Kembali ke Zaman Batu!

0
406

batu-1Dalam suatu pesta perkawinan di Meulaboh, para tamu yang berdatangan dari Pekanbaru, Sibolga dan Tapanuli telah bertemu di dalam satu-satunya isu, yaitu isu batu. Keluarga yang tinggal di Meulaboh rupa-rupanya kondangan dengan membawa-bawa batu di tas mereka. Dan sungguh beruntung tamu-tamu dari luar itu. Mereka pulang dengan dibekali batu-batu. Demikianlah saudara sepupu saya bercerita.

Di Kota Medan, pusat perbelanjaan Palladium seolah-olah bangkit dari liang kubur. Selama ini mall yang berdampingan dengan Kantor Walikota Medan itu tercatat sebagai tempat perbelanjaan moderen yang paling sepi. Para tenant pun meninggalkannya. Tapi siapa sangka, batulah yang akhirnya menghidupkan gedung sebesar itu. Ketika Asosiasi Pecinta Batu Permata Sumatera Utara mengadakan Pameran dan Kontes Batu Mulia Indonesia dari 22 hingga 25 Januari 2015 di Atrium Palladium, ribuan pengunjung berjubel dan berdesakan di pameran tersebut. Mereka menggila seperti menonton konser panas di lapangan terbuka. Transaksi terjadi dalam aneka macam batu akik, batu berharga dan batu mulia, mulai dari yang harga puluhan ribu rupiah hingga yang ratusan juta rupiah.

Ruang parkir kendaraan selalu penuh, baik di dalam gedung, di pinggir jalan, hingga pekarangan Kantor Walikota Medan. Di depan pintu lift, pengunjung harus sabar menunggu giliran. Pameran yang dilakukan di dua lokasi, yaitu di atrium dan lantai tiga, membuat arus manusia seperti gelombang pengungsian. Dan dasar penggila batu, meskipun mereka berasal dari berbagai kalangan, tempat dan status sosial, sifatnya sama saja. Dengan karakter yang beragam, tidak ada yang dapat mencegah mereka merokok sembarangan. Air conditioner tak ada lagi gunanya. Dan jadilah Palladium Mall yang mewah menjulang itu seperti pasar malam atau pajak ikan.

Saya menyukai batu berharga, meski tidak segila orang-orang ini. Mereka bisa memakai lima batu cincin sekaligus di jari-jarinya, saya cuma satu saja. Mereka memakai batu cincin sebesar batu mangga yang untuk cor beton, saya cuma pakai yang sebesar kerikil saja. Tentu saja pameran batu asli ini menarik hati saya juga untuk datang. Mana tahu ada yang cocok di mata, dan cocok pula di kantong. Sabtu, 24 Januari 2015, saya dan istri tiba lokasi pameran batu terbesar di Sumatera ini. Dari jalan saja, kita sudah melihat manusia berkerumun di atrium. Mereka terlihat aneh dengan posisi tubuh yang sama, yaitu mengeker-ngeker dan mengintip-intip sesuatu. Masing-masing memegang senter kecil yang mereka beli di lokasi pameran seharga Rp 40 ribu sebiji. Di ruangan yang terang benderang itu, sungguh lucu melihat ribuan orang membawa-bawa senter. Saya jadi teringat kisah sufi Rabiyah Adawiyah, sufi perempuan yang sangat terkenal dari Basyrah, ketika beliau membawa lampu untuk mencari cahaya di siang hari dan membuat orang-orang kebingungan.

tiff infomationYa, bagi para penggila batu, setiap batu tidaklah semata-mata batu. Mereka mencari sesuatu di dalam batu. Sesuatu yang tidak terlihat kasat mata, sesuatu yang unik, bermakna, indah, dan hal-hal yang membuat sebongkah batu itu terasa istimewa. Keistimewaan batu itu biasanya baru akan ditemukan apabila ia sudah diberikan cahaya. Apakah batu itu akan menyerap cahaya, memantulkannya, memberikan warna, menyembunyikannya, atau memperlihatkan suatu pola yang bermakna? Setelah menemukan sesuatu yang cocok, mereka bisa membelinya dengan harga yang terdengar irasional dan mengasahnya sebagai “cincin sakti” atau perhiasan tangan yang dianggap dapat menambah kegantengan pemakainya hingga tiga kali lipat. Demikianlah kira-kira.

Di kawasan pameran ini, berdatangan sejumlah profesi yang berkaitan dengan dunia perbatuan. Ada yang dipanggil dukun, ustadz, kyai, dan ada pula para ahli profesional yang sudah berpengalaman dalam mengidentifikasi batu, atau katakanlah semacam kurator batu. Pendapat para kurator ini bisa mempengaruhi nilai sebuah batu di pasar. Batu-batu ini juga bisa naik kelas dengan cara lain, yaitu melalui sejarah pemakainya, atau prestasinya dalam suatu lomba batu. Ada batu yang dianggap mengandung “isi”. Entah apa yang mereka maksud dengan “isi” itu, kita pun tak tahu. Tapi mereka membicarakannya secara serius, berbisik-bisik, penuh hikmat dan keyakinan di berbagai sudut dan kesempatan. Mungkin maksudnya adalah jin, jimat, tuyul atau semacamnya. Itu biarlah menjadi urusan mereka saja.

batu-5Saya mulai gerah dengan suasana yang hingar bingar ini. Setelah mengelilingi semua stand dan mendengar penjelasan para pemilik batu tentang keistimewaan batu mereka masing-masing, kepala saya mulai pusing. Terlalu banyak batu yang indah dan berharga di sini. Keserakahan pun mulai menjangkiti hati saya, sehingga saya agak kecewa ketika hanya bisa membawa satu batu murah dari jenis sprytus seharga Rp 200.000. Istri saya melotot ketika seorang pemilik batu dari Aceh menunjukkan sebongkah batu lumut aceh mentah sebesar kepalan tangan yang terlihat jelek sekali dengan harga Rp 80 juta.

