Hari Libur dan Orang Kota

0
145

Hari libur, bagi buruh kota berarti tidak bekerja tapi gaji jalan terus. Bagi pegawai negeri sipil juga begitu. Hampir semua orang kota suka hari libur. Inilah saatnya bebas dari ikatan jam kantor. Betapa berharganya kebebasan itu.

Bagi para majikan, hari libur tidak terlalu menggembirakan. Berapa jam produksi terhenti? Berapa kerugian yang ditanggung? Buruh akan menghabiskan banyak upahnya pada hari libur. Kabar buruknya, permintaan cash bon akan meningkat begitu mereka nanti masuk lagi. Bagi para majikan, hari libur tidaklah istimewa. Mereka dapat berlibur kapan pun mereka mau. Selain uang mereka selalu cukup, mereka juga berlibur pada saat harga-harga murah (low season), dan para buruh berlibur pada saat harga-harga mahal (peak season).

Di kampung-kampung, orang-orang tidak terlalu risau dengan hari kerja maupun hari libur. Kalender mereka adalah musim, hama, dan matahari. Bahkan hari Minggu pun tidak terlalu penting bagi mereka, karena orang kampung tidak mengenal istilah akhir pekan. Mereka hanya tahu pekanan. Dan setiap hari selalu ada pekanan, bergilir dari satu tempat ke tempat lain. Liburan orang kampung ditentukan oleh arah angin, tingkah hewan, dan tanda-tanda di langit.

Mengapa orang kota mendambakan hari libur dan gembira menyambutnya? Itu adalah seumpama menyambut kebebasan. Berbulan-bulan mereka hidup dalam siklus dan rutinitas. Melewati jalan yang sama setiap hari. Mengerjakan tugas yang sama saban matahari terbit hingga nanti nyaris tenggelam. Mengejar target. Memenuhi prosedur dan aturan yang rigid. Menapaki karir hingga pensiun dalam ketidakbahagiaan. Mereka yang pensiun langsung merasa tak berguna dan sangat dekat dengan kematian. Siklus ini ditimpakan kepada manusia, yang fitrahnya diciptakan dengan kemungkinan yang tiada terhingga. Tetapi dengan menjadi buruh kota, hidup mereka telah dihitung, mudah diperkirakan, dijatah, dan dibuat kehilangan banyak kemungkinan yang menjadi sifat aslinya.

Mereka memulai segalanya dari minus. Ketika menikah, sudah terutang. Mau bangun rumah, mengutang. Mau beli sepeda motor, ngutang. Dan nanti kalau meningkat beli mobil, juga ngutang. Dan ia juga bekerja di perusahaan yang dikembangkan dengan utang. Inilah siklus yang tiada hentinya, sehingga mereka tidak punya hak untuk menunda kerja, mengejar target produksi, menutupi cicilan utang. Dengan kesibukan ini, maka 365 hari tidaklah cukup dalam setahun. Hari-hari serasa berlari, bulan dan tahun menjadi singkat, bumi makin cepat mengelilingi matahari (bila teori heliosentris memang benar dan tak akan berubah), sehingga kehidupan bagaikan putaran gasing.

Tapi manusia bukan mesin. Mereka memiliki batas-batas toleransi terhadap mekanisasi. Karena itu, diperlukan sedikit anugerah majikan kepada mereka. Mereka tidak bisa selamanya diasingkan dari masyarakat, diasingkan dari produknya, dan diasingkan dari spritualitasnya. Karena itu, di pabrik-pabrik dibangunlah mushalla, disediakan waktu di sana sekitar 15 menit untuk tiap kali shalat, dan karena manusia perlu makan, maka mereka juga disediakan waktu sekitar satu jam pada tengah hari untuk melakukan segala yang diperlukan sebelum kerja lagi hingga lonceng kerja (jam kerja) berakhir. Agar orang-orang kota ini tidak sampai diperas berlebihan, pemerintah melalui kebaikan hatinya telah membatasi jam kerja maksimal bagi para buruh. Ada UU Tenaga Kerja yang mengatur itu dan mengikatnya. Undang-Undang itu ditandatangani setelah lebih dulu disetujui para majikan.

Orang-orang kota yang kebanyakan adalah buruh, juga memerlukan untuk tetap berkumpul dengan tetangga dan sanak saudaranya, maka disediakanlah libur akhir pekan dan libur hari-hari besar. Dengan demikian, mereka tetap “dimanusiakan”—sebuah istilah pasif bagi kelompok yang banyak ini.

Nah, libur panjang adalah puncak dari kemenangan buruh dan pegawai negeri. Setiap akhir tahun, libur panjang diberikan. Anak-anak sekolah yang “dipenjara” di kelas dengan berbagai mata pelajaran yang tidak penting bagi kehidupan mereka kelak, juga diliburkan. Keluarga dapat berkumpul dalam kebebasan. Mereka bebas membuat rencana tentang hari-hari yang akan mereka lewati selama liburan. Tidak ada majikan, tidak ada produksi barang—yang tidak pernah mereka miliki. Inilah kebebasan. Nikmat sekali rasanya. Bahagia sekali berada di tengah keluarga, di tengah masyarakat, di tempat hiburan, di kampung halaman.

Akhir tahun ini, liburan panjang datang lagi. Orang kota akan dilepas tali jeratnya sebentar. Mereka bebas. Lepas. Hanya hari-hari inilah yang tersisa untuk mereka. Hari libur yang diciptakan para majikan. Sekadarnya saja, agar mereka tak sampai melawan.

Selamat berlibur, teman-teman sekota!

 

LEAVE A REPLY