Kajoe Aro, Raksasa Teh Dunia dari Bumi Kerinci

0
1326
Foto: tehdesa.com
Foto: tehdesa.com

Delapan jam terbungkus dalam Kijang Innova, kami akhirnya melihat bumi ini seperti gelembung-gelembung dan bintang-bintang. Keindahan hutan kayu manis (Cassiavera) di lembah-lembah Kerinci luput dari penilaian kami. Pucuk-pucuknya sedang bersemi merah seperti suasana perayaan Imlek di Tahun Baru Cina. Di sebuah bukit, mobil berhenti. Kami keluar sempoyongan dalam keadaan setengah mabuk. Perjalanan darat yang berliku dari Padang via Muaralabuh menuju perbatasan Sumatera Barat dan Jambi di Kabupaten Kerinci telah mengocok perut kami. Ratusan kelokan, puluhan jurang, tanjakan dan turunan adalah rute wajib melewati jalur tengah lintas Sumatera ini. Kelokan yang terkenal, berbentuk letter “W” di Solok Selatan, menjadi pamungkas di perbatasan.

Di antara lereng-lereng Bukit Barisan, mobil melaju seperti tikus-tikus kecil yang baru mencuri roti. Jalannya zig-zag dan menanjak. Ah, seandainya pesawat SMAC masih melayani penerbangan dari Padang ke Sungai Penuh, kami akan memilih moda angkutan itu untuk sampai ke dataran tinggi Kerinci. Sayang, rute itu tidak menentu.

Tapi begitupun, perjalanan darat yang melelahkan ini ternyata punya nilai tambah juga. Bila tak terlalu mabuk, ia menyuguhkan kita keindahan yang lebih bervariasi. Kerinci ditempuh dengan jarak 237 km dari Padang (via Muaralabuh), 452 km dari Kota Jambi.

Sebelum tiba di perkebunan teh Kayu Aro, rombongan kami lebih dahulu singgah di salah satu lokasi wisata pinggiran Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), sebuah perbukitan dan peristirahatan yang indah. Bunga-bunga merah tumbuh di bagian puncak dan dibiarkan mekar dalam lanskap-lanskap yang diatur. Sepanjang waktu, angin bertiup kencang mempermainkan segala yang hidup di sekitarnya. Pucuk-pucuk pohon memperdengarkan suara menderu, bersaing dengan deburan air terjun raksasa yang mengalir dari Sungai Gunung Tujuh. Setelah jatuh ke bawah, air itu membubung kembali ke atas dalam bentuk butiran embun yang menyerupai kepulan asap.

Masyarakat lokal menyebutnya Air Terjun Telun Berasap. Berhulu pada sebuah danau bernama Danau Gunung Tujuh atau Danau Dewa, air terjun ini menjadi salah satu primadona wisata TNKS. Danau tersebut juga merupakan satu penyumbang debit air pada Sungai Batanghari yang mengalir melalui Kecamatan Sangir di Kabupaten Solok Selatan, kemudian masuk Sungai Batanghari di Kabupaten Sawahlunto Sijunjang, Sumatera Barat.

Danau Dewa adalah danau tertinggi di Asia Tenggara (1.950 mdpl). Ia terbentuk sebagai kaldera, terletak di Desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro. Luasnya 12 km persegi dan terbentuk oleh letusan kepundan gunung di masa silam yang kemudian tergenang oleh air hujan. Di sekelilingnya terdapat tujuh gunung, yakni Gunung Hulu Sangir (2.330 mdpl), Gunung Madura Besi (2.418 mdpl), Gunung Hulu Tebo (2.525 mdpl), Gunung Selasih (2.230 mdpl), Gunung Jar Panggang (2.469 mdpl), Gunung Lumut (2.350 mdpl) dan Gunung Tujuh sendiri (2.735 mdpl). Sayang sekali, kami belum punya waktu kali ini untuk menjelajahi keindahan ketujuh gunung itu. Konsentrasi kami masih pada objek agrowisata perkebunan teh Kayu Aro.

Di kawasan Air Terjun Telun Berasap, selain membangun gerbang masuk, Pemerintah Kabupaten Kerinci juga menyediakan bangunan-bangunan peristirahatan dan panggung kecil di sekitarnya. Dari shelter-shelter, kami melihat kelokan Sungai Gunung Tujuh yang kian mengecil ke bagian atas dan hilang di pelukan rimba. Dari sanalah angin berhembus membawa aroma hutan nan sejuk.

