Kisah Namora Ompu Sende dan Pemindahan Makamnya dari Lobu Sihopuk  

0
929

Namora Ompu Sende adalah tetua kampung Sihopuk, sebuah kampung di dekat perbatasan Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) dengan Kabupaten Labuhan Batu Selatan (Labusel), Sumatera Utara yang berdiri atas jasanya. Almarhum adalah pembuka kampung Sihopuk sekitar 300 tahun yang lalu. Konon ceritanya, wilayah kampung ini diberikan Raja Tambak Huta Godang kepada beliau sebagai hadiah kegigihannya memenangkan peperangan melawan Sultan Kota Pinang. Namora Ompu Sende membantu Raja Tambak Huta Godang bersama saudaranya, Namora Ompu Toga.

Mendapat hadiah tanah yang luas, Namora Ompu Sende berniat membuka kampung. Beliau kemudian menyusuri hutan untuk menentukan lokasi pembukaan kampung. Ompu Sende membawa seekor ayam jago, di mana ayam jantan ini akan dilepas. Jika ayamnya berkokok di satu tempat maka itu dianggap sangat baik sebagai pemukiman baru. Ayam itupun kemudian terdengar berkokok di daerah Aek Menek (air kecil), cabang dari Sungai Batang Galoga. Di sana hutan dibuka untuk memberi cahaya kebutuhan pemukim baru. Kampung ini dihuni Namora Ompu Sende hingga keturunannya sampai sembilan generasi.

Seiring waktu berjalan dan karena peningkatan kebutuhan dari pemukim yang terus berkembang, kampung ini pelan-pelan mereka tinggalkan secara bergelombang. Daerah baru yang mereka tempati kemudian persis di pinggiran Sungai Batang Galoga. Perpindahan ini melahirkan kampung Sihopuk Lama, Sihopuk Baru, dan Hutabaru Nangka. Kampung Sihopuk yang pertama itupun tidak lagi ditempati sama sekali dan namanya menjadi lobu (bekas kampung) Sihopuk.

IMG_2188
Menuju ke pemakaman.

Tahun 1970-an, jalan yang menghubungkan Gunung Tua dengan Kota Pinang dibangun pemerintah dengan konstruksi beton. Jalan ini melewati daerah Rondaman Palas yang merupakan wilayah Sihopuk. Jalan baru itu melancarkan lalu lintas. Pemukim Sihopuk Lama, Sihopuk Baru, dan juga Hutabaru Nangka pun ingin mendapatkan fasilitas tersebut sehingga mereka pelan-pelan pindah memadati pinggiran jalan aspal. Rondaman Palas pun kemudian berubah menjadi kampung baru sedangkan Sihopuk Lama, Sihopuk Baru, dan juga Hutabaru Nangka tidak lagi ditinggali dan gelar lobu disematkan ke ketiga desa itu.

Tapi sayang, pembuka kampung Namora Ompu Sende yang sudah dimakamkan di lobu Sihopuk tidak lagi terurus akibat jauh dari lokasi pemukiman baru. Akses jalan ke sana pun sangat sulit dan lobu itu sendiri sudah terbalut liarnya hutan, sehingga keturunannya yang ingin ziarah menjadi sangat kesulitan. Sesuai penuturan dari H. Tongku Parhimpunan Harahap, hal inilah yang menjadi pertimbangan untuk memindahkan makam Namora Ompu Sende dari lobu Sihopuk ke pinggir jalan raya dekat pemukiman yang dihuni keturunannya sat ini.

Pertimbangan tersebut mengetuk hati para keturunan Ompu Sende. Mereka sepakat untuk memindahkan makam leluhur mereka tersebut ke lokasi pemukiman agar mudah diziarahi. Tokoh masyarakat dan sekaligus keturunan Ompu Sende seperti Drs. H. Tongku Azhar Harahap, H. Tongku Parhimpunan Harahap dan semua keturunan Ompu Sende baik di perantauan maupun di Bona Pasogit memprakarsai acara pemindahan makam nenek moyang mereka tersebut.

IMG_2196
Sesaat sebelum Namora Ompu Sende dimakamkan kembali.

Mula-mula keturunan Namora Ompu Sende yang berada di Bona Pasogit (Sihopuk Lama, Sihopuk Baru dan Hutabaru Nangka) melakukan acara martahi ulu tot untuk memusyawarahkan segala sesuatu yang dalam kegiatan nanti. Setelah bulat mufakat, maka Drs. H. Tongku Azhar memberitahukan hasil musyawarah kepada seluruh keturunan Namora Ompu Sende yang ada di perantauan, sekaligus mengundang dan mengajak ikut dalam pendanaan kegiatan.

