Karl Mertes (Pardede)

0
1259

karl mertesIa tidak punya gambaran sama sekali tentang Indonesia ketika masih kuliah di Aachean University. Apalagi dalam pengertian terlibat secara kultural, persahabatan intensif, menyunting salah seorang gadis dari negeri itu sebagai istri, hingga dianugerahi marga. Ini adalah kisah mesra antara seorang Jerman dengan masyarakat Batak, setelah periode Nommensen.

Lahir 26 Februari 1949 di Bad Neueahr, sebuah desa kecil di Jerman, Karl Mertes kemudian mendalami profesi di bidang broadcasting. Ia bekerja bertahun-tahun di stasiun televisi WDR. Rasa bosan bekerja di kantor dan suasana yang sama di lembaga penyiaran publik Jerman itu telah membuatnya mempertimbangkan tawaran teman-temannya di Asia. Ia akhirnya memutuskan mengakhiri kejenuhan itu dengan melakukan kunjungan pertama ke Indonesia pada tahun 1972. Saat itu, rezim Suharto sedang bergiat membangun ekonomi Indonesia, dan mereka membutuhkan sebuah stasiun televisi sebagai alat propaganda pembangunan. Nama stasiun itu adalah Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Untuk menjalankan televisi itu di awal berdirinya, dibutuhkan tenaga teknis dan program yang mencetak SDM-SDM penyiaran. Oleh sebab itu, mereka mendirikan Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) TVRI. Di sinilah Karl Mertes ditugaskan sebagai pelatih oleh sebuah program kerjasama teknis dan program penyiaran antara Indonesia dan Jerman.  Tugas mereka adalah melatih SDM dan mengembangkan jaringan TVRI hingga ke daerah-daerah. Pekerjaan itu telah membuat Karl Mertes sering berkeliling ke seluruh Indonesia.

“Perjalanan-perjalanan itu telah mempertemukan saya pada berbagai budaya dan pandangan hidup yang berbeda. Awalnya saya melihat itu sebagai pandangan eksotika seorang turis saja, tapi lama kelamaan saya merasa sangat terikat di dalamnya. Saya jatuh cinta pada masyarakat negeri itu,” kata Mertes dalam sebuah wawancara informal dengan Sumatera & Beyond di ruang makan kediamannya di Koln, salah satu kota pusat kebudayaan di Jerman. Saat itu musim gugur akan digantikan musim dingin.

Pada suatu ketika, di sela-sela kegiatannya di Jakarta, ia diundang untuk mengikuti acara selamatan film November 1828 karya Teguh Karya. Dalam acara itu, ia bertemu dengan seorang gadis Batak yang sekolah di IKJ dan kemudian dikenal sebagai aktivis teater yang juga terkait dengan pergerakan buruh dan pemberdayaan masyarakat adat yang saat itu menjadi gerakan oposan di Indonesia. Dia adalah Lena Simanjuntak.

Pertemuan itu ternyata bukan cerita singkat. Sejak itu, ada pertemuan berikutnya, dan berikutnya. Perkenalan mereka berlanjut menjadi hubungan yang lebih intens, hingga keduanya memutuskan untuk menikah pada tahun 1980. Proses pernikahan mereka, bagi Karl Mertes, adalah pintu awal untuk berkenalan dengan budaya Batak yang pada awalnya ia anggap sulit dan rumit. “Orangtua Lena telah menuduh saya mencuri putrinya, dan saya tidak suka tuduhan itu,” ungkap Mertes mengenang masa konflik budaya itu.

Menurut adat Batak, seorang gadis hanya boleh menikah dengan lelaki yang bermarga. Lelaki asing yang menikahi gadis Batak tanpa proses “mangadati” atau “membeli marga” adalah sebuah pencurian dan ilegal. Oleh sebab itu, dibuatlah perundingan antara kedua pihak keluarga.  Solusinya adalah, kalau Mertes mau diterima di keluarga Batak pihak perempuan, maka ia harus menjalani proses adat dan membeli marga agar ia memperoleh posisi yang jelas di tengah masyarakat Batak. Mertes menyanggupi hal itu agar ia tak lagi dianggap pencuri. Dan ia menanyakan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk membayar adat dan mendapatkan marga. Maka terjadilah peristiwa sebagai berikut ini:

Pada tahun 1988, ketika segala keadaan sudah memungkinkan, Mertes membeli seekor kerbau dan menyelenggarakan pesta yang dimaksudkan di Kota Medan. Dalam proses tersebut, lelaki Jerman penyuka rendang ini diangkat sebagai anak oleh “amang boru” istrinya (suami dari saudara perempuan ayah Lena Simanjuntak).  Marga ayah angkatnya adalah Pardede, dan ia pun akan membayar untuk menyandang marga itu. Pesta pun dilakukan. Para kerabat dari Toba berdatangan, begitu juga yang tinggal di Medan. Satu hari satu malam lamanya pesta itu dengan segala hingar-bingar dan tata caranya yang rumit. Semua orang ingin menyampaikan pidato, di mana Mertes tak mengerti sedikit pun maknanya.

“Cukup melelahkan bagi saya, meskipun semuanya sudah mereka tangani dengan baik. Tapi saya tak mau menyerah dan tak mau lagi dianggap pencuri. Saya lalui semua prosesnya,” kata Mertes tertawa.

