Jejak Konyol Kampanye HIV/AIDS

7
1140
S Ibana Ritonga
S Ibana Ritonga

Kebanyakan orang enggan bersikap kritis terhadap desas-desus wabah penyakit, karena takut kualat, lalu memilih menelan apa saja yang diinfokan orang. Persoalan seperti ini telah berulangkali terjadi di tengah masyarakat kita, dan menimbulkan kerugian moril dan harta benda yang tidak sedikit. Bukan hanya masyarakat awam yang tertipu, bahkan komunitas dokter yang merupakan benteng pertahanan terakhir persoalan logika medis, ikut menjadi korban.

Contohnya, kasus flu burung. Sejak dahulu kala, dikenal adanya wabah tetelo atau ende yang berpotensi menyerang unggas setiap pergantian musim. Ayam yang terserang tetelo tandanya adalah ngorok, jenggernya membiru, dan tidak mau makan. Tindakan paling tepat menyelamatkannya dari “mati nganggur” adalah memotongnya untuk dibuat opor. Tapi sejak merebak isu flu burung, wabah tetelo tak terdengar lagi. Semua ayam yang kedapatan ngorok ditakuti melebihi ular kobra. Petugas kesehatan menangkapnya sambil berkemul sarung plastik anti-radiasi nuklir.

Bukan hanya ayam sakit yang dibasmi, ayam sehat juga diberantas, kandangnya dibakar sampai tuntas. Akibatnya tak ada lagi ayam berkeliaran di kampung-kampung, dan harga telur ayam-kampung membubung. Jika kepada dokter ditanyakan kemana perginya penyakit tetelo, mereka menjawab: “Ini virus model baru H5N-1, made in Hongkong. Tak ada ampun!” (Busyeeet, akhirnya kita-kita takut juga!)

Begitu pula halnya dengan isu penyakit HIV/AIDS. Konon, ini adalah penyakit paling mematikan yang mengancam kelangsungan hidup sekalian cucu Nabi Adam. Belum ditemukan obatnya, menular pula. Sungguh menyedihkan bahwa kebanyakan orang cuek-bebek saja. Karena itu para pegiat HIV/AIDS tak henti-hentinya menyeru ke seluruh penjuru bumi, mengabarkan datangnya bencana ini, dan…hmmm…jangan lupa, sisihkan sebagian penghasilan Anda untuk donasi bagi penelitian dan penanggulangannya.

Meskipun penyakit ini menyerang sel-sel darah dan berada di dalam darah, tetapi cara penularannya yang paling populer adalah melalui hubungan seks. Mengapa hubungan seks? Itu menyangkut umpan untuk membumbui keasyikan berdiskusi. Dengan membicarakan AIDS, semua orang seolah-olah terjastifikasi untuk bebas bicara kondom, vagina, oral seks, seks bebas, uh-oh-idiiihh.…sambil larak-lirik antar sesamanya.

Orang pertama yang di-identifikasi tewas karena AIDS adalah Rock Hudson, bintang film Amerika. Ia meninggal dunia dalam keadaan kurus-kering tinggal kulit membungkus tulang, seperti terserang muntaber yang akut. Isterinya, Liz Taylor (juga bintang film, bukan tukang jahit), sempat ketar-ketir dari kemungkinan tertular, namanya juga suami-isteri. Orang kedua yang dipublikasikan mengidap HIV adalah Ervin ‘Magic’ Jonhson, atlit bola basket kenamaan. Baik Liz Taylor maupun Magic Jonhson hingga kini sehat-sehat saja, dan terus mendulang donasi. Mereka menjadi duta kampanye pengumpulan dana bagi penanggulangan AIDS.

Sayangnya, proyek penelitian yang digagas Liz Taylor itu tak ada hasilnya hingga kini. Dana multi miliar dollar yang dikumpulkan dari para donatur tak jelas penggunaannya. Jangankan menghasilkan obat mujarab, bahkan penelitian yang serius belum pernah dilakukan. Kabarnya pula, tak ada lembaga penelitian AIDS di Amerika, di dalam tanah atau di atas langit. Tapi kampanye penggalangan dana jalan terus. Obat AZT yang disebut-sebut sebagai obat AIDS itu ternyata adalah proyek gagal obat kanker.

