Lima Makanan Tradisional Tersaji dalam Pelantikan Pengurus Akademi Gastronomi Indonesia (AGI) Sumut

0
944

agi-arsik agi-cipera agi-gulai ikan sale agi-tauco kerang bawangSebanyak 5 jenis makanan tradisional dari etnik yang berbeda-beda di Sumatera Utara disajikan sepanjang prosesi pelantikan pengurus Akademi Gastronomi Indonesia (AGI) Sumut yang dilaksanakan, Senin, 19 Mei 2014, di Gedung Balaikota Lama, Grand Aston Residence & Cityhall Medan.

Kelima menu tersebut masing-masing anyang ayam jantung pisang, tauco kerang bawang, ayam cipera, gulai ikan sale, dan arsik ikan mas. Selain itu, tim chef dari Indonesian Chef Association (ICA) Medan yang dipimpin oleh Chef Basri juga melengkapi sajian mereka hari itu dengan 3 makanan penutup, yaitu pohul-pohul, kue rasida, dan kue pulut srikaya.

Anyang ayam jantung pisang adalah produk budaya masyarakat Melayu yang lazimnya disajikan sebagai hantaran calon pengantin. Sedangkan tauco kerang bawang merupakan makanan khas pesisir Asahan dan Batubara yang biasanya disajikan untuk menjamu para tamu. Tiga jenis makanan lainnya adalah mewakili masyarakat pegunungan dan pedalaman, yaitu ayam cipera dari suku Karo, arsik ikan mas dari Toba dan gulai ikan sale dari masyarakat Mandailing-Angkola. Ayam cipera (cipera manuk kuta) disajikan pada saat pesta panen (rani) dan acara adat perkawinan. Sedangkan arsik ikan mas (dengke ni arsik atau lompan) dan gulai ikan sale merupakan sajian sehari-hari masyarakat Toba, Angkola dan Mandailing, meskipun lebih wajib pada acara-acara yang terkait adat lokal.

Adapun makanan penutup berupa pohul-pohul  (itak) selalu dibuat sebagai buah tangan pihak bride giver (pihak pengantin perempuan) atau yang dalam etnik Simalungun dan Karo disebut sebagai kalimbubu (mora, hula-hula) kepada pihak pengantin laki-laki. Sedangkan kue rasida berasal dari Melayu Deli yang disajikan dalam acara hadap-hadapan di majelis perkawinan. Adapun kue pulut srikaya juga berasal dari masyarakat Melayu secara luas, yaitu meliputi Melayu Deli, Serdang, Riau, hingga Semenanjung Malaysia. Rasanya yang manis membuatnya lazim disajikan sebagai menu pembuka puasa.

Ketua AGI Pusat, Vita Datau Messakh.
Ketua AGI Pusat, Vita Datau Messakh.

Ketua Akademi Gastronomi Indonesia (AGI) Pusat, Vita Datau Messakh, mengatakan, mereka sengaja menghadirkan menu-menu tradisional lokal dengan menggandeng para chef dari ICA sebagai isyarat bahwa AGI memang memberikan titik perhatian yang lebih besar kepada menu-menu warisan kuliner Indonesia.

“Kami adalah kumpulan penikmat makanan warisan Indonesia yang menghimpun diri untuk melakukan usaha-usaha terhadap keberlangsungan kuliner kita dan mempromosikannya secara nasional maupun internasional,” kata Vita.

Ia juga menjelaskan bahwa gastronomi adalah istilah yang masih relatif kurang dikenal di Indonesia. Sedangkan di Eropa, Amerika dan beberapa negara Asia yang memiliki budaya tinggi dalam hal makanan seperti Jepang dan Korea, istilah ini telah berkembang sebagai industri yang dapat menaikkan citra budaya, sejarah dan identitas sosial.

“Gastronomi adalah bidang yang meletakkan perihal makanan sebagai ilmu dan estetika. Jadi bukan hanya soal enak atau tidak, tapi mencakup disiplin ilmu yang lebih luas, termasuk di antaranya kandungan gizi, nutrisi, dan teknik presentasi makanan. Kita juga concern terhadap sejarah makanan, lingkungan yang membentuknya dan nilai-nilai yang mendasari penyajiannya. Sehingga gastronomi dapat diumpamakan sebagai kajian yang mencakup hulu sampai ke hilir tentang makanan,” jelas Vita.

Pihaknya berharap, dampak dari kegiatan akademi ini di masa mendatang adalah berpartisipasi menjadi penggerak ekonomi daerah dengan munculnya destinasi baru karena daya tarik kulinernya.

Plt. Walikota Medan, T Dzulmi Eldin, mencicipi makanan tradisional yang dihidangkan.
Plt. Walikota Medan, T Dzulmi Eldin, mencicipi makanan tradisional yang dihidangkan.

Plt. Walikota Medan, T. Dzulmi Eldin, turut menghadiri pelantikan pengurus ini dan menyempatkan diri untuk memberikan kata sambutan. Ia mengatakan bahwa Kota Medan memiliki banyak produk makanan tradisional karena keberagaman suku dan etnik yang tinggal di kota ini. Oleh karena itu ia mendorong AGI Sumut dan asosiasi-asosiasi chef untuk turut berperan menghadirkan makanan-makanan tradisional di restoran-restoran yang ada di Medan. “Makanan tradisional dapat dipertahankan keberlangsungannya apabila ia masuk ke dalam industri kuliner. Karena itu, mari mempopulerkannya di hotel dan restoran, agar citranya lebih terangkat ke level yang lebih tinggi,” katanya.

Plt. Walikota Medan berfoto bersama Ketua AGI Pusat, Ketua AGI Sumut terpilih, dan para pengurus AGI Sumut.
Plt. Walikota Medan berfoto bersama Ketua AGI Pusat, Ketua AGI Sumut terpilih, dan para pengurus AGI Sumut.

Ketua yang terpilih untuk memimpin AGI Sumut adalah Vita Pahlevi. Bersama ICA dan institusi pendidikan pariwisata, khususnya kuliner, Vita Pahlevi menyatakan bahwa pihaknya telah menetapkan program penggalangan jaringan kerja, pendataan dan seleksi makanan lokal, serta pencarian bakat-bakat baru pelaku industri makanan di Sumatera Utara.

(Tikwan Raya Siregar)

LEAVE A REPLY