Kitab Hijau di Taman Simalem Resort

0
447

trek-1Berapa banyak ilmu pengetahuan yang bisa Anda dapatkan dalam perjalanan sepanjang 1.100 meter?

Alam liar adalah “kitab yang hijau”. Di Taman Simalem Resort, Tanah Karo, Sumatera Utara, mereka menyediakan “kitab hijau” ini dalam bentuk sebuah trek yang sejuk di dalam hutan tropis liar. Trek ini dimulai dari pintu rimba, melewati semak perdu, akar-akaran, dan berpapasan dengan aneka pohon besar lengkap dengan segala parasitnya.

Sejak melewati pintu rimba, kita telah disuguhi dengan berbagai informasi berupa nama-nama ilmiah dan nama lokal dari pohon-pohon utama. Para ranger yang memandu kegiatan trekking juga membantu memberikan penjelasan yang lebih terperinci tentang ciri-ciri pepohonan. Sebagian di antaranya ternyata sangat langka. Bahkan ada yang tergolong endemik (hanya dapat tumbuh di lokasi yang khusus pada daerah tertentu).

pintu rimbaKetika kami melewati trek ini di pertengahan Januari, musim hujan sedang beralih menuju kemarau. Sesekali hujan masih turun, dan kabut dingin sering mewarnai pemandangan. Pada saat ini, sejumlah pohon menjatuhkan kelopak-kelopak bunganya ke tanah. Pada saat beberapa pohon sedang berbunga, yang lain justru sedang melapuk karena usianya. Kehidupan liar menjalankan siklusnya. Di batang yang lapuk, aneka jamur berkembang seperti kupu-kupu yang berwarna-warni. Batang itu kelak akan terurai dan membusuk di tanah, di mana ribuan bibit baru akan tumbuh menggantikannya dengan bantuan matahari.

pohonhutanMengamati berbagai cara hidup tanaman unik di dalam hutan, kami lalu mendapatkan sebuah pengetahuan dasar, bahwa segala kehidupan yang terlihat sangat acak di dalam hutan adalah terhubung satu sama lain dalam keseluruhannya. Di atas hamparan tanah humus setebal empat meter, semua makhluk hidup menjalankan fungsinya, sebagai pelopor, pengembang, dan pengurai. Kita mengenalnya dengan sebutan ekosistem.

“Lihat ini!” kata Bang Icon, koordinator seluruh kegiatan di Taman Simalem Resort. Dia menunjuk sebatang manggis hutan yang sedang berbunga. “Lihat, pada batang pohon ini terdapat banyak lumut. Dengan lumut ini kita dapat mengetahui darimana matahari terbit. Lumut hanya dapat tumbuh dalam kelembaban yang cukup. Karena itu ia akan lebih banyak tumbuh di bagian yang tidak terkena matahari. Itulah sebabnya bagian batang pohon yang minim lumutnya dapat memberikan kita informasi bahwa di arah tersebutlah matahari terbit”.

tanaman membelitPengetahuan hukum-hukum dasar di dalam hutan memberikan manfaat bagi para petualang. Seorang petualang yang tangguh tidak akan tersesat jauh meskipun ia tidak punya kompas. Cukuplah hukum alam baginya. Ini semua sangat mengagumkan bagi kami.

“Nah, lihat juga ini!” Kali ini bang Icon menunjuk tanah di antara belukar. “Bagian yang lapang ini pastilah jalur perjalanan hewan. Bisa jadi kawanan babi, bisa juga pelanduk, dan sebagainya. Untuk mengidentifikasinya, kita bisa melihat jejak kakinya. Nah jejak ini sepertinya milik babi. Seluruh jalur hewan ini pada akhirnya pasti akan terhubung dengan sungai atau sumber air. Kalau kita menelusurinya, maka kita dapat menemukan air”.

Masuk akal!

“Satu hal lagi,” jelas Bang Icon seolah tak membiarkan kami berhenti berpikir. “Setiap kawanan hewan umumnya melalui jalur yang sama setiap hari, kecuali ada peristiwa luar biasa seperti longsor atau ada pemangsa di jalur itu. Karena kebiasaan hewan yang setia melalui jalur yang sama itu, para pemasang perangkap telah mengetahui dimana alat perangkapnya dipasang. Itu adalah pengetahuan nenek moyang kita dahulu.”

