Jamu Arab

0
174

Ini jamu bukan sembarang jamu. Namanya Jamu Arab–mungkin penyebutannya Jamu ‘Arab. Dijual di halaman mesjid, untuk urusan lemah syahwat. Seorang murid pengajian salafi yang pemalu menjualnya dalam gerobak di halaman Mesjid Muslimin Teladan, Medan. Ini memperlihatkan suatu contoh bahwa urusan duniawi dan ukhrowi dapat berdekatan dengan serasi. Apalagi, urusan syahwat adalah perkara yang gawat, meskipun selalu dibicarakan dengan berbisik-bisik.

Ada sekitar 40 jenis penyakit yang konon dapat diobati dengan Jamu Arab ini—dan itu masih dapat ditambah lagi, tapi menurut daftar penyakit yang tertera di plank gerobak, masalah lemah syahwat menduduki peringkat satu. Saya tidak tahu apakah itu sebagai teknik dagang si empunya jualan, tapi sepertinya dia cukup berhasil. Meskipun lantaran itu, beberapa orang bertubuh muda dan tegap yang bermaksud memulihkan penat karena kerja keras, agak serba salah karena merasa dirinya sebagai “tersangka”.

tiff infomationDemikianlah, saya pun harus membuat pengakuan, bahwa perasaan “tersangka” itu dapat menular pada siapapun yang duduk di empat buah bangku plastik dekat gerobak itu. Di bawah panji-panji Jamu Arab dan plank khasiatnya yang komikal, saya sebenarnya lebih tertarik untuk mengetahui, mengapa ada Jamu Arab di mesjid yang indah ini. Benarkah orang Arab mengenal jamu? Dan mengapa “Arab” identik dengan urusan syahwat?

Dari desas-desus yang tak jelas juntrungannya, orang Arab memang sering dilukiskan sebagai manusia yang kelebihan libido. Jadi, secara asosiatif, isu ini dapat ditarik ke urusan keperkasaan syahwati dengan harapan match dengan marketing. Padahal secara faktual, data kuantitatif membuktikan bahwa orang Arab bukanlah jumlah manusia terbanyak di muka bumi ini, dan mereka dikenal mengharamkan kontrasepsi. Mestinya, orang China dan India adalah lambang manusia-manusia perkasa karena mereka berhasil membuat keturunan terbesar dari Benua Asia. Kalau di Indonesia, orang Jawalah maestronya.

Kalau kemudian banyak sekali dikenal jamu dari Jawa, atau obat kuat dari China, itu masuk akal. Tapi ini, Jamu Arab. Sehingga masalah ini agak menarik. Mungkin bagi sebagian Anda, ini tidak menarik, sebab Anda tidak bermasalah dengan syahwat. Itu patut disyukuri. Bagi sebagian lain yang punya masalah alias “terdakwa”, ini juga barangkali tak terlalu istimewa karena Anda mungkin sudah berkelana ke banyak kios obat kuat yang ada di Kota Medan dengan berbagai merek seperti “A Huat”, “Han Sheng”, “A Yang”, “Fu Sheng”, dan “seng-seng” lainnya, sehingga apalah artinya satu lagi jamu yang mengaku bisa menolong Anda. Pun Anda mungkin sudah tahu bahwa kios-kios kecil itu tampaknya selalu sunyi seolah-olah tidak ada masalah syahwat di kota ini, padahal telepon di dalamnya nyaris tak pernah berhenti berdering, dan pada malam harinya satu ekspedisi obat kuat akan berangkat mengantar barang ke banyak tempat. Bisnis ini sungguh prospektif, dan kiosnya makin menjamur saja.

tiff infomationTapi Jamu Arab ini justru muncul secara terbuka, di lokasi umum, menantang, dan berada di jantung keramaian yang stabil. Ini sebuah ajakan untuk percaya diri, dan ternyata banyak orang bisa melakukannya, meskipun ada juga yang datang maju mundur, jadi nggak jadi. Setiap mereka datang, si pemuda murid pengajian salafi ini dengan sigap menuang jamu warna hitam ke dalam sloki. Ada berbagai paket jamu yang ia tawarkan, mulai dari harga Rp 2.000 per sloki hingga Rp 15.000 komplit. Dengan harga itu, maka pelanggan yang datang pun sudah bebas dari sekat kelas sosial.

