Melanglang ke Gunung Padang

0
233

Setelah perjalanan kami di Bandung selesai, kini saatnya memanggul ransel kembali ke tujuan berikutnya. Bagaimanapun juga, kehebohan para arkeolog dunia di Gunung Padang telah mengusik perhatian banyak orang, termasuk kami. Betapa tidak, bila analisa carbon dating (alat untuk mengukur usia artefak) untuk piramida Giza di Mesir hanya menunjukkan umur 2.560 SM, maka salah satu keajaiban dunia tertua itu masih lebih bungsu dibanding usia situs Gunung Padang yang dikonfirmasi mencapai 5.200 tahun Sebelum Masehi. Apakah paradigma sejarah purbakala dunia akan berubah total oleh penemuan berharga ini?

Mari kita lihat lebih seksama.

Dengan dua kali sambung naik angkot, kami tiba di Terminal Bus Leuwi Panjang Bandung. Di terminal ini, kita akan mendapatkan banyak pilihan trayek bus ke berbagai kota, termasuk Bogor dan Jakarta. Berdasarkan informasi di terminal, maka tujuan kami akan dapat dicapai dengan bus trayek Bandung-Cianjur-Sukabumi. Ketika kami sampai di terminal, kebetulan bus yang akan segera berangkat ke sana adalah kelas ekonomi. Tanpa pikir panjang lagi, kami naik dan memilih bangku di belakang sopir. Dengan jadwal perjalanan yang kami rancang, sepertinya memang lebih aman mengutamakan waktu dibanding kenyamanan. Apalagi, kami belum punya ide sama sekali mengenai situasi di lokasi Gunung Padang dan jalur yang harus dilalui untuk mencapai situs.

Bus ekonomi dan daftar putar lagu pantura.
Bus ekonomi dan daftar putar lagu pantura.

Menaiki bus ekonomi ini adalah perjalanan tiga jam yang serasa bagaikan tinggal tujuh hari di lokalisasi. Sopir bus dan kernetnya yang rajin lagi setia telah memutar lagu-lagu yang umumnya didengarkan di tempat pelacuran, acara keyboard pelantikan ormas pemuda, atau pertunjukan Mak Lampir di pemukiman-pemukiman kebun sawit yang dihuni orang Jawa. Atau paling mudah, inilah lagu-lagu para sopir truk yang melintas saban hari di Pantura.

“Cintaku klepek-klepek sama diaaaa, sayangku klepek-klepek sama diaaaaa…huhuuu…duuuu…nenek bilang itu berbahaya….”, dan seterusnya.

Itu belum seluruhnya. Dalam satu album yang gembira itu, saya menyimak beberapa kali lirik lagu yang mengisahkan tentang janda. Entah benar atau tidak, sepertinya lelaki Jawa dan Sunda punya obsesi yang besar terhadap janda. Bukankah yang menulis lagu-lagu kenes dan menyerempet-nyerempet “bahaya” itu adalah semuanya laki-laki? Dan di dalam lagu itu, tersirat betapa seksinya penderitaan perempuan yang kesepian, atau janda yang disia-siakan oleh laki-laki lain. Duh! (bagian yang ini sebaiknya tak perlulah diperpanjang).

Saya menemukan satu pelajaran, bahwa betapapun kita tidak menyukai satu hal, tapi apabila hal itu terdengar berkali-kali di kuping kita, maka ia akan lengket dalam getaran syaraf kita. Demikianlah, sebagian lagu-lagu “kelas ekonomi” itu telah menguasai sebagian memori di kepala saya, dan saya tak sadar telah menyanyikan beberapa bait yang paling gawat setelah keluar dari bus, karena sepertinya ada yang hilang begitu kita tak mendengarnya lagi, seperti efek heroin atau sabu-sabu dalam darah para pecandu. Atau seperti luka kulit yang tak bisa segera sembuh.

