Henry Manik

78
15345
Henry Manik
Henry Manik

Membuat keramaian dan mengumpulkan orang banyak dalam suatu tempat, lalu bersembunyi di balik keramaian itu, adalah pekerjaan yang paradoks dan sulit diterima akal. Tapi seseorang telah melakukannya. Henry Manik, melakukannya. Dan ia jatuh cinta pada skenario ini, karena hal itu seperti mengisahkan hidupnya sendiri, yang dimulai dengan kesepian, dan diakhiri dengan kesepian. Tapi ia suka melihat keramaian dari tempat tertentu yang ia pilih bagi dirinya, lalu menyaksikan orang-orang bergembira di atas panggung, di bawah lampu-lampu yang terang dan musik yang riuh, sebagaimana yang selalu ingin ia berikan kepada orang-orang terdekatnya di kehidupan masa lalunya yang pahit dan suram.

Di Garoga, kampung asal inang-nya, sebuah rumah panggung bercat kusam masih berdiri. Lokasinya paling terpencil ke arah bukit, dimana air terjun selalu berisik membuat tulang-belulang menggigil hanya dengan membayangkan dinginnya. Beberapa bagian rumah itu telah remuk karena ditinggalkan seluruh penghuninya. Tetapi bangunan lapuk itu tetap hidup di hati Henry Manik.

“Di sanalah saya dilahirkan sebagai bungsu dari delapan bersaudara,” katanya ketika memasuki lagi beranda rumah tersebut dengan langkah yang sangat hati-hati agar lantainya tidak menelan kakinya yang kurus.  Dari beranda rumah ini, tampaklah hamparan petak-petak sawah, sumber penghidupan orang Garoga dan Ambarita di Pulau Samosir. Meskipun panorama Danau Toba terhalang oleh perbukitan di belakang dan bagian depannya, namun jarak dari Garoga ke pinggiran danau di kawasan wisata Tuktuk hanya terpaut beberapa menit  dengan perjalanan menggunakan sepeda. Bukit Beta telah menjadi pemisah alami di antara kedua lokasi ini.

Henry Manik melewati studi SD hingga SMA di Garoga dan Ambarita sebagai pelanggan rangking satu. Lingkungan mengenalnya sebagai anak terpintar di sekolah dan berpenampilan rapi seperti sintua (pengurus gereja). Rambutnya dipangkas pendek dan rapi, lagipula ia telah menaruh cukup banyak minyak tanco di kepalanya sehingga sisirannya selalu terlihat licin. Seperti ungkapan para pembual, “lalat pun bisa tergelincir dibuatnya”.

Penampilan yang khas itu ia pertahankan hingga SMA di Ambarita. Ia terkenal sangat disiplin pada dirinya sendiri. Ia penurut pada guru, dan memiliki segala sifat yang membuat hati gurunya nyaman. Masa depannya di bidang pendidikan terlihat sepintas sangat cerah. Tapi itu hanya tampak dari luarnya. Begitu tamat dari SMA, ayahnya wafat, meninggalkan ibunya yang sakit-sakitan bersama delapan anak yang belum mandiri sepenuhnya. Sumber penghasilan utama keluarga seketika terputus, dan putus jugalah masa depan Henry Manik di jalur pendidikan. Ia berhenti sekolah dan segera mencari pekerjaan.

Pekerjaan pertama yang berhasil didapatkannya adalah menyapu lantai dan mencuci piring di sebuah cottage kecil di Tuktuk yang baru didirikan oleh seorang pengusaha lokal, Esron Samosir. Dengan pekerjaan itu, Henry bisa membantu ibu dan sebagian saudaranya. Asma akut yang diderita ibunya membuat Henry tidak bisa jauh-jauh dari kampungnya. Ibunya harus terus menerus minum obat. Sementara, dua abang Henry pergi menghilang dan tidak diketahui rimbanya. Saudaranya yang lain berjuang keras untuk melanjutkan kehidupan keluarga masing-masing. Henry Manik benar-benar sendirian dan kehilangan sandaran. Ia merasa sangat dekat dengan ibunya, sehingga ketika ibunya juga akhirnya meninggal dunia, ia sepenuhnya jatuh dalam kesepian yang lebih dalam.

