Ikan Monza

0
1673
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.

Ampun…Istilah ini adalah kenyataan. Pak Soekirman, Bupati Kabupaten Serdang Bedagai, telah mengunjungi lokasi pembibitan dan pengolahan ikan nila milik PT Aqua Farm di Serdang Bedagai. Dalam sebuah perbincangan, beliau dengan miris mengisahkan penemuannya kepada saya. Bahwa pabrik pengolahan itu telah menghasilkan produk buangan berupa puluhan ribu kerangka tulang ikan nila, yang terdiri dari bagian kepala dan durinya. Dagingnya yang lembut telah diambil dan dikemas dengan baik. Lalu diekspor ke berbagai negara, terutama ke Swiss, negara asal pemilik perusahaan itu.

Apakah kepala dan duri ikan ini akan dibuang sebagai limbah? Tidak. Inilah bagian untuk rakyat kita, yaitu masyarakat di sekitar Sumatera Utara. Kepala dan tulang-tulang itu dikilokan, kemudian didistribusikan ke pasar-pasar tradisional. Mereka menamakannya “ikan monza”. Karena itu, harganya murah.

Di Medan, kata “monza” merujuk pada beberapa hal. Pertama, ia berarti “bekas”. Kedua, ia berarti “murah”. Ketiga, ia berarti “barang limbah impor”. Asal-usul kata ini bermula dari nama sebuah jalan, “Jalan Monginsidi” di Medan. Di ujung ruas jalan ini, pernah berdiri suatu kumpulan kios yang menjual pakaian bekas impor. Sentra pakaian bekas ini demikian ramai, lengkap dan populer, sehingga orang-orang menyebutnya dengan nama “Monginsidi Plaza”. Kemudian disederhanakan dengan singkatan “Monza”. Seterusnya kata “monza” ini memiliki asosiasi yang kuat dengan pakaian bekas, sehingga di mana pun ada pakaian bekas, maka mereka akan seketika menyebutnya dengan “pakaian monza”.

Pada awal tahun 2000-an, Pemerintah mulai malu dengan kebiasaan rakyatnya memakai pakaian bekas bangsa lain, apalagi tak banyak pula bea masuknya. Lalu mereka menghentikannya pakai peraturan. Monza pun lumpuh. Tapi monza-monza lain tumbuh. Berkeliaran. Dan siapa yang mengira kalau kemudian istilah ini dapat juga melekat dan menjangkiti makanan? Apakah kelak setelah ikan monza akan ada pula daging monza, belacan monza, susu monza, atau jengkol monza? Kiranya, ibu-ibulah yang akan segera tahu lebih dahulu.

Ibu-ibu yang sudah kehabisan akal menghemat pengeluaran dapur, ternyata suka dengan monza-monza-an ini. Ini bukan soal peraturan, ini soal kemiskinan. Dalam kesenjangan yang tinggi, maka hukumnya adalah: “Ada yang membuang, ada yang memungut”. Dalam kasus ikan monza, hukum dua kepentingan itu pun bertemu. Kini, PT Aqua Farm dapat bernapas lega karena berhasil memecahkan salah satu masalah buangan limbahnya. Direktur perusahaan itu bisa membusungkan dada kepada para komisarisnya di Swiss karena berhasil membuat limbah perusahaan sebagai sumber pemasukan, alih-alih menimbulkan pengeluaran sebagaimana pada umumnya. Sebaliknya, ibu-ibu pun memecahkan masalah dapurnya. Tulang belulang dan kepala ikan itu, sesampai di pasar, dijual sekitar Rp 10.000 per kilogram. Bah, tidak terlalu murah juga ya?

Mari kita lanjutkan cerita ini. Konon, ibu-ibu selalu pandai merencanakan masakan apa yang enak hari ini di rumahnya. Kepala dan tulang ikan itu bisa disop, digulai santan, digulai asam, dan sebagainya. Mereka membuat kaldunya, dan kepala ikan itu dimakan dengan disedot-sedot dan dihisap-hisap. Untung-untung, mesin pengolah dan beberapa pekerja di pabrik Aqua Farm cukup teledor, sehingga masih ada sisa-sisa daging yang melekat di kepala ikan itu. Demikianlah, dalam kemiskinan yang makin menghimpit, keluarga-keluarga miskin selalu mampu mengerahkan kreativitasnya. Bukan kreativitas untuk keluar dari kemiskinan, tapi untuk menyiasati kemiskinan itu. Mereka beradaptasi dengan mengurangi kebutuhan standarnya. Lalu mereka membagi-bagi kemiskinan itu secara merata di antara mereka. Dan “menginfakkan” kemewahan kepada pejabat yang menarik pajak dan perusahaan yang menarik untung.

Tapi tunggu dulu! Bukankah rakyat kita memang gemar dengan gulai kepala ikan? Di warung-warung Padang dan Melayu, gulai kepala ikan kakap bisa Rp 35.000 satu porsi. Itu pun sering kehabisan. Dengan satu kepala ikan, kita bisa sibuk dibuatnya. Orang Indonesia sangat terampil makan ikan yang masih berduri dan bertulang. Orang Eropa, harus diakui, tak punya kemampuan itu. Oleh karena itu, seorang budayawan mungkin tidak akan melihat tren ikan monza ini sebagai ekspresi kemiskinan (ekonomi), tapi hanya sebuah preferensi budaya yang kebetulan mendapatkan artikulasinya pada limbah PT Aqua Farm (meskipun kepada para pakar budaya yang berpendirian demikian perlu juga diajukan pertanyaan, apakah kebiasaan makan sampah orang lain bisa sah diangkat sebagai kebudayaan?).

Mungkin para pakar kesehatan pun akan dapat melihat suatu manfaat positif dari kaldu kepala ikan monza. Demikian juga para ilmuwan lingkungan yang barangkali dapat melihat bahwa konsumsi terhadap ikan monza ini akan mengurangi tekanan ekploitasi masyarakat terhadap sumber daya alam, sekaligus menyelamatkan ancaman limbah ikan busuk. Tapi ilmuwan lingkungan dari aliran lain bisa juga melihat produksi ikan ini sebagai ancaman karena keramba-keramba ikan mereka di Danau Toba merusak ekosistem dan menurunkan kualitas air. Seorang analis ekonomi mungkin akan lebih suka melihat gejala ini sebagai pertemuan kebutuhan yang bernilai tambah (supply and demand), sekaligus dapat menggerakkan pertumbuhan dan peningkatan volume ekspor. Seorang aktivis LSM lebih mantap lagi, karena mereka bisa saja menyulap realitas ini menjadi apa saja untuk mengejar sumber pendanaan asing sesuai  isu yang dibutuhkan si donatur.

Kita tidak akan berdebat soal cara pandang yang cerdas-cerdas ini, karena perdebatan itu tidak dapat mengubah kenyataan. Sebab kenyataannya adalah, masyarakat kita mulai terbiasa memakan sampah yang dibuang perusahaan asing. Karena kenyataannya adalah, mereka semakin miskin! Monza-monza ini akan semakin ramai dan mengepung kehidupan kita. Orang-orang mulai terbiasa hidup bersama lalat dan kebusukan. Mereka bertahan karena mengurangi makannya. Pemerintah tidak akan bisa mengatasinya dengan peraturan. Sebab, ini adalah masalah kemiskinan. Dan ketidakhirauan!

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY