Kembali Merasakan Perjalanan dengan Kapal Laut

0
2214
kapal s
Sunrise di Selat Malaka.

Tartakuakkakkkkk!!! Beberapa dagangan ayam jago sitaan berteriak kencang di dalam kapal penumpang Pelni yang berlayar di Selat Malaka. Meskipun terkunci di ruangan karantina suaranya lantang seolah-olah belum terjadi sesuatu pada dirinya. Bunyi ayam itu berbarengan dengan pemberitahuan dari awak kapal bahwa subuh akan dilakukan berjamaah di dek tujuh. Satu dua orang mulai bergegas membasuh muka dan menaiki tangga. Mereka akan sholat dengan terlebih dahulu melihat arah dua kompas yang tersedia di musholla. Kiblat tetaplah di barat, tapi posisi kapal selalu berubah.

Sinar matahari pagi menyapa. Di dek delapan, dek yang paling teratas, sosok manusia yang masih manja dengan sarungnya mulai jelas terpapar surya yang lembut. Mereka mengisi semua kursi kafetaria KM Kelud yang melintasi Belawan – Tanjung Balai Karimun – Batam – Tanjung Priok. Mereka yang bergelut di sini karena beberapa alasan dan masalah. Ada sekedar menyukai menghirup udara bebas, atau mereka yang ingin mengisap rokok dengan meninggalkan seat yang sudah dibelinya. Ada juga yang sengaja kucing-kucingan dengan petugas penertiban karcis.

Saat ini memilih moda seperti kapal besar penumpang bukanlah menjadi pilihan utama para pejalan. Di samping kalah bersaing dengan pesawat baik karena ongkos dan kecepatan, rute kapal yang memenuhi rute jauh tergolong sedikit. Bagi orang Medan misalnya hanya ada satu pilihan jika ingin ke Propinsi Kepri atau melanjutkannya ke Jawa. Kapal yang kita maksud adalah KM Kelud milik Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni).

dek 7
Di dek tujuh, penumpang bisa memandang-mandang ke laut dan bebas merokok dengan udara lepas.

Rute yang dijalaninya cukup sederhana, yakni Pelabuhan Belawan di Sumatera Utara, Pelabuhan Tanjungbalai Karimun di Propinsi Kepulauan Riau (Kepri), Pelabuhan Sekupang di Propinsi Kepri dan berakhir di Tanjung Priuk Jakarta Utara. Dengan kecepatan waktu yang kalah jauh dengan pesawat terbang, kapal ini membutuhkan waktu sehari semalam dari Pelabuhan Belawan ke Pelabuhan Sekupang Batam. Kemudian dibutuhkan waktu sekitar satu hari satu malam lebih untuk sampai ke Tanjung Priok. Jadwal keberangkatan dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain juga sangat longgar. Kapal Pelni dari Pelabuhan Belawan berangkat hanya tiga sampai empat kali sebulan.

Meskipun orang-orang sudah mulai membicarakan tamatnya kendaraan penumpang seperti hal yang sama terjadi pada rute bus antar kota antar propinsi, tapi nyatanya tidak persis sama sekali. Kapal penumpang rute jauh telah berevolusi agar dapat “hidup”. Kapal ini tidak berubah seperti evolusi mamalia darat ke laut seperti ikan paus yang merubah bentuk dirinya sesuai dengan lingkungan laut, tapi kapal Pelni hanya merubah isi perutnya saja.

Jamaah
Jamaah yang menyebarkan agama dengan kendaraan laut yang masih terjangkau.

Jika dahulu pelayaran sejenis dikategorikan istimewa dan salah satu moda eksklusif bagi kalangan bisnis, saat ini kapal penumpang lebih banyak diisi oleh para backpacker, pedagang kecil lintas propinsi, perantau muda dan segelintir pecinta kapal dan orang-orang dengan tujuan khusus seperti jamaah tabligh yang ingin berdakwah dengan modal ringan dan tujuan besar. Memang tersedia beberapa kelas yakni kelas 1A, 1B, 2A, 2B, Ekonomi dan Ekonomi Wisata tapi kelas 1 dan 2 tergolong sepi penumpang. Kelas 1 dan kelas 2 dihargai Rp 350.000 hingga Rp 682.000 untuk rute Belawan – Sekupang Batam. Dengan tarif yang sama, sebenarnya sudah bisa menjangkau tiket pesawat. Kelas ekonomi selalu menjadi primadona. Tarif yang ditawarkan dengan tujuan yang sama senilai Rp 180.000, dengan catatan makan ditanggung sampai ke tujuan.

