Maestro-maestro dari Jambi

0
1412
Tina Sofa dengan produk tasnya
Tina Sofa dengan produk tasnya

Selain kehidupan rimba, dataran tinggi Kerinci, dan situs Candi Muaro di tepian Sungai Batang Hari yang dalam, maka Propinsi Jambi adalah daerah yang mudah dilupakan. Itu kalau Anda hanya datang dengan referensi konvensional. Oleh sebab itu, mari “menemukan” Jambi lebih dalam lagi, menelusuri lorong-lorong sempit yang tidak menarik perhatian. Dan inilah cerita terbaru tentang Jambi, yaitu kisah para maestro yang sungguh di luar dugaan.

Sebelum memulai cerita ini, saya berhutang budi pada Nyonya Amelia Masniari atau yang lebih dikenal dengan julukan “Ms Jinjing”. Ia telah menyelesaikan 4 buku best seller yang idiologis dari kacamata seorang pembelanja barang-barang kelas satu di dunia. Lewat blog-nya yang hebat, saya mendapat petunjuk untuk menemukan mutiara-mutiara terpendam di Kota Jambi dan Kuala Tungkal.

Kisah Satu

Suami istri itu adalah pasangan maestro yang ceria. Namanya Tina Sofa dan Mitra. Dari huruf-huruf awal nama keduanya, maka muncullah sebuah merek indie ‘T&M’ yang dikembangkan dari sebuah rumah tua di Jalan Adityawarman No. 9, Thehok, Jambi. Ada plang yang tidak menarik perhatian terpajang di depan rumah itu. Bengkel kerja berukuran sempit terlindung tajuk dan rerimbunan pohon di sampingnya, seperti paviliun yang diabaikan.

Di dalam bangunan berukuran kira-kira 4 x 7 meter itu, tujuh pengrajin bekerja dengan tekun. Di sini, berbagai jenis kulit reptil diukur, digunting, dipola, lalu dijahit menjadi tas-tas siap pakai. Berbagai bahan setengah jadi berupa kulit ular yang telah disamak tampak dilipat,digulung dan dibentangkan dalam berbagai ukuran. Saya melihat kulit seekor ular piton sepanjang 8 meter siap disulap menjadi tas, dompet, ikat pinggang, suvenir atau apapun. Mungkin, bagi para pecinta hewan yang berhaluan keras, kisah ini akan sedikit kurang menyenangkan. Tapi bagi kalangan moderat yang percaya pada sistem pemanfaatan ekonomi alam, Mitra dan Tina adalah pengusaha yang sopan karena telah mengantongi izin resmi dari otoritas terkait dan memiliki kuota terbatas untuk pemanfaatan ular di Jambi.

Tina dan Mitra sedang ke gereja saat kami tiba di ‘rumah ular’ itu. Tapi ia telah pulang ketika kami melewati separuh kunjungan, dan langsung mengajak kami melihat-lihat koleksinya. Mereka belum memiliki ruang pamer, kecuali ruangan tengah di mana beberapa gantungan dan steling murah diletakkan. Tas-tas wanita bergaya Eropa, dompet, dan ikat pinggang dari kulit reptil dipajang dalam berbagai warna. Siapapun akan sulit percaya bahwa benda-benda itu diproduksi di Jambi, oleh sepasang suami istri yang pernah menjalani hidupnya sebagai penjual martabak yang bangkrut.

Kulit tas dan aksesori itu begitu lembut, dijahit presisi, dan memancarkan kesan mewah. Meski masih dalam kalangan terbatas, sejumlah sosialita dan kolektor barang-barang berbahan baku kulit asli sudah menggandrungi ‘T&M’. Daripada membeli barang-barang branded berkelas KW1, KW2, dan KW3, bukankah lebih prestisius memiliki koleksi fashion kelas utama dari pembuat aslinya? Tentang kualitas kulit sebagai salah satu faktor utama yang membentuk gengsi produk fashion, saya ingin menyampaikan satu kisah dari Jambi.

Selama bertahun-tahun, para penangkap ular di Jambi menjual hasil tangkapannya kepada penampung dan penyamak. Harga-harga ular selalu didikte oleh pengumpul, tergantung jumlah persediaan mereka dan jumlah pesanan dari Jakarta. Para penampung dari Jakarta membeli kulit ular hasil samakan dari para penyamak di Jambi, juga dengan harga yang didikte.