Langkah maju secara mengejutkan malah terjadi di Indonesia, yaitu penemuan ramuan obat AIDS dari empedu tokek hutan. Makin besar tokek-nya makin bagus. Beredar isu di hutan Kalimantan, telah ditemukan tokek raksasa sebesar bantal guling, dan langsung dibeli oleh Yayasan Penanggulangan AIDS yang berpusat entah di mana, dengan harga Rp 300 miliar. (Aih, aih…gambarnya ada di internet, klik Mr. Google, tokek hutan Kalimantan.com).

Dokter Crowe, ahli mikrobiologi, guru besar pada suatu universitas trkemuka di AS berkata, diperlukan penataan ulang sejarah ditemukannya penyakit ini. Sekarang ini AIDS bukan lagi sekadar penyakit, tetapi telah menjadi lahan bisnis yang dicengkeram kuat oleh gerombolan mafia. Menurut Crowe, gejala menurunnya sistem imunitas seseorang yang akhirnya meninggal dunia karena tak mampu bertahan terhadap serbuan penyakit, adalah sesuatu yang wajar. Dapat menimpa siapa pun, segala tempat, segala usia. Kalau semua orang imun, tetap mampu bertahan, maka tak ada orang yang meninggal, menjadi penuh sesak dunia ini. Tetapi malangnya, masih menurut Crowe, tak ada analis kesehatan berhati mulia yang berani mempertahankan argumentasi ini, atau karirnya akan dihabisi.

Yang paling menyedihkan, kata Crowe, adalah bagaimana hasil diagnosa dokter bisa mempengaruhi kesehatan seseorang, bagaikan sihir yang membuat pasien rela melakukan apa saja untuk mendapatkan pengobatan, bahkan dengan menjual seluruh harta-bendanya. Di sisi lain, para pegiat AIDS terus mengkampanyekan ‘wabah menular’ ini tanpa memedulikan risiko sosial, akan ada jenazah yang terindikasi AIDS ditelantarkan, dibuang ke hutan atau dilarung ke sungai, karena tak ada orang berani menyentuhnya!

Sebagai penutup, jika ketahanan tubuh itulah yang menjadi patokan, maka sesungguhnya AIDS itu akan menghinggapi siapa pun makhluk bernyawa. Jatuh sakit dan meninggal, berarti tubuhnya tak mampu lagi mempertahankan nyawa melekat di badan. Betapa pun malangnya, semua orang akan datang padanya, mau tak mau!

Bahwa penyakit AIDS itu memang ada dan wajib dihindari, itu sudah terang benderang. Cara menghindarinya adalah dengan menerapkan pola hidup sehat dan sederhana. Yang disebut hidup sederhana adalah, sederhana memilih makanan, sederhana memilih pakaian, sederhana memilih kawan. Bekerjalah pada siang hari dan tidur pada malam hari. Makanlah jika lapar dan minumlah jika haus. Sebaik-baik makanan adalah meliputi tiga unsur, yaitu nasi, sayur dan sambal. Sebaik-baik minuman adalah air yang keluar dari sela-sela batu di kaki pegunungan dengan ikan-ikan kecil berseliweran di bawahnya, minum langsung dari sumbernya. Jangan berkawan dengan pemabuk, pecinta perang, dan tukang bertengkar.

Cintailah keluarga Anda. Jangan tunduk pada godaan syahwat. Jika Anda bosan dengan pasangan Anda, ketahuilah bahwa pasangan Anda juga sudah bosan melihat Anda. Tapi Anda berdua mesti memaksa diri, apa boleh buat, itu sudah takdir. Jika tak tertahankan lagi, silakan Anda berpoligami bagi laki-laki, dan minta cerai bagi perempuan. Sebab Anda tak dibenarkan mengumbar syahwat, karena yang demikianlah yang membedakan manusia dari perilaku babi hutan!

(S. Ibana Ritonga)

7 COMMENTS

  1. begitu nyangkut ada kata-kata HIV/AIDS itu penyakit, langsung nggak kulanjutkan baca tulisan ini. Berarti yang nulis tidak memahami bahwa HIV/AIDS bukan penyakit he..he..

  2. I don’t know what to say. Stay happy everbody…. , ketakutan dan prasangka buruk adakalanya menjadi penyakit yang lebih menyengsarakan hidup manusia….

LEAVE A REPLY