Sejak itu, satu-satunya yang dimiliki Henry dalam hidupnya adalah pekerjaannya di cottage. Dari pekerjaan ini, ia bertekad untuk merubah seluruh hidupnya. Sebagai langkah pertama, maka ia merubah penampilan rambutnya. Ia membiarkan rambutnya gondrong, bahkan tidak dikucir. Dengan langkah kecil ini, ia mulai berusaha meninggalkan semua jejak masa lalunya.

Rumah tempat kelahiran Henry di Garoga.
Rumah tempat kelahiran Henry di Garoga.

Henry bekerja sungguh-sungguh dan tidak pernah menghitung-hitung apa yang diterimanya. Ia tidak membiarkan ada waktu luang di hotel dengan cara mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakannya. Membersihkan rumput, membereskan dapur, melayani tamu, menyapu, dan seterusnya. Sebagai remaja, ia berjuang keras melawan rasa malu di hadapan teman-temannya karena bekerja  sebagai tukang sapu dan pencuci piring.

Pelan-pelan, pemilik hotel melihat keistimewaan itu dalam diri Henry. Semakin lama, Henry makin mendapat kepercayaan yang tinggi. Esron Samosir menyerahinya tanggung jawab yang lebih besar, bahkan sampai pada urusan memegang uang. Sepanjang itu, tidak ada cacat apapun dalam amanah yang diberikan padanya. Akhirnya Henry Manik dianggap sebagai tangan kanan di hotel.  Bisnis mereka pun berkembang. Di tengah-tengah kelesuan pariwisata di Samosir, mereka malah membangun properti baru.

“Kepercayaan Bang Esron kepada saya telah ikut membentuk kepribadian saya. Banyak orang menganggapnya keras, tapi saya bisa memahaminya dengan cara yang lebih baik. Dia memang berdisiplin, dan sangat menghargai etos kerja. Karena saya tidak berhitung padanya, dia pun tidak pernah berhitung pada saya. Hubungan kami menjadi lebih dekat dari sekadar pekerjaan dan bisnis. Pernah ketika saya pulang, dia memanggil saya, dan tahu-tahu Bang Esron sudah menyiapkan menu kepala babi sebagai jumpang-jumpang (semacam upah-upah) sebagaimana yang biasa dilakukan orang Batak kepada keluarganya,” ungkap lelaki kelahiran 3 Agustus 1977 ini.

Kehidupan di cottage ini seterusnya membuka cakrawala yang lebih luas di hadapan Henry Manik. Sebagai “manajer”, ia bersentuhan dengan banyak tamu dari berbagai latarbelakang. Kemampuannya menyenangkan tamu-tamu asing bukan hanya memberikan dampak kepuasan layanan, tetapi juga menciptakan persahabatan, hubungan, hingga yang paling jauh: cinta dan kasih sayang. Suatu ketika, Henry telah menerima tamu wanita dari Perancis. Pertemuan mereka berbuntut pada perkenalan yang intensif, persahabatan, lalu disusul oleh perasaaan yang khusus. Rupanya keduanya tidak hanya dipertemukan oleh bisnis, tapi juga dipersatukan oleh takdir. Meskipun akhirnya wanita itu harus kembali ke Eropa setelah masa liburnya usai, mereka terus membangun hubungan jarak jauh.

Pada waktu yang lain, seorang pengusaha pemegang label musik dari Inggris telah tiba di Samosir. Selama tinggal di Samosir Cottage, ia tertegun menyaksikan hiburan musik yang dipersembahkan musisi lokal sebagai bagian layanan pihak hotel kepada para tamu. Rupanya si tamu istimewa ini sangat tertarik dengan orisinalitas dan kemampuan grup tersebut bermain musik. Ia lantas meminta  Henry Manik sebagai manajer cottage untuk mempersiapkan suatu tur konser dan rekaman lagu di Inggeris.  Sebagaimana kita ketahui selanjutnya, kelompok musisi itu kemudian terkenal luas dengan nama Marsada Band.

Pada tahun 2004, Henry Manik meninggalkan Samosir menuju Eropa bersama Marsada Band. Ini adalah perjalanan yang mendebarkan. Bermodal kemampuan “Bahasa Inggris Samosir”, dan tekad untuk memulai hari baru dalam karirnya, Henry dan Marsada Band memasuki Inggris dengan visa kerja untuk melakukan pementasan di beberapa kota di Eropa, sekaligus rekaman album. Inilah pengalaman pertama bagi Henry Manik terlibat langsung dalam proyek persiapan produksi musik, baik untuk rekaman maupun pementasan. Setahun lamanya proses itu ia jalankan dengan penuh kesungguhan, dan Marsada Band mendapat sambutan yang hangat di Eropa. Lagu-lagu mereka juga beredar dan disukai berbagai kalangan. Setelah itu, Marsada Band menjadi referensi utama bagi warga Eropa untuk pertunjukan lagu-lagu Batak.