Dibuat dari campuran perasan daun sirih merah, pala tumbuk, dan cengkeh, jamu warna hitam itu rasanya pahit, pedas dan getir. Begitu diminum, perut terasa hangat, dan beberapa saat kemudian kehangatan itu menjalar ke seluruh tubuh. Saya tidak mendapatkan rasa ini pada jamu Jawa, karena jamu Jawa tidak dibuat dari rempah-rempah.

“Apa yang membuat jamu ini diberi nama Jamu Arab?” tanyaku.

“Ooo, ada satu lagi ramuannya, Bang. Namanya hulbah. Tanaman ini ada di Arab, India, Maroko, dan Eropa. Kita mengimpornya dari sana,” katanya.

Tapi informasi itu tidaklah sepenuhnya benar. Hulbah memang nama yang diketahui digunakan orang Arab untuk menyebut nama buah ini. Tapi tidak sebatang pohon hulbah pun tumbuh di Tanah Arabia, dan mereka tidak pernah menjadi penghasil hulbah. Tapi benar bahwa Arab adalah pengimpor hulbah yang cukup penting bagi Eropa, Turki, Maroko, Mediterrania, India dan China.

Di Eropa, hulbah ini dikenal dengan nama fenugreek. Ia merupakan salah satu ramuan herbal yang dianggap sebagai tanaman yang memiliki fungsi penyembuhan dan aprodisiak (menaikkan gairah seksual). Aprodisiak berasal dari Bahasa Yunani, Aprodhite, yang berarti Dewi Cinta. Di Yunani, fenugreek adalah tanaman yang mudah tumbuh dimana saja meskipun ditanam di tanah yang kering.

Konon, hulbah ini berasal dari wilayah Mediterania, kemudian dibudidayakan di China, India, Maroko dan Turki untuk keperluan pengobatan dan kuliner. Nama ilmiahnya Trigonella foenicum-graecum.

Fakta arkeologis menunjukkan bahwa orang Mesir kuno telah menggunakan ramuan hulbah dalam proses pembalseman mummi, di samping pengobatan dan bumbu makanan. Karena itu, hulbah dikenal juga sebagai antioksidan terkuno di dunia.

Dalam pengobatan herbal tradisional China dan India, hulbah dianggap sebagai obat untuk menyembuhkan batuk, penyakit hati, pencernaan dan tentu saja sebagai penyembuh lemah syahwat. Pengetahuan yang sama juga berkembang di Yunani kuno dan Romawi.

Menurut ilmu China, dasar utama kesehatan fungsi seksual adalah menjaga ginjal harus tetap sehat. Karena itu, semua pengobatan lemah syahwat di China akan diarahkan pada kesehatan ginjal. Di sinilah letak keunggulan tanaman hulbah yang dianggap sebagai afrodisiak–karena kemampuannya memperbaiki fungsi ginjal.

Sebagai herbal, hulbah atau fenugreek tidak hanya memiliki berbagai vitamin seperti A, B2, B1, B3, B5, B6, B15, B17, C, D, E, H, kolin, asam folat, dan inositol, tapi juga mengandung hampir semua mineral penting seperti kalsium, kromium, iodin, besi, magnesium, mangan, molibdenum, fosfor, potasium, selenium, silikon, natrium, belerang dan seng. Ramuan fenugreek juga mengandung protein sebanyak 30-36% dengan semua asam amino esensial.

Penyelidikan moderen terhadap unsur kimia yang dikandung fenugreek mengungkapkan bahwa tanaman ini memiliki banyak zat yang dapat meningkatkan hasrat seksual atau mengoptimalkan efek hormon seks dalam tubuh. Beberapa senyawa kimia tersebut adalah trimetilamina dan diosgenin yang merupakan senyawa steroid yang berfungsi memfasilitasi sintesis dari banyak hormon dalam tubuh.