“Tolong, hentikanlah lagu itu! Aku malu mendengarnya!” bentak istriku. Aku pun menghentikannya, dan menggantinya dengan bersiul-siul.

***

Bus “klepek-klepek” ini hanya bisa mengantar kami hingga persimpangan masuk di jalan besar Bandung-Cianjur-Sukabumi. Tapi ternyata ada dua jalan masuk menuju Gunung Padang. Salah satunya di wilayah administratif Kabupaten Cianjur, tepatnya Simpang Paldua. Tapi simpang ini adalah persimpangan yang sepi. Tidak mudah mendapatkan angkutan untuk masuk dari sini. Kondektur bus menyarankan kami agar masuk dari jalur Sukabumi saja. Simpangnya bernama Tegal Sereh di Desa Sukaraja. Dari sini banyak sekali angkutan pedesaan.

Dari Simpang Tegal Sereh, kami menaiki angkutan desa serupa sudako atau labi-labi menuju Cireungas. Di desa ini, perjalanan masih baru saja dimulai. Di sebuah pos jaga, para pemuda setempat mengorganisir diri dalam suatu paguyuban tukang ojek yang memang melayani para pengunjung ke Gunung Padang. Mereka mematok tarif ojek Rp 50.000 per orang sekali jalan.

Tapi menaiki ojek punya risiko basah bila hujan turun. Ini sangat tidak aman bagi kami yang membawa barang-barang dan tas yang cukup berat. Karena itu, kami mencoba bernegosiasi dengan sopir angkutan untuk lanjut membawa kami dengan status carter hingga Gunung Padang. Mereka setuju dengan tarif Rp 200.000 pulang pergi, sudah termasuk komisi untuk para tukang ojek yang merasa berhak sepenuhnya terhadap penguasaan jalur itu. Wah, ini adalah tawaran terbaik bagi kami.

Angkutan carteran.
Angkutan carteran.
Para remaja kru angkutan.
Para remaja kru angkutan.

Angkutan bermesin Daihatsu 1.200 CC yang membawa kami meraung-raung kepayahan melalui tanjakan. Pada bagian jalan yang lebih curam, sopirnya membuat mobil maju dengan zig-zag untuk mengurangi beban tanjakan. Kami melewati dusun-dusun kecil lagi seperti Cibanteng, Rawa Besar, Sukamukti, Cipanggulan, sebelum akhirnya tiba di Dusun Gunung Padang. Sulitnya perjalanan ini benar-benar di luar dugaan. Jalur yang sempit, jalan yang menanjak, dan jaraknya yang ternyata jauh ke pedalaman dan berkontur perbukitan, membuat kami kasihan pada sopir angkutan. Untunglah mereka terdiri dari sekawanan remaja yang memang sedang dalam usia bermain. Mereka bicara Bahasa Sunda yang banyak “euy-euy”-nya, dan tak henti-hentinya bercanda, merokok, serta membagi apa saja yang mereka ketahui kepada kami. Malah, anak-anak itu tampaknya ikut menikmati perjalanan ini sebagai trip wisata, dan ada beberapa di antara mereka yang mengaku belum pernah melihat situs Gunung Padang. Remaja-remaja usia SMA itu tidak tahu apa-apa tentang makna situs itu. Yang mereka tahu, belakangan banyak bule berdatangan. Sungguh kami beruntung memiliki mereka dalam perjalanan ini. Mereka menawari saya rokok, tapi mereka menolak ketika saya tawari makan.

Sebuah dusun dan persawahan di lembah perbukitan.
Sebuah dusun dan persawahan di lembah perbukitan.