“Mereka selalu mencari kesalahan. Bila ada bolong kecil saja, maka mereka langsung menawar serendah-rendahnya. Kita sering rugi. Lalu saya berjalan-jalan ke Jakarta dan menelusuri jalur distribusi kulit ini. Rupanya di sana, cacat yang mereka jadikan alasan untuk menurunkan harga barang tidak terlalu berpengaruh dalam pembuatan tas. Garis potongnya dapat disesuaikan untuk pembuatan berbagai produk berbahan kulit, jadi cacatnya tinggal digunting saja,” ungkap Mitra yang mulai berbisnis kulit setelah usaha martabaknya bangkrut.

Mitra dan Tina pun mengetahui bahwa kulit reptil dari kwalitas utama telah diekspor ke industri-industri fashion di Eropa. Kulit ular asal Jambi itu kemudian dibuat menjadi tas bermerek dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Di Eropa dan Amerika, para selebritis dunia memakainya. Lalu para ibu pejabat kita, istri orang kaya, dan para artis top negeri ini dengan bangga berbelanja tas kulit asal Jambi itu di butik-butik utama dunia, yaitu di negara-negara yang tidak memiliki hutan tropis tempat ular-ular berkembang biak dengan cepat. Kini status produk-produk itu sudah menjadi buatan Italia, Perancis, Swiss, dan seterusnya. Jambi yang menjual kulit ularnya dengan murah, dilupakan begitu saja.

Di sinilah Mitra dan Tina mencoba membendung arus. Mengapa tidak kita ciptakan sendiri tas buatan kita, dari kulit hasil samakan kita sendiri? Dengan bantuan istrinya yang lebih paham mode dan selera kaum perempuan, Mitra kemudian mencari ahli samak yang bagus di Jawa. Di Indonesia ini, hanya ada empat ahli samak yang melegenda di antara industri pengolahan kulit, dan salah seorangnya bersedia ikut Mitra ke Jambi. Sejak itu, mereka pun mulai membangun satu usaha penyamakan kulit terhalus di Sumatera, serta memproduksi barang jadi dengan kontrol kualitas yang tinggi.

Kini, dengan menjual tas-tas kulit asli berkelas internasional seharga Rp 3 juta sampai Rp 5 juta, Tina dan Mitra sedang berusaha menyelamatkan ratusan miliar rupiah devisa negara yang mengalir ke industri fashion luar negeri yang terkadang dipuja-puja dengan kurang masuk akal.

Bila Anda mengunjungi langsung bengkel mereka di Jambi, maka atraksi lain yang dapat dilihat adalah proses penyamakan yang panjang dan teliti, serta kulit ular-ular piton yang panjangnya mencapai 18 meter. Kulit-kulit istimewa itu tidak dijual lagi oleh Tina dan Mitra, karena mereka sudah menjadikannya sebagai koleksi rumah yang akan ditunjukkan kepada para tamunya.

Kisah Dua 

Ini masih seputar kisah sepasang maestro. Di pemukiman pinggiran Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, Propinsi Jambi (sekitar 150 km dari Kota Jambi), hiduplah seorang pegawai negeri biasa dengan istrinya. Si lelaki hanya tamatan Sekolah Pertanian Menengah Atas di Jambi. Sejak tamat sekolah ia tidak menjalani hidup yang luar biasa. Sampai akhirnya, dari sebuah bangunan mirip rumah panggung yang sekeliling pekarangannya tergenang oleh gerak pasang laut, ia menciptakan satu jenis sirup komersil yang hanya satu-satunya di Sumatera, barangkali juga satu-satunya di dunia. Namanya Sirup Pedada Marquado.

Al Akhmar dan Renita, pasangan itu, tinggal di sebuah rumah tak bernomor di Jalan KH Dewantara, Parit II. Tiga palem raksasa tumbuh di luar pagar depan rumah mereka. Dari jalan umum menuju pintu rumah, terdapat aneka tanaman hias dan koleksi pohon yang membuat panorama cukup teduh. Ada juga kolam pengering lahan yang digali di sela-sela tanaman itu, dan telah dijadikan anak-anak sebagai tempat bermain lumpur.

Kedatangan kami disambut Akhmar. Ia memberitahu bahwa istrinya sedang ikut wiritan. Ia sendiri, begitu mengetahui maksud kedatangan kami, langsung menghilang ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian, Akhmar keluar lagi, tapi kali ini bersama gelas-gelas berisi minuman mirip anggur merah. “Inilah sirup yang kalian cari,” katanya seraya mempersilakan kami untuk mencicipi.

