M. Arif Wibowo, Direktur Utama Garuda Indonesia

0
428
M. Arif Wibowo (Foto: indo-aviation.com)
M. Arif Wibowo (Foto: indo-aviation.com)

 

Kemayoran, Rabu 12 Mei 2010. Ini adalah cerita masa lalu. Yaitu, tentang M. Arif Wibowo, Dirut baru Garuda Indonesia, yang pertama kali kami kenal empat tahun lalu.

Waktu itu, ia tengah sibuk mempersiapkan penerbangan perdana Garuda Indonesia ke Bandara Schippol, Amsterdam, Belanda. Di sela-sela keruwetan itu, ditambah beban koordinasi real time dengan para anggota board of directors untuk wilayah barat Indonesia, kami cukup kurang ajar untuk mengganggunya. Tapi kalau harus menunggu waktu senggangnya, itu sama saja dengan urusan waiting for godot. Mana ada waktu senggang bagi Senior General Manager Area Western GA ini!

Kami tiba di lantai dua Kantor Garuda Indonesia Kemayoran, Jakarta, pada jam kerja. Dari lantai inilah Arif Wibowo mengendalikan kompleksitas operasional sebuah penerbangan flag carrier untuk wilayah barat Indonesia, termasuk penerbangan-penerbangan dari wilayah itu untuk tujuan luar negeri. Dengan demikian, secara praktis sebenarnya hampir seluruh tanggung jawab operasional GA ada di pundaknya. Ketika itu, aktivitas GA di wilayah timur masih sedikit sekali. Jadi, beban itu tidak sederhana bagi pria berusia 44 tahun ini, terutama karena ia harus memimpin gerbong board of directors yang sebagian besar anggotanya jauh lebih senior darinya.

Sepasang stik golf terletak di salah satu sudut ruangan kerjanya yang berukuran kira-kira 4 x 5 meter. Kiranya barang itulah satu-satunya hiburan di kantornya. Di luar stik golf, yang ada hanyalah perlengkapan yang berhubungan dengan pekerjaan, sehingga terasa membosankan bagi kami.

Handphone-nya terus bergetar, memotong-motong sesi perkenalan, dan ia harus membagi pikirannya antara kami dengan seseorang di ujung telepon sana. Rasanya kami menjadi cemburu dengan situasi ini. “Maaf, saya harus menjawab ini,” katanya setiap kali melihat nomor-nomor di layar HP-nya. Ya, rasanya semua panggilan itu penting saja baginya, dan selalu dijawabnya.

“Di era sekarang ini, tidak ada lagi kata menunggu. Saya meminta semua cabang melaporkan aktivitas penjualan setiap hari. Kalau perlu, real time. Bila ada masalah, harus segera dicari penyelesaiannya. Garuda Indonesia sedang melakukan lompatan, dan kalau lompatan itu kurang jauh maka kita bisa masuk ke dalam jurang. Untuk melakukan itu, tugas terberat kami adalah melakukan perubahan kultur kerja. Masalah teknis bisa dihitung dengan bantuan ilmu pasti, tapi masalah etos, karakter dan budaya kerja membutuhkan satu periode,” paparnya ketika menjelaskan tantangan yang dihadapi Garuda Indonesia.

Tidak seperti streotip Jawa yang cenderung kompromistis dan tepa selira, lelaki kelahiran Banyumas, 19 September 1966 ini justru tampak impulsif, lepas dan responsif terhadap ide-ide baru. Bahkan ia bisa memutuskan sesuatu pada detik itu juga, asalkan masuk logika serta berada di bawah zona wewenangnya. Seperti analogi para pakar manajemen, ada saja para manajer yang memiliki tipe nge-gas, dan ada pula yang tipe nge-rem. Arif adalah tipe pertama. Ia percaya bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Dan meminjam istilah sepakbola, striker terbaik adalah mereka yang piawai mengeksekusi bola pada first time kick.

Menurut Arif, Garuda Indonesia sudah merampungkan misi flight back ke rute-rute domestik yang pernah ditinggalkan. Bahkan kini mulai mengembangkan rute-rute baru yang diperkirakan akan berkembang pasarnya. Dan ketika Garuda Citilink didirikan untuk menampung pasar menengah yang selama ini dipanen oleh penerbangan asing, Arif Wibowo telah menjadi pilihan satu-satunya untuk menjadi pimpinan armada penerbangan kedua milik Garuda Indonesia itu. Ia ditugaskan sebagai direktur utama.