Tiba-tiba terlintas pertanyaan di benak saya.

“Bang Icon! Apakah hewan liar masih banyak di sekitar sini?”

“Tentu saja. Kita bisa lihat jalur-jalurnya di sini.”

“Hewan kan selalu hidup dengan rantai makanan?” Tiba-tiba saja saya teringat pelajaran Biologi ini.

“Ya, pastilah demikian.”

“Berarti? Kalau ada babi dan hewan-hewan herbivora di sini, tentu ada juga…”

“Ada apa?” Bang Icon sepertinya mulai mengetahui arah pertanyaan saya.

“Apakah hutan ini terhubung dengan Leuser?”

“Ya, ada koridor-koridornya.”

“Berarti ada kemungkinan kita akan ketemu Si Raja Hutan?”

“Hahaha…” Bang Icon tertawa keras. “Secara teoritis iya. Tapi seberapa besar pun keinginan kita untuk tidak bertemu dia, lebih besar lagi keinginannya untuk tidak bertemu kita. Manusialah yang berburu harimau. Harimau tidak pernah berburu manusia. Selama kita tidak mengganggu, dia tidak akan mengganggu.”

Kami cukup lega mendengarnya. Untuk menjaga kelestarian hutan dan ketenangan seisinya, para ranger harus mengucapkan sumpah untuk tidak menebang sebatang pohon pun di hutan. Sumpah itu mereka ucapkan secara hikmat di bawah sebatang pohon susu yang mereka adopsi kemudian sebagai Pohon Sumpah. Pohon itu berdiri di tengah trekking dengan ukuran satu pelukan manusia. Dengan demikian, manusia dan seisi hutan bisa saling menjaga batasannya masing-masing.jamur-1bungajamurSemakin memasuki bagian dalam hutan, cuaca semakin sejuk. Beberapa pohon Taxus sumatrana mengeluarkan oksigen yang membuat paru-paru serasa meluas dan ringan. Kami semakin bersemangat, apalagi setelah mendengar deburan arus sungai dan air terjun.

Di tengah jalan, Bang Icon menunjukkan buah-buahan kecil yang berserakan di atas humus. Ia memungut beberapa di antaranya. “Ini bisa dimakan. Hewan-hewan lain sudah memakannya,” katanya.

Itu adalah buah pukat hutan. Ukurannya hanya sebesar jempol kaki. Aroma dan bentuknya persis seperti pukat. Kami mendapat pengetahuan baru lagi untuk mengidentifikasi buah-buahan yang bisa dimakan dan yang tidak bisa dimakan. Petualang di dalam hutan harus mengikuti perilaku hewan. Apa yang mereka makan, bisa juga kita makan. Karena itu, hati-hatilah dengan buah yang tampak ranum dan cantik tanpa cela. Bisa jadi rupanya indah dan mengundang selera, tapi itu justru menandakannya sebagai buah beracun karena hewan saja pun tidak mau mengganggunya.

twin waterfallKami lalu mencicipi buah pukat hutan. Rasanya memang manis, wangi dan lembut. Tapi sayang, kami hanya bisa mencicipi bekas sisa hewan lain. Ini sungguh memalukan. Di hutan, kita seolah-olah menjadi hewan yang paling bodoh.

Akhirnya kami sampai juga ke penghujung trek. Twin Waterfall—demikian mereka menamainya— sudah tampak di depan. Dua air terjun mengalir abadi dan jatuh menimpa batu-batu besar di bawahnya. Batu-batu itu membentuk formasi acak dimana para pengunjung dapat membuatnya sebagai kursi alam untuk menikmati panorama sekitarnya. Twin Waterfall menjadi atraksi puncak trekking ini. Airnya kemudian mengalir sebagai sungai yang bermuara di Danau Toba.

Saat ini, para ranger di Taman Simalem Resort sedang merintis jalur trek baru dengan jalan melingkar dari yang sebelumnya backtrack. Jalur baru itu akan menyeberangi sungai dan berujung pada camping ground di bagian hilir sungai. Menurut informasi para ranger, jalur rintisan itu akan diselesaikan dalam waktu tidak berapa lama lagi sehingga aman dilalui para pengunjung yang ingin memahami ilmu hutan lebih banyak lagi.

LEAVE A REPLY