Hari itu, cuaca pesisir begitu rengas. Siapapun yang berani bertahan di bawah matahari selama lima menit, maka ia akan segera dehidrasi. Tapi cuaca itu segera kami lupakan begitu beberapa teguk Sirup Pedada Marquado membasahi tenggorokan. Saya belum pernah menemukan komposisi rasa dan kesegaran sirup seperti ini. Paduan asam, kelat, dan manisnya sangat nyaman di lambung, sehingga minuman ini layak disuguhkan di perjamuan kelas satu.

Setelah itu, Akhmar menunjukkan satu pohon pedada yang tumbuh di depan rumahnya. Pohon ini adalah kelompok tanaman mangrove yang akarnya mencuat ke atas. Nama latinnya, Soniracia acida. Biasanya, pohon pedada tumbuh di garis pasang surut laut. Karena kawasan pemukiman warga di sekitarnya masih terpengaruh pasang surut, maka tidak sulit menemukan pohon yang masih dibiarkan tumbuh sebagai peneduh pekarangan.

“Jenis mangrove ini hanya tumbuh di Sumatera. Namanya pedada madu, dari jenis yang paling langka. Warna bunganya putih,” jelas Akhmar seraya memetik dua buah pedada yang ukurannya sebesar pergelangan tangan lelaki dewasa. Di sepanjang pantai timur Sumatera, pohon ini tumbuh liar dan menjadi bagian yang penting dari habitat pesisir. Hingga saat ini, mangrove masih ditebang untuk keperluan kayu dan bahan bakar arang. Dan pedada adalah salah satu korbannya.

Pada tahun 1987, Akhmar dan istrinya yang bekerja sambilan sebagai juru masak tradisional Pemerintah Propinsi Jambi, mencoba melakukan penelitian informal tentang buah pedada. Sejak kecil Akhmar sudah mengatahui bahwa penduduk desanya menggunakan buah pedada untuk berbagai keperluan, seperti dirujak, campuran masakan ikan, lalapan, dan sari rapet bagi perempuan yang baru melahirkan. Buah pedada tersedia banyak di sekitar desa.

Setelah merasa menemukan komposisi yang tepat, pada tahun 1995 Akhmar mulai membuka usahanya, yaitu sirup pedada dalam kemasan botol. Dengan berbagai khasiat yang sudah dikenal dari pengetahuan tradisional, sirup ini telah menembus pasar Jakarta, khususnya di kalangan ekonomi tingkat atas. Kandungan vitamin C yang tinggi dari minuman ini konon sangat membantu hubungan suami istri. Di samping itu, pemanfaatan ekonomi mangrove tanpa membunuh induknya telah dianggap sebagai salah satu jalan keluar untuk sistem pelestarian mangrove. Di Kuala Tungkal, sebagian masyarakat telah berdamai dengan tanaman tersebut, dan mulai sadar untuk menjaganya karena kini mereka dapat menjual buah pedada seharga Rp 2.500 per kg kepada Akhmar.

Atas inovasinya ini, Akhmar pun berkali-kali diundang ke daerah lain seperti Kalimantan dan Sumatera Utara untuk memberikan pelatihan pembuatan sirup pedada. Namun sampai saat ini, baru dia dan istrinya yang benar-benar memproduksi dan memasarkan sirup pedada sebagai kegiatan bisnis. Dari 1 kg buah pedada mentah, mereka bisa memproduksi 8 botol sirup. Satu botol sirup dijual di rumahnya seharga Rp 15.000. Di Jakarta, sirup pedada dijual seharga Rp 75.000, itu pun hanya di kalangan terbatas. Mereka juga sudah berhasil mengembangkan varian produk lain dari buah pedada, yaitu selai roti dan dodol pedada, meski semuanya belum dalam skala massal.

Kisah Tiga

Fadli masih bujangan. Di sebuah rumah kontrakan sempit yang uang sewanya akan habis sebulan lagi, ia bersama ayah dan adiknya membangun usaha keluarga. Peralatan kerajinan emas dan perak ditumpuk di ruang tengah, yang sekaligus adalah ruang tamu. Tidak ada sofa di sana. Para pengunjung yang datang diajak duduk di lantai semen.