“Apa bagusnya batu ini?” katanya meledek.

“Makanya harus belajar batu, Bu!” balasnya pula. Ia langsung buru-buru mengambil senter kecil dan mengarahkan cahayanya ke bawah batu itu. Kami tercengang, batu yang kotor dan jelek itu tiba-tiba seperti lampion yang menyala demikian terangnya. Cahaya itu bagaikan terperangkap di dalam sana, membentuk warna yang indah. “Nah, lihat kan?” kata si Aceh itu penuh rasa kemenangan.

Dan batu itu tidak bisa ditawar. Busyet!

***

Ada berbagai kategori dan klasifikasi batu berharga atau batu permata (gemstone), menurut jenis dan tingkat kekerasannya. Tingkat kekerasan batu diukur berdasarkan satuan Mohs dengan skala 1-10. Satu-satunya batu yang digolongkan menduduki skala puncak (10) adalah intan. Kemudian menyusul kelompok batu yang juga termasuk papan atas, yaitu safir dan ruby. Di level menengah adalah topaz dan jamrud, yang kemudian disusul oleh batu-batu akik maupun giok.

Sedangkan dari jenisnya, batu-batu permata memiliki banyak nama dan ragam. Setiap bangsa mungkin saja memiliki etno-linguistik tersendiri untuk mengidentifikasi batu. Sebagian diidentifikasi berdasarkan unsur, warna dan mineral pembentuknya. Secara umum, jenis batu permata yang paling dikenal di dunia adalah batu akik, aquamarine, ametis, biduri laut, biduri bulan, ratna cempaka (topaz), berlian (intan), delima (biduri delima), chalcedony, giok (jade), kuarsa, mutiara, chrysoberyl (mata kucing dan alexandrite), pirus, safir, zamrud (emerald), ruby (merah delima), opal (kalimaya), spinel, bloodstone, tashmarine, akik bawang (chrysoprase), peridot, yakut (zircon), tourmaline, kinyang asap (smoky quartz), lapis lazuli (nila, lazuardi, atau akik lapis), malasit (biduri pandan), mata harimau (tiger eye), obsidian, oniks (onyx), dan sardonyx.

batu-9batu-10Di Indonesia sendiri, terdapat 10 batu permata yang sangat populer, antara lain batu bacan dari Halmahera Selatan, Maluku Utara, safir, zamrud, ruby, topaz, opal, sungai dareh dari Sumatera Barat, giok, kecubung dan lavender. Baru-baru ini, satu jenis batu lagi, yaitu batu lumut dan solar aceh, melejit ke dunia perbatuan sebagai salah satu jenis batu yang paling dicari. Batu ini ditemukan di daerah Meulaboh, Aceh. Popularitas batu ini bermula dari kasus penangkapan dua truk berisi batu permata yang oleh dua orang oknum TNI rencananya akan dikirim ke China. Ternyata batu-batu itu berasal dari sebuah perbukitan di kawasan Meulaboh, dan memiliki kualitas yang sangat baik.

Beberapa jenis batu memang mengalami naik daun semata-mata karena sebuah momentum saja. Misalnya, batu dareh tiba-tiba menjadi pokok pembicaraan setelah mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan batu tersebut sebagai cinderamata kepada Presiden AS Barrack Obama dalam pertemuan mereka di Indonesia.

batu-11batu-3Lain halnya dengan batu aquamarine. Batu ini menjadi sangat digemari oleh orang-orang Eropa hanya gara-gara Kaisar Brasil, Dom Pedro, dikatakan pernah memiliki aquamarine paling bagus yang pernah ditemukan sepanjang sejarah perbatuan. Lalu, di tahun 1906, putri Presiden Amerika, Theodore Roosevelt, konon telah diberikan batu aquamarine sebagai hadiah. Dan sejak itu batu aquamarine meningkat popularitasnya.

Begitulah batu-batu itu dikenal dan diburu oleh para penggemarnya. Di Indonesia, sejumlah batu dicari karena faktor mistiknya. Namun bagi para ahli gemstone sendiri, telah ada semacam konvensi bersama mengenai kualitas suatu batu. Mereka menyusun parameter-parameternya secara spesifik untuk tiap jenis batu. Nah, dengan parameter tersebutlah Asosiasi Pecinta Batu Permata Sumut mengadakan perlombaan batu permata di Palladium Medan. Perlombaan itu sendiri memperebutkan Piala Walikota Medan. Tidak kurang dari 30-an pengusaha gemstone se-Indonesia turut ambil bagian dalam lomba yang dianggap sangat prestisius ini.

Di luar ajang pameran dan lomba, Indonesia belakangan ini memang sedang demam batu. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba batu-batu itu menarik perhatian banyak orang dan menjadi tema pembicaraan yang umum. Para penjual batu menyebar ke mana-mana, di kaki lima, bahkan sampai ke gang-gang sempit. Di mana ada penjual batu, di situ orang berkerumun sambil mengintip-intip sesuatu di dalam batu itu. Mungkin Anda pun sudah perlu mengoleksinya, paling tidak satu.

LEAVE A REPLY