Keturunan Namora Ompu Sende di perantauan yang banyak membantu kegiatan ini antara lain Drs H. Palit Muda Harahap gelar Tongku Azhar adalah pensiunan Dosen IAIN Medan, Prof. Dr. Bakti Hamonangan Harahap, M.Sc gelar Tongku Mulia Raja Hamonangan pensiunan peneliti LIPI, Laksamana Pertama Raja Murni Harahap yang bertugas di Kementerian Pertahanan Jakarta, Ir. H. Indra Sakti Harahap, M.Si, Ketua ICMI Kodya Medan, merangkap Ketua Umum PSMS dan masih banyak yang lainnya. Mereka inilah di antara tulang punggung kesuksesan acara ini. Atas musyawarah yang cukup hangat, pemindahan makam dilaksanakan pada 04 April 2015 di halaman rumah Tongku Parhimpunan Harahap di Simpang Brakas, Desa Sihopuk Baru.

Sehari sebelum acara tepatnya hari Jumat, 3 April 2015, keturunan Namora Ompu Sende perantauan mulai datang satu persatu. Tenda-tenda sudah dibangun cukup megah. Satu ekor kerbau disiapkan sebagai “persyaratan” dan satu ekor lembu sebagai parjuhuton (perdagingan). Kerbau dan lembu dipotong pada Jumat sore. Mulai dari proses penyembelihan sampai memotong kecil-kecil dilaksanakan secara gotong royong oleh semua yang hadir, sebagaimana hal tersebut dilakukan pada masa lalu. Pada saat yang sama, di lokasi pemindahan makam juga sebagian sibuk menggali liang kubur untuk pemakaman besoknya. Saya termasuk salah satu di antaranya. Sebelumnya, Kamis 2 April 2015 makam Namora Ompu Sende sudah digali dari lobu. Saat penggalian terlihat tulang belulang Ompu Sende sebagian besar sudah menjadi tanah sehingga tulang yang diangkat tinggal sedikit. Di sampingnya ada sebilah keris dan juga tombak yang kedua alat tersebut sangat fungsional di masa itu. Tanah di sekitar jasad Namora Ompe Sende diangkat sekalian untuk dikuburkan kembali.

Sabtu, 4 April 2015, pemakaman pun dimulai. Sesuai undangan, Raja-raja Bona Bulu se- wilayah Tano Sapanjang Banua Sadesa, Luat Na Tolu Sadagulan yakni Halongonan, Gunungtua dan Purba Sinomba sudah hadir. Sutan Nalobi bertindak sebagai Panusunan Bulung, yaitu Raja Bona Bulu dari Desa Ujung Padang. Kiranya hadirin sudah dianggap lengkap, jenazah pun dibawa ke tengah khalayak.

Acara dimulai dengan mengadakan pasahathon horja terlebih dahulu. Maksudnya adalah menyerahkan horja (pesta) pada Raja-raja terutama kepada Raja Panusunan Bulung untuk melaksanakan niatan Suhut keturunan Namora Ompu Sende. Silih berganti dari Suhut dan Anakboru menyampaikan hata pasahathon. H. Tongku Parhimpunan menitikberatkan perlunya pemindahan makam ini sesuai alasan alasan yang sudah disampaikan sebelumnya. Giliran Sutan Soripada, beliau menyampaikan permohonan agar kiranya Raja-raja dan apalagi Raja Panusunan Bulung agar martoruk ni abara nian na laho pasaut patuluskon ahai na tarsurat di sitamunang ni Suhut Bolon. Kemudian Laksamana Pertama Raja Murni Harahap berpendapat tentang perlunya keturunannya menghormati para leluhur. Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para leluhurnya.

IMG_2315
Suhut manortor.

Hata pasahathon pun selesai, kini giliran Raja-raja menjawab. Satu persatu Raja-raja menjawab yang sebelumnya dialok-aloki oleh Paralok-alok”. Alok-alok adalah semacam nyanyian berisi sanjungan kepada Sang Raja yang akan menjawab. Terakhir menjawab adalah Raja Panusunan Bulung. Dalam kesempatan tersebut beliau menyempatkan berdialog dengan suhut tentang pilihan proses pelaksanaan menurut pilihan Suhut. Beliau mengajukan dua pilihan yaitu manortor dulu satu putaran di depan peti jenazah sebelum dimakamkan secara adat, atau manortor setelah pemakaman selesai secara agama. Sesuai musyawarah Suhut, maka pilihan pertama menjadi keputusan, dan seperti disampaikan Drs H. Tongku Azhar Harahap manortor-nya harus terlebih dahulu meluruskan niat agar tidak melenceng dari rel agama.