Setelah kontrak mereka berakhir dengan perusahaan label, setahun kemudian, Henry Manik pindah ke Belanda dimana pacarnya tinggal sebagai karyawan di perusahaan pelelangan bunga. Hubungan mereka mencapai puncaknya dalam sebuah pernikahan yang dilakukan di Belanda dan gereja di Garoga, Samosir. Seterusnya, Henry memasuki kehidupan yang baru sebagai penduduk Eropa. Ia bekerja di sebuah perusahaan importir peralatan elektronik asal Asia hingga akhirnya menjadi karyawan tetap di sana.

“Hidup di Eropa tidaklah seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Di sini, semua orang selalu ketakutan terhadap masa depannya. Kita diharuskan membayar pajak 40% dari gaji kita setiap bulan. Mereka juga membayar banyak sekali asuransi. Bayangkan saja, istri saya telah mengasuransikan gigi saya sebesar 100 euro per bulan. Saya bilang padanya, hentikan saja asuransi itu. Bagi saya itu konyol sekali. Sayang sekali uangnya. Dulu pun saya di kampung jarang gosok gigi. Setelah dibujuk, akhirnya dia setuju juga. Saya benar-benar tidak bisa mengerti, di sini semua orang seperti ingin membeli masa depannya dengan uang, dan melunasinya hari ini,” kata Henry.

Sejak 2004, Eropa memang memasuki krisis yang semakin dalam. Nilai tukar uang tehadap barang merosot. Bila dalam suatu rumah tangga itu yang bekerja hanya satu orang, maka mereka akan sulit untuk sekadar makan daging sekali seminggu. Hubungan keluarga dan tetangga tidak dikenal. Orang yang hidup dalam satu gedung, tidak saling tegur, dan mereka tidak pernah mengetahui nama satu dan yang lain. Tidak ada tolong menolong seperti di Samosir. Setiap orang menyandarkan hidupnya pada pertolongan asuransi dan layanan sosial saja.

“Saya benar-benar kesepian. Pekerjaan tidak bisa menghibur saya. Di dalam kehidupan rumah tangga pun kami berjuang untuk menyatukan dua jurang budaya yang sangat lebar. Tapi saya sangat bahagia karena sejauh ini kami berhasil melakukannya,” kata Henry.

henry 2Untuk menghibur dirinya, Henry menekuni permainan gitar dan alat-alat musik Batak yang lain. Di pekarangan belakang rumah, ia memetik gitarnya bersama kerinduan yang besar pada kenangan tanah kelahirannya. Permainannya terkadang sedemikian larut sehingga ia tidak sadar sedang diperhatikan para penghuni rumah yang lain. Terkadang ia mendengar tepuk tangan dari beberapa rumah dan orang-orang melongok  untuk memberikan hormat pada permainan gitarnya. Itu sajalah kontak yang ia dapatkan dari lingkungan di sekitarnya. Tidak lebih.

Untuk mengobati rasa rindunya terhadap kampung halaman, Henry membangun hubungan dengan sesama perantau Batak di Eropa, dimana mereka dapat saling bertukar pikiran dan membuat berbagai kegiatan yang berhubungan dengan Batak.  Ada berbagai organisasi orang Indonesia di sana. Henry kerap dilibatkan dalam kepanitiaan perkumpulan orang Toba. Mereka memiliki acara tahunan Toba Night dimana seluruh perantau Batak dari penjuru Eropa akan hadir dan merayakan malam itu dengan makan, minum dan hiburan. Pada malam ini, tiket masuk dijual ke warga Belanda dan selama acara dilakukan penggalangan dana yang hasilnya akan disumbangkan pada kegiatan sosial di Samosir, seperti pengadaan air bersih dan bantuan pendidikan.

Dalam setiap kesempatan yang ia miliki, keramaian inilah yang disukai Henry. Ia juga mengorganisir grup musik Batak dan melakukan pementasan di sana. Beberapa grup musik Batak dari Sumatera Utara juga kerap mereka hadirkan untuk tampil di negara-negara Eropa, atau mengisi acara-acara komunitas Indonesia yang diadakan KBRI untuk perayaan-perayaan khusus.