Agar pengunjung dapat menyaksikan langsung atraksi Air Terjun Telun Berasap di bagian lembah, sebuah tangga batu telah dibangun menurun. Pada akhir pekan atau hari-hari libur, kawasan ini ramai didatangi penduduk. Pada hari-hari biasa, hanya satu dua pasang kekasih yang tampak mengecil di bawah kayu dan lindungan perdu. Tidak ada retribusi di pintu masuk. Pun tidak ada penjaga yang overacting. Tempat ini adalah milik dunia.

Para bird watcher dan kalangan turis dengan special interest suka menjelajahi perut TNKS selama berhari-hari. Mereka membawa teropong, berjalan kaki, dan menikmati keragaman hayati taman nasional yang kaya raya ini.

Sebanyak 80% dari TNKS berada dalam wilayah Propinsi Jambi, khususnya Kabupaten Kerinci. Selebihnya terbagi dalam 3 propinsi lain, yakni Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Ekosistemnya meliputi Gunung Kerinci, Danau Gunung Tujuh (Danau Dewa), Rawa Ladeh Panjang (rawa tertinggi di Asia Tenggara), Danau Belibis, Danau Sakti, Pancaro Raya, Rawa Bento, Gunung Raya, Danau Kerinci, Danau Lingkat, Air Panas Semurup, dan Hutan Lindung Bukit Tapan.

***

Setelah puas melepas penat dan sisa pening di Air Terjun Telun Berasap, kami melanjutkan perjalanan menyisir perbatasan dua propinsi ini. Tidak sampai satu jam, mobil telah sampai ke sebuah tempat yang luar biasa. Kebun teh Padang Aro menghijau ranau seperti lapangan sepakbola pada Liga Inggris. Kami menyuruh sopir menepi. Momen pertama ini tak boleh dilewatkan. Kebun Padang Aro adalah bagian dari perkebunan teh Kayu Aro yang menyandang predikat kebun teh paling luas di dunia.

Suasana perkebunan ini tidak jauh berbeda dengan kehidupan dataran tinggi lainnya di Sumatera. Iklimnya sejuk dan tanahnya yang mayoritas jenis Andosol sangat subur karena terpengaruh proses vulkanik Gunung Kerinci yang menjulang setinggi 3.805 mdpl di sebelah selatan. Gunung tersebut merupakan “atap” Pulau Sumatera dan tercatat sebagai gunung berapi aktif paling tinggi di Indonesia.

Puncak Kerinci (Foto: Oky)
Puncak Kerinci (Foto: Oky)

Kami telah tiba di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Inilah sasaran kami kali ini, sebuah kawasan yang sering diistilahkan dengan “sekepal tanah surga yang tercampak di bumi”. Selain Gunung Kerinci, banyak lagi gunung gemunung yang mengelilingi dataran Kerinci. Seluruh tonjolan bumi itu terikat dalam sistem gugusan Bukit Barisan. Di sebuah celah yang melebar, terdapat kawasan landai. Dari kejauhan, dataran yang terjepit dan dikelilingi tonjolan gunung tersebut menyerupai bentuk vagina yang sedang terbuka. Inilah surga Kabupaten Kerinci, kawasan paling menarik di Jambi. Pada lekukan-lekukan bukit, perkebunan teh Kayu Aro menghijau dan menjadi ikon yang melegenda di Sumatera.

Perkebunan ini dibuka tahun 1925 oleh perusahaan milik Belanda, NV. Namlodse Venotchaaf Handle Veriniging Amsterdam. Penanaman pertama dimulai pada tahun 1929 dan pabriknya baru berdiri pada tahun 1932. Sejak mulai dibuka, teh yang dihasilkan adalah teh hitam (ortodox) dan tampil menjadi salah satu teh hitam terbaik di dunia. Saat ini, teh kayu aro dinikmati oleh para bangsawan Inggris, termasuk Ratu Elizabeth sendiri. Di pasar dunia, kompetitor terberat produk Kayu Aro adalah teh darjeeling yang ditanam kolonialis Inggris di lereng-lereng Himalaya, Bengal Barat, India Utara. Darjeeling adalah nama sebuah distrik di India yang namanya sudah dipatenkan Komisi Teh India. Daun teh darjeeling disebut-sebut menghasilkan aroma dan rasa muscatel.