Setelah melewati beberapa dusun, kami bertemu dengan Stasiun Lampegan yang kesohor itu. Ini adalah stasiun kereta api terakhir sebelum gerbong kereta memasuki satu terowongan tanah sepanjang 686 meter. Lampegan merupakan terowongan pertama di Jawa Barat yang dibuat di Desa Cibokor antara tahun 1879-1882. Terowongan itu menembus perut Pasir Gunung Keneng yang ekosistemnya menjadi perbatasan antara Cianjur dan Sukabumi. Terowongan ini sangat penting artinya di Jawa karena menghubungkan Bandung dan Jakarta, khususnya relasi Cianjur-Sukabumi. Angkutan yang melewatinya saat ini adalah KA Siliwangi dan KA Pangrango.

Konon, Beckman, sang instruktur lapangan proyek pembangunan terowongan ini , telah berteriak-teriak keras kepada para pegawainya di dalam perut tanah. Ia memerintahkan mereka untuk selalu membawa lampu demi mengurangi bahaya karena kurangnya zat asam. Waktu itu, kondisi para pekerja sangat berat karena tingkat kelembaban dan oksigen yang tipis. Betapa tidak, pintu terowongan yang terbuka masih di satu sisi saja. Beckman berteriak, “Lamp pegang!…Lamp pegang!” Lama kelamaan teriakannya yang berulang itu menjadi sumber etimologi penyebutan nama terowongan tersebut, yaitu “Lampegan”.

Sejak dioperasikan, Terowongan Lampegan pernah mengalami beberapa kali ambruk karena faktor alam berupa rembesan air, dan selebihnya adalah karena tabrakan kereta api. Setelah mengalami renovasi pada September 2000, Sukabumi dan Cianjur kembali terhubung. Namun dari tanggal 12 Maret 2001, terowongan itu ambruk lagi, dan hubungan Stasiun Cianjur dan Sukabumi kembali terputus.

Di depan Terowongan Lampegan.
Di depan Terowongan Lampegan.

Pada tahun 2010, Terowongan Lampegan direstorasi. Saat ini Terowongan Lampegan aktif kembali dan dilewati KA Siliwangi. Tapi malang, pada tanggal 11 Pebruari 2014 lalu, bagian terowongan ditabrak oleh KA Siliwangi dan menyebabkan kerusakan ringan. Setelah melalui perbaikan, barulah kondisinya normal lagi.

Melewati Stasiun Lampegan, jalanan kembali menanjak dan kami mulai memasuki kawasan perkebunan teh milik PTPN VIII. Sebagian kebun masih terawat, tapi sebagian tampaknya sudah diterlantarkan. Ada pabrik-pabrik yang tidak beroperasi lagi. Sesekali terlihat vila peristirahatan yang dimiliki orang-orang kaya dari kota. Mereka tampaknya ingin merasakan udara sejuk dan panorama kebun teh yang terhampar hijau seperti tikar yang dibentangkan. Di celah lekukan-lekukan bukit, tampaklah lembah-lembah sempit yang dimanfaatkan para petani untuk bersawah dan membangun empang. Di atas semua itu, udara berkabut demikian pekat dan sesekali turun hujan. Saya mulai berpikir, apakah kami akan menginap saja malam ini?

Dari kabar yang kami dengar, di Dusun Gunung Padang sudah tersedia penginapan-penginapan sederhana yang disediakan penduduk. Penginapan itu sekaligus merangkap warung. Lokasinya persis di titik pendakian tangga menuju situs batu yang menghebohkan dunia arkeologi itu. Hanya saja, kami telah mengatur penginapan di Pasar Baru, Jakarta, malam ini juga. Bila tidak sampai di sana malam ini, bisa-bisa kami rugi.

Warung dan penginapan di Dusun Gunung Padang.
Warung dan penginapan di Dusun Gunung Padang.