Semua sudah berjalan dengan sempurna. Tor-tor digelar. Gondang ditabuh. Doa-doa dipanjatkan.  Orang yang datang mencapai ribuan. Namun, seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak. Begitu juga dalam pesta yang hikmat itu. Di penghujung acara, Mertes telah melakukan sebuah kekeliruan yang tak akan pernah bisa dilupakan kelak oleh orang-orang Batak yang hadir pada saat itu. Ketika ia sudah secara sah diberikan marga Pardede, diseru dengan teriakan “horas!”, alumnus Jurusan Komunikasi Pedagogi ini tiba-tiba bertanya dengan gaya seorang Jerman tulen, “Lalu, mana sertifikat pertanda bahwa saya berhak menyandang marga Pardede?”

Hening sejenak. Berikutnya adalah suara orang-orang yang terbahak-bahak mendengar pertanyaan konyol itu. Karl Mertes semakin bingung. Ia tak mengerti apa maunya semua orang itu, padahal ia merasa sudah memenuhi semua kewajibannya, dan sekarang ia menuntut haknya. Karena begitulah cara orang di Jerman.

Ia baru bisa memahami semua makna pesta dan proses adat itu ketika pada hari berikutnya mereka dibawa berkunjung ke berbagai desa di Tanah Batak, menemui sanak keluarga. Tanpa ia duga, semua orang sudah memanggilnya “Hoi, Pardede!”.  Marga itu tiba-tiba sudah melekat pada dirinya tanpa keraguan. Orang-orang cepat sekali mengetahuinya.

“Saya terkejut, mereka demikian perduli. Saya sudah dianggap sebagai Pardede dan menjadi bagian dari masyarakat Batak. Saya punya ayah angkat di tengah mereka, dan saya diajari cara berhubungan dengan semua orang berdasarkan marga saya itu. Sejak itu saya sadar bahwa saya memang tak memerlukan selembar sertifikat untuk memiliki marga itu,” katanya sambil menepuk keningnya sendiri dengan pelan.

Pernikahan itu telah memberinya dua anak perempuan. Mereka sekarang tinggal di Jerman. Karena jaraknya yang dekat dengan Central Koln, rumah Mertes dan Lena adalah semacam persinggahan bagi sejumlah aktivis Indonesia yang kebetulan melakukan kegiatan atau belajar di Jerman. Di sana pernah menginap Mukhtar Pakpahan, WS Rendra, Asmara Nababan, dan lain-lain.

Saat ini, sebagai manifestasi kecintaannya pada Indonesia, Karl Mertes memimpin sebuah lembaga bernama German Indonesian Society (DIG) di Koln. Ia dipilih sebagai presidennya. Lembaga ini berdiri 60 tahun silam, jauh sebelum Indonesia dan Jerman membangun hubungan diplomatik. Wilayah kerjasama mereka masih sebatas kerjasama akademik dan dibentuk oleh para sarjana yang pernah melakukan penelitian atau studi tentang Indonesia. Tapi sekarang DIG sudah memperluas kegiatannya pada bidang kebudayaan dan sosial.

Atas usahanya membangun kerjasama budaya dan persahabatan antar kedua negara,  Karl Mertes dianugerahi penghargaan khusus oleh Pemerintah Indonesia. Sertifikat penghargaan itu diserahkan pada 17 Agustus 2010 oleh Duta Besar Indonesia untuk Berlin, Eddy Pratomo. “Syukurlah, akhirnya saya memperoleh sertifikat juga,” katanya dengan bercanda.

Menurut pria bertubuh tinggi besar ini (bahkan untuk ukuran seorang kaukasia), imej Indonesia di Jerman telah banyak berubah belakangan ini. Kalau pada masa silam Indonesia lebih banyak diperkenalkan oleh para aktivis politik atau sejumlah orang yang melakukan riset tertentu, kini Indonesia dan Jerman mengalami hubungan yang lebih dalam, terutama karena didorong oleh industri pariwisata yang memungkinkan  warga kedua negara saling mengunjungi. “Saya berharap, pemahaman budaya kedua negara akan semakin baik, apalagi di Koln saat ini terdapat museum yang tema utamanya adalah tentang Indonesia,” ungkap pria berusia 63 tahun, dan telah dianugerahi seorang cucu dari putri tertuanya ini.

DIG sendiri memberikan kontribusi yang cukup bermakna dalam upaya menghapus berbagai streotipe kedua bangsa. Organisasi ini menerbitkan majalah “Kita” tentang hubungan Jerman-Indonesia dalam Bahasa Jerman, dan kerap menyelenggarakan event-event budaya, mulai dari musik ke masalah migrasi, atau dari batik ke isu-isu hak asasi manusia.

Hingga sekarang, Karl Mertes masih tetap bersemangat mempromosikan Indonesia di negerinya dan menjalin hubungan yang makin mesra antara kedua negara. Rumahnya dipenuhi dengan berbagai koleksi seni tentang tradisi dan budaya Indonesia. Ruang kerjanya juga begitu.  Dan dia selalu menandai setiap imelnya ke teman-temannya dengan kata “Merdeka”.

(Tikwan Raya Siregar)

LEAVE A REPLY