Utusan Suhut kemudian manortor mengelilingi peti jenazah kecuali arah Raja Panusunan Bulung sehingga membentuk formasi huruf “U”. Mereka diayapi anak boru di belakangnya. Jenajah kemudian diusung menuju lokasi pemakaman. Sebelumnya Drs H. Tongku Azhar memberi kesempatan yang sama bagi keturunan Namora Ompu Sende untuk mengangkat peti jenazah agar nantinya tidak ada merasa iri hati dan marah. Setiap kampung diwakili satu orang masing-masing dari kampung Sihopuk Baru, Sihopuk Lama, dan Huta Baru Nangka.

Jarak antara lokasi acara dengan pemakaman sekitar satu kilometer. Jarak itu tidak mengurangi semangat keturunan Namora Ompu Sende mengiringi pemakaman. Bahkan mereka kelihatan bahu membahu bergantian mengangkat peti jenazah. Sesampainya di lokasi, jenazah diletakkan di dekat liang kubur. Lalu kembali diatur perwakilan keturunan untuk memasukkan peti jenazah ke liang kubur. Jika sudah sesuai, penguburan pun dilakukan. Masing-masing  H. Tongku Parhimpunan Harahap, Laksamana Raja Murni Harahap, Sutan Soripada Harahap, Damhuri Harahap, Baginda Raya Harahap, Arifuddin Muda Harahap, Tongku Cende Parsadaan Harahap, Alham Hanafi Harahap, Tongku Parlindungan Harahap, Ardiansyah Harahap, Sutan Alam Harahap, dan anak boru mereka bergantian mencangkul tanah penimbun jenajah.

Anak boru selaku pangatak pangetong yang dalam kesempatan ini adalah Sutan Raja Guru Ritonga, Tongku Humaladari Hasibuan dan Sutan Guru Dalimunthe menutup acara dan mempersilahkan Raja-raja dan semua keturunan Namora Ompu Sende untuk kembali ke gelanggang acara. Di sana, silaturahmi kembali dijalin dengan pengenalan dan pembacaan keturunan Namora Ompu Sende yang sukses di perantauan.

Selepas bersantap siang, seluruh keturunan Namora Ompu Sende mulai dari Suhut, Anakboru dan Pisangraut dan Mora manortor bergiliran tentunya diayapi anak boru-nya masing masing.

Sebagai tortor penutup dari Suhut, empat orang keturunan Namora Ompu Sende berdiri, yaitu H. Tongku Parhimpunan, Laksamana Raja Murni Harahap, Prof. Tongku Raja Mulia Hamonangan dan Drs. Tongku Soripada Mulia Pinayungan. Abit godang diletakkan di bahu sebelah kanan mereka, baru kemudian gondang dimainkan dan paronang-onang mulai bernyayi, merekapun mengangkat tangan dan mulai manortor. Tidak lupa di belakang mereka anak boru mereka mangayapi, paronang-onang-pun menarik suara merdunya sehingga suasana semakin hikmat. Tak lupa paronang-onang menyebut nama-nama mereka satu per satu. Kemudian mereka membentuk lingkaran dan melanjutkan tortor. Mereka  berpegang tangan dan mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi ke atas, seolah-olah mereka ingin mengatakan kami keturunan Namora Ompu Sende kompak, akrab dan damai”.

Acara manortor dilanjutkan oleh anak boru. Abit godang (ulos) diletakkan di bahu sebelah kiri, mereka diayapi anak boru-nya juga. Ketika Sutan Raja Guru Ritonga manortor dengan jongkok, anak boru-nya yang mangayapi di belakang mengikuti jongkok yang lebih rendah. Posisi anak boru harus memang lebih hormat kepada mora-nya yang dia ayapi. Hal tersebut bisa terlihat pada saat manortor.

Horas, horas, horas! Pemakaman kembali Namora Ompu Sende dan acara adat yang mengiringinya telah usai.  Dan peletakan batu pertama Tugu Parsadaan Harahap Sihopuk telah dilakukan sebagai rangkaian acara. Semoga keturunan Namora Ompu Sende semakin kuat sebagaimana akan dibangunnya tugu parsadaan di pemukiman baru.

LEAVE A REPLY