Kami akhirnya sampai di Dusun Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tepat di titik pendakian dalam keadaan perut keroncongan. Pukul 15.30 sore. Hujan masih turun deras. Pemilik warung hanya menyediakan mie instan, dan itulah yang kami dapatkan. Untung mereka punya nasi juga. Usai makan, pendakian menuju Situs Gunung Padang dimulai dengan membayar retribusi parkir mobil Rp 10.000 dan tiket masuk lokasi situs Rp 4.000 per orang. Situs ini masuk ke dalam wilayah kekuasaan administratif Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Sejak dari titik masuk, kita sudah dapat menyaksikan formasi batu-batu purbakala yang disusun untuk suatu maksud tertentu. Ada sebuah sumur dangkal yang memiliki mata air di sebelah kiri jalan. Setelah sumur itu, pendakian menuju puncak bukit dilakukan melalui ratusan anak tangga. Ada dua jalur pendakian, yaitu jalur asli berbatu andesit yang lurus dan jalur beton yang dibangun pemerintah untuk memudahkan pengunjung mencapai situs. Jalur alternatif pertama adalah jalan utama, mendaki sekitar 370 anak tangga dengan kemiringan yang cukup tajam, hampir 40 derajat. Alternatif kedua terdiri dari sekitar 500 anak tangga dengan kemiringan yang lebih landai. Kami disarankan melalui jalur pengunjung wisata ini karena lebih aman dan landai, meskipun menjadi lebih jauh.

plang

Jalur asli yang dibentuk dengan batu-batu andesit.
Jalur asli yang dibentuk dengan batu-batu andesit.

Diperlukan waktu sekitar 20-30 menit untuk sampai ke puncak bukit, dimana ratusan bilah batu andesit bertumpuk membentuk 5 formasi situs dalam lima teras berundak yang belum diketahui fungsi dan konstruksi utuhnya. Menurut tim arkeologi resmi yang melakukan eksvakasi, usia batu-batu yang telah disimpulkan sebagai artefak itu mencapai 5.200 tahun Sebelum Masehi. Tapi belum ada pihak yang dapat memastikan usia persisnya.

 

Menurut reka gambar tim peneliti arkelogi resmi, situs ini terbentang seluas kira-kira 20 hektar. Bandingkan dengan situs Borobudur yang hanya 1,5 hektar. Saat ini, situs yang dapat dilihat secara jelas hanyalah bagian puncaknya saja, sedangkan konstruksi bawahnya masih belum sepenuhnya terbuka.

Jalur wisata.
Jalur wisata.
Juru kunci dalam kabut.
Juru kunci dalam kabut.

Rupanya Gunung Padang ini pun sudah dijaga oleh “juru kunci”. Kami bertemu dengan sang juru kunci ketika ia hendak turun. Untunglah waktu sudah demikian sore, sehingga ia tak perlu mencampuri urusan kami dengan hal-hal berbau mistik. Tapi ia menyempatkan dirinya juga untuk memperingatkan kami tentang berbagai hal dan pantangan yang perlu diperhatikan selama di atas. Dia juga memberikan batas waktu untuk kami di atas. Agar mudah, saya mengiyakan semua apapun yang dikatakannya. Supaya hatinya senang.

Melihat hamparan batu andesit dengan bentuk-bentuk memanjang, kesan pertama yang saya rasakan adalah, ini karya besar. Konsentrasi batu-batu itu tidak sama dengan bebatuan di perbukitan lainnya. Lokasi ini juga demikian terpencil di perbukitan, sehingga bila saya melihat kawasan ini dengan cara pandang situasi sekarang, maka sungguh iseng orang-orang purbakala (pra-sejarah menurut kategori sains) mendirikan bangunan di sini. Darimana mereka mengangkuti batu-batu yang berat ini. Apakah pada saat itu mereka menggunakan tenaga gajah? Atau hewan besar lain yang masih hidup di Pulau Jawa? Dan kalau benar ada hewan-hewan besar yang digunakan tenaganya waktu itu untuk mengangkut bebatuan ini, bagaimana caranya mereka kemudian punah?

