Keluar dari Tragedi Kota

0
658
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.

Sabine Kruegler adalah anak perempuan berambut pirang, berkulit terang. Ayahnya Klaus Kruegler, dan ibunya Doris, sama-sama berkebangsaan Jerman, pasangan linguis dan paramedis yang akur. Pada usia enam tahun, Sabine sudah ikut orang tuanya (misionaris) tinggal di tengah Suku Fayu di Papua. Ia hidup sebagai anak Fayu, makan buaya, ular, kelelawar, cacing hidup, dan berpikir sebagaimana alam setempat menginginkannya.

Memasuki SMA, Sabine keluar hutan membawa duka mendalam karena kematian saudara Fayu-nya yang paling akrab, Ohri. Ia membakar gubuk yang dibangun Ohri untuk menghapus semua kenangan dan “melarikan diri” ke sekolah asrama di Jerman. Berikutnya adalah masa-masa yang sulit. Sabine mengalami gegar budaya yang parah. Refleksnya pada setiap ancaman kota adalah meraih busur dan panah yang tidak ia bawa. Setiap pagi, ia mengguncang-guncang sepatu karena takut di dalamnya ada serangga seperti yang selalu terjadi di hutan. Ia tidak berani menyeberang jalan raya karena mobil-mobil kencang. Biasanya setiap rombongan babi mau lewat menerobos desa, ia punya pohon untuk dipanjat (Sabine Kruegler: Jungle Child).

Disadari atau tidak, dalam jumlah yang besar, warga Kota Medan adalah pendatang seperti Sabine di Jerman. Di sinilah berkumpul para perantau non-skill, mahasiswa, dan jenis-jenis imigran lainnya. Tidak jarang, para pemimpin kota pun sesungguhnya adalah orang desa, yang dibesarkan dengan cara-cara desa, dan berpikir dengan perspektif desa pula. Gegar budaya ditemukan di mana-mana, meski tidak separah penderitaan Sabine.

Marvin Harris menyebutkan, budaya selalu dibentuk oleh materi “infrastruktur” (situasi alam dan lingkungan sosial). Lingkungan dan situasi tertentu mendorong masyarakat menciptakan struktur yang tepat (respon) untuk menyesuaikan diri dengannya. Dan hasil-hasil penyesuaian secara kolektif itu menghasilkan cara berpikir, bersikap, berteknologi dan berekonomi, yang kemudian berwujud secara halus menjadi ungkapan seni, sikap, peralatan, dan produk kebudayaan lainnya (suprastruktur). Masyarakat Eropa yang hidup di kawasan sub-tropis yang keras cenderung menggunakan otak (teknologi) untuk menaklukkan alam. Sedangkan orang Asia yang hidup di tropis yang subur, cenderung membangun keharmonisan, seni, dan spritualitas.

Infrastruktur sosial dan lingkungan di desa, tentu saja sangat berbeda dengan kota. Perbedaan mendasar itu membawa frustrasi pada imigran. Yang pertama timbul adalah gejala konflik ekonomi, status dan peran, kemudian menciptakan penderitaan massal di alam bawah sadar mereka. Ya, di satu sisi, kota memberikan daya tarik ekonomi, hiburan, dan kemudahan fasilitas, tapi ia juga menciptakan neraka kebudayaan. Nilai-nilai ulayat yang dianut desa tidak lagi ditemukan di kota. Tempo kehidupan yang lambat berubah menjadi cepat. Bila di desa kita selalu punya hari esok untuk melakukan sesuatu, maka di kota hari esok tidak ada, karena semua harus selesai hari ini, atau aliran listrikmu akan diputus, air distop, bahkan mobil dan rumahmu bisa disita.

Sistem kekerabatan yang menegaskan peran dan tanggung jawab setiap orang dalam kelompok desa berubah menjadi peraturan tertulis tentang kewarganegaraan yang kompleks. Orang desa di kota pada akhirnya terjebak di tengah-tengah keraguan identitas. Selembar KTP yang mereka pegang, sesungguhnya tidak menolong mereka menjadi warga RT anu atau gang anu. Sebab sehari-hari mereka bekerja di pabrik atau perusahaan anu, sebagai proletar yang lebih banyak bertemu dan berbicara dengan teman kerja ketimbang tetangga. Hilangnya peran seseorang dalam sosial, seperti analisis Emile Durkheim, memicu dua hal: bunuh diri dan kegilaan. Yang kedua lebih mudah terjadi.

