Hewan Pemalu dan yang Tak Tahu Malu

0
2372

Rimbawan sejati pun akan mengalami kesulitan menemukan salah satu hewan pemalu di alam ini. Dialah si pemalu yang lebih dikenal dengan sebutan kukang. Hari ini, kita sudah lebih gampang menemukannya di pasar burung ketimbang di habitatnya sendiri. Atau, kalau mau menyaksikan populasi kukang yang cukup padat, kunjungilah pusat rehabilitasi Internasional Animal Rescue (IAR) di Bogor. Di antara 90-an kukang yang mereka asuh di pusat rehabitasi kukang terbesar di Indonesia itu, 50 di antaranya berasal dari Sumatera.

Kukang sumatera adalah satu-satunya jenis kukang di Sumatera, dikenal dengan nama ilmiah Nycticebus coucang. Indonesia sendiri memiliki tiga jenis kukang, masing-masing dari Kalimantan (Nycticebus menagensis) dan dari Jawa (Nycticebus javanicus). Dengan itu, Indonesia memiliki tiga dari lima jenis marga Nycticebus di dunia.

Kukang sumatera berukuran tubuh lebih besar ketimbang kukang yang lain, sehingga dalam Bahasa Inggeris ia dinamai greater slow loris. Strip coklat di kepalanya sedikit kabur yang membandingkannya dengan jenis kukang jawa.

Kukang resmi dikenal sejak tahun 1821, ketika Sir Stamford Raffless—si penemu bunga rafflesia (Rafflesia arnoldi)—melakukan ekspedisi ilmiah di Sumatera sekaligus memberi nama pertamakali pada hewan bermata bulat itu. Raffless memberinya nama Nycticebus tardigradus. Seiring kemajuan ilmu pengetahuan tata nama (taksonomi) dalam mengenali alam sekitar, kukang sumatera pun mengalami sembilan kali pertukaran nama. Akhirnya nama yang umum dipakai adalah karangan Boddaert. Nama-nama lainnya menjadi kekayaan “alias” yang melebihi banyaknya nama seorang teroris dalam menyembunyikan identitas aslinya.

Kukang jawa (Nycticebus javanicus)
Kukang jawa (Nycticebus javanicus).

Di hati Indonesia, satwa malam tersebut mendapat perhatian lebih, di mana di dalam PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, kukang merupakan salah satu dari 70 item mamalia yang dilindungi. Tapi itu pun sebenarnya masih merupakan kabar buruk karena di tingkat internasional, kukang sudah menduduki posisi rentan (vulnerable). Di surga tropis Sumatera sendiri, kukang mendapat tekanan yang besar.

Kukang pemalu, matanya terlalu melotot dan gerakannya gemulai menggemaskan. Kepalanya sering disembunyikan jika berhadapan dengan manusia, sehingga kukang dikenal juga dengan nama “malu-malu”. Itulah mungkin beberapa alasan kenapa banyak orang ingin memelihara kukang.

Namun yang paling mencemaskan adalah sentuhan mitos tentang kukang. Daging kukang dipercaya dapat meningkatkan vitalitas pria. Menyimpan kerangka kukang di rumah diyakini bisa menjaga keutuhan rumah tangga si pemilik. Aliran darah kukang bisa melongsorkan tanah.

Dalam dunia perdukunan, kukang adalah makhluk gaib dan banyak guna. Misalnya koleksi tulangnya bisa dimanfaatkan sebagai tangkal ilmu jahat. Tulangnya dapat juga dijadikan resep dalam persaingan bisnis tidak sehat. Goresan tulang ke tanah dipercaya memberikan hawa panas dan mengeringkan rezeki lawan bisnis. Oleh karena itu, tulang kukang dirasa cukup penting dimiliki sebagai penangkal sekaligus penyerang. Dan banyak mitos lain yang tidak masuk akal, tapi nyatanya cukup mempengaruhi eksistensi kukang.

Kini, kukang sumatera tidak lebih mudah lagi ditemukan di hutan, tetapi di tempat rumah-rumah baru. Tentu ini bukan berita bagus. Bagaimanapun baiknya perawatan yang dilakukan oleh pemilik kepada kukang piaraan, tetap saja kukang merasa tidak lebih baik bergigi ompong. Kukang piaraan yang dijual di pasaran bebas sering tidak memiliki gigi taring lagi. Yang bertaring tidak laku karena ancaman sifatnya yang buas. Menggigit dan melawan adalah reaksi alami seekor kukang terhadap gangguan.

Telah banyak hewan yang tidak merdeka. Ada 41 jenis primata yang menempati bumi Indonesia. Sebanyak 40 di antaranya adalah satwa, dan satunya lagi adalah manusia. Kukang salah satu di antaranya yang paling sengsara. Di dalam kandang, kukang seperti “singa ompong” dan akan terus malu. Itu adalah kebalikan dari manusia majikannya yang makin tak tahu malu.

 (Teks & foto: Akhmad Junaedi Siregar)

 

LEAVE A REPLY