Alkisah, dalam perjalanan kegiatan musiknya, ia bertemu dengan seorang musisi Austria yang tergila-gila dengan lagu Batak. Namanya Hermann Delago. Dia adalah seorang komposer dan pemimpin suatu grup orkestra di Austria. Pertemuan mereka menghasilkan diskusi-diskusi dalam soal musik Batak. Mereka juga kerap tampil bersama. Karena pernikahan Hermann Delago dengan seorang wanita Batak, maka ikatan antara pria Eropa itu dengan komunitas Batak semakin kuat.

“Suatu ketika, Hermann bilang ke saya. Selama ini sudah banyak musisi Batak yang diundang untuk tampil ke Eropa. Sekarang sudah saatnyalah giliran musisi Eropa yang tampil di Tanah Batak. Ia menyanggupi untuk membawa sebanyak 80 musisi orkestra dari Austria dan mereka siap menanggung ongkosnya masing-masing. Saya diminta menyiapkan pementasan, akomodasi, izin, dan segala hal yang berkaitan dengan produksi pertunjukan di Medan dan Samosir. Ini adalah sebuah tantangan besar. Mengurus pementasan 80 musisi asing di Indonesia jelas bukan pekerjaan mudah. Tapi saya menyanggupinya. Saya ingin menguji batasan saya,” katanya.

Setahun sebelum jadwal pementasan, Henry pulang ke Samosir dengan memanfaatkan waktu luang pekerjaannya. Ia lalu menemui sejumlah pihak, baik dari kalangan pemerintahan, para sahabat, asosiasi pariwisata, dan praktisi-praktisi yang dianggapnya memiliki perhatian terhadap proyek ini. “Bagaimanapun juga, tur konser ini akan memberikan dampak pariwisata terhadap kawasan Danau Toba dan mereka bisa menjadi duta wisata sukarela kita di Eropa nantinya apabila kita dapat membuat pementasan ini berhasil. Adrenalin saya terpacu, dan selama setahun lamanya pikiran saya selalu terbelah antara pekerjaan dan proyek musik ini,” kata Henry.

Tepatnya, Henry bergerilya. Prosesnya maju mundur. Ketidakpastian selalu membayangi rencana ini. Urusan dengan pemerintahan membuatnya jantungan. Kadang-kadang ia merasa buntu. Tapi di sela-sela itu, Tuhan selalu mempertemukannya dengan sosok-sosok yang membuka jalan keluar. Misalnya, ia bertemu dengan Theodora, Kadis Pariwisata Samosir, yang sepenuhnya mendukung acara ini. Tapi Theodora kemudian diganti oleh Bupati Samosir hanya empat bulan sebelum acara. Henry harus merintis hubungan lagi dengan orang baru yang tidak tahu menahu dengan proyek ini. Untunglah kebijakan Theodora masih dapat dilanjutkan oleh kepala dinas yang baru, meskipun terjadi revisi besar-besaran yang sangat fatal bagi kesuksesan sebuah acara seperti yang direncanakan semula.  Bupati Samosir yang ia jumpai tidak bisa memberikan solusi, dan sudah angkat tangan karena alasan masa jabatannya  yang tinggal sebentar lagi.

Henry sudah kepalang basah, dan tidak ada pilihan untuk mundur. Proyek harus tetap jalan apapun konsekuensinya. Ia merombak disain dan skenario acara sesuai kemampuan pendanaan yang sangat minim untuk ukuran sebuah konser. Untuk itu ia mencari sponsor alternatif dan bentuk-bentuk kerjasama yang memungkinkan untuk dilakukan. Henry akhirnya bertemu dengan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Sumut.  Asosiasi ini menyanggupi untuk menyelenggarakan konser indoor di Medan yang sepenuhnya mengandalkan sponsor dan penjualan tiket. Untuk memperkuat animo warga Kota Medan, Henry dan Hermann Delago mengundang Viky Sianipar, Tongam Sirait dan Marsada Band untuk berkolaborasi dengan Austrian Tobatak Orchestra yang dipimpin Hermann Delago. Kesediaan Viky Sianipar dan Tongam Sirait untuk tampil di panggung yang sama adalah daya tarik tersendiri setelah keduanya berpisah dari grup mereka yang lama. Sementara Austrian Tobatak Orchestra adalah grup yang dibentuk secara khusus untuk kepentingan tur ke Sumatera Utara, di mana dua grup orkestra menggabungkan diri di dalamnya.