Menyusul kesuksesan Inggris dengan teh darjeeling di Bengal Barat, teh kayu aro merupakan proyek pertama Belanda di Sumatera untuk menyaingi monopoli perdagangan teh di Asia. Dengan lokasi yang tidak kalah fantastis, matahari bersinar kuat di lereng Kerinci dan temperatur cukup rendah pada malam hari, sehingga daun teh tumbuh secara lambat dan menghasilkan aroma yang khas. Meskipun teh darjeeling disebut-sebut menduduki peringkat paling baik dan paling mahal di antara jenis teh lain di dunia, namun pamor kayu aro juga sangat kuat di Eropa Barat, Eropa Timur, hingga Timur Tengah. Daun teh kayu aro disukai karena lebih bersih dari sumber polusi. Itu disebabkan lokasi perkebunannya yang memang “terpencil”.

Ketertinggalan teh kayu aro dari darjeeling adalah pada branding yang lemah. Pemerintah kita tidak mematenkan produknya, apalagi mempromosikan mereknya ke dunia. Kebanyakan produksi teh kayu aro dilelang di Jakarta, lalu menyebar ke mancanegara tanpa membawa nama asalnya. Teh asal Kerinci itu kemudian dijual dalam kemasan dengan merek yang berbeda. Dunia lantas mengenalnya sebagai teh asal Inggris, Swiss, Jepang, dan lain-lain. Salah satu merek teh kelas premium asal Inggris yang menggunakan teh kayu aro adalah Lipton. Jangan heran!

***

Hari mulai sore. Para pemetik teh masih berada di tengah kebun seperti belalang di antara kilauan emas daun teh yang tertimpa matahari. Sekarang mereka tidak lagi memetik dengan cara manual, tapi sudah menggunakan mesin tangan. Barisan demi barisan tanaman teh mereka sisir di bawah pengawasan seorang mandor. Caping bambu sangat berguna untuk melindungi sengatan panas dan bahaya dehidrasi. Tapi pada malam hari, jangan coba-coba memakai baju tipis di perkebunan ini. Dinginnya, wusss, mendekati winter.

Perkebunan Kayu Aro terletak pada ketinggian antara 1.401-1.715 mdpl. Luas lahannya mencapai 3.014,6 hektar, termasuk kawasan emplasemen dan perumahan karyawan. Di bawah pengelolaan PTPN VI, perkebunan ini juga memiliki lahan yang cukup luas di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Nun di sebelah kanan kami, puncak Gunung Kerinci memutih karena awan tebal. Pakem itu telah dipilih PTPN VI sebagai maskot kemasan tehnya yang diberi merek “Kajoe Aro”. Sayang, produk kemasan ini masih dijual terbatas karena peredarannya baru menjangkau Jambi dan Sumatera Barat.

Puncak Kerinci yang juga adalah puncak Sumatera selalu menjadi tantangan monumental bagi para pecinta olah raga pendakian. Sejauh ini sudah banyak jalur-jalur pendakian yang dirintis para pendaki, tapi masih tetap banyak juga potensi jalur pendakian baru yang menunggu untuk ditaklukkan. Masyarakat lokal yang bertani di bawahnya tampak bahagia karena tanaman tomat dan ternak yang selalu bagus. Sapi-sapi penduduk kelihatan gemuk dan tidak kekurangan makanan. Bibit-bibitnya adalah keturunan sapi Eropa dan India yang berukuran besar.

Alangkah damainya suasana ladang sayuran Kersik Tuo dan Pelompek, Aroma Pecco, dan Taman Bunga Asri Murni. Para petaninya berasal dari berbagai daerah seperti Minang, Jawa, Batak, Tionghoa, Melayu dan lain-lain. Mereka hidup dengan ikatan sejarah yang lebih baik dari semua penduduk negeri ini. Hasil sayuran dan hortikultura dari dataran tinggi Kerinci dijual ke Jambi, Padang, dan kota-kota lain di Sumatera.

Sungai Penuh sebagai ibukota Kabupaten Kerinci berfungsi sebagai pasar lokal dan pengumpul hasil bumi. Dari Kayu Aro jaraknya 37 km. Alam Kerinci memang agak tersembunyi dengan akses yang tidak mudah. Tapi itu pula barangkali yang menyebabkan kawasan ini tetap lebih murni. Keterkaitan antara perkebunan Kayu Aro, ladang-ladang penduduk dan ekosistem TNKS telah membuat Kerinci seperti kampung yang solid.