Ruang tamu ini memang sempit, tapi penuh dengan orang-orang besar. Di salah satu dinding yang telah pudar catnya, foto-foto orang beken sedang tersenyum gembira. Fadli berfoto bersama Ibu Ani Yudhoyono, Gubernur Jambi, Nyonya Jusuf Kalla, Menteri Perdagangan, dan sejumlah nyonya pejabat teras Dekranas di Jakarta.

Kami duduk bersila di tikar plastik. Di sinilah Fadli dan ayahnya, Erwin Sikumbang, menunjukkan koleksi emas dan perak buatan mereka. Motif-motifnya khas, tidak sama dengan disain perhiasan pada umumnya. Fadli mengaku telah tertarik pada motif-motif tua asli Jambi yang secara simbolik terikat dengan adat, spritualitas dan alam Jambi. Beberapa motif yang saya catat antara lain, bunga pauh dari Sorolangun, kembang durian, riang-riang dari Kabupaten Sabak, merak ngeram, bunga jatuh, ragam melayu, kwau berhias, kepak lepas, incung kerinci, bunga antelas, kapal sanggat (motif paling tua), bunga bintang, durian pecah, bunga mekar, angso duo, dan paruh enggang.

Motif kepak lepas pernah ia buat secara khusus untuk permintaan Ibu Ani Yudhoyono. Dan motif incung kerinci rancangannya secara tidak terduga telah dipilih sebagai produk kerajinan terbaik mengalahkan para pengrajin perhiasan Yogyakarta dan Bali dalam ajang “Pameran Mutu Manikam Nusantara” tahun 2008 di Jakarta. Keputusan itu tentu cukup mengejutkan mengingat selama ini orang lebih mengenal Yogyakarta dan Bali sebagai pusat maestro kerajinan perhiasan di Indonesia.

Tapi prestasi-prestasi itu tak lantas membuat kehidupan ekonomi Fadli membaik. Hingga kini ia dan keluarganya tetap harus berpindah-pindah. Ia tetaplah seorang pengrajin perak asal Jambi yang menjual produknya dengan hitungan harga per gram, yaitu Rp 50.000 per gram. Mereka juga termasuk di antara 200-an pengrajin perak yang selalu kalang kabut menutupi biaya sewa kontrakan tiap tahun. “Saya tidak bisa memberikan alamat rumah kami ke orang banyak karena sebentar lagi pun kami harus pindah, biaya sewa sudah habis,” ungkap Fadli.

Berbeda dengan pengrajin lain, Fadli secara khusus memberikan perhatian pada motif-motif lokal. Disain buatannya dikenal lebih halus dan sulit ditandingi pengrajin lain. Pernah beberapa disainnya ditiru oleh orang lain, tapi kualitas akhirnya tetap tidak bisa sama. Tingkat kerumitan dan detail yang dipilih Fadli adalah motif dari jenis yang lebih menantang. Karyanya tidak bisa dibandingkan dengan perhiasan-perhiasan bermerek internasional, karena karya Fadli muncul dari aliran yang berbeda, yaitu eksplorasi kekayaan motif flora dan budaya Jambi.

Fadli merupakan seorang maestro muda yang lahir dari keluarga ekonomi lemah. Kakek dan ayahnya berdarah dinasti pengrajin emas dan perak dari Minang sebagaimana umumnya keturunan pengrajin perhiasan di Jambi. Ia sendiri pada awalnya tidak tertarik pada usaha ini, tapi ayahnya yang pernah melakoni pekerjaan sopir travel Medan-Jakarta suatu ketika telah memaksanya. Dari rasa enggan dan malas, siapa sangka akhirnya ia menemukan dunianya yang baru.

“Saya berterimakasih pada Ibu Elfrida Nino, pengurus bagian SDM Dekranasda Jambi.. Beliau adalah ibu angkat yang telah berusaha mengoleksi dan mengangkat produk-produk saya ke pasar yang lebih appresiatif terhadap karya seni lokal,” ungkap Fadli.

Saat ini, mimpi Fadli adalah memiliki sebuah ruang pamer sendiri dan modal untuk membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar. Namun untuk itu ia masih harus mengumpulkan uang. Pernah suatu ketika ia bermaksud mengakses pinjaman dari bank untuk kepentingan itu, tapi bank menolaknya, meskipun ia telah menunjukkan bukti-bukti prestasinya, lengkap dengan foto-foto para pejabat negeri yang memberikan penghargaan pada karyanya. Kata bank, pinjaman harus pakai agunan!

(Tikwan Raya Siregar)

LEAVE A REPLY