Indahnya Batak dalam “Ulos Menembus Batas”

0
840

Malam, pukul 19.30 WIB. Sebentar lagi, Convention Hall Santika Dyandra Premiere Medan akan berubah menjadi pentas. Orang-orang menunggu. Seperti apa ulos akan ditampilkan dalam konteks Batak  urban?

Malam itu juga, Torang Sitorus akan berlari keluar dari sebuah cangkang keras yang mengurungnya. Bersama ratusan helai ulos yang dikoleksinya selama bertahun-tahun, paling tidak ada dua hal yang ingin dia lakukan. Pertama, melintas batas cangkang kemunduran habatahon, dengan mengibarkan kembali ulos dalam kehidupan kosmopolit di mana ia dilahirkan, namun tidak lepas dari roh budaya dari mana ia berasal. Kedua, merintis sebuah misi untuk mendirikan satu museum ulos terlengkap di Kota Medan. Untuk misi kedua ini, ia menyatakan rela melepas seluruh koleksinya yang tak ternilai harganya menjadi aset museum itu kelak.

Lalu, pentas pun meredup. Pertunjukan akan dimulai. Musik bermula. Cahaya menyorot suatu titik di depan panggung untuk memberikan fokus pada  sebuah adegan pembuka. Nun, di Lembah Bakkara, di tepian Danau Toba yang permai, hiduplah sebuah bangsa. Mereka hidup menuruti lekukan bukit, aliran bondar, kehangatan matahari, membangun kedaulatan adat, dan ketinggian budi. Mereka saling tolong menolong dalam kerangka dalihan na tolu. Para perempuan mencuci di sungai sambil bercerita. Tentang padi yang mulai berbulir. Tentang pipit yang sulit diusir. Tentang gelleng yang kehilangan perkutut lalu menangis. Tentang kerinduan yang purba pada Pusuk Buhit.

Di sela-sela taruma, para gadis belajar dari neneknya bagaimana martonun ulos. Karena ulos itulah dahulu yang telah melindungi tubuh kecil mereka dari cuaca dingin yang menggigit. Dan ulos itu pula yang akan membalut tubuh anak-anak mereka kelak dari hawa yang jahat. Ulos telah membesarkan keturunan Batak sebagaimana pelukan tangan inang yang hangat bila inang harus pergi membersihkan rumput liar di sawah. Ulos adalah ibu kedua. Ia ada sejak Ibunda Boru Nadeak Parujar  membawa budaya langit ke Banua Tonga. Ulos adalah lambang cinta yang membuat kehidupan punya alasan untuk diteruskan. Ia harus tetap hidup dan ia harus melintas batas. Ulos harus bisa melintas batas!

Tiba-tiba, batas pertama datang menghadang ketika Ompui Sisingamangaraja merasakan sebuah ancaman dari kaum si bontar mata. Belanda menginjakkan kakinya di Tanah Batak dengan tujuan imperialisme. Budaya Batak yang indah hendak di-subordinasi. Ulos pun terancam. Sebab ulos hanya bisa ditenun oleh orang-orang yang bebas. Dia tidak bisa ditenun di bawah paksaan. Ia juga tak bisa ditenun di bawah motif industri. Ia adalah kasih sayang tanpa syarat yang telah menubuhkan manusia Batak. Karena itu, ulos harus diselamatkan seperti menyelamatkan ibu pertiwi. Sisingamangaraja XII mengangkat Gajah Dompak, melawan penjajah Tanah Batak.  Darah tumpah. Ulos memerah. Patuan Anggi mendahului sang ayah. Pada kisah selanjutnya, Tanah Batak dikuasai Belanda secara teritorial. Tapi tidak dengan jiwanya. Jiwa Batak selalu bertunas dari setiap pohon yang tumbang.

Melompat puluhan tahun kemudian, ketika pabrik-pabrik sudah menggantikan ekspresi seni dan cinta ulos, dan ketika kapitalisme menjadi pemakan segala, habatahon itu kembali bertunas. Tidak hanya di Tapanuli, tapi meluas ke kota-kota. Sekarang ulos tampil dalam gaya urban. Tapi ia tetaplah ulos, sepanjang ditenun dengan penuh cinta dan kesadaran pada akar sejarah dan budaya Batak.

Tersebutlah kemudian Torang Sitorus, putra Batak yang terpanggil pulang. Tersentuh tondi leluhur, ia pun tekun merawat sebuah warisan natua-tua. Membawa warisan itu ke masa kini, ketika putra-putra Batak hampir lupa bahwa mereka pernah dihangatkan oleh  tenunan bunda di bawah kolong rumah dalam lindungan hariara.

Malam itu di Hotel Santika Dyandra Medan, Batak ditampilkan dengan cara yang sangat indah!

(Teks oleh Tikwan Raya Siregar, foto oleh Johnny Siahaan)

 

LEAVE A REPLY