Tapi fenugreek tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil karena zat yang dikandung dapat merangsang kontraksi pada rahim. Ramuan ini juga dapat mengganggu penyerapa zat besi dan karenanya tidak baik dikonsumsi oleh penderita anemia dan orang yang mengkonsumsi obat pengencer darah.

Tidak kurang dari 40 jenis manfaat dan khasiat tanaman ini sudah dikenal sejak 1.500 tahun sebelum masehi. Daunnya dibuat herbal, dan bijinya dipakai sebagai rempah untuk bumbu kari.

De Agri Cultura volume 27, mengutip Zohary dan Hopf, melaporkan, bahwa tidak dapat dipastikan mana yang tipe alamiah dari strain Trigonella yang kemudian didomestikasi menjadi fenugreek, namun dipercaya bahwa tanaman ini dulunya dibawa untuk dibudidayakan di Near East. Sisa hulbah ditemukan di Tell Halal, Iraq (berdasarkan analisa radiokarbon diperkirakan berumur 4.000 SM), sebagaimana juga biji keringnya dijumpai di makam Tutankhamen. Saat ini produsen utama hulbah adalah Nepal, India, Pakistan, Bangladesh, Argentina, Mesir, Perancis, Spanyol, Turki, Maroko dan China. India merupakan negara penghasil hulbah terbesar di dunia.

Di India, biji hulbah disebut “klabet”. Daunnya yang kering diberi nama yang indah, yaitu “kasoori methi”. Di wilayah Kasur, Pakistan, namanya samudra methi.

Tradisi Yahudi juga menggunakan hulbah sebagai makanan pada malam pertama dan kedua acara tahun baru mereka (Rosh Hashana). Kebiasaan ini berdasarkan kepada nama Aramaicnya yang berkaitan dengan itu. Di Afrika, mereka menggunakannya sebagai pengobatan, khususnya diabetes.

Kita tidak tahu persis darimana orang Arab mendapatkan nama hulbah untuk tanaman ini. Tapi kecurigaan kita adalah dari China, sebab di sana hulbah dikenal dengan nama “Hu Lu Ba”. Jadi, jelaslah bagi kita bahwa hulbah ini pun bukanlah ramuan jamu asal Arab. Untungnya, kita menjadi tahu bahwa banyak kebenaran secara historis dan kultural yang membuktikan kemampuan tanaman ini mengobati penyakit, termasuk lemah syahwat.

Sebuah sumber yang tidak terlalu kuat sanad-nya mengatakan bahwa, ketika Rasulullah sallallahu alayhi wa sallam mendengar seorang sahabatnya jatuh sakit, maka beliau yang pengasih dan penuh perhatian telah membawa ramuan hulbah untuk mengobatinya. Barangkali kisah-kisah inilah yang menginspirasi para murid salafiah yang sangat taat pada setiap teladan Rasulullah untuk menjadikan hulbah sebagai produk jamu mereka. Dan mereka menamakannya Jamu Arab, mungkin semata-mata untuk mendekatkan diri saja dengan kota kelahiran Nabi Muhammad sallallahu alayhi wa sallam.

Nah, setelah mengetahui asal-usulnya, apakah nama Jamu Arab di Mesjid Muslimin Teladan akan langsung gugur kesahihannya? Tentu saja tidak. Bisa jadi, mereka memang menggunakan metode ramuan dari Arab, siapa tahu? Hulbah ini telah diramu dengan berbagai cara di dunia. Lagipula, meskipun bukan termasuk produk utama dari jamu ini, Jamu Arab juga memberikan kandungan Arab berupa dua butir kurma untuk paket Rp 7.000, dan dua butir kapsul habbatussauda untuk paket Rp 10.000. Sudah termasuk sesendok madu dan ramuan lainnya.

Selamat mencoba, dan semoga Anda segera menjadi pria sehat nan perkasa.

 

 

LEAVE A REPLY