“Kini kita telah masuk ke tahap selanjutnya,” katanya ketika masih duduk di jabatan lamanya. “Yaitu mengembalikan kepercayaan konsumen dunia. Tidak lama lagi, GA akan menjadi penerbangan bintang lima, sejajar dengan SQ. Kami banyak bekerja mendatangi komunitas-komunitas, menanamkan kembali rasa percaya mereka terhadap GA setelah berbagai perubahan besar yang kita lakukan. Mindset mereka terhadap GA harus dibentuk dahulu sebelum kita melakukan selling. Dan harus saya akui, kalangan yang paling sulit kami ubah sikapnya adalah mereka yang sudah SQ minded (maksudnya pelanggan Singapore Airlines-red). Kompetitor GA bukanlah MH atau Thai Air, tapi SQ. Sampai sekarang, rute-rute SQ yang lebih luas dan hampir menjangkau seluruh kota di dunia menjadi tantangan khusus bagi GA yang sedang memulihkan kembali rute-rute internasionalnya. Tapi dari segi pelayanan dan keunikan hospitality, saya optimis GA akan segera memiliki tempat khusus di hati konsumen penerbangan dunia,” kata Arif.

Untuk menarik hati para penumpang internasional, GA telah menetapkan berbagai kebijakan unik. Misalnya, untuk pelayanan kabin, mereka mempekerjakan gabungan pramugari Indonesia dan pramugari negara tujuan. “Rute Jepang, misalnya, kita mempekerjakan dua orang pramugari Jepang dan dua pramugari Indonesia. Dengan demikian, para penumpang dari kedua negara akan selalu merasa di rumahnya sendiri,” ungkap Arif.

Selain membenahi pelayanan dan jaminan keamanan, ia juga melakukan usaha memperbaiki persepsi orang terhadap Garuda Indonesia sebagai penerbangan kelas atas. Untuk tujuan itu, Arif mengundang sejumlah top CEO dan pemilik usaha dari berbagai bidang, seperti disainer kelas atas, industri televisi, kosmetik, dan berbagai jenis bisnis lainnya untuk merasakan pengalaman terbang bersama Garuda Indonesia ke Singapura.

“Mereka sengaja kita jadikan brand ambassador, karena kalangan seperti itu biasanya selalu menjadi trend setter dalam gaya hidup,” terang Arif. “Dengan misi Quantum Leap yang sudah dimulai dari tahun 2008, kita sedang menuju kompetisi liga utama dalam industri penerbangan dunia”.

Arif memulai karirnya di GA sebagai engineer of maintenance and engineering division pada tahun 1990. Jebolan dari jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Surabaya ini bisa dikatakan telah tersesat ke dunia manajemen dan marketing. Lalu ia mengaku mensyukuri pembelotan disiplin itu. “Paling tidak, dengan latar belakang ilmu teknik mesin, para teknisi akan sungkan untuk membohongi saya…ha…ha…ha…” katanya.

Untuk meningkatkan kemampuannya di bidang manajemen, Arif telah melanjutkan studi ke Magister Manajemen Transportasi Udara di Universitas Indonesia yang programnya bekerjasama dengan Massachussets of Technology (MIT). Pendidikan ini ia tamatkan tahun 1996.

Karir Arif terus berkembang setelah itu. Ia ditugaskan ke berbagai negara, dari Eropa hingga Asia. Pengalaman-pengalaman itu membuatnya lebih paham mengenai pasar luar. Tapi kekayaan pengalaman dan kedudukannya tidak tercermin dari penampilan luarnya. Perawakannya yang rata-rata tubuh orang Indonesia itu dibalut oleh kemeja putih polos, tidak ada yang istimewa. Dia terlalu sederhana untuk seorang pejabat puncak di perusahaan penerbangan utama nasional. Bahkan ketika ditanya hobinya, ia hanya menjawabnya dengan bercanda.

“Saya suka membaca pada awalnya, lalu saya suka bersepeda, lalu suka golf. Akhirnya saya suka semuanya. Ya, demi kepentingan memasuki komunitas pasar, semua hobi saya ikuti,” katanya. Apapun yang ditanyakan padanya, semua sepertinya akan berputar balik ke urusan bisnis dan tugas-tugasnya. “Ya, begitulah. Tapi sejujurnya, hal yang paling berkesan pada saya adalah saat-saat ditugaskan di Fukuoka, Jepang. Saya senang driving ke Gunung Fuji. Di sana hawanya enak sekali. Di Indonesia, tempat favorit saya adalah Lombok dan Toraja,” katanya pada akhirnya mengaku.

Setelah memimpin Citilink yang tentu memerlukan konsentrasi tinggi karena harus melakukan pembenahan mulai dari start-up sampai memasuki arena kompetisi yang keras di kelas penerbangan medium yang telah diisi penerbangan terbaik dunia sekelas Air Asia, kami tidak pernah lagi melakukan kontak dengan Arif Wibowo. Dan ketika namanya terpilih menjadi Dirut Utama Garuda Indonesia menggantikan Emirsyah Satar yang sudah melegenda, rasanya tidak ada sesuatu yang mengejutkan dengan itu. Sebagai pejabat karir yang berpengalaman dan terbukti secara penuh selalu mendukung mantan bosnya itu, maka Arif Wibowo-lah orangnya. Lagipula, biarlah dirut lama dan dirut baru sama “liar”-nya. Sulit menemukan nama yang lain.

Selamat bekerja Pak Arif!

 

(Tikwan Raya Siregar)

 

LEAVE A REPLY