Strategi ini, ditambah dengan kesungguhan panitia yang dibentuk ASPPI Sumut, membuat seluruh tiket konser sold out. Keberhasilan konser di Medan selanjutnya memberikan gelombang animo besar dalam pertunjukan mereka berikutnya di Samosir. Dan pada malam tanggal 23 Agustus 2014, sebanyak 5.000-an penonton tumpah membanjiri Tuktuk Open Stage di Samosir, meskipun hujan tidak pernah berhenti mengguyur Bumi Samosir sepanjang siang harinya. Udara dingin pada malam hari berubah menjadi kemeriahan pertunjukan musik terbesar sepanjang sejarah pementasan di Samosir. Henry bahkan tidak dapat menyangka kerja keras mereka akan dihargai sebesar itu.

“Saya benar-benar berterimakasih pada Tuhan. Saya sangat terharu melihat masyarakat bergembira dan bahagia. Saya juga sangat senang melihat para musisi bersemangat karena mendapat apresiasi yang demikian tinggi. Di Eropa saja, mereka akan sulit bermain di hadapan penonton sebanyak itu. Saya yakin mereka akan bercerita tentang Samosir ke semua orang, karena hampir semua kru orkestra tersebut baru pertamakali itu ke Samosir. Inilah dampak yang kita inginkan,” katanya.

Sayang sekali, kedatangan para musisi sebanyak itu tidak dimanfaatkan pemerintah setempat secara maksimal. Mereka bahkan tidak menyuguhkan para musisi itu berbagai kekayaan pertunjukan budaya yang tersedia di Samosir dan memberikan pengalaman lebih dari sekadar konser di sana. Padahal, Pemerintah Malaysia, ketika mendengar bahwa 80 musisi ini akan transit di Kuala Lumpur berdasarkan informasi KBRI dari Eropa—dalam urusan mempermudah visa dan segala urusan transit peserta orkestra—langsung mempersiapkan sambutan khusus kepada mereka. Pemerintah Malaysia membawa mereka keliling Kuala Lumpur, naik ke Twin Towers dan singgah ke sejumlah objek wisata lainnya secara gratis. Mereka juga dijamu makan dan diberikan keramahtamahan selayaknya bagi seorang tamu penting. Di sinilah selalu letak ketertinggalan kita. Birokrasi yang buta telah melewatkan kesempatan-kesempatan dan peluang yang sangat mahal.

Bagi Henry Manik sendiri, ia merasa telah melakukan kembali panggilan hatinya untuk menciptakan keramaian dan kemeriahan seraya membuka kesempatan bagi berbagai pihak untuk mendapatkan ruang bagi pertunjukan tersebut. Meskipun hanya sedikit yang memanfaatkannya, ia merasa sangat puas dan terhibur. Bagi dirinya, cukuplah tersedia ruang yang kecil di balik keberhasilan pertunjukan itu bersama tagihan-tagihan vendor yang belum sepenuhnya dapat ia bayar.

“Bagi saya, bermusik dan memproduksi pertunjukan musik adalah hiburan dan panggilan jiwa. Orang mengira saya hidup dari kegiatan ini. Sama sekali tidak. Saya punya pekerjaan tetap yang menghidupi rumah tangga saya, sebagaimana pekerja lain di Eropa. Orang juga mengira bahwa saya hidup senang di Eropa. Sejujurnya, kehidupan di sana tidak begitu membahagiakan saya. Bahkan cita-cita saya yang paling tinggi adalah pulang ke Samosir. Para perantau di Eropa juga rata-rata merindukan hal yang sama, tetapi sebagian besar di antara mereka terhalang alasan keluarga dan finansial,” papar Henry.

henry 3Berlibur ke Samosir adalah sebuah kemewahan bagi Henry. Setiap tahun ia selalu berusaha pulang dan menghirup udara kampung halamannya. Ia tidak pernah ke Bali atau Lombok. Di Garoga, kampung halamannya, Henry telah menanam dan mendendam sebuah cita-cita terbesarnya, yaitu membuat sebuah kedai tuak.  Bersama kedai tuak itu, ia berencana menghabiskan hari tuanya.

“Umur limapuluh tahun, saya akan pulang dan menetap lagi di Samosir sebagai pensiunan. Saya akan mendirikan sebuah kedai tuak, menikmati alam dan bermusik  sesuai nyanyian hati saya sendiri. Itulah cita-cita tertinggi saya,” katanya.

