, mengingatkan saya akan jendela kristal Mesjid Raya Al Maksum di Medan. Mungkin kedua bangunan ini mengimpor kristal dari negara yang sama—mengingat mereka berasal dari abad yang sama.

Tepat pukul tiga sore kami diminta untuk masuk ke dalam ruangan teater. Selama lebih kurang 50 menit, kami digedor dengan satu pertunjukan teater musikal yang luar biasa spektakuler dan mengharukan. Mud yang berarti “lumpur” adalah kisah tentang cikal bakal lahirnya Kota Kuala Lumpur pada awal abad ke-20. Mengambil setting hiruk pikuknya sebuah tempat tambang timah di persilangan dua sungai: Gombak dan Klang, kisah ini lebih dari sekadar cerita romantika berdirinya satu kota biasa. Kelucuan si India penjual teh tarik pada para pekerja tambang timah, keluguan dan kebaikan hati si Mamad yang Melayu, serta tekad yang kuat dari babah yang Cina dalam mengelola pertambangan timah tradisional berkelindan dengan apik membalut kisah klasik ini. Mud juga menukik lebih dalam tentang tumbuhnya nilai-nilai persaudaraan, empati, toleransi, dan kesamaan visi tentang satu tempat tinggal yang layak dan membahagiakan dari para warganya yang berasal dari etnik Melayu, India, dan Cina.

Mereka adalah pionir-pionir dengan etos kerja yang tangguh dan cita-cita sederhana. Tidak mudah membangun satu kota dengan tantangan alam yang tinggi. Ancaman banjir, kebakaran, hingga medan yang sulit dalam pertambangan timah tradisional seringkali menjadi ujian dari dinamika hubungan antar warganya. Pada akhirnya kota ini selamat. Mereka berhasil keluar dari berbagai ujian karena rasa saling percaya dan terhindar dari godaan materialisme.

Semua artis bermain dengan gemilang. Musik dan lagu diaransemen sangat apik. Ritme Melayu, India dan Cina silih berganti menghidupkan panggung. Kostum para pemain, property, serta backdrop panggung amat mendukung cerita. Naskah dialog dan skenario dibangun dengan logis dan menyentuh. Kami—para audiens—bahkan terkadang dilibatkan secara interaktif dalam pertunjukan. Misalnya saat semua pemain sibuk membawa ember untuk memadamkan api dalam satu kebakaran besar yang melanda Kuala Lumpur tahun 1881. Mereka meminta sebagian penonton untuk “kerja rodi” ikut menenteng ember-ember air. Begitu pula saat si Mamad membuat kenduri ala kampong untuk selamatan putranya yang baru lahir, maka beberapa penonton diminta naik ke panggung untuk ikut masak-masak di pelataran rumah.

Secara umum, sang sutradara, Tiara Jacquelina, telah berjaya menyuguhkan karyanya yang satu ini. Tiara Jacquelina sebelumnya dikenal publik sebagai produser berbakat yang telah memenangkan penghargaan bergengsi atas pertunjukan teater musikal Puteri Gunung Ledang dan P. Ramlee. Kami bisa merasakan kekuatan bakatnya. Sepanjang pertunjukan, kami dibuai oleh perasaan senang dan haru yang sama. Teater Mud mampu membantu kita—orang luar—untuk lebih memahami psikologi dan karakteristik masyarakat Kuala Lumpur—Malaysia—secara lebih baik. Dan bagi orang Malaysia, menurut saya, Mud adalah salah satu media refleksi terbaik buat menilai kualitas hubungan antar budaya mereka. Kisah ini merupakan kenangan yang indah dari sebuah golden era yang telah ikut membentuk Malaysia yang modern pada saat ini.

sale 16Tapi rupanya kejutan—dan kemewahan—belum berakhir. Malamnya kami masih dijamu lagi dengan konser yang tidak kalah keren: Licence to Thrill, A Bond Concert, di Panggung Sari, Istana Budaya Kuala Lumpur. Siapa pula yang bisa menolak Mr. Bond? Demi konser ini, sedapat mungkin kami—para tamu—wajib berdandan seformal mungkin: tuxedo kalau ada, gaun malam, atau paling tidak pakai blazer. Salah seorang teman kami dari media rupa-rupanya tak sengaja hanya memakai T-shirt malam itu. Buat Mr. Bond ini jelas dosa besar. Maka staf teater pun akhirnya berbaik hati meminjamkan satu blazer buatnya dengan jaminan ID-card. What a show!

Sepanjang 2,5 jam, malam itu kami diajak bernostalgia dengan lagu-lagu soundtrack serial film James Bond yang monumental. Maka kenangan itu pun mengalir bersama lagu-lagu mulai From Russia with Love, Golden Eye, For Your Eyes Only, Goldfinger, Tomorrow Never Dies, The World not Enough, hingga Skyfall. Entah kenapa, tiap kali musik prolog film James Bond dimainkan, kami ikut merasa trance dan thrill. Setiap orang punya tokoh James Bond-nya masing-masing. Buat generasi yang berusia 60 tahun ke atas, mereka mungkin akan membayangkan sosok Sean Connery—sang pioner film James Bond pertama. Untuk generasi yang lahir sekitar tahun 70-an atau 80-an, Pierce Brosnan adalah pahlawannya. Sedang bagi para remaja atau berusia di atas 20 tahun, mungkin lebih akrab dengan Daniel Craig.

Seluruh tembang-tembang serial James Bond dinyanyikan secara bergantian—ataupun bersama—oleh artis-artis seperti Salamiah Hassan, Jaclyn Victor—salah satu pemenang Malaysian Idol, Nikki Palikat—dari Philipina, David Shanon—penyanyi konser Phantom of The Opera, Les Miserables, dan Miss Saigon, dan Simon Bailey—penyanyi konser We Will Rock You, Phantom of The Opera, Les Miserables.

Suara mereka tidak kalah dari penyanyi soundtrack aslinya. LimeLight Entertainment telah menyemarakkan malam kami di Kuala Lumpur. Ini adalah konser yang glamour. Panggung didisain dengan setting cahaya dan backdrop yang bisa bergerak. Beberapa aksi James Bond yang khas seringkali dilakukan oleh penari latar. Tiket seharga mulai dari RM 78, RM 178, RM 238, RM 288, RM 368, hingga RM 988, tiba-tiba terasa mulai cukup “masuk akal” dengan pertunjukan sekelas ini.sale 14

Kuala Lumpur bukan hanya sekadar surga belanja terbaik di kawasan Asia Tenggara. Pertunjukan-pertunjukan seninya memberi nuansa spiritualitas dari ritme sisi kekotaannya. Ini adalah sebuah cara baru untuk menikmati Malaysia.

(Wirastuti)

SHARE
Previous articletesttt
Next articleMarriott
Menamatkan studi dari STIK Pembangunan Medan, Wirastuti kemudian menekuni kegiatan kepenulisan, baik dalam bidang riset dan praktisi kewartawanan. Ia juga melibatkan diri dalam kegiatan industri pariwisata dan tetap menulis di sela-sela kesibukan bisnis dan ibu rumah tangga. Kesukaannya melakukan perjalanan didorong rasa ingin tahu yang kuat pada kebudayaan dan lingkungan yang berbeda. Wiras menaruh minat pada filsafat dan cara hidup tiap bangsa, dan senang belajar dari kebijaksanaan mereka. Laporan-laporan perjalanan yang ia tulis mencerminkan empatinya pada hal-hal baru yang ditemukannya.

LEAVE A REPLY