Harimau Pemaaf di Tanah Mandailing

0
1953

urlAda lima sebutan hormat untuk harimau di Mandailing yakni nagogo (yang kuat), namora (yang dihormati), rajai (sang raja), oppungi (tetua) dan namaradati (yang beradat). Kelima nama tersebut menggambarkan  bahwa harimau memiliki tempat yang tersendiri di hati orang Mandailing. Harimau tidak termasuk hewan yang dijadikan nama olok-olok tingkah laku manusia seperti songon ias-ias ni udang (seperti bersih-bersih udang–selalu mensucikan diri tapi tak pernah bersih), ulok napa (ular ladang–ular yang menjengkelkan karena makan ternak), dan songon silisik (seperti pipit yang licik). Justru penyebutan nama harimau akan memberi asosiasi sebaliknya.

Nama kecilnya adalah babiat. Sama seperti nama orang di Mandailing, menyebut nama kecil kurang sopan ketika nama besarnya sudah ditabalkan secara adat. Hampir tidak ada yang berani menyebut babiat di dalam hutan. Orang-orang memilih sebutan dari kelima nama hormatnya.

Mereka merasakan bahwa harimau adalah bagian yang tidak terlepas dari kehidupan masa lalu. Awal membuka hutan untuk pemukiman barang tentu sering kontak dengan harimau. Awalnya manusia zaman dahulu satu habitat dengan harimau meski keduanya tak bertatap muka.

Di beberapa tempat di Tanah Mandailing, harimau memiliki garis keturunan dengan manusia. Oleh karena itu harimau juga punya marga namun disesuaikan dengan daerah-daerah tertentu. Jadi tak heran kalau harimau itu bermarga Rangkuti, Siregar, Parinduri, atau Pulungan. Orang bermarga Siregar bahkan percaya, mereka tidak akan pernah diganggu oleh oppungi.

Nagogo menyatakan bahwa harimau adalah yang terkuat di dalam hutan. Namora menandakan bangsa kucing itu adalah makhluk yang terhormat dan kharismatik. Rajai berarti dia adalah seorang raja hutan. Oppungi dimaksudkan bahwa harimau adalah satwa yang penuh kebijaksanaan dan berpengalaman. Namaradati bermakna bahwa dia juga memiliki aturan main yakni mengikuti kebiasaan dan tidak menyukai hal-hal yang melanggar adat.

harimau net
Harimau sumatera (sumber dari http://animalplanet4u.files.wordpress.com)

Kedatangan harimau ke suatu kampung Mandailing memiliki makna tersendiri, terutama bagi orang Mandailing. Harimau muncul memberikan teguran bahwa ada sesuatu yang tidak semestinya dilakukan di kampung itu. Bukan karena hutan sedang habis atau buruan sudah menipis.

Seisi perkampungan akan was-was dan mulai mengingat-ingat kesalahan apa yang telah dibuat. Biasanya kesalahan yang mengundang murka harimau adalah perilaku yang menodai adat. Misalnya zina, kelakuan yang berlebih-lebihan dan menyepelekan harimau itu sendiri.

Jika ketemu dengan jejaknya, maka mereka akan memagarinya dengan ranting-ranting. Maksudnya adalah biar jejak itu tidak hilang karena terpijak orang atau makhluk lain. Sekaligus menjadi sebuah penghormatan bagi satwa yang populasinya ditaksir tinggal 400 ekor lagi tersebut.

Meskipun begitu, ada dilema yang jarang terjadi tapi harus terjadi. Kejadiannya adalah harimau yang sama berulang-ulang mendatangi kampung. Ini dianggap teguran yang keras dari satu ekor harimau. Bahkan kesalahan kampung itu sudah tak termaafkan lagi. Maka orang kampung sendiri akan membela dirinya dengan membunuh harimau itu. Sebuah pilihan yang sulit.

Orang kampung lalu membawa gendang dan tombak. Pemburu ditemani oleh seorang datu (dukun). Harimau dikejar hingga mati.

Membunuh harimau adalah dosa besar bagi mereka. Mereka menghilangkan nyawa saudara bermarga. Pada daerah tertentu di masa lalu, jasad harimau itu dikuliti lalu bagian daging dan isinya dibuang. Kulitnya kemudian dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi harimau yang berdiri. Di depan orang-orang kampung dan pemburu, harimau sudah tak kuasa menegur lagi. Datu duduk di hadapan kepala harimau dan membisikkan apa yang sebenarnya terjadi.

Oppung, maafkan kami. Kami mendapatimu di hutan sana dalam keadaan terbaring. Dan alangkah terkejutnya kami melihat ranting besar menimpa dirimu. Dan engkau telah tiada di hadapan kami. Tetaplah kita berhubungan baik”.

Bagi penduduk kampung dan harimau, ritual ini sebagai komunikasi yang menjelaskan bahwa harimau mati karena tertimpa ranting di dalam hutan. Insiden sebelumnya adalah kejadian yang tidak perlu diingat. Dan hubungan kembali seperti sedia kala layaknya segaris keturunan. Harimau telah memaafkan semuanya meski dia telah dibunuh.

(Akhmad Junaedi Siregar)

LEAVE A REPLY