***

“Teh apa yang kamu minum sehari-hari?” tanya Pak Imron, Manajer Pabrik PTPN VI, ketika mengajak kami keliling menyaksikan proses pembuatan teh. Kami serentak menyebut “Teh Bendera”. Ia lantas menunjuk satu sampel dari 16 grade mutu teh yang mereka produksi. Ya ampun! Ternyata kualitas teh yang kami minum itu berada di urutan nomor 16 alias yang paling rendah mutunya. Ia lantas buru-buru menghibur kami. “Jangan marah. Memang semua produk kita yang terbagus masih diekspor ke luar negeri. Negeri kita belum punya merek teh yang bagus, sehingga pembeli masih dari Eropa dan Timur Tengah,” paparnya.

Pabrik teh milik PTPN VI di Desa Bedeng Delapan, Kayu Aro, adalah pabrik teh terbesar di dunia. Aset ini dinasionalisasi dari perusahaan Belanda pada tahun 1959 atau setelah beroperasi sekitar 25 tahun. Teh yang mereka olah di pabrik adalah varietas khusus yang ditanam asli dari biji teh murni. Pabrik pengolahan bubuk teh tertua di Indonesia ini dibangun tahun 1932 dengan kapasitas produksi 90 ton pucuk teh per hari, dan kapasitas terpasang 100 ton.

Suasana di perkebunan maupun pabrik teh Kayu Aro sangat berbeda dengan suasana di perkebunan-perkebunan PTPN lainnya. Di sini hubungan sosial sesama karyawan, baik atasan maupun bawahan, sangat rileks. Zaman feodal yang kolot dan masih dianut sebagian besar PTPN di Sumatera sudah tidak berlaku di sini. Mereka bertegur sapa dengan biasa. Kami tidak menemukan satu momen di mana buruh merunduk-runduk ketika atasan mau lewat. Meskipun demikian, peraturan tetap diberlakukan dengan ketat.

Kami cukup beruntung tetap diizinkan berkunjung ke pabrik meskipun hari sudah teralu sore. Biasanya, setiap kunjungan ke pabrik harus melalui surat permohonan izin terlebih dahulu, dan jadwal kunjungan tidak boleh lewat dari pukul 15.00 WIB. Kami sendiri baru tiba pukul 16.00 WIB di mana para petugas sudah hampir bebas dari kerja.

Pak Imron membawa kami ke bagian input daun teh segar berupa gudang terbuka yang suhu dan kelembabannya dijaga dengan teliti. Dari gudang ini, daun teh segar kemudian masuk ke mesin pencacah dan pengering. Di antara tahapan itu, ada fase pemberian enzim untuk menguatkan aroma dan karakter teh.

Selanjutnya adalah proses pemilahan mutu. Ampas dari mutu grade satu akan digiling kembali menjadi mutu grade berikutnya dan begitu seterusnya hingga diperoleh 16 grade bubuk teh kering. Setiap saat, sampel dari produk-produk itu dikontrol di bagian display dan uji mutu sehingga tercipta standar kualitas yang ketat.

Teh, sama seperti kopi, adalah bahan alamiah yang sangat sensitif terhadap pengaruh luar. Citarasanya sangat tergantung pada cuaca, kandungan oksigen, cara pengolahan, tingkat kekeringan, kelembaban, dan polusi. Salah satu keunggulan teh kayu aro adalah lokasinya yang terpencil, jauh dari lokasi industri, serta dilindungi oleh pagar alam bernama Taman Nasional Kerinci Seblat.

Setelah puas menyaksikan proses pembuatan teh, kami diajak mengunjungi mess milik PTPN VI. Produk lain dari perkebunan Kayu Aro selain daun teh adalah agrowisata. Untuk itu, mereka menyediakan mess tersebut kepada pengunjung yang ingin menikmati alam perkebunan ini dari dekat. Tapi bila mess penuh, masih banyak cara lain untuk menginap di Kerinci. Di Desa Kersik Tuo, misalnya, tersedia sedikitnya lima homestay yang dikelola penduduk. Di sinilah para pengunjung dari berbagai negara menginap hingga berhari-hari.

Sedangkan di Sungai Penuh sedikitnya terdapat beberapa hotel dengan kapasitas 300 kamar. Jadi, Kayu Aro memang siap menerima kunjungan Anda. Hanya saja, sudahkah Anda punya selera yang maju untuk menikmati sekeping surga yang tercampak ke bumi ini?

(Tikwan Raya Siregar)

LEAVE A REPLY