Madu, Kepercayaan dan Kebesaran Tuhan

0
409

Hikayat tentang madu lebah adalah kisah tua yang tiada ikut terputus oleh runtuhnya peradaban-peradaban besar hingga hari ini. Umur lebah yang pendek ternyata dapat mewariskan produk yang lebih abadi dari peradaban manusia. Kitab suci mengabadikannya, dan membuatnya menjadi simbol perumpamaan tentang kebaikan-kebaikan.

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minumam (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan” (QS. Surat An-Nahl [16] : 68-69).

Dari sudut pandang sejarah budaya, aktifitas manusia dalam pengumpulan madu konon sudah berlangsung sejak 10.000 tahun yang lalu. Bukti yang mengandung pendapat ini adalah temuan gambar pada dinding di sebuah gua di Valensia, Spanyol. Gambar tersebut memperlihatkan dua laki-laki menggunakan tangga yang terbuat dari sejenis rumput liar sedang meraih sarang lebah berisi madu.

Khasiat madu memang bukan lagi cerita baru. Ilmu kedokteran moderen dan pengobatan tradisional boleh saling bertengkar, tapi keduanya akan akur bila menyangkut madu. Selain menjadi sumber energi, penyembuh luka dan antibiotik, madu juga dipakai dalam 500 resep obat dari 900 resep yang diketahui hari ini. Sejumlah riset ilmiah maupun kisah yang beredar di tengah masyarakat selalu menguatkan posisi madu dalam dunia kesehatan dan pengobatan.

Kecenderungan masyarakat yang sangat tinggi untuk mengkonsumsi madu, tak pelak telah menciptakan gelanggang bisnis yang besar. Sayangnya, gelanggang itu pun turut dimanfaatkan oleh orang-orang atau pihak yang tidak bertanggungjawab. Demi alasan keuntungan semata, madu telah dipalsukan dengan berbagai cara, sehingga menghancurkan kepercayaan konsumen terhadap setiap produk madu, dan ternyata tidak mudah untuk mengembalikan kepercayaan itu kembali di tengah-tengah pasar. Apalagi, membuktikan kemurnian madu bukanlah perkara mudah. Diperlukan riset laboratorium yang tidak dapat dilakukan secara cepat dan efisien untuk mengetahui kadar dan unsur madu yang asli atau palsu. Tapi bahkan para pemalsu pun sudah menyebarkan isu-isu palsu mengenai cara mengenali madu yang asli, sehingga masyarakat sering terkecoh oleh mitos-mitos mengenai madu asli.

Untuk mengimbangi mitos-mitos itu, para saintis dan pelaku bisnis madu telah mencoba memberikan penjelasan tandingan dengan informasi yang lebih valid dan ilmiah. Namun pasar bukanlah wilayah akademik yang serba ilmiah dan penuh kesimpulan. Pasar lebih sering hadir sebagai pergulatan kepercayaan. Dan membangun kepercayaan adalah proses pemasaran yang panjang dan menuntut dedikasi dalam proses produksi sejak hulu sampai ke hilir. Madu sendiri dimulai dari nektar bunga yang dikumpulkan puluhan ribu ekor lebah, lalu dipanen oleh para ahli di hutan-hutan maupun peternakan, kemudian dikemas, lalu dijual di pasar.

Proses ini harus jelas dan terpercaya. Setiap tahapan itu membutuhkan penjelasan, bukti, dan saluran distribusi yang memiliki orientasi bisnis jangka panjang dan berkelanjutan.

“Bukan hanya masalah produksi dan membangun kepercayaan di pasar, bisnis ini juga harus didasari oleh kesadaran terhadap pelestarian lingkungan. Bila kita bicara tentang madu hutan asli, maka kita perlu mengetahui bahwa lebah hutan adalah hewan yang memiliki peran penting dalam keberlanjutan lingkungan. Selain itu lebah juga memerlukan waktu untuk membangun sarang dan menghasilkan madu, karena itu perlakuan panen pada sarang lebah menuntut teknik-teknik khusus agar siklus produksi lebah menjadi lebih pendek. Untuk itu, bisnis ini harus peka terhadap teknik eksploitasi (pemanenan) madu di pohon sehingga menghasilkan volume produksi yang lebih banyak dan memberikan keuntungan kepada para pemanen lebah, sekaligus ramah lingkungan,” ungkap Cahyo Pramono, pemilik usaha Pondok Madu yang saat ini telah memiliki tiga outlet penjualan madu di Kota Medan, masing-masing di Jalan dr Mansyur, Jalan AH Nasution dan Jalan Krakatau.

Menurut Cahyo, sifat volume madu hutan yang sangat terbatas adalah faktor utama yang telah memicu pemalsuan madu hutan. Madu hutan memang tergolong jenis yang paling eksklusif di antara jenis-jenis produk madu yang lain. Madu yang beredar di Indonesia umumnya dihasilkan dari tiga jenis lebah, yaitu apis dorsata (lebah hutan), apis mellifera (lebah unggul) dan apis cerana (lebah lokal) yang ada di atas atap rumah. Madu hutan (madu organik) umumnya berwarna hitam pekat, dan mutunya lebih baik daripada madu yang dibudidaya.

Masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengkonsumsi madu budidaya berwarna coklat cerah. Akibatnya, madu hutan yang gelap malah sering dianggap sebagai madu palsu. “Madu hutan dihasilkan melalui sarang-sarang lebah yang menempel di dahan-dahan pohon tualang. Pohon-pohon ini terdapat di hutan-hutan tropis, termasuk di Pulau Sumatera. Jumlahnya sangat terbatas. Karena itu, pelestarian pohon tualang juga termasuk sebagai agenda konservasi yang berkaitan dengan bisnis madu ini. Aspek pendidikan lingkungan dan kepercayaan terhadap madu asli saling terkait. Jaminan terhadap madu hutan asli akan memberikan nilai tambah kepada para penduduk desa pemanen madu di hutan. Dengan nilai tambah yang lebih baik, para pemanen diharapkan akan merasakan keterikatan dan ketergantungan terhadap kelestarian lebah hutan dan ekosistem pendukungnya. Etika bisnis madu hutan seperti inilah yang sedang kami kembangkan,” jelas Cahyo.

Kemitraan yang kuat dengan para pemanen madu hutan adalah salah satu kunci pokok yang dapat mengembalikan peredaran madu hutan asli di pasar melalui jaringan yang terpilih dan terpercaya. Para pemanen harus diyakinkan bahwa menjual madu hutan yang murni dapat lebih menguntungkan mereka dalam jangka panjang ketimbang melakukan pemalsuan untuk menaikkan volume, tapi merusak sendiri kepercayaan masyarakat terhadap produk mereka.

(TRS)

SHARE
Previous article
Next articleMenguji Napas ke Air Terjun Sebatang Kapas

LEAVE A REPLY