Itulah Henry Manik. Lelaki yang bermula dari tempat yang sepi, dan ke tempat yang sepi itu pulalah ia ingin kembali.

 

(Tikwan Raya Siregar)

78 COMMENTS

  1. mantap, sebuah moment yg berpotensi utk menciptakan perubahan besar, tp terlewatkan krn implikasi tertentu, semoga bisa merekonstruksi pemikiran para birokrat demi kemajuan Samosir …

  2. Horas bangso batak..Horas buat abg kita Henry Manik Dkk….. bangga dan salut buat kerja kerasnya utk ttp mempromosikan keindahan kampung halaman kita. Gbu

  3. Salut buat appara..krn saya juga tau mengorganizer acara ini sangat sulit disamping birokrasi yg berbelit pendanaan ,apalagi ini menyangkut musisi asing..bravo henry .

  4. Horas Lae……. dalam setiap kesulitan selalu ada celah yg mempu memberi jalan kearah yg baik apabila kita sabar, gigih, tekun dan berpengharapan kepada Yahwe. Anda telah membuktikannya. Inspirasi yg sangat bagus utk yg lain . Sukses Selalu. Tetap bermimpi

  5. MERINDING JALA SALUT AU TU HAMU LAE… SUPER SEKALI LAE,, MULIA ROHAMUNA.. sada inspirasi do di hami on lae bangso batak. TUHAN ma natongtong namngaramoti hita, anggiat hita boi pajumpa sogot di pakter tuak muna i lae. horas,,horas,,horas

  6. Salut Tulang… luar biasa teruskan perjuanganmu, sebisa yang kami bisa kami akan selalu bantu dan doakan Tuhan akan selalu bersama kita. amen… salut salut salut salut salut salut salut salut salut salut -:) seperti turi turian jaman dahulu tetapi ini sebuah kenyataan

  7. luar biasa perjalanan hidup tunggane ku ini. satu kalimat yg sangat menginspirasi ” Saya akan mendirikan sebuah kedai tuak, menikmati alam dan bermusik sesuai nyanyian hati saya sendiri. Itulah cita-cita tertinggi saya,” SALUT

  8. Sangat super sekali….tantangan hidup yang tidak semua orang dapat melaluinya. Bisa dipertimbangkan jadi menteri pariwisata, seni dan budaya dikabinet jokowi.

  9. Inspiring..Luar biasa, panggilan hati membawa ke mimpi yg indah dan nyata.
    sukses buat mimpi2 yg lebih indah lagi bg..semoga banyak jiwa yg terinspirasi.

  10. Salut dan mantap. Semoga menjadi motifasi bagi anak-anak muda lainnya yang berada di kawasan Danau Toba dan juga putra-putri Tapanuli. Horas. Ingot mulak tu huta, ai “ARGA DO BONA NI PINASA'”.

  11. Luar Biasa, inspirasi kekuatan Dari kerja keras, tekad yang kuat dan penyerahan total Akan masa Depan..horas dan semangat terus lae..

  12. Henry mengajarkan kita arti hidup sebenarnya.nilai hidup tidak berlandaskan materi semata tapi kepuasan bathin yg harus kita dapatkan sebelum semuanya menghadap illahi.

  13. maaf bang,,,,
    bukannya bou itu dulunya seorang bidan?
    n amang boru itu seorang guru…
    hehehehe…..
    jangan terlalu merendah lah banggggggggggggggggggggggg…..
    xixixixixixi

  14. Cerita hidup yg dpt djadikan contoh.
    Smoga org batak yg brhasil bs brpikir sperti ito, mmajukan tano hatubuannya dstiap bidang masing2. Horas ito…Tuhan memberkati.

  15. Bangga gabe halak batak………..
    Lam ditambai Debata ma akka PAsu-Pasu di hita bangso Batak tarlumobi di Ito H. Manik …….

  16. Luar biasa bg, smoga karya di blakang layar ini melahirkan karya” baru buat Samosir. Bnyk pertunjukan yg saya lihat di samosir dgn biaya besar tp kegiatan yg bg henry buat luar biasa dan paling ramai dan pesan yg disampaikan dlm pertunjukan ini sampai kpd masyarat samosir dan sekitar khususnya pengunjung. Terimakasih bg henry, smoga pemerintah Samosir mengevaluasi diri atas perjuangan dan kerja keras abg.

LEAVE A REPLY