Ada delapan dek kapal Pelni KM Kelud. Dek dua sebagai dek terbawah hingga dek empat masuk dalam kelas ekonomi dan ekonomi wisata. Dek lima sampai dek tujuh adalah kelas satu dan dua. Dek empat boleh dikatakan sebagai jantungnya kapal. Di sanalah aktifitas tertinggi terjadi. Pemilik tiket ekonomi tumpah ruah di situ. Barang-barang bawaan yang ternyata adalah barang dagangan berupa hasil pertanian, ayam, petai, hingga ikan asin juga saling berlomba aroma. Meskipun ruangannya ber-AC, oksidasi barang-barang dan penguapan keringat penumpangnya sendiri mengalahkan kekuatan AC yang memang diatur tidak terlalu kencang.

Penumpang di dek empat didominasi oleh penumpang langganan. Mereka adalah pedagang reguler antar propinsi antar pulau. Sering sekali penumpang langganan ini meski mendapatkan tiket di dek dua atau tiga pindah ke dek empat, serta merta membawa kasurnya. Sebagian lagi adalah penumpang berkala yakni yang sudah terbiasa dengan kapal, seperti perantau yang bekerja di salah satu tujuan ataupun sebuah jamaah meskipun orangnya bertukar-tukar. Selebihnya adalah pendatang baru yang kebetulan mendapatkan seat di dek empat ketika membeli tiket pada travel agent.

Penumpang langganan tadi tidak risau dengan non seat kala membeli tiket di penghujung batas waktu. Mereka bisa saja meminta kasur kepada awak kapal yang sudah seperti kawan mereka sendiri lalu menggelarnya di antara seat permanen yang sudah ada. Bahkan mereka lebih menyukai dekat dengan barang bawaan yang sengaja diletak di antara lorong-lorong yang kosong. Pintu keluar masuk kapal juga ada di dek empat. Jadi dek empat menjadi sentralnya peletakan barang-barang.

0020Jika jam makan telah tiba, pantry di dek empat menjadi “kepala ular”. Penumpang ekonomi dari dek dua hingga dek empat mulai membentuk antrian ular yang meliuk-liuk sepanjang 30 meter. Di depannya terbentuk pasar kagetan penjaja ikan tambahan berupa ikan teri goreng, telur asin hingga petai mentah. Sedangkan di kelas satu dan dua, sajian makan diantar ke biliknya masing-masing. Sebelumnya sudah terdengar dari pengeras suara bahwa hidangan sudah tersedia dan harap membawa tiketnya kembali.

Sebenarnya awak kapal melarang keras berjualan di dalam kapal. Tapi pedagang adalah penumpang setia yang jika dilarang akan merugikan pihak kapal sendiri. Pedagang kecil itu menjajakan barangnya untuk menekan ongkos regulernya.

Untuk membunuh waktu si pembawa bosan, pihak kapal memberikan beberapa pilihan hiburan. Ada aneka permainan anak-anak, karaoke, berdansa dengan pasangan masing-masing, bioskop dan kafetaria. Tayangan bioskop paling sering diumumkan bahwa di dek dua akan diputar film lengkap dengan sinopsis cerita dan pemerannya.

Dipastikan beberapa kali penumpang melihat sunrise dan sunset selama perjalanan. Meskipun kapal penumpang telah berevolusi tapi tranfortasi laut ini memberi kenyamanan tersendiri. Kapal besar minim goncangan. Kita seperti di dalam rumah besar yang telarung di sungai yang tenang. Di Selat Malaka. Silahkan mencoba.

(Teks & foto oleh Akhmad Junaedi Siregar)

 

LEAVE A REPLY