Tapi kalau memang yang melakukannya adalah manusia, seberapa banyak tenaga yang diperlukan untuk merampungkan bangunan ini? Siapa penguasa besar yang telah mampu mengerahkan tenaga manusia sebanyak itu? Apakah populasi manusia pada saat itu sudah cukup banyak untuk membuat karya sebesar ini? Apakah ini berkaitan dengan teori Bottle Neck dalam sejarah populasi manusia?

Apakah fungsi bangunan dalam situs ini? Apakah ini koloni hunian ataukah bangunan suci? Kalau ini berkaitan dengan sistem kepercayaan, apakah yang mereka percayai? Secara geologis, apakah dulunya bukit ini memang terpencil ataukah telah berubah karena aktivitas endogen (tekanan dari dalam bumi)?

situs-1situs-2situs-3situs-4situs-5situs-6situs-7situs-8situs-9Masih banyak pertanyaan yang harus kita simpan dalam hati. Saya merasa beruntung sekali memiliki pengalaman berdiri di atas situs ini selagi aktivitas penelitian arkeologi dan kegiatan eksvakasi masih terus dilakukan untuk menambah temuan artefak yang baru. Di tengah spekulasi yang berkembang sejalan dengan semakin bertambahnya artefak-artefak yang ditemukan, plus kontroversi para saintis mengenai artefak-artefak itu, kita seperti mengikuti cerita “live” yang mengasyikkan dalam kehidupan kita, padahal ceritanya adalah sejarah tua dari dunia purbakala. Bagi saya, paling tidak sekarang para pembual tidak bisa membohongi saya lagi tentang keadaan situs ini.

Saya telah berdiri di atasnya, menyusuri kelima terasnya, dan mencari-cari sendiri kemungkinan artefak yang bisa saya duga-duga fungsinya. Maha suci Allah yang telah memberikan manusia pengetahuan lewat benda-benda yang terawetkan ini.

Seperti disengaja, ketika kami sampai di teras paling atas, di tengah hamparan batuan andesit yang membentuk formasi persegi empat dan ditopang dinding susunan andesit lain di sekelilingnya, cuaca tiba-tiba menjadi cerah, kabut hilang dan hujan berhenti total. Matahari muncul di sebelah barat dengan cahaya keemasan. Posisi matahari itu sudah dekat dengan garis punggungan perbukitan lainnya dimana penduduk terlihat mengolah ladang-ladangnya dengan sabar. Di sebelah barat daya tampak Gunung Pasir Empat dan Gunung Karuhun, di sebelah barat laut terdapat Pasir Pogor dan Pasir Gombong yang garis-garisnya jelas karena bayangan miring matahari.

Sebagian kawasan situs ini terkurung oleh rumpun bambu, dan sebagian lagi hutan sekunder. Pemerintah telah mendirikan beberapa unit bangunan panggung fungsional untuk membantu aktivitas penelitian dan pariwisata. Tidak jauh di belakang situs utama, sebuah helipad telah dibuat untuk memudahkan para pejabat penting mengunjungi lokasi ini.

Tiba-tiba saja, seorang penjual bakso angkringan telah muncul di depan bangsal utama bangunan. Entah darimana ia muncul, tapi yang jelas kehadirannya telah menggugurkan peringatan si juru kunci tadi. Dan masih ada orang lain yang datang lagi setelah kami, melebihi batasan waktu yang dikatakannya. Busyet.

Demikianlah apa yang kami temukan di Situs Gunung Padang yang telah memberikan ekspektasi besar kepada dunia arkeologi tentang salah satu temuan terpenting di abad ini. Dengan harapan yang sama, kami turun kembali untuk mengejar malam di Jakarta. Para remaja itu telah memutar haluan mobilnya. Kami akan kembali ke Simpang Tegal Sereh. Dari situ, kami harus naik angkutan umum dua kali lagi menuju Sukabumi, dengan harapan masih ada bus menuju Ibukota. Tapi ketika kami sampai di Sukabumi pukul 19.00, semuanya sudah terlambat. Harus ada alternatif lain.

 

LEAVE A REPLY