Di Kota Medan, kita semua pada prinsipnya adalah orang kampung. Kalaupun seseorang lahir di sini, minimal leluhurnya berasal dari desa, dan mereka menurunkan tradisi masing-masing. Bahkan, dalam usaha kembali men-desa-kan dirinya, orang-orang kampung berkumpul membuat perwiritan, parsadaan, paguyuban, pertemuan marga, dan sebagainya. Perkumpulan ini kemudian diformalisasi, lalu dimakan oleh politik, ekonomi, dan motif lain yang tak ada hubungannya dengan spirit desa. Sesungguhnya, perkumpulan itu adalah “desa palsu”, dan semua orang tahu mereka tidak bisa hidup di dalamnya.

Apa masalahnya? Infrastrukturnya sudah berbeda. Paguyuban sudah berubah menjadi ajang perebutan kesempatan yang keras. Oleh karena itu, struktur yang terbentuk dikota tidak lagi sama dengan desa. Bila tidak segera mampu berpijak pada konsensus baru, manusia di dalam struktur yang kacau akan goyah dan menderita. Mereka menjadi yatim piatu kota, sebuah kemalangan sosial yang suram.

Para imigran yang tetap mencoba tegak di atas kebudayaan desanya akan cenderung menciptakan kota seperti idealitas kampungnya. Sebagian orang tetap sanggup hidup di gubuk pinggir sungai, berdesakan di ruko-ruko sempit, pesta kawinan di pinggir jalan sempit, berjualan di badan jalan seperti di onan, menutupi trotoar dengan tiangbillboard, dan sebagainya. Perilaku-perilaku kampungan itulah yang mendorong Kota Medan yang “metropolitan” awut-awutan, penuh sampah, dan memiliki standar hidup yang rendah. Penanganannya tidak bisa lagi sekadar menegakkan aturan, gusur, dan kekuasaan, tetapi harus sampai pada kampanye penyatuan pandang tentang masa depan kota yang diinginkan bersama. Dalam kaitan inilah, kita membutuhkan tuntunan dan petunjuk yang berasal dari luar kita. Yaitu petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Suatu masa sekitar 1.500 tahun lalu, Madinah juga mengalami konflik antar-suku (desa) yang amat keras, lalu mereka selamat karena menerima Muhammad untuk membawa panduan yang datangnya dari Allah SWT.

Dengan tarikan infrastruktur alam desa yang masih kuat di memori kebanyakan warga kota, maka apa yang perlu kita lakukan sekarang adalah menciptakan infrastruktur baru, memodifikasi kota sebagai “kampung yang metropolis” (bukan metro yang kampungan). Kita masih punya kesempatan memiliki ruang-ruang publik yang luas sebagai pengganti hak ulayat. Lapangannya kita nikmati bersama untuk tempat bercengkerama keluarga. Jalan-jalan utamanya dapat kita tanami pohon buah seperti rambutan, mangga, kelapa, manggis, duku, dan kita juga harus merawat sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, karena demikianlah Allah SWT menggambarkan surga. Pada saat musim buah, kita panen bersama satu kota. Di kafe-kafe, kita dapat melakukan diskusi peradaban, baca puisi, dan memainkan qasidah seperti yang dilakukan Sartre dan kawan-kawan di Paris, atau para sufi di Andalusia dan Persia. Di setiap saat, kita mempersering zikir sebagaimana yang dilakukan Muhammad dan para sahabat.

Saya yakin, dengan membangun sebuah “infrastruktur kota” yang baru—mirip yang kita rindukan sebagai orang desa—maka infrastruktur juga akan memiliki energi untuk membentuk kebudayaan kita. Lapangan-lapangan publik dengan sendirinya akan membuat kita memiliki rasa kebersamaan, kesejukan kota dapat menurunkan dorongan kriminalitas, perasaan in group mencegah kegilaan, kenyamanan lingkungan menurunkan angka bunuh diri, dan seterusnya.

Tidak semuanya bisa diselesaikan oleh politik, meski setiap tahapan menuju cita-cita adalah politik. Dan ini adalah sebuah pekerjaan besar yang menyenangkan!

SHARE
Previous articleBudi Pekerti dan Teknologi
Next articleBintan Dua Dunia

LEAVE A REPLY